Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Twenty four


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


Hari ini Nolan tidak menduga jika Leo akan datang ke kantor utama dan menemuinya secara pribadi. Biasanya, kalau butuh masukan tentang bisnis atau ada kendala dalam satu hal di bisnisnya, ia hanya akan bertanya dan meminta pendapat Nolan melalui sambungan telepon.


Bagi Leo, masalah kali ini lebih serius dari kehilangan dan kalah tender.


“Mama kembali.” tutur Leo singkat, tanpa embel-embel memberi penjelasan lain tentang tujuan mamanya kembali ke Jakarta, menemuinya, lantas meminta hak yang tidak masuk akal padanya.


Leo memang putra kandungnya, tapi sudah lama juga mamanya itu menelantarkan dirinya di ibu kota, dan mendapat belas kasih dari ayahnya, Hendra Suwandi yang tidak pernah mengharapkan kehadirannya. “Dia minta separuh saham perusahaan dariku.” lanjutnya sedikit lesu yang langsung dihadiahi kerutan dahi oleh Nolan. Permintaan yang tidak masuk di akal.


“Kamu beri?” tanya Nolan balik. Ia berharap Leo tidak termakan hasutan ibunya sendiri.


Leo menggeleng. Inilah alasannya datang bertemu dan bertatap langsung dengan saudara se-ayahnya ini. Nolan itu selalu cermat dan tegas dalam mengambil keputusan.


“Enggak. Lebih tepatnya belum.” sahut Leo membenarkan kalimatnya. “Aku meminta waktu pada mama.”


Nolan mendengus kesal. Ia pernah membenci Leo setengah mati gara-gara kelakuan Tiana yang sudah membuat semuanya berantakan di masa lalu. Tapi kebencian nya terhadap Leo pupus setelah ia tau jika saudara kandung se-ayahnya itu juga menerima perlakuan tidak baik dari ibunya sendiri.


“Jangan kasih. Itu usaha dan kerja kerasmu selama bertahun-tahun.” tegas Nolan. “Kamu boleh membantu finansial mama kamu, tapi jangan bodoh dengan meyerahkan setengah saham yang kamu miliki pada ibumu, yang berpotensi sedang di kendalikan oleh pria yang sedang dekat dengan mama mu.”


Leo mengernyitkan dahi mendengar penjelasan Nolan. Mamanya sedang dekat dengan seorang pria?


Tidak sulit mengorek informasi. Nolan memiliki banyak koneksi dan cara yang tak diduga untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk mencari tau tentang Tiana yang saat ini sedang dekat dengan seorang pria yang usianya jauh lebih muda, juga sedang berusaha membesarkan usaha pribadi dengan menjadikan Tiana kunci dan sumber keuangan untuk menambah modalnya.


“Laki-laki tidak bermodal itu akan terus mengorek perjuanganmu jika kamu menuruti keinginan mama mu kali ini. Laki-laki itu akan terus menggunakan mama mu sebagai alat untuk meminta sesuatu padamu.” lanjut Nolan realistis, dan tentu saja logis.


Leo mengangguk paham. Ia juga berfikir logis sama seperti Nolan. Untung saja otak Hendra turun ke mereka berdua, kalau tidak Leo pasti sudah menangis menyesali keputusannya sendiri setelah menuruti kemauan mamanya.


“Mama,” Leo menjeda kalimatnya karena ragu. “—tidak mendatangi mu?”


Pertanyaan Leo sontak membuat Nolan mengatupkan bibir dengan wajah berubah keruh. “Ya, dia datang dua hari lalu. Lalu, sehari lalu dia juga datang untuk menagih.”


Leo membolakan kedua matanya. Malu dengan kelakuan mamanya yang terbilang tidak tau malu.


“Lalu?”


“Dia meminta hal sama seperti yang dia minta padamu, dan menjadikan pernikahanku sebagai bahan ancaman jika tidak dituruti.”


“Caca tau?”


Nolan mengangguk. Ia lega sudah memberitahu Caca tentang masalahnya ini.


