Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Senja Ride


__ADS_3

...Part 29 update...


...Selamat membaca...


...Dan jangan lupa di dukung ya ... ☺️...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...29...


Waktu seperti berhenti saat ini. Semua orang diam mematung setelah mendengar apa yang dikatakan Nolan. Tapi tidak ada masalah dengan Caca. Gadis itu tersenyum riang ketika Nolan membelah lautan manusia yang sedang berkerumun itu, lantas melewatinya dan murid perempuan yang masih dalam kendali Caca begitu saja.


“Tuh, denger sendiri kan?” bisik Caca, kemudian melepas tawanannya dan pergi berjalan mengekor di belakang Nolan.


Caca melompat kecil untuk mengimbangi langkah Nolan yang terlalu cepat untuknya. Kini mereka sudah berjalan berdampingan.


“Kamu terlalu berlebihan, Nol.”


“Dah lah. Biarin aja. Gue males lihat mereka terus ngejar-ngejar gue tanpa alasan jelas.”


Caca terkikik geli dengan kenyataan yang sedang di rasakan Nolan. Mereka memang terlihat aneh di benak Caca. Tapi mereka juga terlihat wajar dan normal, karena Nolan memang tampan dan wajib banget di perjuangkan.


Lho? Kok?


Caca segera menepis gumaman dalam hati yang baru saja terucap secara spontanitas itu.


“Tapi aku jadi sasaran mereka.” cebik Caca protes. Karena memang seperti itu kenyataannya. Ia di jadikan sasaran oleh fans Nolan, menganggap dirinya adalah hama yang harus di basmi agar tidak meresahkan dan mengganggu ketentraman umat.


Seolah-olah tidak peduli, Nolan hanya terus memacu langkah lebarnya menuju parkiran motor. Dia akan menuju tempat yang sudah ia janjikan dengan Jonathan hari ini. Berikut Caca yang akan ia bawa.


Nahas sekali, mengapa dia lupa kalau ada janji dengan Jonathan dan mengajak Caca berangkat bersama tadi pagi? Pasti temannya itu akan menggodanya habis-habisan nanti.


Hah, sudahlah.


Nolan dan Caca sampai di parkiran motor. Nolan duduk di jok motornya, lalu mengulurkan helm milik Caca dan memakai helm nya sendiri.


“Mereka bakalan tambah salah faham ngelihat kita boncengan gini.” kata Caca sembari memakai masker dan helm nya.


Nolan hanya diam dan merogoh saku celana mencari kunci motornya, kemudian duduk di atas jok.


“Gue ada janji ketemu sama temen, Lo ikut gue sebentar.”


Caca mengangguk patuh setelah itu naik ke atas motor mahal Nolan. Dia naik dengan posisi berdiri sebentar karena ia harus membenarkan roknya terlebih dahulu. Setelah itu menepuk bahu Nolan sebagai tanda jika dia sudah siap.


“Memangnya, mau touring kemana?” tanya Caca membuka pembicaraan karena sejak keluar dari gerbang sekolah dengan disuguhi tatapan tajam setiap mata penghuni SMA Kemala tadi, mereka belum ada berbicara apapun.


“Jauh. Luar kota.” jawab Nolan singkat.


“Kemana, biar aku bisa ngasih keputusan mau ikut apa enggak.”


Nolan hampir lupa. Kemarin, yang meng-iyakan ajakan itu adalah dirinya sendiri, bukan Caca.


“Nanti juga Lo tau sendiri.”


Nolan ini memang berbeda. Semakin di paksa, semakin sulit bicara, dan Caca memilih diam setelah itu sampai mereka tiba didepan sebuah kedai kopi kenamaan yang pernah menjadi tempat Caca mengais pundi rupiah.


“Sial. Mengapa Moonbuck? Bisa terbongkar dan malu tujuh turunan kalau sampai mereka tau aku kayak gini.” dumal Caca tak karuan ketika ban motor gede Nolan ini memasuki area parkir kedai kopi sejuta umat itu.

__ADS_1


Kacau. Disini dia pasti akan dikenali tanpa perlu menunggu detik berubah menit. Habis sudah.


Caca berdebar dan menahan mati-matian, serta mengendalikan diri untuk mencari solusi. Lalu pada akhirnya ia bisa melihat Nolan mematikan mesin motor dan hendak melepas helm. Caca punya satu ide.


“Aku tunggu kamu disini saja.” kata Caca tiba-tiba, menunggu Nolan memberikan respon.


“Kenapa?”


“Di dalem sana, pasti dingin banget kan? Aku lagi flu, dan—”


Dengan gerakan gesit Nolan meloloskan Hoodie dari tubuhnya. Lalu mengulurkan didepan Caca. “Nih, pakai. Dari pada Lo nunggu disini.”


