
...Part 39...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...39...
Nolan membawa Caca duduk diteras sebuah apotek. Nolan juga sudah membeli beberapa obat yang bisa ia gunakan untuk mengobati wajah dan telapak tangan Caca yang terluka.
Dengan telaten, dan ikut menahan sakit, Nolan membalur wajah Caca dengan obat-obatan yang baru saja ia tebus di apotek. Harganya juga ia pilih yang paling high untuk kebaikan Caca. Apa yang harus dia katakan pada Bu Julia nanti jika Caca pulang dengan keadaan seperti ini?
Nolan sedikit menunjukkan air muka menyesalnya karena terlambat menolong Caca. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri, mengapa membiarkan Caca duduk seorang diri disana hingga mendapat perlakuan tidak baik dari pria yang tidak dikenal begitu. Oh tidak. Apa Caca juga menerima perlakuan tidak seno-noh dari laki-laki tadi?
Nolan membelalakkan mata. Ia meneliti setiap jengkal gerakan tubuh Caca, kemudian bertanya karena sudah tidak bisa menahan rasa penasaran itu di tenggorokannya.
“Laki-laki itu nggak ngapa-ngapain kamu kan?”
Caca mendengus mendengar pertanyaan Nolan. Sudah jelas-jelas dia terluka begini, masih bertanya begitu?
“Kamu sudah ngobati luka ku, kan? Jadi sepertinya aku tidak perlu menjawab.” ketus Caca dengan wajah malas.
“Bukan itu maksudku. Apa laki-laki itu melakukan hal tidak baik lainnya padamu?”
Caca menatap netra bulat nan indah milik Nolan.
“Maksudmu pele-cehan?”
Nolan mengangguk ragu. Ia takut melukai perasaan Caca. Tapi sejurus kemudian, ia mengucap syukur dengan hati lega bukan main ketika Caca menggelengkan kepalanya.
“Kamu kenal pria itu?” tanya Nolan ingin tau sambil membereskan beberapa kasa, Rivanol, dan obat merah yang baru saja ia pakai mengobati luka Caca.
Mendapati Caca hanya diam, Nolan tidak memaksa dan memilih mengajak Caca kembali pulang saja. Sumpah, baru hari ini Nolan merasa begitu bersalah pada seorang perempuan, tentu saja selain mamanya.
“Kita pulang aja yuk. Udah malem juga, nanti Bu Julia khawatir.” kata Nolan sedikit berkelakar agar suasana berubah lebih kondusif. Caca mengangguk mengiyakan ajakan Nolan. Tidak ada alasan untuknya tetap disini lebih lama.
***
Beruntung Bu Julia percaya dengan alasan yang diutarakan Caca. Tujuan utama Caca berbicara tidak sesuai kenyataan, adalah agar ibunya tidak panik dan khawatir karena dia kembali menjadi korban kekejaman ayahnya sendiri.
Sekarang, hanya ada Nolan dan Caca yang duduk diteras rumah. Menunggu waktu berganti dan suara kembang api memenuhi angkasa.
“Apa ayah kamu pernah menyakitimu dengan pukulan, Nol?”
Nolan menoleh. Ia menangkap sebuah sendu di manik mata Caca. Sebuah perasaan bersalah pada ayahnya, sekali lagi terbayang dalam ingatan Nolan.
“Tidak.”
“Kamu beruntung.” kata Caca. Ia ingin membuat Nolan luluh pada Hendra dengan memanfaatkan keadaannya saat ini. Cukup tidak adil, tapi Caca ingin semuanya segera berakhir karena Caca juga bisa merasakan perhatian yang diberikan Nolan padanya itu, sangat berbeda. Dia tidak ingin terjerumus dalam perasaan yang semakin jauh dan dalam pada seorang Nolan. Atau dia akan patah hati dan tidak bisa move on dalam waktu yang sangat lama dan menyiksa.
“Papa memang sering memarahiku, tapi dia tidak pernah sekalipun memukulku.”
“Itu tandanya dia menyayangimu, Nol. Lalu, mengapa kamu begitu membencinya?”
__ADS_1
Nolan terpekur. Biasanya, dia akan marah sekali jika ada seseorang berbicara begini padanya. Tapi anehnya, dia justru mendengarkan Caca sekarang.
“Mungkin papa kamu juga menyesal sudah melakukan itu. Dia juga mungkin berusaha berbaikan dengan mu dengan berbagai cara, diantaranya memberikan kebebasan untuk kamu.”
“Aku memilih kebebasanku sendiri, Ca. Bukan papa yang memberinya.”
“Ya. Itu mungkin menurutmu. Tapi, apa pernah kamu menanyakan itu padanya?”