“Lalu, bagaimana keputusanmu, Lan?” tanya Leo meminta kejelasan yang pastinya akan menjadi patokannya juga untuk mengambil sikap.


Nolan tersenyum. Ia menyatukan kedua telapak tangannya, lantas meletakkan diatas meja dengan badan sedikit maju hingga hampir menekan meja dengan dada.


“Menurutmu? Apa aku terlihat ingin menuruti permintaan konyol mama mu?” kata Nolan sedikit mencibir dengan senyuman tajam disudut bibir.


Leo yang melihat wajah menakutkan Nolan pun menciut. Laki-laki didepannya ini tidak pernah gagal dalam memberi intimidasi pada orang yang menurutnya mengganggu.


“Kalau begitu, aku harus berterima kasih kepada Tuhan dan papa, karena sudah memberikan saudara seperti dirimu.”


Nolan tergelak. “Kamu harus percaya sama diri dan keputusan yang kamu ambil, Le. Kamu itu pimpinan.”


“Masalahnya, ini mama, Lan.”

__ADS_1


“Ya. Aku tidak bisa memungkiri karena kalian terikat darah, ibu dan anak. Tapi, ketegasan itu perlu. Kamu harus yakin dengan sikap dan keputusan yang kamu ambil. Dan kali ini, aku sarankan untuk tidak lengah dan memberikan sebagian saham mu pada ibumu, yang tidak tau arah dan tujuannya itu.”


Leo mengangguk. Ia tau Nolan tidak akan pernah salah mengambil keputusan dan memberikan masukan untuknya.


Ponsel Nolan bergetar diatas meja kerjanya, nama LovelyWife muncul pada display yang membuat senyuman terbentang dibibir Nolan. Namun apa yang ia dengar diseberang, membuat tubuh Nolan lemas seketika, matanya menitihkan airmata, tubuhnya bergetar ketakutan. Dan tanpa bicara lebih banyak dengan Leo, Nolan berdiri dan berlari keluar ruangan. Sedangkan Leo yang tak mengerti dengan sikap Nolan, ikut berlari mengejar dan menjadi tontonan seantero kantor.


Nolan menuju basemen yang merupakan area parkir. Tangannya bergetar ketika merogoh saku celana untuk mencari kunci mobilnya hingga benda itu jatuh di bawah kakinya. Leo yang melihat kepanikan Nolan pun tidak banyak bertanya. Dia hanya meraih kunci mobil Nolan secara paksa, lalu meminta Nolan untuk masuk ke kursi penumpang. Tidak aman berkendara dengan kondisi panik seperti itu.


“Biar aku yang nyetir. Katakan kemana kita harus pergi.”


“JMC.”


***


Sehari yang lalu.


Pintu Nolan berderit terbuka, sosok Tiana muncul dari balik bilah kaca tebal itu dengan senyuman tak tau malu.


“Hai, selamat siang.”


Nolan tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus pada Tiana yang duduk tanpa diminta pada sofa yang ada tak jauh dari pintu.


Nolan berusaha tidak peduli, tapi wanita itu seperti mencari topik agar diperhatikan. Dan topik yang dibawanya begitu krusial.


“Bagaimana? Aku hanya meminta dua atau tiga aset—”


“Apa hubunganmu dengan ku sampai berani meminta hal seperti itu padaku?” tanya Nolan dingin. Dia sama sekali tidak suka dengan tujuan kedatangan Tiana ke tempatnya.


“Oh hai, Boy. Papamu pernah—”


“Itu papa. Bukan aku. Dan sekarang, perusahaan ini sudah beralih atas namaku. Jadi, kamu tidak berhak meminta apapun padaku.” tegas Nolan yang membuat wajah Tiana langsung berubah kaku. Ekspresi senyum buatan yang ia sematkan dibibirnya, sirna.


“Ya. Aku nggak akan miskin, dan kamu tetap nggak akan dapat apapun dariku.” kata Nolan lebih tajam dengan wajah yang menakutkan. Emosinya sudah memuncak, namun masih ia tahan mati-matian agar tak meledak. “Silahkan keluar dari tempat ini kalau sudah nggak ada lagi yang perlu di bicarakan.”