Satu ide lain muncul. Baiklah, Caca akan melakukan penyamaran kali ini. Hoodie hitam yang pastinya besar dan menutupi postur tubuh Caca, penutup kepala yang bisa menutupi rambut, dan juga sebagian lain identitas yakni wajah Caca. Hanya tinggal menggerai rambut dengan alasan agar lehernya tidak kedinginan, dan memakai masker karena flu, itu tidak akan terlihat aneh di mata teman Nolan kan? Ah, bodo amat yang terpenting identitasnya tidak akan diketahui oleh mantan rekan kerjanya disini.


Tanpa membuang waktu lebih lama, Caca memasukkan dirinya dalam Hoodie yang dipinjamkan oleh Nolan. Ia sempat mematung karena ia seakan membaur dengan Nolan sekarang. Ia menatap punggung lebar dihadapannya setelah pakaian berbahan tebal bukan main dengan brand ternama itu melesat ke dalam tubuhnya yang ramping. Nolan itu sem—


“Cepetan.” kata Nolan menyentak ketika sadar Caca tak kunjung bergerak menyelesaikan urusannya. Dan aroma yang disukai Caca itu, sekarang sedang ia hirup tanpa harus merasakannya secara sembunyi-sembunyi.


“I-iya.”


Setelah merealisasikan penyamaran di otaknya, Caca turun dari motor dan kembali meneliti penampilannya di bentangan kaca transparan Moonbuck. Dia benar-benar tidak boleh gagal, atau semuanya akan terbongkar dan misinya gagal total.


“Okey. Ini bakalan aman.” gumamnya dalam hati dan ia tidak sadar jika Nolan sedang menatap aneh padanya. Caca kembali mengambil langkah dan tanpa ia duga menabrak Nolan yang ternyata berhenti didepannya.


“Aduh.” keluhnya kaget.


“Kamu kayak Olaf yang datang dari dunia kegelapan.” kelakar Nolan yang terdengar seperti jokes bapack-bapack yang bikin suara ngakaknya itu, beda.


Sial!


“Udahlah. Jangan banyak protes. Cepetan jalan.” titah Caca kesal sembari mendorong punggung Nolan agar kembali melangkah.


Step pertama, masuk ke dalam Moonbuck dengan gaya sok anak SMA. Check list, berhasil. Tidak mengundang kecurigaan karena Nolan membawanya langsung menuju salah satu sudut ruangan dengan zona aman.


“Dimana sih Jonathan ini?” gumam Nolan sambil mengeluarkan ponsel hendak menghubungi temannya itu. Tapi sebuah panggilan menyerukan nama Nolan, berhasil menarik perhatian Nolan dan Caca. Bahkan juga beberapa pengunjung disini.


Nolan kembali berjalan dan Caca kembali mengekor. Dari tempatnya melangkah, Caca bisa mencuri-curi pandang, mengintip dari balik punggung Nolan untuk mengetahui bagaimana rupa si teman Nolan itu yang ternyata sedang bersama seorang perempuan. Caca tebak itu kekasihnya, tapi entahlah.


Hingga sampai di meja nomor sepuluh, Nolan melakukan toss dengan temannya itu, dan Caca menerima uluran tangan si gadis berwajah oval yang cantik dan kalemnya luar biasa. Teman Nolan dan gadis cantik ini sangat cocok.


“Nanda.” katanya memperkenalkan diri. Sedangkan Caca, memutar kepala memperhatikan sekitar terlebih dahulu saat hendak menyebutkan namanya. Aman.


Step tiga, menjalin keakraban agar tidak mencurigakan. Check list.


“Clarita.”


“Jadi kamu pacarnya Nolan?”


Caca mengibaskan telapak tangannya didepan Nanda. Dia tertawa kaku dibalik masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.


“Bukan—”


“Temen gue, Nan.”


“Oh ... ” jawab Nanda sambil mengangguk kemudian tersenyum dan mengajak Caca duduk bersebelahan dengannya, sedangkan Nolan bersebelahan dengan teman yang belum Caca ketahui namanya. “Udah lama temenan sama Nolan?” lanjut Nanda kepo.


“Ahahah ... baru beberapa minggu. Aku anak baru di sana.”


Jonathan terkejut, ekspresinya berubah jail karena tidak menyangka sahabatnya itu bisa dekat dengan seseorang dalam kurun waktu sesingkat itu. Seistimewa apa gadis ini sampai berhasil membuat Nolan mau menjadi temannya? Setidaknya, pertanyaan itu yang sekarang ada didalam kepala Jonathan.


“Jadi, dia yang mau Lo ajak touring?”

__ADS_1


Nolan mengangguk. Sekarang Caca faham arah dan tujuan mereka bertemu sekarang, Nolan ingin memperkenalkan dirinya kepada teman dekatnya itu. Setelah itu obrolan terjalin cukup akrab, sampai Caca melihat sosok yang pernah ia kagumi secara diam-diam selama bekerja disini. Arkan. Pria itu terlihat semakin mempesona dan berhasil membuat degup jantung Caca seperti berlebihan hingga nyaris meledakkan buncahan perasaan yang tidak lagi sanggup ia bendung. Caca ingin meneriakkan nama pria itu, tetapi mustahil dan hanya ia redam sampai di tenggorokan.


