Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Fourteen


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


Lampu berubah merah saat Nolan selesai bicara dan memberi petuah ala guru agama religius ternama yang sering nongol di layar kaca saat siaran pagi sebelum berangkat bekerja.


Lalu dia sekali lagi memancing reaksi Caca dengan berkata, “Kalau gitu nikah sama gue aja.”


“Kamu pikir aku ini wanita apa? Masa baru putus udah ada gandengan baru?”


“Lha kita kan memang pasangan jatuh cinta, tapi tertunda.”


Caca melirik Nolan sengit, lalu dengan gerakan cepat dia mendekat dan menarik satu lengan kekar Nolan yang ada di stir kemudi. Lantas tanpa aba-aba, satu gigitan mendarat di kulit putih Nolan.


“Caaaaa ... ” teriak Nolan merasa kesakitan. Ia tidak sanggup mendorong kepala Caca dan membiarkannya mendaratkan satu gigitan yang begitu nyata juga menyakitkan di lengan kirinya.


“Rasain. Ngajak nikah lagi, aku bakal—”


“Astaga,” keluh Nolan sambil mengusap kulitnya yang memerah bekas gigitan Caca. “Apa kamu ini jelmaan primata? Lagian, bagus dong aku ngajak nikah? Dari pada— Awhs ... Ca!” pekik Nolan yang sekali lagi menerima tepukan di paha. “Astaga, mama. Tolong Nolan.”


Nolan mengusap kulitnya yang memerah sembari meringis kesakitan. Melihat itu, Caca merasa sedikit bersalah dan kembali meraih lengan Nolan. Tapi pria itu menariknya kasar karena terkejut dan takut kembali menerima penganiayaan dari wanita bar-bar disampingnya ini.


“Ih, aku cuma mau lihat aja Nol. Maaf, tadi itu reflek karena aku gemes sama kamu.”


Nolan menarik tangannya menjauh dan kembali meletakkan di atas kemudi mobil. Wajahnya sedikit merona.


“Gue lagi nyetir. Nanti aja bisa nggak sih?! Bikin ribet aja.”


Caca mendecak sebal, lalu kembali menatap kearah jalanan didepan dengan bibir mengerucut lucu. Baiklah, dia akan mengalah sebentar untuk kali ini.


Sesampainya didepan jalan raya yang ada diseberang halaman rumah Caca, Nolan menghentikan mobil, bermaksud melepas seatbelt, tapi Caca menarik tangannya lagi. Ternyata gadis itu belum menyerah dan ingin melihat lengannya lagi.


“Nol, ada bekas gigi ku disana. Kamu nggak apa-apa?”


Nolan ingin tertawa, namun ia menahan mati-matian agar image cool nya tidak ambruk didepan Caca.


“Lo sih, pake acara gigit-gigit segala. Kulit gue itu sensitif.”


Nolan tidak berbohong. Kulit putihnya itu memang cenderung sensitif pada apapun. Terkena goresan sedikit saja, sudah memerah. Apalagi di gigit seperti tadi. Nolan yakin, besok akan berubah biru dan akan membuat Dharma mencercanya dengan ribuan pertanyaan mengerikan dan membosankan.


“Maaf.”


Nolan kali ini menyematkan senyuman dan mengusuk puncak kepala Caca, kemudian mendekatkan dirinya pada wajah Caca untuk memberikan satu ciuman di pipi wanita tersebut.


“Gue serius ngajak elo nikah, Ca.”

__ADS_1


Caca yang membatu pada akhirnya menoleh pelan dan menautkan matanya pada mata Nolan.


“Gue nggak mau buang waktu dan kesempatan lagi. Gue mau elo jadi milik gue.”


Ini gila. Dia akan benar-benar menjadi wanita tidak tau malu dan menyedihkan jika sampai menerima Nolan menjadi kekasihnya ketika baru putus beberapa hari dari Louis, bahkan belum genap satu minggu.


“Aku—”


“Nggak sekarang, Ca. Tapi gue pingin elo jaga hati sebentar buat gue. Jangan biarin orang lain menempatinya lagi. Gue mohon.”


Pembicaraan itu berakhir setelah Caca mengangguk lalu memaksa turun dari mobil mewah Nolan. Ia bahkan tidak tau apa yang akan dia katakan pada ibunya nanti jika bertanya tentang kembalinya dia kerumah.


Wajah gusar Caca terbaca dengan mudah oleh Nolan. Pria berondong itu mendekat dan mengecup pipi Caca sekali lagi, yang lagi-lagi mendapat pukulan telak dari si empu.


“Bisa nggak diem aja.” ketus Caca. Dia menyesal sudah mengangguk ketika Nolan meminta kesempatan padanya, tadi. “Nggak usah cosplay jadi bebek begitu?!” lanjutnya kesal karena Nolan berani menciumnya didepan rumah. Apa kata tetangga nanti?


“Iya. Maaf.” kata Nolan, melipat bibirnya kedalam menahan tawa. “Bilang aja kalau Lo ngundurin diri dari sana.” lanjut Nolan memberi solusi.


“Kalau ibu tanya kenapa aku balik sendiri?”


“Ya, itu terserah elo. Keputusan ada ditangan elo. Bohong pun nggak akan bertahan lama. Jadi, saran gue Lo jujur aja kalau Lo sama Louis udah putus.”


Nolan benar. Jika dia membohongi ibunya, itu sama saja dia mencari masalah baru. Caca mengangguk paham dan menentukan pilihannya untuk jujur kepada sang ibu tentang hubungannya bersama Louis yang sudah berakhir.


“Motor Lo, besok biar dianter salah satu orang suruhan gue.”


“Nggak perlu. aku ambil sendiri aja.”


Caca hampir melupakan itu.


