Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Eleven


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


...Take the risk or lose the chance....


...—...


Louis sudah memutuskan untuk membicarakan hal itu kepada Caca. Tentang malam dimana ia pulang dengan keadaan buruk setelah meneguk minuman beralkohol di bar, dan pulang dalam papahan Gita. Dia tidak mau kehilangan kesempatan yang diberikan Caca kepadanya, meskipun nanti, ia sendiri tidak tau bagaimana selanjutnya hubungannya dengan Caca akan berjalan.


Seperti yang diharapkan Louis, mereka sekarang berada di apartemen Caca. Gadis berusia tiga puluh tahun itu memilih duduk berseberangan dengan kursi yang ditempati oleh Louis.


Tidak ada apapun diatas meja sebagai suguhan. Ini sudah jam sembilan malam, dan Caca berharap pembicaraan ini berlangsung cepat agar Louis cepat pulang, kemudian dia bisa beristirahat.


“Jadi, kamu mau tetap diam sampai besok pagi?” sergah Caca kesal karena sejak tiba disini, Louis hanya diam memandangi dirinya dan tidak bicara apapun.


“Aku hanya tidak tau harus memulainya darimana.” jawab Louis pelan. Bukan ini yang ia harapkan. Dia ingin hubungannya bersama Caca tetap baik seperti hari-hari sebelumnya.


“Kamu orang terpelajar. Kamu pasti tau cara memulai pembicaraan dengan orang seperti diriku.”


Bukan masalah berpendidikan, terpelajar atau tidak, atau apapun yang berhubungan dengan sistem akademik dalam hal ini. Louis hanya tidak bisa mengatakan apapun yang akan membuat Caca semakin menjauh darinya. Itu point sebenarnya.


“Aku, aku tidak bisa memulai nya, Ca. Sungguh.”


Caca menghela nafas lemah. Ia menatap jengah sosok Louis dan mulai berbicara lagi. “Jadi, kamu maunya apa sekarang? Apa aku yang harus mengajukan pertanyaan?”


Louis mengangguk. “Ya. ajukan semua pertanyaan dan aku akan menjawabnya.”


Caca menggeleng tidak habis pikir. Kenapa Louis menjadi ling-lung seperti orang bodoh begini. Sialan.


“Aku hanya ingin tau, apa yang terjadi malam itu.”


Louis membelalak. Mengapa Caca to the point sekali?


“Aku tidak melakukan apapun, Ca.” kata Louis bersikukuh. “Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengecek CCTV rumahku.”


Astaga, mengapa Louis tidak kepikiran untuk mengecek CCTV untuk mengetahui kejadian itu? Sial!! Ia bahkan tidak tau apa yang dia lakukan bersama Gita, lalu mengapa dia mengatakan kepada Caca untuk mengecek CCTV yang belum ia lihat sekalipun sejak beberapa hari lalu?

__ADS_1


“Ide bagus.” kata Caca cukup tegas. “Bukankah kamu bisa mengakses CCTV dari ponselmu? Sekarang, biarkan aku melihatnya.”


Astaga. Bagaimana jika yang terjadi adalah hal yang diluar dugaan Louis? Bagaimana kalau malam itu ... ia dan Gita benar-benar melakukannya? Pasalnya Louis hanya menebak-nebak saat terbangun dari tidur karena telepon Caca pagi itu. Ia terbangun tanpa busana, dan keadaan ruang tengah berantakan dengan pakaiannya sendiri yang tercecer dilantai, tanpa ada nya presensi Gita disana.


Caca sudah memantapkan diri dan hati. Jika memang sesuatu terjadi antara kekasihnya dengan wanita bernama Gita itu, dia akan terus berusaha tegar karena hatinya sudah ... pasrah.


Dengan ragu, Louis merogoh saku celana bahan berwarna gelap yang ia kenakan. Ia lantas mengetuk layar dan mencari rekaman CCTV yang bisa ia akses dari ponselnya. Tidak butuh waktu lama untuk melakukannya, karena begitu akses sudah terhubung, rekaman demi rekaman muncul di layar ponsel Louis.


