
...Part 16 hadir...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...16...
Pukul lima sore, motor Nolan memasuki pekarangan rumah mewah milik papanya. Ya, katakan saja milik papanya karena Nolan memang tidak ikut berjuang untuk membeli, atau menyumbang uang sepeser sebagai bentuk apresiasi. Dia hanya numpang makan dan tidur di rumah papanya.
Setelah berhari-hari meninggalkan rumah, kini Nolan melihat papanya lagi. Pria itu terlihat duduk santai di teras rumah sambil membaca koran bisnis, ditemani secangkir teh panas dan camilan kering didalam toples.
Ada kalanya hati Nolan terketuk jika melihat papanya seperti ini. Usia yang tidak lagi muda, tuntutan pekerjaan yang terlihat melelahkan, bahkan ia pernah hampir menangis melihat papanya terbaring lemah di ranjang rumah sakit karena kelelahan dan harus di opname beberapa hari dengan kondisi kesehatan yang menurun drastis.
Akan tetapi, jika masa lalu mencuat kembali ke permukaan yang membuat Nolan harus mengingat alasan ibunya sampai pergi dari dunia, seketika simpati dan iba yang sudah terbentuk nyaris sempurna, berubah menjadi rasa benci luar biasa yang membuat Nolan harus menjadi pribadi lain, membangun semakin tinggi dan kokoh tembok kebencian yang ia selama ini selalu berusaha ia dirikan diantara dirinya dan sang papa.
“Baru pulang?” tanya Hendra lembut, namun tidak mendapat respon apapun dari Nolan. “Papa pingin bicara sama kamu.” lanjutnya yang kini berhasil menghentikan langkah Nolan.
Setengah jam yang lalu dia menghubungi Caca dan bertanya tentang perkembangan usaha gadis itu mengubah nolan dan juga pekerjaan yang sudah mereka sepakati.
Tanpa Nolan tau, papanya sudah menyusun sebuah rencana matang dan besar untuk masa depan Nolan kelak sebagai pewaris tunggal dari usaha batu bara nya.
Nolan menghentikan langkah, lalu membalik posisinya berdiri menghadap Hendra dengan gaya sok tengilnya yang biasa ia tunjukkan untuk si papa terhormat. “Mau bicara apalagi? Bukankah papa sudah mendapatkan mobil itu lagi dan berhasil membuat Nolan nggak punya muka didepan musuh balapan Nolan?” cercanya kesal. Nolan sama sekali tidak ingin menyembunyikan ketidaksukaannya kepada Hendra dengan bersikap sok hormat dan penurut.
“Ya. Papa juga akan membicarakan tentang balapan itu.”
Kalau bukan tentang mobil yang diambil dari Jonathan beberapa waktu lalu, lalu papanya ini ingin membicarakan apa?
Nolan membatin dengan kening berkerut dan alis tebalnya yang hampir menyatu.
“Sebenarnya papa mau bicara apa sama Nolan?”
“Mandilah dulu. Papa akan menunggumu di ruang tamu.” jawab Hendra lalu bangkit dan meletakkan korannya diatas meja, lantas melewati Nolan begitu saja dan menghilang dibalik pintu utama.
Nolan yang tidak bisa menebak apa yang hendak dibicarakan sang papa, harus bersiap dengan kejutan yang akan ia terima sebentar lagi. Atau...mungkin tentang pembagian hak waris? Antara dirinya dan Leonard?
__ADS_1
Terkaan itu seketika menjatuhkan mood Nolan hingga hancur tidak bersisa. Ia memutar lidahnya didalam mulut, lantas memilih masuk dan membersihkan diri sebelum memulai sesi pembicaraan pribadi yang pasti akan semtimentil bersama papanya.
Tiga puluh menit berlalu setelah Nolan selesai dengan urusan membersihkan diri, ia berjalan menuju ruang tamu dan menemui papanya yang sudah menunggu disana.
Baju santai dan celana pendek selutut yang bentuknya saja tidak karuan, membuat papa Nolan menggelengkan kepala. Khas sekali seorang pemuda begundal seperti tidak diperhatikan dan diberi pendidikan terbaik oleh orang tuanya.
