Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Touring 1— Panti Jompo


__ADS_3

...Part 33...


...Selamat membaca...


...Jangan lupa di dukung ya......


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...33...


“Oi, ada member baru? Wah, Ndan! Cakep bener dua prajurit barumu ini. Gandengannya juga—”


“Woy! Istri Lo bunting dirumah.”


Semua tertawa lebar termasuk Nolan dan Jonathan yang sedang dibicarakan.


Suasana seperti ini lah yang disukai Nolan. Dia suka berada di luar rumah, karena diluarlah dia mendapatkan kehangatan dari sebuah arti kebersamaan. Dia seperti menemukan keluarga baru.


Setengah jam berada di base camp, beberapa member masih belum berkumpul, jadi terpaksa mereka yang sudah hadir harus menunggu yang lainnya untuk bergabung untuk formasi lengkap.


Tim yang solid, dan kebersamaan bak keluarga, membuat Nolan merasa nyaman berada di BPC.


***


Suara mesin motor menderu membumbung menyapa udara dan memenuhi jalanan yang sedikit padat akibat liburan, hari ini. Nolan mengikuti rute yang dipimpin oleh Laksa. Tidak ada kawalan polisi, mereka tertib, mentaati aturan jalanan, serta menghargai pengguna jalan lain yang ada di sekitar mereka. Diam-diam Nolan meletakkan rasa bangga karena bisa berada diantara orang-orang baik ini. Caca juga tidak banyak bicara dan hanya duduk di belakang punggungnya seperti karung gabah*. (*gabah: padi yang belum masuk proses penggilingan.


Nolan melirik kaca spion. “Berasa boncengin karung beras tau nggak?!” kata Nolan mengalihkan rasa gugupnya ketika tanpa sengaja manik mata mereka bertemu.


“Apa?” tanya Caca sedikit berteriak karena suara Nolan seperti ditelan deru motor anggota club lainnya.


“Pegangan! Biar nggak jatuh!”


Alibi luar biasa. Caca menyeringai dibalik helm dan masker yang ia kenakan.


“Nggak, aku udah pegangan di belakang.”


Tak habis akal, Nolan menarik gas cukup keras dan melepas kopling asal hingga motor tersendat. Cara itu berhasil membuat Caca terkejut bukan main dan langsung berpegangan di pinggang Nolan, akan tetapi tidak berlangsung lama karena setelah itu Caca langsung menarik lagi tangannya.


“Nol, ish!” protes Caca, menepuk satu sisi bahu Nolan.


“Ya udah, pegangan.”


Dengan gerakan ragu, Caca kembali mengarahkan telapak tangannya ke pinggang Nolan, lantas ia mengepalkan telapak tangan hingga membuat jaket Nolan berada dalam genggaman tangannya.

__ADS_1


Gemas melihat apa yang sedang diragukan Caca, Nolan meraih kasar pergelangan tangan Caca dan melingkarkannya hingga merengkuh hampir seluruh bagian perutnya.


“Gini nih yang bener.”


Menarik nafas dalam-dalam, Caca melingkarkan kedua tangannya di lingkar pinggang Nolan. Dan tanpa Caca ketahui, hal itu berhasil membuat Nolan menundukkan kepalanya untuk melihat lengan Caca yang sedang merangkul perutnya, kemudian dia tersenyum dengan debaran jantung yang berisik.


Ini adalah pengalaman pertama touring yang sangat menyenangkan, mungkin akan dikenang Nolan sebagai salah satu kenangan indah yang ia alami dalam hidupnya, serta akan menyimpannya dalam laci memori ingatan miliknya.


“Aku gini, nggak apa-apa kan? Nggak akan ada yang ngebantai aku saat masuk sekolah kan?” tanya Caca, mendapat anggukan dari Nolan yang gugup bukan main. Berada dalam pelukan Caca seperti ini tidak pernah ada dalam agenda hidupnya. Tapi, dia tidak bisa berbohong jika dia menyukainya.


“Memangnya siapa?”


“Ya siapa tau kamu punya penggemar banyak mana tau salah satu dari mereka ada yang nekat kayak kemaren.” cerocos Caca tanpa tanda koma.


Nolan terkikik geli. “Kayak aku selebritis aja punya penggemar.”


“Buktinya, ada tuh.”


Nolan kembali diam dan fokus ke jalanan. Tapi sesuatu yang Caca katakan ketika melakukan video call tempo hari, kembali membesit di ingatan Nolan.


Sayangnya, aku nggak punya replika Titan.


Nolan berencana, akan membelikan Caca replika Titan setelah kembali dari tour moge kali ini.


***


Bangunannya bukan bangunan bergaya modern. Bisa dibilang seperti rumah lama peninggalan jaman penjajahan Belanda yang masih cukup kokoh dan terawat. Didepannya, terdapat taman bunga dan disisi lainnya terdapat lahan yang ditanami sayur dan tanaman palawija. Ada tempat parkir yang cukup luas yang diberi kanopi, di bawah pepohonan rindang yang bisa digunakan untuk memarkir sekitar dua sampai dua ratus lima puluhan motor.


Kedatangan BPC di sambut hangat oleh pemilik panti. Laksa dan Pak Wiyono saling berpelukan, kemudian satu persatu member bersalaman. Bangunan ini peninggalan orang tua pak Wiyono.


“Lho, ini prajurit baru, Ndan?”


“Iya, pak. Visualnya BPC.”


“Visual?” tanya pak Wiyono tidak paham, maklumlah, bukan kaum milenial.


“Maksudnya yang paling tampan di klub.”


Pak Wiyono tertawa dan mengangguk secara bersamaan. Ia menatap Nolan, Jonathan, Caca dan juga Nanda.