Ia mengetuk kotak rekaman dengan tanggal 6 Februari dan menyerahkannya kepada Caca dengan gestur ragu. Ia benar-benar belum melihat sama sekali rekaman CCTV karena dia sibuk menenangkan Caca dan melakukan pekerjaan yang sungguh menguras tenaga dan waktu.


Caca menerima ponsel keluaran terbaru milik Louis dan melihat rekaman CCTV yang sebelumnya di aktifkan Louis. Tidak ada tampilan apapun selain sofa dan ruang tengah di menit-menit awal. Caca mempercepat putaran Video, mempercepat, dan mempercepat lagi hingga pada menit ke sekian, ia mulai melihat sesuatu yang sangat tidak ia harapkan. Bahkan, ia begitu terkejut bahwa Gita yang dimaksud oleh semua orang itu, adalah Gita yang memang ia kenal.


Caca mematung dengan mata berkabut ketika ia melihat tubuh Louis dalam rangkulan seorang perempuan kemudian diletakkan di sofa ruang tengah. Ia bahkan bergetar melihat adegan demi adegan yang terekam dan sekarang bisa ia lihat sebagai bukti rasa ingin taunya tentang Louis dan wanita pemilik Jepit rambut.


Lalu, pada detik yang terus berlalu, Caca mulai membekap mulutnya dengan airmata yang sudah runtuh bersama hatinya yang hancur. Louis benar-benar melakukan hal yang ia takutkan. Mereka—Louis dan Gita—bergumul diatas sofa ruang tengah. Hati Caca Hancur berkeping melihatnya. Ponsel semakin bergetar dalam genggaman Caca.


Karena tidak sanggup melihat lebih jauh, Caca meletakkan ponsel Louis diatas meja yang langsung saja di ambil oleh si pemilik. Mata Louis terbelalak lebar ketika melihat adegan yang hadir disana. Ia buru-buru mematikan video dan mendekati Caca. Ia bahkan berlutut di kedua kaki Caca untuk meminta maaf, tapi Caca menyentak tangan Louis dan hanya mampu menatap lurus ke arah televisi yang tidak menyala. Tatapannya kosong, tidak ada yang bisa ditebak Louis dari sorot mata yang terlihat hancur itu.


“Ca, aku, aku nggak tau kalau—”


“Nggak perlu menjelaskan apapun. Semuanya sudah jelas, Lou.”


“Aku,” Louis bahkan tidak bisa mengatakan apapun untuk menenangkan hati Caca karena jujur, dia juga sama terkejutnya dengan sang kekasih. “Ca, tolong maafkan aku.”


“Ya, aku maafin kamu, Lou.” ucap Caca tanpa ekspresi apapun. Ia hanya masih menatap datar dan lurus pada sudut ruangan ini, yang hari ini menjadi saksi kehancuran dirinya. Ini tidak baik, dan Caca ingin menyerah pada hubungan mereka.


Menyerah? Karena kedua orang tua Louis tidak pernah memberikan restu kepada hubungan mereka. Sang ibu yang melahirkan Louis adalah orang yang taat, dan menginginkan sang putra hidup dengan wanita yang berasal dari kepercayaan yang sama dengan mereka. Namun Louis tetap bersikukuh melamar Caca karena dia sudah amat sangat jatuh cinta kepada nya.


Caca adalah gadis yang mau dan bisa mengubah kehidupan kelam Louis, dan membuatnya jatuh cinta tanpa memandang apapun. Yang Louis harapkan sejak dulu adalah, hidup bersama dalam bidak rumah tangga bersama Caca.


Tapi apa sekarang? Masalah berat yang tidak pernah ia bayangkan hadir dalam hubungan mereka, memukul mundur semua harapan Louis selama ini. Semua salahnya. Jika saja dia tidak pergi ke bar dan menghabiskan minuman beralkohol hingga hilang kesadaran, semua ini pasti tidak akan terjadi. Ya, ini memang salahnya.