Tiana yang terlanjur geram, akhirnya pergi dari ruangan Nolan dengan hati penuh dendam. Dia juga harus mendatangi putranya untuk mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan dari Nolan. Atau dia sama sekali tidak akan bisa mendapatkan pria yang ia idamkan.


Pada akhirnya, mobil Tiana menuju kantor Loenard berada. Ia datang berduyun-duyun menemui sang putra, berharap sang anak masih mau menerimanya meskipun dia pernah melarikan diri dan mencampakkan harta satu-satunya yang ia miliki itu.


“Mama?” kata Leo yang saat itu terkejut atas kehadiran Tiana di ruangannya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, mengapa ibunya itu tiba-tiba muncul seperti badai.


“Hai, nak.” sapa Tiana sok ramah. Leo bahkan lupa kapan terakhir dia dipanggil ‘nak’ oleh mamanya sendiri.


“Mama tau kantor Leo—”


“Dari Nolan.” jawabnya berbohong. Nolan sama sekali tidak mengatakan tempat anaknya bekerja, tapi beberapa tahun belakangan, dia diam-diam mencari keberadaan Leo dan apa pekerjaan putranya itu.


Sebenarnya Tiana tidak tega jika harus meminta Leo memberikan separoh saham kepadanya, tapi dia butuh pengakuan dari pria yang sedang ia dekati saat ini.


Leo yang mendengar jawaban sang mama, mendadak sangsi. Nolan tidak akan pernah memberikan informasi kepada orang yang dianggapnya asing, apalagi seorang Tiana yang sudah di cap sebagai dalang dari kematian mamanya dulu. Leo mengangguk seolah paham. “Mama kemana saja selama ini?” tanya Leo ingin tau. Tidak ada maksud apapun, hanya ingin tau bagaimana ibunya itu hidup selama bertahun-tahun tanpa kabar.


“Mama kerja, nak. Dan sekarang, mama datang ke kamu, karena butuh bantuan kamu.”


Leo mengerutkan kening. Bantuan apa yang dimaksud mamanya ini?


“Bantuan?” tanya Leo tanpa harus berlama-lama menebak maksud dan tujuan ibunya.


Tiana menyatukan telapak tangannya dan meletakkan diatas lutut. Lalu dengan lantang dia berkata, “Aku sedang merintis usaha, dan aku butuh modal.”


Leo masih setia mendengarkan ibunya.


“Jadi, maukah kamu memberikan mama sedikit bantuan modal untuk mengembangkan usaha mama?”

__ADS_1


Jelas Leo semakin penasaran dengan apa yang diinginkan sang ibu darinya. “Mama mau aku bantu modal berapa?”


Tiana menggigit bibirnya, lalu berkata, “Bisakah kamu memberikan separuh saham milikmu kepada mama?”


Astaga, Leo sampai melebarkan matanya mendengar permintaan sang ibu yang tentu saja tidak pernah ia duga itu.


“Aku yakin, ayahmu memberimu banyak harta setelah dia mati.”


Leo hanya mampu menggelengkan kepala dalam imajinasi. “Ayah memang memberikan beberapa aset usaha nya pada Leo, tapi semua itu tidak instan Leo dapat, ma. Leo sudah bekerja keras dan berjuang untuk semua kesuksesan Leo hari ini.”


Tiana tersenyum. Ada sedikit rasa bangga dalam dadanya. Dan itu artinya, dia bebas meminta haknya sebagai seorang ibu kepada anak.


“Jadi kamu mau memberikan apa yang mama minta, kan?”


Tidak. Ini tidak benar.


“Beri aku waktu.”


Dan hari ini Leo datang menemui Nolan untuk meminta pendapat dari saudaranya itu. Namun siapa sangka sebuah hal buruk terjadi pada istri saudaranya itu.