Nolan tertohok dengan ucapan Caca. Selama ini dia memang tidak pernah mau mendengarkan apa perkataan yang hendak disampaikan sang ayah padanya.
“Mungkin kamu tidak sadar, dengan cara itulah dia bisa melihatmu bahagia karenanya. Dia membiarkan uangnya membahagiakan dirimu.” lanjut Caca, kini melihat sorot mata Nolan yang terlihat redup. “Tanpa kamu sadar, mungkin dia juga sedang berusaha menunjukkan sesuatu padamu, dan dengan cara itulah, dia menunjukkan kasih sayangnya padamu.”
Nolan menunduk, ia tersenyum masam. Kenapa selama ini dia tidak pernah menilai sejauh itu. Mungkin saja yang dikatakan caca ini benar. Atau, bisa juga salah. Semua kini menjadi dilema.
Caca mendengus keras. Dia menatap langit dengan tatapan sendu dan lurus.
“Aku juga pernah menyayangi seseorang, mengaguminya karena dia sudah seperti penolong untukku meskipun dia tidak pernah lelah menghinaku didepan muka ku sendiri.”
Nolan mengangkat wajahnya, dia menatap Caca yang kini terlihat sedih.
“Kami hidup dalam kesederhanaan, tidak ada sesuatu yang berharga yang kami miliki selain satu sama lain.
Hingga semuanya berubah seketika ketika aku menginjak usia sekolah dasar. Super Hero ku berubah jahat. Dia menghianati kami dan menjadi monster mengerikan untuk kami.”
Nolan tau, Caca sedang menceritakan ayahnya.
“Dan hingga hari itu. Hari yang pernah kamu dengar dariku, kami memutuskan untuk pergi dari hidupnya.”
Nolan membuat gerakan tidak nyaman yang menarik perhatian Caca.
“Ca,”
“Dan kami berhasil, Nol. Aku dan ibu berhasil lepas dari ayah dalam waktu yang cukup lama.”
Nolan kehabisan kata-kata dan hanya ingin mendengarkan Caca mengungkapkan apa yang selama ini tidak ia ketahui.
“Kamu, adalah anak yang beruntung memiliki papa seperti dia.”
Nolan mengangguk meskipun ragu. Karena apa yang dikatakan caca, kini terasa begitu benar untuknya.
“Jika kamu tidak bisa memaafkannya karena membuat orang yang kamu sayangi pergi dari dunia, setidaknya hargai saja dia. Pasti semua akan baik-baik saja. Hatimu juga akan terasa tenang melihat kehadiran papamu dirumah.”
Nolan memicingkan mata. Mengapa Caca terdengar seperti tau banyak hal tentangnya? Namun semua itu ia abaikan. Mungkin hanya perasaannya saja.
“Aku berusaha begitu, Ca. Tapi semuanya sangat sulit karena bukti kesalahan papa, berwujud seorang manusia.”
Dan satu hal lain yang muncul dalam benak Nolan. Pria tua di panti jompo itu lagi. Lukisan wajah seseorang itu lagi. Dan kini otak Nolan menjelajah sedikit jauh tentang wajah dalam lukisan itu. Dia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berdentum cukup keras karena terkejut.
Wajah wanita itu adalah wajah....
Nolan menggeleng. Dia harus datang lagi kesana untuk memastikan sekali lagi. Pria itu seperti menyimpan banyak hal dalam setiap cat yang ia goresan diatas kanvasnya.
“Coba dengarkan apa yang dikatakan papamu. Dengan begitu, kamu kan tau maksud dan alasan yang mungkin ingin dia sampaikan padamu selama ini. Namun semua tertahan karena kamu selalu menjauh bahkan tidak ingin melihatnya.”
Nolan kembali di banting oleh kenyataan. Apa yang dikatakan caca sama sekali tidak ada yang salah. Semuanya benar, dan ini semua karena egonya yang terlalu tinggi untuk tidak mau mendengarkan sisi papanya untuk memberikan penjelasan.
“Oke, akan aku coba.” kata Nolan seperti hanya sebuah ungkapan, namun tidak memiliki keseriusan. Caca tau itu dengan jelas.
__ADS_1
“Kamu tau siapa pria tadi?”
Nolan kembali menyorot wajah Caca. Kali ini dengan rasa penasaran yang tidak dapat ia tutupi yang timbul di wajahnya.
“Namanya Joko Suseno.”
Nolan semakin tidak mengerti kenapa Caca bahkan tau nama pria tidak berperasaan itu.
“Dan dia, adalah ayahku.”
