
...One step Closer-nya Nolan Caca...
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
Gara-gara Nolan, Caca jadi sulit tidur malam ini. Kata-kata Nolan membuatnya terus berfikir untuk membayangkan bagaimana dia akan hidup bersama Nolan, menyandang status sebagai seorang istri yang akan selalu ada di sisi Nolan. Termasuk, ranjang?
Wajah Caca tiba-tiba memanas. Ia menutup wajahnya dengan bantal, kemudian kedua kakinya menendang udara hingga ranjang berukuran sempit itu berderit.
Gila. Otaknya sudah mulai berfantasi memikirkan bagaimana dia dan Nolan akan berada diatas ranjang yang sama, kemudian bergumul—
“Stop! Kamu berlebihan memikirkan itu, Ca.” gumamnya pada diri sendiri. Sungguh, otak nya mungkin sudah gila karena memikirkan hal-hal int-im bersama Nolan sampai sejauh itu. “Gila. Aku udah bener-bener gila gara-gara Nolan.”
Semuanya terhenti ketika ponsel Caca di atas nakas bergetar. Ia menurunkan bantal dari wajahnya, lantas meraih ponsel dan melihat nama si penelepon.
Melihat nama Nolan disana, Caca seperti bertransformasi menjadi seorang remaja labil yang baru saja jatuh cinta. Ia melompat-lompat diatas lantai dengan senyuman bahagia tak terkira, kemudian kembali duduk kasar di tepian ranjang dan menjawab panggilan tersebut.
“Ada apa?”
Nolan diam tidak menjawab.
“Halo?”
“Besok aku jemput jam tujuh malam.”
“Mau kemana?”
“Ke tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya.”
Ah, kenapa selain membuatnya berubah seperti orang kurang waras, Nolan ini juga pandai sekali membuatnya kesal. Siapa juga yang kepo dengan jawaban itu.
“Baiklah. Terserah kamu. Tapi jangan kecewa kalau aku besok tidak ada dirumah.” goda Caca agar Nolan mau berterus terang padanya.
“Memangnya kamu mau pergi sama siapa?”
Caca hanya bicara kosong. Dia tidak ada janji dengan siapapun. Dia hanya ingin menggoda Nolan.
“Ada, temen.”
“Ah, oke. Sampai jumpa besok.”
Dan ternyata, Nolan datang jauh lebih cepat dari jam tujuh malam keesokan harinya. Caca tidak percaya dan dibuat melongo oleh kelakuan Nolan yang ... entahlah, coba simpulkan sendiri.
“Kamu ngapain?” tanya Caca heran, tak habis pikir dengan kekasih nya ini.
Ah ya. Sebut dia kekasih mulai dari sekarang. Sebut mereka pasangan kekasih mulai saat ini.
“Ngapain apa maksud kamu. Ya biar aku nggak kalah start lah.” sahut Nolan enteng yang semakin membuat Caca heran hingga geleng-geleng kepala.
“Kalah start apa sih?!” tanya Caca sebal. Nolan itu bicaranya kadang random dan bikin pusing.
“Kamu bilang di telepon kemarin kalau kamu mau pergi sama temen kamu jam tujuh malem. Ya udah, aku dulu yang sampai disini, jadi kamu nggak bisa pergi sama temen kamu itu.” cerocos Nolan polos.
Oh, God. Caca menghela nafas.
“Astaga, Nol. Kamu percaya?”
“Eumm, kamu nggak pernah bohongi aku. Jadi aku percaya.”
Caca menggelengkan kepalanya sampai pusing dan lelah. Dia akan pergi ke tukang urut untuk meregangkan otot kepalanya setelah ini. “Aku cuma bercanda. Cuma godain kamu.”
Wajah polos Nolan berubah datar, “Ada dua meeting yang aku batalin gara-gara bercandaan kamu ini, Ca.”