Tapi begitulah Nolan, berapa kali pun papanya menegur, berapa kali juga dia akan abai dan tidak peduli sama sekali. Nolan memilih mati rasa jika sang papa sudah bersikap posesif pada dirinya.
Sofa empuk ruang tamu kini kembali menjadi tempat yang akan menyaksikan dua pribadi berlawanan arah ini akan beradu argumen, bahkan berseteru. Memang, Nolan tidak pernah sama searah satu tujuan dengan papanya. Sekali saja tidak pernah.
“Papa mau ngomongin apa?” tanya Nolan santai sembari mengusuk rambutnya yang masih agak basah sehingga semakin berantakan. Namun Hendra bangga, ketampanan Nolan memang tidak pernah terbantahkan. Dan hal itu masih bisa menjadi hal yang akan menunjang dan menutupi sikap minus pada putranya tersebut. Setidaknya, seorang gadis akan mau menikah dengan putranya kelak dan memberinya cucu sebelum dia harus kembali ke pangkuan sang pencipta. Hati Hendra tiba-tiba menghangat membayangkan Nolan menikah dan mempunyai anak. Hendra tersenyum dalam hati.
Lalu sejurus kemudian,Hendra menatap lurus ke arah Nolan yang tidak pernah melihatnya ketika bicara. Itu sudah menjadi hal biasa yang diterima Hendra ketika berdua bersama Nolan. Dia selalu dianggap tidak ada oleh putranya sendiri. Namun semua itu bukan tanpa alasan. Semua itu memang salahnya.
“Dengerin papa baik-baik.” kata Hendra tegas, agar si begundal kesayangannya itu fokus pada pembicaraan.
Nolan diam, dan memilih bersandar pada bahu sofa harga ratusan juta yang nyaman di balik punggungnya. “Kalau papa ngomongnya baek-baek, Nolan pasti dengerin baek-baek juga.”
Hendra hampir meloloskan dengusan kasar nafasnya mendengar jawaban menyebalkan dari Nolan. Tapi semua ia kesampingkan demi membicarakan hal ini.
“Papa mau kamu menentukan masa depan kamu mulai sekarang.”
“Sebentar lagi kamu lulus SMA. Dan papa pingin kamu kuliah dengan benar. Ambil prodi yang tepat sesuai passion kamu. Papa nggak mau kamu masih saja ikut balapan di jalanan dan hidup nggak jelas seperti—”
“Itu yang Nolan mau. Nolan nggak pingin jadi apa-apa. Nolan hanya pingin jadi pribadi bebas yang nggak dikekang oleh—”
“Tapi ini hidup, Lan. Kamu nggak bisa selamanya bersenang-senang, taruhan, dan menghabiskan uang papa seperti ini.” tegur Hendra tajam memotong ucapan Nolan. “Kamu akan hidup dan bersaing dengan orang lain demi diri kamu sendiri. Bahkan, kamu juga nanti akan memiliki keluarga dan menjadi seorang ayah, dimana anak-anak kamu nanti membutuhkan tanggung jawab dari seorang pria sejati. Dari seorang laki-laki yang mereka panggil Papa.”
Nolan menatap pias ke arah papanya berada yang kini sedang mengatur nafas. Mungkin pria itu jengkel karena dia masih membangkang, pikir Nolan.
“Kalau papa pingin Nolan jadi kayak papa, mending papa nyerah dan suruh si sulung saja—”
“Nolan!” bentak papanya keras dan membuat Nolan menajamkan pandangan ke arah Hendra. Ia bahkan tidak pernah melihat papanya akan se-marah ini ketika ia membahas tentang Leonard. “Papa ngelakuin ini buat kamu. Buat menata masa depan kamu. Untuk apa kamu membawa Leonard ke pembicaraan kita?!”