***
Nolan meletakkan kunci motornya diatas nakas, melepas jaket Jeansnya yang sedikit bau asap kendaraan dan kembang api yang tadi ia nyalakan bersama Caca.
Untuk beberapa saat dia ikut bahagia melihat wajah ceria Caca kembali ketika bermain kembang api tadi. Tapi semua cerita Caca kembali membuat hatinya merasa pilu.
Caca, seorang gadis yang bisa menerima ayahnya meskipun menyakiti fisik dan mentalnya. Gadis itu sangat luar biasa.
Berbeda dengan dirinya yang selalu lari seperti seorang pecundang. Ia selalu menghindari papa nya tanpa alasan yang relevan. Dia selalu membuat papanya terpojok dengan kata-kata sarkasnya, dan dia yang tidak pernah menghargai papa nya yang sudah bekerja keras memberinya kemewahan tanpa pernah mengeluh padanya.
Langkah kaki Nolan kini berputar. Ia berjalan keluar kamarnya, menuruni anakan tangga dan berjalan menuju kamar papanya di lantai bawah.
Sesampainya didepan pintu tebal itu, dia berdiri seperti patung. Memperhatikan bagaimana ornamen bergaya klasik didepan kamar papanya itu terukir atas permintaan mamanya, dulu.
Tanpa ia sadari, telapak tangannya bergerak menyentuh handle pintu dan menarik turun hingga ruangan itu terbuka.
Gelap, karena papanya sedang tidak dirumah. Benak Nolan masih berfikir culas dengan menebak jika papanya sedang bertemu dengan wanita itu diluar sana. Meminta kasih sayang pada wanita lain selain mamanya. Ya, ini pemikiran culas, tapi Nolan tidak mau membuang kenangan buruk itu begitu saja karena Leonard adalah bukti nyata kecurangan papanya itu. Dan dia pantas membenci siapapun yang berhubungan dengan orang yang sudah menyakiti mama nya, termasuk papanya sendiri.
Langkahnya bergerak ragu memasuki ruangan itu. Tangannya meraba dinding untuk mencari letak saklar yang seingatnya, tidak jauh dari daun pintu berada. Dan benar saja, ruangan ini masih sama dari terakhir dia melihatnya empat tahun lalu. Papa nya tidak mengubah sedikitpun isi ruangan itu, termasuk foto mereka bertiga yang ada diatas kepala ranjang tidur papa nya.
Nolan mengulum senyum melihat kenyataan itu. Lantas, ia kembali masuk semakin dalam, dan berhenti didepan meja kerja papanya. Ada beberapa berkas yang tertawa rapi. Laci-laci mejanya juga terkunci dan Nolan tidak bisa mencari tau apa yang ada didalam sana. Hingga matanya menangkap sebuah foto yang tergeletak diatas meja begitu saja. Nolan meraih dan memungutnya, kemudian menatap lekat wajah-wajah yang ada didalam foto tersebut.
Familiar sekali karena disana ada sosok seperti ... Leonard.
Seorang pria paruh baya, seorang wanita seusia ibunya, dan Leonard yang masih kecil disana.
Oh God. Nolan ingat fitur wajah itu. Fitur wajah pria yang ada di panti jompo itu, adalah pria yang ada didalam foto ini.
Rahang Nolan mengeras seketika kala wajah dalam kanvas itu kini ia kenali tanpa di duga. Wajah itu, adalah wajah wanita yang sudah membuat kebahagiaan keluarganya brantakan. Ia harus mencari tau duduk permasalahan yang sudah membuat semuanya kacau balau.
Ya. Nolan harus kembali kesana, mendapatkan kebenaran dan titik terang untuk permusuhannya dengan sang ayah yang tidak berkesudahan karena benci.
Ditengah semua rentetan keinginan tersebut, kalimat Caca kembali terdengar di perungunya.
Tanpa kamu sadar, mungkin dia juga sedang berusaha menunjukkan sesuatu padamu, dan dengan cara itulah, dia menunjukkan kasih sayangnya padamu.
Nolan harus segera tau, apa yang sedang ingin disampaikan sang ayah. Dan apa yang diketahui pria tua di panti jompo itu tentang hubungan ayahnya dan si wanita yang bernama Tiana yang menjadi penyebab utama kematian sang mama.
...—Bersambung—...
###
Jika ada yang masih ingat nama mamanya Leonard, tolong take atau tulis namanya disini ya. Seingat Author sih namanya Tiana. Lupa nggak ketulis di draft. 😔
Soalnya author cari nama mama nya Leo nggak ketemu-ketemu. Puyeng deh jadinya.
Maaf jadi curhat sambat🙏
__ADS_1