Sekarang, Caca merasa bersalah. Nolan ini ... aduh, Caca bingung sendiri menyebut Nolan ini apa.
“Astaga. Aku nggak tau kalau kamu anggap serius ucapan aku, Nol.”
Nolan mendengus lelah. Semua sudah terjadi, lalu mau apalagi? Padahal, tadi dia ada meeting dengan klien yang akan menjadi sponsor untuk salah satu event yang di buat oleh perusahaan produk kecantikan miliknya. Tapi, ya sudahlah.
__ADS_1
“Lain kali jangan begitu. Aku bukan lagi anak SMA yang bisa kamu bercandain aneh-aneh.”
Caca menyesal. Dengan kelakuannya itu, Nolan bisa saja kehilangan omset dan kliennya.
“Maaf. Aku nggak akan ngulangi itu lagi.”
Bukannya marah, Nolan malah tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Caca yang masih belum mempersilahkannya masuk ke dalam rumah, lalu mengusap satu sisi wajah wanita itu.
“Ya udah. Cepetan mandi, terus ganti baju. Kita berangkat setelah siap.”
“Memangnya, kamu mau ajak aku kemana?”
“Udah, mandi sana. Bau asem.”
Pada akhirnya Caca tidak lagi membuang waktu dan bergegas mandi. Setelah itu memilih pakaian yang sesuai dengan tebakannya, pasti Nolan akan mengajaknya makan malam, Ya kan? Pasti.
Ia memutuskan untuk memakai pakaian santai saja. Celana jeans warna gelap, dan kaos polos warna senada yang sedikit membentuk tubuh. Kemudian untuk rambut, dia hanya perlu mengikatnya menjadi satu, dan tidak lupa memberi sedikit sentuhan Kiyut dengan poni ala-ala Korean girl, dan memoleskan sedikit liptint di bibir peachnya.
“Kamu cantik jika dandan normal begini, Ca.” katanya menatap pantulan diri sendiri pada cermin.
Tak lama kemudian dia keluar kamar dan menghampiri Nolan yang ternyata duduk diteras sembari merokok. Kebiasaan lama yang ternyata masih belum hilang dari pria itu.
Caca mengerucutkan bibirnya kesal. Sudah dandan cantik, malah bau asap rokok Nolan. Kan nggak lucu?
“Sudah?” tanya Nolan tidak tau diri. Dia bahkan menyedot rokoknya dengan durasi sedikit lama, kemudian mematikan apinya sebelum melemparnya ke tanah pekarangan yang masih luas di depan rumah Caca. Lalu memakai sepatu pantofel nya yang terlihat masih sangat mengkilat.
“Kamu kenapa masih ngerokok? Percuma aku dandan cantik kayak gini tapi nanti akhirnya bau asap rokok kamu.”
Nolan baru sadar dan bergerak merotasikan matanya untuk melihat Caca setelah mendengar protes wanita kesayangannya itu. Dan ya, Caca memang terlihat sangat cantik saat ini. Dia terlihat lebih fresh.
“Ah, aku akan melepas jas nya.”
Nolan pun melepas jas putihnya, dan menyisakan kemeja hitam yang masih rapi, jam tangan mahal yang mencolok di pergelangan tangannya, dan celana putih yang sungguh menggoda penglihatan kaum hawa. Tubuh atletis itu tercetak nyata dibalik pakaian yang ia kenakan, dan memancing kaum hawa menjadi bergai-rah. Khususnya, makhluk bumi bernama Caca.
Ingin sekali Caca menampar mulut dan otaknya sendiri karena sudah berfikir macam-macam seperti itu.
“Yuk.” ajak Nolan meraih tangan Caca dan menyeretnya menuju mobil pribadi yang ia bawa sejak pagi tadi. Sekedar informasi, Nolan menolak jemputan Dharma dan memilih menyetir sendiri demi bertemu dan merealisasikan janji temu nya dengan Caca hari ini.
