Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Caca Vs Terry


__ADS_3

...Part 22 hadir...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...




...MGT by: VizcaVida...


...22...


Kasih sayang, Nolan sangat menginginkannya. Tapi takdir seolah sedang mengajaknya bermain petak umpet, dimana dia harus mencari dan menemukan sendiri tentang apa sebuah objek yang memiliki arti kasih sayang.


Sejak sang mama meninggalkannya, Nolan tidak pernah lagi peduli apa itu kasih sayang. Dia abai, dan bahkan nggak percaya lagi arti sebuah kasih sayang karena sang papa sudah mengingkarinya.


Semasa kecil, Nolan pernah memiliki cita-cita mulia menjadi seorang dokter, agar bisa membantu orang lain sembuh dari sakit. Namun lambat laun semuanya memudar, bahkan Nolan tidak ingat dia pernah memiliki cita-cita tersebut, sampai dia tau Jonathan mengambil ilmu kedokteran di fakultas tempat temannya itu belajar sekarang.


Berbeda dengannya, Jonathan tidak pernah lepas dari perhatian kedua orangtuanya. Mereka memberikan Jonathan kasih sayang penuh, dan keluarga mereka begitu bahagia dan harmonis.


Kaya dan harmonis, apalagi yang kurang? Semua pasti iri melihat dua hal itu. Tak terkecuali Nolan.


Kedua orang tua Jonathan itu dokter, tapi mereka selalu bekerja sama membagi waktu untuk mengurus anak-anak mereka dan memberikan perhatian serta kasih sayang yang tak pernah putus. Bahkan ketika Nolan mampir dan main dirumah Jonathan, Nolan selalu disambut dengan hangat oleh mereka berdua. Tidak seperti papanya yang sibuk bekerja luar kota berhari-hari, bahkan menengok dan memberi kabar pada Nolan saja tidak. Itu adalah salah satu alasan Nolan membenci papanya, tentu saja selain masalah utama yang membuatnya harus rela kehilangan sang mama.


Selama ini, karena ingin melarikan pikirannya yang kacau karena merindukan mamanya, Nolan memilih menghabiskan uang papanya dengan membeli banyak jenis mobil mahal keluaran terbaru, lalu menjadikannya sebagai tunggangan untuk unjuk gigi di jalanan. Ia sering ikut balapan liar dan menjadikan mobil harga selangit itu sebagai taruhannya. Terkadang Nolan juga merasa puas jika dirinya kalah, karena hanya dengan cara itu papanya akan pulang untuk menemuinya. Meskipun tidak untuk mengatakan rindu dan sayang seperti orang tua kebanyakan, setidaknya Nolan bisa melihat jika papanya masih hidup.


“Nol,”


Nolan terkejut, ia mengikuti telapak tangan Caca yang bergerak naik turun didepan wajahnya dengan raut datar. Ia hampir lupa jika sedang makan siang bersama Caca di kantin hari ini. Dia malah sibuk memikirkan nasib masa depannya dan juga kebenciannya kepada Hendra.


Nolan tidak menjawab, tapi dia kembali menyendok nasi dan memasukkan lauk kedalam mulutnya hingga penuh.


“Kamu baik-baik saja kan?” pertanyaan Caca tidak diabaikan kali ini, Nolan mengangguk.


Sebuah usaha keras yang terus Caca perjuangkan beberapa hari ini, yakni mendekati Nolan. Pemuda itu bahkan seperti tidak menganggap keberadaannya meskipun mereka ada di ruangan yang sama. Seperti sekarang, Nolan meliriknya saja tidak, dan itu membuat Caca gerah. Dia ingin mengumpat bahkan meneriaki Nolan dengan nama penjaga pintu rumah pak Irawan, yang setiap Caca lewat selalu terkejut karena gonggongannya. You know what caca's mean, right? Lanjut.


“Nol,”

__ADS_1


Nolan menggebrak meja hingga Caca dan beberapa siswa yang ada disekitar mereka terkejut. Kemudian Nolan berdiri seperti tidak bersalah, melangkahi bangku panjang tempatnya duduk dan meninggalkan Caca dan beberapa orang murid laki-laki yang mulai mengatai Nolan.


“Dasar bajingan tuh. Dari dulu kelakuan tetep aja kek settan.”


Mendengar umpatan itu, Caca yang hendak menyusul Nolan pada akhirnya berhenti. Ia berbalik lantas mendekat pada sosok siswa yang terlihat tak kalah begundal dari seorang Nolan, lalu menatap lurus pada pemuda tersebut.


“Apa? Lo mau belain Nolan?” tanyanya dengan senyuman miring disudut bibir. “Wah, guys, nih sekarang si brengsek itu punya pengawal.” lanjut siswa tersebut sambil menunjuk Caca lalu bertepuk tangan dan tertawa mengejek yang ditujukan untuk Caca.


Mata Caca turun ke dada siswa tersebut untuk menemukan nametag pemuda itu disana. Terry Tantono, dan Caca tersenyum miring.


“Terry, kamu pikir kamu lebih baik dari Nolan?” tanya Caca mengintimidasi.


“Tentu saja. Gue nggak se—berengsek dia.”


Susana berubah hening. Tatapan heran dan mengejek mulai tertuju untuk Caca. Hampir sebagian siswi disini menilai Caca ini suka mencari perhatian. Padahal, Caca hanya ingin meluruskan apa yang dikatakan pemuda itu tentang Nolan. Nolan tidak seburuk yang mereka kira. Pemuda itu baik, namun semua itu Nolan sembunyikan didepan semua orang. Entah apa tujuannya Caca juga tidak tau.


“Coba kamu ngaca. Dirumah kamu ada kaca kan? Atau memang tidak ada ya? Kok ngomong nggak lihat diri sendiri dulu.”