“Siapa yang sakit?” tanya Leo yang sudah hampir sampai di JMC, sebuah rumah sakit besar dan ternama di Jakarta.


“Caca. Seseorang dengan sengaja menabraknya.”


Leo meneguk salivanya kasar. Dia melihat kesedihan dan ketakutan dalam mata Nolan. Dan dia berjanji untuk membantu Nolan mengusut tuntas siapa yang tega melakukan itu kepada istri saudaranya itu.


Sesampainya di area parkir, Nolan bergegas keluar dari mobil Bentley yang masih menyala. Ia berlari menuju unit gawat darurat karena menurut informasi yang ia dapat dari penelepon tadi, Caca berada di ruang ICU karena luka yang cukup serius.


Leo segera menyusul, namun ia harus duduk di depan bersama salah satu asisten rumah tangga Nolan yang terlihat syok dan ketakutan.


“Boleh saya duduk disini, bi?” tanya Leo ingin memastikan. Ia tidak ingin lancang dan duduk begitu saja di dekat wanita tua yang rambutnya sudah hampir memutih seluruhnya itu.


“Silahkan—” kalimat Ane terhenti saat menyadari siapa yang ada di sampingnya saat ini. “ ... den Leo?” tebaknya dengan wajah terkejut yang masih basah oleh airmata.


Leo tersenyum dan meraih telapak tangan Ane untuk ia salami. “Iya, ini saya.”


“Siapa yang sakit? Aden?” tanya Ane yang memang sepantasnya menyebut pemuda di sampingnya ini dengan sebutan sama dengan Nolan. Mereka berdua sama-sama putra dari Hendra.


“Saya mengantar Nolan kesini.”


“Ah, begitu ya.”


Leo menatap wajah yang sedikit berkerut itu, lantas bertanya kronologis kejadian. Bagaimana Caca bisa sampai ditabrak orang.


“Saya tidak tau punya dendam apa wanita itu sama den ayu. Kami berjalan keluar dari supermarket, hendak menyebrang menuju parkiran mobil karena sopir menunggu kami di seberang pintu keluar.” Ane mulai mengingat kejadian itu, karena dia termasuk saksi yang akan dimintai keterangan nanti oleh pihak berwajib. “Sampai tiba-tiba mobil merah itu datang dengan kecepatan cukup kencang dan menabrak den ayu.”


Leo menyumpahi siapapun yang menjadi dalang dari aksi kejahatan itu. Ia bahkan berjanji akan membantu Nolan untuk mengusut tuntas dan membuat pelaku mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya.


“Lalu, pengemudi mobil itu, apa sudah diamankan?”


Ane mengangguk. “Sudah di bawa polisi, karena beberapa orang yang ada disana, menghentikan mobil itu dan memaksa wanita itu keluar. Lalu yang saya tau sekarang wanita itu sudah ada di kantor polisi.”


Leo mengangguk lega. Ia akan pergi ke kantor polisi sebentar lagi untuk meneruskan kasus kejahatan yang menimpa Caca. “Bibi, sempat melihat wajahnya atau tidak?”


Ane menggelengkan kepala. Tapi dia kembali bersuara. “Saya tidak melihat dengan jelas karena jarak yang sudah jauh, dan saya panik melihat den ayu terkapar tidak sadarkan diri.” Ane mengembuskan nafas berat ketika mengingat keadaan Caca beberapa menit yang lewat. “Tapi wanita itu bukan wanita muda. Dia memakai kemeja warna krem dan calana panjang seperti seorang pengusaha.” Leo mengerutkan kening mendengar ciri-ciri fisik wanita yang telah membuat celaka Caca. “Rambutnya sebahu berwarna ke-orenan, dan tingginya sekitar beberapa senti lebih tinggi dari saya.”


Leo mulai menerka, tetapi tidak ingin berburuk sangka sebelum melihatnya sendiri.


“Wajahnya tidak asing dimata saya. Saya seperti pernah melihatnya.” lanjut Ane yang membuat Leo semakin yakin dengan dugaannya. Yakni sang mama, Tiana.[]


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2