
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
“Mas Joko sudah nggak ada, dua tahun lalu.”
Jantung Caca seperti dihantam gada mendengarnya. Memang, setelah meninggalkan kota—setelah pertemuannya waktu itu dengan sang ayah—Caca tidak lagi bertemu dengan sosok pria yang akan tetap mendapat sebutan ayah untuknya itu.
Dan disinilah Caca dan Nolan berada. Diatas tanah pemakaman yang sudah mulai rata dengan tanah. Caca tak melepas sedikitpun tatapan matanya dari pusara bertulis nama sang ayah.
Memori-memori lama seperti diputar ulang didalam otaknya. Ia bahkan tidak pernah menduga jika ayahnya akan pergi secepat ini.
Nolan mengusap punggung Caca, memberi kekuatan agar wanita itu tetap kuat karena Caca terlihat rapuh dan di selimuti kabut penyesalan dalam tatapan matanya yang seperti kosong.
“Do'a kan saja semoga Ayah kamu dapat tempat terbaik disana.” kata Nolan yang sekarang mengusap surai Caca.
Setetes airmata membasahi pipi putihnya. Ia melihat sebuah kebahagiaan ketika masa kecilnya, ketika ayahnya masih bersedia memberikan pelukan hangat untuknya. Lalu Caca mengangguk.
“Ya. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik buat ayah.”
Nolan tersenyum, memberikan ruang bagi Caca untuk meluapkan semua yang memenuhi dadanya. Ia menemani Caca yang masih betah berada di atas makam ayahnya yang mungkin, sekarang akan menjadi salah satu hal yang selalu ia kenang.
Dua puluh menit berlalu, Caca pada akhirnya memutuskan untuk kembali pulang dan menyampaikan kabar berita itu ke ibunya, nanti. Ia harus memberitahu ibunya tentang kepergian sang ayah.
“Kalau kamu masih ingin kerabat ayahmu yang jadi wali, aku bisa anterin kamu dan ibu buat ketemu keluarga ayahmu.”
Caca menggeleng. Itu akan semakin membuat rumit dan repot.
“Jauh, Nol. Kalau pakai wali hakim, apa kamu keberatan?”
Nolan tersenyum ke arah Caca dan mengusap puncak kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok.”
***
Jagad hiburan sedang ramai memperbincangkan Nolan seusai pria itu mengunggah sebuah foto dimana tangannya menggenggam telapak tangan yang melingkar cincin serupa di jari manis masing-masing. Komentar ramai dipenuhi nitizen dari yang mendukung, mendo'akan, bahkan kecewa karena pujaan hati mereka akan melepas status lajangnya dalam waktu dekat.
Suara pintu diketuk sebanyak tiga kali, dan seorang wanita cantik muncul membawa beberapa berkas menuju meja kerjanya.
Sebenarnya Angel tidak enak mengatakan ini kepada Louis, namun dia tetap harus profesional tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada pimpinan yang mungkin sedang patah hatinya itu. “Infotainment membutuhkan persetujuan dari bapak untuk menayangkan kabar dari Nolan Aresta—”
“Apa dia juga sudah memberi izin ke kalian?”
Tidak biasanya Louis menanyakan izin tentang berita infotainment. Namun kali ini, Louis sedikit memikirkan bagaimana informasi itu akan mengganggu atau tidak. Pasalnya, berita ini berhubungan dengan Caca, wanita yang pernah dan masih ia sayangi sampai detik ini.
“I-izin? Maksud bapak dari pihak Nolan?” tanya Caca semakin canggung kepada atasannya.
“Ya.”
“Be-belum.”
__ADS_1
“Minta persetujuan darinya dulu, lalu kembali padaku.”
Angel bisa memastikan berita ini akan lambat tayang jika menunggu izin dan persetujuan dari pihak bersangkutan. Dan tentu saja ini akan berpengaruh pada rating dan sponsor yang akan mereka dapatkan.