“Selamat bergabung dengan klub penuh kebaikan ini ya, nak. Semoga kamu menjadi bagian dari keluarga kami dalam waktu yang sangat lama.”


Keempat pemuda itu meng-amini tulus. Setelah itu, pak Wiyono mempersilahkan semua member untuk melihat-lihat dan bertemu tatap muka serta berbicara dengan para jompo disini.


Beberapa juga masih aktif dan produktif. Dan beberapa lainnya harus di urus oleh perawat karena sudah renta.


Nolan, Jonathan, Caca dan Nanda mengikuti langkah pak Wiyono. Nolan begitu penasaran bagaimana pak Wiyono bisa sampai sekeren ini.

__ADS_1


“Ada beberapa yang ditelantarkan anaknya. Tidak diurus, dan bahkan paling parah, ada yang dengan sengaja membuang mereka.” Mendengar itu, Nolan sedikit tertohok. Dia teringat akan sang papa yang selama ini ia acuhkan. Sang papa yang selama ini berjuang untuknya, bekerja tanpa mengenal lelah mesti sudah memasuki usia lebih dari lima puluh tahun demi mencari sesuap nasi dan memenuhi gaya hidup Nolan.


Mereka masih berjalan, hingga pak Wiyono kembali bersuara. “Disana, adalah ruangan para orang tua yang sudah benar-benar tidak bisa melakukan pekerjaan apapun.ereka juga sering sakit, dan juga pelupa.”


Pandangan Nolan tertumbuk pada satu pria tua yang berpawakan seperti papanya. Usianya mungkin jauh lebih tua dari sang papa, tapi entah mengapa Nolan melihatnya berbeda. Semangat pria tua itu menarik langkah Nolan untuk mendekat. Nolan memisahkan diri dari rombongan dan mendekat kepada pria tersebut.


“Selamat sore, kakek.”


Pria tua yang sedang sibuk melukis itu menoleh, kemudian tersenyum hangat dan mempersilahkan Nolan duduk di kursi kosong disampingnya.


“Kamu, salah satu dari donatur di klub motor itu, nak?”


Mau tidak mau, Nolan mengangguk.


“Kamu sangat tampan. Mirip dengan cucu saya.” kata pak tua yang belum Nolan ketahui namanya itu. Lalu, pak tua itu kembali fokus pada kanvas yang sudah di goresnya dengan kuas berwarna.


“Kakek, pelukis?” tanya Nolan penasaran. dibandingkan dengan penghuni lain, pria ini terlihat paling rapi dan berwibawa.


“Tidak. Saya dulu suka menghabiskan waktu luang dengan melukis.” jawab pria itu lembut dan hangat, masih dengan senyuman mengembang di bibirnya. “Saya suka menggambar wajah anak-anak saya, terkadang juga cucu saya. Meskipun mereka tidak peduli pada saya.”


Hati Nolan seperti diremas kuat. Luar biasa sakit yang timbul karena dia ada diposisi seperti itu. Anak yang acuh pada orang tuanya.


“Tapi mereka jauh lebih memilih meninggalkan saya disini, dari pada datang mengunjungi dan membuat saya bahagia.”


Kesimpulan yang muncul dalam benak Nolan adalah, anak dari pria ini menitipkan nya di panti ini. Dengan dalih akan datang lagi, pria tua ini di bohongi. Dan berakhir dengan sebuah penantian panjang yang mungkin tidak akan pernah menemui ujung.


“Terakhir saya coba hubungi, tapi nomor rumah sudah di putus. Sudah tidak bisa dihubungi lagi.” kata pria itu masih tersenyum. Ia kembali menggoreskan warna semacam warna kulit. “Saya kehilangan mereka.” seketika itu, raut wajah pria itu berubah sendu. “Mereka meninggalkan saya sendirian disini. Dan itu membuat saya sedih.”


Nolan begitu terpukul. Logikanya ingin mengingat sang papa, tapi egonya tetap tidak bisa di kalahkan oleh apapun. Dia akan tetap menjadikan papa nya orang yang paling bersalah atas perginya sang mama.


“Kamu, masih punya ayah dan ibu, nak?”


Nolan kembali dipukul sadar oleh suara pria disampingnya.


“Mama sudah tidak ada, kek. Papa, sering keluar kota untuk ngurus bisnis dan ninggalin saya sendirian dirumah. Ya, meskipun ada beberapa asisten rumah tangga yang merawat saya, tapi kadang saya masih suka merasa kesepian.”


Pria tua itu menoleh, lantas mengusap bahu kokoh Nolan dengan telapak tangannya yang sudah berkerut.


“Meskipun begitu, dia berjuang untukmu, nak. Dia tidak ingin melihatmu kesulitan, dan ingin melihatmu terpenuhi. Pendidikan dan karir sukses, dan yang pasti, dia pasti sangat menyayangimu.”


Nolan terpekur, diam tanpa kata.


Pak tua itu kembali menggoreskan kuasnya, kini wajah diatas kanvas itu terlihat lebih jelas, dan gambar itu seperti Dejavu bagi Nolan. Wajah dalam lukisan itu pernah ia lihat.


“Sayangi dia mumpung masih ada. Maafkan kesalahannya, dan jangan pernah membuatnya bermuram hati.”


Nolan masih sibuk memeta wajah orang dalam goresan warna diatas kanvas. Namun suara sedikit bergetar itu kembali menarik atensi Nolan.

__ADS_1


“Atau kamu akan menyesal sudah menyia-nyiakan keberadaannya. Karena semuanya tidak bisa diulang, nak. Kita diberi kesempatan hidup cuma satu kali, dan semua itu tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.” []


...—Bersambung—...


__ADS_2