Nolan ingin sekali menyemburkan tawa konyol didepan muka papanya. Namun ia tahan kuat-kuat karena yang ada malah dia akan terlihat menyedihkan. Lantas Nolan memilih untuk menyematkan sebuah senyum sarkas diujung bibir yang pasti akan berhasil mengintimidasi Hendra.
“Karena papa memang peduli padanya.”
“Papa peduli padamu juga! Kamu saja yang nggak pernah mau dengerin papa!”
__ADS_1
“Karena Nolan udah nggak percaya lagi sama papa. Papa sudah membuat rasa percaya Nolan ke papa hancur, sejak empat tahun yang lalu.”
Hendra meremat jemarinya sendiri hingga memutih. Ekspresi wajahnya berubah dingin, rahangnya menegas, giginya bergemelutuk, dan ia menahan kuat-kuat amarah yang ingin meledak karena ucapan Nolan.
“Jadi, hal itu masih menyakiti hatimu?”
“Ya. Sangat malahan. Papa sudah membuat mama pergi dari dunia ninggalin Nolan sendirian.”
Hati Hendra mencelos. Itu hanya perasaan Nolan saja. Hendra sangat mencintai Marla. Dan Tiana, hanya masa lalu kelam yang pernah membuatnya terperosok ke lembah kesalahan hingga Leonard hadir.
“Papa sayang sama kamu, sama mama kamu juga.” ucap Hendra, sendu tanpa memutus tatapan matanya dari milik Nolan.
“Bullshit! Semua yang papa katakan, hanya omong kosong yang nggak pernah mau Nolan percaya lagi.” sahut Nolan cepat dengan nada sarkastik dan tajam menghujam. “Baiklah. Jika papa ingin aku menentukan masa depan, tunggu sampai aku berhasil melampiaskan semua kebencianku sama papa.”
Nolan berdiri, pergi meninggalkan Hendra dengan kesendirian yang mendera dan begitu menyakitkan. Ia meraba jantung nya yang terasa sedikit nyeri, pantas ia pun bergegas pergi dari ruang tamu menuju kamar untuk menenangkan diri, dan meminum obat yang sudah hampir tiga tahun ini ia konsumsi.
***
“Ups!”
Kantong belanja Caca jatuh karena seseorang menabrak bahunya cukup keras dari arah berlawanan. Hari ini Caca memutuskan untuk membeli sepatu baru, karena sepatu lamanya sudah nggak layak pakai. Apalagi untuk berjalan di SMA bergengsi macam SMA Kemala.
Ada satu merk yang ia incar ketika berselancar di dunia Maya tadi sore. Convers hitam yang sedikit tinggi mencapai mata kaki. Ia berani membeli, karena uang di rekeningnya cukup banyak dan tidak akan habis dalam setahun atau dua tahun kedepan.
“Sorry.” kata seorang gadis cantik yang terlihat lebih muda darinya itu sambil berjongkok didepan Caca berniat membantu karena selain sepatu, Caca juga membeli sepotong baju dan celana yang ikut teronggok di lantai mall.
Tunggu. Wajah ini tidak asing bagi Caca. Dia seperti pernah melihatnya. Tapi dimana ya? Caca berusaha mengingat siapa anak perempuan yang kini berada didepan matanya itu. Lalu, dengan manik mata berbinar, Caca menjentikkan jari telunjuknya ke arah gadis cantik tersebut.
“Kamu, murid SMA Kemala kan?”
Gadis muda nan cantik itu tersenyum ramah yang membuatnya semakin terlihat anggun, elegan, dan juga tentu saja semakin mempesona dengan kecantikannya yang terlihat bak Cleopatra.
“Iya. Kamu juga murid disana?”
Caca mengangguk polos, lalu mengulurkan tangan didepan gadis tersebut. “Clarita. Atau panggil saja caca.” kata Caca antusias. Tapi gadis itu tidak langsung menjabat tangan Caca. Dia memperhatikan sekilas seperti sedang memikirkan sesuatu, lantas ia menyambut tangan Caca dengan telapak tangannya yang putih bersih dan mulus.
“Gitara Wendyta. Panggil aja Gita.” []
...°°°°Bersambung°°°°°...
__ADS_1