Namun tanpa Caca sadari, Nolan menangkap tatapan Caca pada Arkan secara diam-diam. Hatinya terasa ngilu.


Jam sudah menunjuk angka lima sore. Jonathan dan kekasihnya pamit, disusul Nolan yang juga meninggalkan Moonbuck ke arah parkiran motor. Caca hendak melepas Hoodie milik Nolan karena misi penyamarannya telah berhasil, namun Nolan meminta Caca untuk tetap memakai itu dengan alasan agar Caca nggak kedinginan selama perjalanan pulang nanti.


Langit terlihat jingga ketika motor Nolan melaju ke arah barat untuk mengantar Caca kembali ke rumah nya. Jalanan yang padat dan penuh sesak berhasil membuat Nolan memutar stir motor untuk mencari jalan pintas yang lebih lengang. Dan lingkar timur menjadi pilihan.


Nolan menurunkan kecepatan dan tertawa kecil saat melewati tempat dimana ia bertemu Caca untuk pertama kalinya. Sejenis, nostalgia.


“Kenapa tertawa?” tanya Caca penasaran.


“Coba tebak.” jawab Nolan memilih main tebak-tebak buah manggis.


Caca mengamati sekitar. Matanya memeta dan menyisir lokasinya berada bersama Nolan saat ini.


Begitu sadar, Caca membolakan mata hingga nyaris menggelinding keluar dari tempatnya.


“Kamu—”


“Gue kira Lo hantu waktu itu.” kata Nolan sambil tertawa cukup lebar hingga Caca bisa mendengarnya.


“Kam-pret!”


“Gue mau kabur waktu itu.” kata Nolan, masih dengan kata-kata klise pada bagian akhir. “Tapi pada akhirnya gue ikutan nyemplung parit gara-gara naikin motor rongsok—”


Caca menoyor helm Arai RX-7V RC Carbon yang sedang dipakai Nolan hingga kepala Nolan ikut terantuk kedepan.


“Shi—” dia hampir mengumpat, tapi ia tahan.


“Itu motor kesayangan ku tau! Sekali lagi bilang motor itu rongsok, kamu yang bakalan aku kirim ke pusat penjualan kolong besi.”


Sekali lagi Nolan tertawa, namun kali ini tak bersuara. Entah mengapa, bersama Caca seperti bebas. Ia merasa nyaman dan tidak harus menjadi orang lain dengan berpura-pura memasang sikap apapun. Ia hanya perlu menjadi diri sendiri di depan Caca. Ia merasa bahagia tanpa alasan.


“Sorry.” kata Nolan dalam hati. Ya, hanya dalam hati, karena pada kenyataannya gengsi lebih mendominasi.


“Nanti gue mintain Lo izin ke nyokap Lo.”


“Lo nggak usah izin juga Bu Julia bakal ngizini.” celetuk Caca tak mau menutupi apapun. Kenyataannya memang begitu, Bu Julia sudah jatuh terlalu dalam oleh pesona Nolan hingga tidak bisa berkutik.


“Nggak. Gue bakalan tetep ngomong.”


Diam-diam sudut bibir Caca berkedut menahan senyuman. Nolan ini, ternyata memiliki sifat-sifat baik yang sengaja di tutupi oleh sifat begundalnya hingga orang lain mengira jika Nolan memang buruk. Termasuk papanya sendiri.


Iseng-iseng Caca bertanya,


“Kamu, bagaimana dengan izin orang tuamu?” tanya Caca memancing pembicaraan. Siapa tau setelah ini dia bisa menceramahi Nolan untuk lebih baik kepada papanya yang sedang sakit itu.


“Gue nggak perlu izin siapapun.”


Caca menggeleng. Dia menepuk lembut satu sisi bahu Nolan.


“Ya nggak gitu, Nol. Kamu kan masih punya orang tua. Setidaknya kamu hargai mereka lah.” dengan nada sedikit bercanda agar Nolan tidak tersinggung dan terpancing emosi, Caca menyampaikan sebuah pesan inti tersembunyi kepada Nolan dari papa nya.


“Mama gue udah meninggal. Dan papa nggak peduli ke gue. Jadi untuk apa gue minta izin sama orang yang nggak peduli sama hidup gue.”


Ada denyut menyakitkan yang dirasakan hati Caca. Apa luka hati yang diderita Nolan begitu parah sampai dia terkesan sangat membenci papanya. Ini lah tujuan Caca memancing pembicaraan. Dia ingin mengorek satu rahasia yang tidak diberitahukan oleh Hendra padanya, sore ini. Well, senja ini ketika dia berada di atas motor Nolan yang sedang memboncengnya.


“Memangnya, kenapa kamu menilai papa kamu sampai sejauh itu? Siapa tau dia—”


“Leonard adalah bukti, mengapa aku sangat benci pada papa.”[]

__ADS_1


...—Bersambung—...


__ADS_2