Setelah mengantar Caca sampai di kursi samping kemudi, Nolan berlari kecil memutari cup depan mobil Porsche 911 GT2 RS miliknya. Caca membatin, ternyata selera Nolan terhadap mobil masih tidak jauh-jauh dari kata balapan. Mobil Sport yang ditumpangi Caca kali ini masih kental dengan vibes Nolan sekali. Vibes balapan yang memang sepertinya sudah menjadi kesukaan pria itu sejak dan pada zamannya.
“Ternyata Louis sudah mengajarkanmu memakai seatbelt dengan benar ya? Wah, aku termasuk orang yang beruntung.”
Caca ingin sekali menepuk mulut Nolan yang asal bicara itu. Louis hanya penerus, sedangkan orang pertama yang membuatnya pandai memakai seatbelt adalah ...
Tebak sendiri.
“Ya, ya. Kamu pria yang paling beruntung di dunia. You are lucky guy.”
“Yes I am, thank you.” celetuk Nolan menanggapi kata-kata Caca yang penuh penekanan itu tanpa rasa bersalah dan juga tawa terhibur.
Dan kendaraan itu melesat bersama kendaraan lain memecah jalanan ibu kota yang selalu saja sibuk meskipun jam masih menunjuk diangka dua siang.
Akan tetapi, suasana hati Nolan terlihat begitu cerah secerah matahari terik siang ini. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kemudi mobil, sesekali dia ikut melantunkan lagu milik Maroon5, Lovesick. Caca juga suka lagu ini. Dia sering memutarnya di playlist aplikasi musik andalan sejuta umat, Spotify.
Selera mereka berdua tidak jauh beda. Kemudian dilanjut dengan Memories, masih dengan artis yang sama, Maroon 5.
Hingga akhirnya mereka sampai diparkiran sebuah mall besar yang terkenal sebagai tempat para crazy rich menghabiskan fulus mereka.
“Ngapain kesini.”
“Ada janji sama seseorang.”
Mendengar jawaban itu dari bibir Nolan, Caca mengerutkan kening.
“Jonathan?” Ah, sudah lama Caca tidak mendengar kabar Jonathan dan Nanda. Apa mereka sudah menikah? Itu pasti kan?
“Bukan.”
“Lha terus ngapain ngajak aku? Nggak mau turun ih.” rajuk Caca tak mau membuka seatbelt nya. Katakan saja seperti remaja labil, tapi Nolan suka Caca yang manja dan kekanakan seperti ini. Dia malah semakin cinta dengan Caca jika dalam mode merajuk begini.
“Turun dulu, nanti juga tau sendiri, sayang.” rayu Nolan sambil meraih pengait kunci seatbelt dan membukanya.
Tak bisa menolak, Caca pun ikut turun dan mengikuti langkah Nolan disisi kiri pria itu. Tiba-tiba saja Nolan meraih telapak tangannya untuk di genggam, Caca bisa melihat wajah bahagia Nolan di sepanjang siang menjelang sore ini.
__ADS_1
Lalu, semua berubah mengejutkan untuk Caca ketika Nolan menariknya untuk masuk ke sebuah toko perhiasan yang terkenal dengan kualitas 24 karat nya.
Nolan berdiri didepan salah seorang pegawai toko tersebut dan menyampaikan maksudnya.
“Ini, model terbaru dari kami.” kata si pegawai laki-laki yang kini mengarahkan Caca dan Nolan pada salah satu sisi dimana banyak sekali cincin berpasangan di pajang disana. Caca meneguk salivanya susah payah ketika melihat semua bertuliskan 24 karat.
“Ini, berlian yang baru saja datang dari ... ”
Berlian?
Caca terus membatin dan tidak bisa fokus dengan pembicara pegawai toko dengan Nolan. Dulu, ketika bersama Louis, dia sendiri yang meminta dan memaksa Louis membelikan cincin sederhana saat pria itu berkata ingin mengajaknya ke toko perhiasan untuk membeli cincin. Tapi Nolan?