“Ca, Please ... ”


Caca kembali menjauhkan permukaan kulitnya agar tidak bersentuhan dengan milik Louis. Semuanya terasa berbeda setelah melihat video itu. Rasa cintanya yang selalu ia paksa untuk tulus, harus berakhir miris. Louis sudah berbohong dan membuatnya patah hati hingga hancur tak bersisa. Cinta pertama yang membuatnya akan sulit membuka hati untuk orang lain karena trauma.


“Kembalilah ke tempat duduk mu, Lou. Aku, baik-baik saja.”


“Tidak.”


Berada dalam titik keputusasaan yang begitu mendera, Caca tidak tau lagi bagaimana cara meminta pada Louis dengan nada lembut.

__ADS_1


“TOLONG KEMBALILAH DUDUK DISANA!!” teriaknya sangat keras hingga suaranya membumbung seantero ruangan. “Tolong, jangan buat aku semakin putus asa, Lou.” pintanya dengan nada suara yang sudah menurun dan menyerupai sebuah bisikan.


Setelah melihat Louis kembali duduk di kursi seberang, Caca menatap cincin yang melingkari jari manisnya selama empat tahun ini, secara diam-diam. Lalu satu keberanian muncul begitu saja dalam dirinya.


Ia menarik lepas cincin itu dan meletakkannya diatas meja. Sontak hal itu membuat Louis membelalakkan matanya yang sudah basah oleh air mata.


“Apa yang kamu lakukan, Ca?”


Teriak Louis lantang, ia bahkan sudah hampir berdiri dan ingin menghentikan apa yang sedang dilakukan Caca, namun semuanya kembali terhenti kala Caca mengangkat lengannya memberi isyarat agar Louis kembali diam.


“Ini adalah hal setimpal yang adil untukku.” kata Caca penuh ketegaran di tengah hatinya yang sudah tidak berbentuk. “Aku akan pergi dari hidupmu. Kita memang tidak seharusnya bersama sejak awal.”


Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Waktu dan perjuangan mereka berdua sekarang terlihat sia-sia. Akan tetapi keputusan Caca sudah bulat. Hatinya tidak akan pernah bisa menerima dengan mudah meskipun maaf sudah ia berikan.


“Ca, please. Jangan lakukan ini.”


Caca menggelengkan kepalanya kecewa.


“Kita orang bodoh jika sampai masih berusaha bertahan di hubungan ini.” kata Caca berusaha untuk tetap menegakkan hatinya yang bahkan sudah tak berbentuk.


“Jika kamu mencintaiku, lepaskan aku dan biarkan aku pergi dari hidupmu, Lou.”


Louis memejamkan mata. Telapak tangannya mengepal kuat dan ia menunduk menahan suara tangisnya yang ingin meledak.


“Ternyata, mencintai seorang Louis tidak semudah itu.” lanjut Caca dengan tawa miris yang membuat hati Louis semakin hancur.


“Aku mencintai mu, Ca. Bukan orang lain apalagi wanita itu.”


Ya, Caca tau itu. Tapi biarkan Caca menjadi pecundang sekali lagi. Ia akan lari dan pergi dari hidup Louis meskipun satu sisi hatinya berat melakukan itu.


“Besok pagi, surat pengunduran diriku aku pastikan sudah ada di meja—”


“Tidak. Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk pergi kemanapun.”


“Tapi aku harus melakukan itu! Aku kecewa padamu, Lou!” kata Caca pada akhirnya setelah ia terus berusaha menahan dan bersembunyi di balik topeng ‘baik-baik’ saja yang ia kenakan. Dan Louis, terlihat sama hancurnya dengan Caca. “Mari kita jalani hidup masing-masing, tanpa ada dendam.” Caca berdiri dan meninggalkan Louis hendak menuju kamar. Tapi langkahnya kembali terhenti dan ia menoleh ke sisi bahu kanannya tanpa mau melihat Louis sepenuhnya.


“Pulanglah. Sudah malam, dan tolong terima keputusan yang aku ambil untuk kita.” []


...—Bersambung—...


###

__ADS_1


Sudah benar begini kan? 😌


__ADS_2