Tawa di bibir Terry menghilang. Pemuda itu berdiri menjulang didepan Caca, lalu mendorong satu sisi bahu depan Caca dengan jari telunjuknya.


“Hey, anak baru. Lo mau cari masalah sama gue?” katanya, sambil terus mendorong bahu Caca dengan telunjuknya hingga kaki Caca terpaksa mundur langkah demi langkah. “Lo itu lon-te nya si Nolan ya? Kasihan, cantik-cantik lon-te.”


Caca melayangkan telapak tangannya menampar pipi Terry. Rahangnya mengeras dengan nafas memburu. Enak saja pemuda seperti itu menjatuhkan harga diri dan menyamakannya dengan seorang lon-te? Caca tidak mau tinggal diam.


(**Perhatikan mulai disini**)


Bugh!


Caca jatuh terduduk karena Terry menarik surainya tanpa ragu-ragu atau memikirkan jika Caca itu seorang perempuan.


Menahan nyeri dan malu, Caca berusaha berdiri. Caca ingin mengabaikan semua rasa sakit yang menghantam pinggulnya itu dengan pergi tanpa berusaha mencari gara-gara lain dengan pemuda anarkis di balik punggungnya itu. Tapi nahas, dengan kurang ajarnya Terry menjegal kaki Caca hingga kembali jatuh terduduk.


Pada akhirnya, Caca hanya diam diatas lantai. Ia menyorot wajah Terry dengan ekspresi marah.


“Kenapa? Lo sendiri yang memulai. Gue nggak peduli Lo cewek atau cowok, kalau Lo udah nyentil kehidupan gue, gue bakalan ancurin Lo.” katanya sedikit berteriak, menunjukkan kuasanya disini. Memang, selain Nolan dan Leo, Terry adalah salah satu siswa yang ditakuti oleh seluruh isi SMA Kemala. Dia terkenal kejam dan tak pandang pilih musuhnya. Mau itu seorang perempuan, Terry akan tetap membalasnya.


“Lo sadar nggak kalau Lo itu jauh dari kata baik?!” kata Caca tegas. “Dan Nolan, jauh lebih baik dari pada kamu!”


Mendengar dirinya disamakan dengan Nolan, emosi Terry mendadak naik ke ubun-ubun. Dia meraih kembali surai Caca yang diikat itu hingga berdiri, kemudian mendorongnya hingga kini Caca kembali tersungkur diatas lantai. Beberapa murid perempuan merasa kasihan dan prihatin atas perlakuan yang diterima Caca, namun mereka tidak berani berbuat apapun apalagi menolong karena merasa takut menjadi korban bully selanjutnya oleh seorang Terry.

__ADS_1


Lutut Caca berdarah karena tidak sengaja bergesekan dengan lantai yang retak dan sedikit timbul, dan Terry masih belum mau menyudahi itu. Ia akan meraih kembali Caca, tapi Gita berdiri didepan Terry dengan wajah datarnya.


“Pecundang.” katanya bernada dingin. Sama sekali tidak menunjukkan rasa suka kepada sosok Terry. “Lo berani sama cewek, berurusan sama gue.”


Siapa yang tidak tau, Terry adalah penggila seorang Gita. Terry bahkan menjadi manusi yang paling membenci Nolan karena Nolan sudah membuat Caca patah hati. Jadi, tidak mungkin Terry akan menyakiti gadis pujaan hatinya itu.


“Git,”


“Sekali lagi Lo ganggu temen gue. Bisa gue pastiin, Lo yang bakalan Out dari sini.” ancam Gita tak tanggung-tanggung, membuat Terry seketika mundur dan menatap Caca penuh dendam seolah mengisyaratkan ‘urusan kita belum kelar’. (****)


Seperginya Terry dari hadapan Gita dan Caca, isi kantin mulai riuh dan membuat lingkaran menggerumbul demi melihat Caca dan Gita.


“Kamu nggak apa-apa kan, Ca?” tanya Gita lembut sambil membantu Caca berdiri untuk menuju UKS demi mengobati luka berdarah dilutut Caca.


“Ahahah ... nggak apa-apa kok. Aku masih bisa jalan sendiri.”


“Nggak. Ayo aku bantu ke UKS dulu buat bersihin luka kamu biar nggak infeksi.”


“Aku nggak apa-apa, Git.”


“Ca, please.”


Pada akhirnya Caca luluh dan menuruti keinginan Gita untuk pergi menuju UKS. Disepanjang koridor sekolah, langkah Caca sedikit terseok menahan sakit di pinggangnya karena jatuh dua kali karena Terry.


“Terry itu bahaya. Ngapain kamu cari masalah sama dia sih?”


Caca tersenyum miris sambil menggaruk telinga nya. “Aku nggak tau kalau dia kasar sama perempuan.”


“Lain kali kalau ada dia, kamu hindari aja. Jangan lagi berurusan sama dia kalau nggak ada orang lain yang berani ngelawan dia disekitar kamu.”


Caca mengangguk paham. Benar kata Gita, dia nggak harus berurusan lagi sama orang mengerikan macam Terry. Benar juga kata Nolan, manusia lebih menakutkan daripada hantu. Jika hantu hanya menampakkan wujudnya untuk menakuti, manusia akan berbuat kasar dan menyakiti untuk membuktikan dirinya ada untuk diakui.


“Memangnya, siapa yang berani melawan Terry. Kamu saja perasaan.” cebik Caca sambil tertawa mengakui kehebatan Gita menjinakkan seorang Terry.


“Ada,”


Caca menatap wajah Gita yang tiba-tiba berubah sendu.


“Ada? Siapa?” tanya Caca penasaran.

__ADS_1


“Nolan.” []


...—Bersambung—...


__ADS_2