“Tapi, pak—”
“Saya tidak ingin ada orang yang diganggu dan dirugikan dalam berita kali ini.” kata Louis memotong. “Kamu pasti paham maksudku, Ngel.”
***
Nolan menghela nafas kasar melihat isi berita infotainment yang dipenuhi oleh wajah dan postingannya di insta beberapa jam lalu. Nolan lupa jika dirinya sekarang seperti tidak memiliki privasi.
Ia bergegas mematikan televisi layar datar itu dan bersiap menghadiri meeting bersama salah satu founder yang ikut menjadi salah satu sponsor penyelenggara Event.
Ada banyak produk yang bergabung dalam event yang dibuat Nolan kali ini, beberapa diantaranya produk kebugaran, dan juga beberapa produk kesehatan.
Baru saja dia ingin meraih gagang pintu ruang kerjanya, ponselnya bergetar. Nama salah satu stasiun televisi muncul di layar ponselnya. Nolan tau pasti milik siapa stasiun televisi ini, jadi dia memutuskan untuk menjawabnya.
“Ya?”
“Ini, aku.”
Nolan diam membatin ketika detik ke sepuluh dia menjawab suara diseberang telepon dengan suara tenang.
“Ada apa, Lou?” tanya Nolan tanpa penekanan apapun. Dia memang tidak bermaksud membuat gaduh atau membakar suasana dengan mengatakan hal-hal yang bisa memancing kemarahan Louis. Nolan bahkan berniat menjadikan Louis orang pertama yang menerima undangan pernikahannya bersama Caca, via telepon.
“Salah satu acara infotainment di tempatku, ingin menampilkan berita kalian. Boleh?”
“Memangnya, kenapa kamu perlu izin dariku? Bahkan semua media memberitakan itu tanpa memberitahuku.”
“Aku menghargai kalian.” kata Louis pelan. “Kamu juga tau posisiku seperti apa. Jadi aku tidak ingin ada salah faham kalau-kalau kamu melihat berita itu tiba-tiba muncul di siaran televisi milikku juga.”
“Nggak masalah.” jawab Nolan enteng dan anteng.
“Mungkin tim akan menambah beberapa kata yang sedikit memprovokasi untuk menarik minat penonton untuk rating.”
“Sialan. Kamu masih sempat memikirkan rating?”
“Nolan, ini dunia bisnis. Aku harus memberi gaji karyawan ku.” kata Louis sedikit berkelakar dan dengan nyata menarik minat tawa dan selera humor Nolan.
“Oke, oke. Nggak masalah. Bikin ide yang kreatif, karena itu juga akan menguntungkan untuk aku dan Caca.”
Tak ada sahutan, namun Louis mengangguk diseberang sana.
“Tentu. Tim ku ahli dalam hal itu.”
“Oke, ada yang lain. Aku mau meeting.” ucap Nolan tanpa mau basa-basi karena Dharma sudah menunggunya dengan wajah tidak tenang.
“Tidak. Itu saja. Nanti aku kabari lagi kalau orang ku butuh bahan dan info dari kamu.”
Nolan mengangguk. “Eum. Bye.”
Panggilan itu berakhir oleh Nolan yang sudah mendapat tatapan tajam dari Dharma. Meeting kali ini melibatkan beberapa orang yang tidak mungkin harus menunggu Nolan. Mereka semua orang penting dan senior untuk Nolan. Dengan alasan itulah, Dharma menekan Nolan agar tidak terlambat datang keruang meeting, dan lebih baik datang lebih awal dari mereka.
__ADS_1
“Iya, iya Om. Aku tau.” kata Nolan dengan bibir mengerucut sebal setelah melihat wajah Dharma yang sengit bukan main ke arahnya. “Tapi, aku kangen Caca. Bagaimana ini?”
***
Hari yang ditentukan nanti telah datang. Ruang terbuka di salah satu hotel terkenal berbintang lima itu disulap menjadi area privasi untuk pernikahan yang digelar oleh Nolan dan Caca hari ini. Pihak keluarga Caca sudah datang sehari yang lalu, dan kamar-kamar hotel sudah di booking full oleh Nolan. Ia tidak ingin siapapun merasa terganggu jika ada pengunjung lain di tempat yang sama dengan mereka.