Dia tidak bicara apapun, dan ini sangat membuat Caca terpekur tak bisa berkata apa-apa.
“Bagaimana menurutmu, Ca?” kata Nolan menarik kembali kesadaran Caca dari kenangan lama. “Ya, malah melamun.” protes Nolan ketika melihat ekspresi gelagapan Caca.
Sekilas Caca melihat modelnya yang simple, akan tetapi tidak meninggalkan kesan Borjuis khas kesukaan Nolan.
“Bagus.”
“Atau yang ini? Ini juga model baru, dan berliannya juga terkesan tidak terlalu mencolok.” kata si pegawai mengambil model lain yang lebih menawan hati Caca.
“Wah, ini bagus Nol.”
Ca? Nol? Mereka masih sama. Kadang kalau tidak sadar saja panggilan mereka berubah ke lebih int-im.
“Kamu suka yang ini?”
Caca mengangguk.
“Cobain dulu. Kalau pas, ambil ini aja.” kata Nolan, kemudian mengambil cincin untuk perempuan dan memasangnya pada jari manis Caca. Kemudian mengambil cincin pasangan dan mencoba di jari manisnya sendiri.
“Pas.” kata Nolan disemati sebuah senyuman. “Kamu suka yang ini?”
Pegawai pria itu sampai senyum-senyum sendiri melihat interaksi pasangan kekasih didepan matanya itu. Kesannya tidak terlalu lebay, namun tetap membuat kagum siapapun yang melihat.
“Kamu sudah bertanya itu dua kali, Nol.”
“Ya siapa tau kamu nya berubah pikiran.”
“Nggak.”
Nolan mengangguk dan pegawai toko itu tersenyum. Mereka pasangan yang lucu dan menyenangkan selama dia bekerja disini.
Sesuai kesepakatan berdua, akhirnya pilihan jatuh pada cincin putih polos bermata berlian berwarna hitam yang terlihat sangat classy.
Mereka melanjutkan untuk pergi ke beberapa toko baju branded karena Nolan memaksa Caca untuk membeli beberapa pasang pakaian, yang memiliki warna sama. Biar couple an pikir Nolan. Kemudian berlanjut ke sebuah restoran untuk makan malam sebelum pulang.
Nuansa yang tenang kesukaan Nolan membuat keduanya nyaman menikmati hidangan yang mereka pesan.
“Kita take away-in Bu Julia sekalian.” kata Nolan, meraih lap dan mengusap sisa makanan di sudut bibirnya.
“Nol, pengeluaran kamu telalu—”
“Nggak apa-apa. Ini reward untuk kerja kerasku selama sepuluh tahun.”
Reward kok malah bikin kantong jebol. Caca membatin tak henti-henti dengan kelakuan pria berduit ini.
“Ya sudah. Sekalian aja beli tokonya, biar bisa di sebut jackpot.”
Nolan menyemburkan tawa. Caca ini selalu menggemaskan dimatanya. Marah dan sebal saja masih menggemaskan.
“Oke, bisa di list dulu. Nanti—”
“Nggak usah ngada-ngada deh Nol.” sahut Caca takut ucapnya menjadi kenyataan.
Nolan tertawa semakin lebar dan berhasil menarik perhatian hampir seluruh pengunjung karena tampangnya yang rupawan. Semua orang pasti tidak bisa berbohong, jika Nolan memang sangat tampan.
Lalu, lengannya yang kekar dan putih dalam balutan kemeja hitam yang digulung sebatas siku itu meraih puncak kepala Caca, lantas mengacaknya pelan dengan tatapan penuh sayang. “I love you.” []
...—Bersambung—...
###
__ADS_1
Boleh komennya dong akak... ☺️
Kalau berkenan, mampir juga ke cerita JyRu yuk 😉