***


“Lho, kamu pulang kok nggak ngabari ibu?” tanya Julia saat melihat Caca di ambang pintu bersama satu back pack besar di punggungnya. Julia ingat, dulu Caca memakainya pergi dari rumah ini untuk pergi mencari rupiah di sisi kota yang berbeda dengannya. “Louis mana?” tanya Julia pada akhirnya karena tidak mendapati sosok si calon mantu.


Caca menghela nafas. Ia terus melangkah masuk dan semakin membuat ibunya penasaran.


“Kamu nggak sama Louis?”


“Sama Nolan.” jawab Caca singkat, namun berhasil mengundang kerutan di wajah sang ibu.


“Nolan? Kenapa Nolan, bukan Louis?”


Hembusan nafas Caca terdengar menguar cukup berat bersamaan gerakannya melepas dua tali tas punggung nya untuk ia letakkan diatas kasur kamar yang sebentar lagi akan menjadi temannya menghabiskan waktu dirumah selagi mencari pekerjaan lain.


“Ceritanya panjang, Bu. Caca mau istirahat dulu ya. Besok aja Caca cerita sama ibu—”


“Nggak. Nggak ada besok. Cerita sekarang. Ada apa kamu sama Louis?”


Caca menatap sengit manik mata ibunya. Ia cukup lelah menghadapi apa yang terjadi hari ini, tapi jika tidak sekarang kapan lagi?

__ADS_1


“Baiklah. Ibu harus mendengarkan dan menghargai keputusan caca—”


“Kamu putus sama Louis? Ca, apa yang kamu pikirkan hah?!” sungut Bu Julia karena terlalu terkejut saat tau Caca tiba-tiba putus dari Louis karena Julia tau bagaimana perjuangan keduanya mempertahankan hubungan berbeda itu dari orang tua Louis yang tidak merestui mereka.


Caca mendengus sebal. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan sedikitpun untuk bicara. Ibunya ini terlalu menuntut dan membuatnya bingung sendiri.


“Dengerin Caca dulu, Bu.”


Julia diam menatap sang putri dengan raut panik. Ia tidak akan tinggal diam jika sampai Caca dan Louis mengakhiri hubungan mereka atas dasar paksaan kedua orang tua Louis. Mereka sudah menjalani hubungan terlalu jauh, dan mengapa mereka berpisah setelah membuat komitmen?


“Ada satu masalah yang nggak bisa Caca terima dalam hubungan Caca sama Louis.” terang Caca mencoba memberi penjelasan. “Caca nggak bisa terima meskipun udah maafin Louis.”


“Apa. Katakan sama ibu, biar ibu bisa kasih solusi tanpa kalian harus pisah gini.”


Caca menggeleng, kemudian mendekat dan memeluk perut ibunya. “Untuk kali ini, maaf Caca nggak bisa katakan sama ibu. Biar Caca sendiri aja yang tau. Ibu nggak boleh tau.”


Mendengar jawaban dari sang putri, Julia mendadak terenyuh. Ia kembali mengingat bagaimana nasib putrinya ini. Mengapa Caca seperti tidak di biarkan bahagia oleh dunia.


“Louis selingkuh?” tanya Julia masih mengusap lembut surai putrinya yang kini sudah berusia tiga puluh tahun ini. Tidak pernah ia sangka, jika Caca sudah sedewasa ini. Akan tetapi, Caca tetaplah putri kecilnya yang selalu ada dan rela berkorban untuknya meskipun terkadang, memang menyebalkan.


Caca menggeleng, tapi tidak berani buka suara. Hal inilah yang menjadi dugaan kuat Julia tentang masalah yang dimaksud Caca itu, benar sebuah perselingkuhan.


“Kalau memang keputusan ini baik untuk dirimu, ibu hanya bisa mendoakan semoga apa yang kamu ambil sebagai keputusan hari ini, tidak akan membuat dirimu menyesalinya di masa depan.”


Caca mengangguk. Mempererat pelukannya pada tubuh sang ibu.


“Maafkan caca ya, Bu. Caca nggak pernah bisa buat ibu bangga punya anak kayak Caca.” ucap Caca disela sendu yang ia tahan. Caca sadar akan kekurangannya itu. Ia sadar jika selama ini tidak bisa menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan ibunya didepan orang lain.


“Enggak. Kamu putri ibu yang paling cantik, paling kuat, dan paling ibu sayangi lebih dari apapun.” kata Julia, membuat air di pelupuk mata Caca meleleh. “Jadi, tolong bersabar ya nak. Pasti kamu akan menuai sebuah kebaikan dari perjuangan hidup kamu selama ini. Ibu yakin, kamu pasti akan menemukan orang yang baik dan menyayangi kamu selamanya. Orang yang akan menggantikan tugas ibu menjaga dan menyayangi kamu.”


Suasana mendadak sendu. Caca juga meluapkan tangis yang masih saja memenuhi raganya. Semua kenangan bersama Louis kembali membayang di matanya. Perjuangan untuk hubungan yang sulit, dan berakhir dengan sebuah rasa sakit luar biasa. Caca harap do'a ibunya akan menjadi nyata. Dia berharap akan ada orang baik yang akan mencintai dirinya, selamanya.


“Amin.”


***


Pak, ada tamu mencari bapak.”


Louis memutus pandangan dari bentangan kota yang terlihat penuh dan riuh, lalu menatap sekretarisnya yang baru saja datang memberitahu padanya jika ada seseorang yang datang bertamu.


“Siapa?” tanya Louis menoleh ke bahu kanannya untuk melihat bayangan Angel, sekertaris pribadinya.


“Nolan Aresta Suwandi.” []


...—Bersambung—...


###


Nolan benar-benar datengin Louis saudara-saudara... 🏃🏃🏃

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan begundal bucin itu pada Louis?


__ADS_2