Tamu undangan yang tidak seberapa, hanya di dominasi oleh beberapa kerabat Nolan, dan orang-orang terdekat serta beberapa relasi kerja Nolan sudah hadir disini untuk menjadi saksi bagaimana dia dan Caca akan mengikat diri menjadi sepasang suami istri.
Nolan dengan tuxedo putih yang pas di tubuh tinggi dan kekarnya itu terlihat tampan. Namun tidak menutup sedikitpun rasa gugup yang muncul pada ekspresi si mantan pembalap liar jalanan di waktu weekend itu.
Ia menunggu dengan hati yang tidak tenang. Ijab akan dilakukan untuk mengikat seorang wanita untuk seumur hidupnya. Dia berdebar, tangannya berkeringat. Sensasi ini lebih mendebarkan dari pada ikut balapan dengan bertaruh sebuah mobil harga milyaran.
Ini tentang hidupnya.
Ini tentang masa depannya.
Dan ini, tentang akhir dari sebuah penantian baginya.
Lalu, ketika matanya merotasi ke arah karpet merah yang terbentang sepanjang jalan utama, Nolan terperangah akan sosok dalam gandengan seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah Julia, ibunda Clarita. Perempuan itu begitu cantik dalam balutan gaun putih yang menempel di tubuh rampingnya, riasan yang membuat wajahnya terlihat semakin cantik.
Airmata Nolan tertahan di kelopak matanya. Tatapannya jatuh dan terkunci pada sosok cantik yang sedang berjalan menuju meja ijab tempatnya menunggu.
Jika biasanya calon pengantin memilih mengenakan pakaian yang kental dengan unsur keagamaan, Nolan dan Caca menjatuhkan pilihan pada pakaian yang membuat mereka nyaman dan tidak harus berganti lagi setelah mengucap ijab qobul.
Hingga Caca berdiri hampir sampai di tempat Nolan berada, kaki jenjang itu berdiri untuk menyambut kedatangan sang pujaan hati. Dimeja berukuran tidak terlalu besar itu sudah ada seorang wali hakim, seorang penghulu dan tiga orang saksi termasuk Dharma yang menjadi wali dari pihak Nolan.
Setelah sampai dan melihat Caca sudah duduk di salah satu kursi yang ada didekatnya, Nolan sudah memantapkan dan menyiapkan hatinya untuk segera mengucapkan janji sucinya untuk memiliki Caca sepenuhnya.
“Sudah siap, pak? Bu?” tanya pak penghulu yang sudah menunggu lebih kurang lima belas menit yang lalu.
“Ya.” jawab beberapa orang yang ada disana.
Microphone kecil dipasang di salah satu sisi jas yang dikenakan oleh penghulu, kemudian dengan pelan tapi pasti orang berpeci hitam itu membaca do'a yang dikhususkan untuk memulai prosesi ijab qobul.
Hingga lengan penghulu itu terulur dihadapan Nolan, lantas disambut dengan sedikit bergetar dan dingin oleh telapak tangan yang biasanya tak pernah gentar itu, lalu ...
“Saudara Nolan Aresta Suwandi bin Hendra Suwandi. Saya nikah dan kawinkan kamu dengan seorang perempuan bernama Clarita Winanda binti Joko Suseno, dengan emas kawin uang sebesar dua ratus tiga puluh ribu lima ratus dua puluh dua rupiah, dibayar tunai.”
Tangan Nolan di sentak lembut, kemudian Nolan menjawab,
“Saya terima, nikah dan kawinnya Clarita Winanda binti Joko Suseno dengan emas kawin tersebut tunai.”
Penghulu menoleh ke kanan dan kiri yang merupakan saksi.
“Sah?”
“Sah.” []
...—Bersambung—...
###
Minta komen boleh akak? ☺️
__ADS_1