
...Happy reading,...
...Semoga Weekend nya seru, se-seru part tujuh sison dua ini 😁...
...Jangan lupa di dukung ya, biar authornya makin semangat ☺️...
...[•]...
Rumah bukan menjadi tujuan Louis sekarang. Hati dan pikirannya sedang kacau. Dia lebih memilih mengarahkan putaran roda kuda besinya menuju ke sebuah bar kelas atas hanya untuk meneguk satu atau dua gelas wine untuk menenangkan otaknya, setelah itu pulang.
Selama perjalanan dan menyetir menuju bar yang menjadi langganan beberapa tahun lalu, Louis terus memikirkan keberadaan Nolan di apartemen Caca. Hanya sebuah kebetulan, atau memang Caca pergi berdua dengan pria itu?
Jemari Louis meremat erat kemudi hingga jari-jarinya memutih. Tak ingin termakan emosi semakin jauh, Louis melepas satu telapak tangannya dari stir guna memijat kepalanya yang terasa berat, bahkan sebelum meneguk wine dari bar, kepalanya sudah terasa begitu berat hanya karena memikirkan keberadaan Nolan disana, di area parkir apartemen Caca. Apa yang sedang dilakukan pria itu disana? Mengapa tepat sekali bersamaan dengan kembalinya Caca ke rumah?
Lalu Louis menggelengkan kepala, ingin mengalihkan itu sejenak dari benaknya. Ia lantas kembali teringat bagaimana dia bisa meninggalkan dunia gelapnya saat itu. Ia tersenyum sempit, kemudian satu nama muncul dalam otaknya. Clarita. Ya, gadis itulah yang sudah mengubah gaya hidup Louis yang dulu kelam dan suka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di luar, menjadi pribadi yang seperti sekarang, berguna bagi orang lain. Clarita lah yang membuat hatinya berdebar keras ketika melihat seorang perempuan. Dan Clarita lah wanita satu-satunya yang berhasil membuatnya bertekuk lutut dalam sebuah makna cinta. Dan inilah alasan mengapa dia sangat mencintai Caca dan tidak ingin kehilangan wanita itu meski hanya seujung kuku.
Tapi sekarang, mengapa ia ragu?
Mengapa dia sekarang meragukan perasaan Clarita padanya?
Manik mata Louis kembali menyorot cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana senyuman Caca ketika memakaikan benda itu padanya. Senyuman yang begitu indah, dan juga tulus.
Caca bisa menerima dirinya apa adanya. Meskipun mereka berbeda keyakinan, Caca selalu menghargainya ketika harus beribadah di hari Minggu. Dan sebaliknya, Louis juga selalu menghargai bagaimana Caca melakukan kewajibannya sebagai seorang wanita yang berdo'a lima waktu dalam sehari. Mereka selalu tidak ada masalah dalam hal itu. Tapi mengapa sekarang Louis meragukannya? Apa itu hanya cara Caca untuk membuatnya—
Louis memukul stir mobil cukup keras untuk menghentikan terkaan-terkaan buruk tentang caca. Rahangnya mengerat dan nafasnya memburu ketika jantungnya tiba-tiba berdetak cukup berat hingga darahnya berdesis dingin ke seluruh inci otot nya.
“SIAL!!” umpat Louis menggema seisi ruangan mobil mercy yang ditumpanginya. “Apa sebenarnya hubungan mereka dulu?!” Gumamnya frustasi. Caca masih belum mau bicara apapun hingga membuat Louis uring-uringan sendiri.
Dan tak lama setelah itu, mobil Louis sudah memasuki area bar. Seorang pemandu parkir memberi arahan padanya untuk mensejajarkan mobil mahal itu dengan mobil lainnya. Baru kemudian Louis keluar dan berjalan menuju pintu masuk bar yang dulu sekali menjadi tempat favoritnya menghabiskan waktu jika otaknya sedang kacau, seperti hari ini.
Didalam, nuansa gelap mendominasi. Beberapa meja diisi oleh pasangan yang bukan seharusnya bisa duduk berdua, berpangkuan, bahkan berciuman tanpa rasa malu.
Tak ingin mencampuri urusan dosa orang lain, Louis menuju ke meja bartender. Memesan Wine termahal tanpa peduli rekeningnya terkuras.
“Chateau Margaux.” katanya sambil mengangkat tangan menunjuk angka satu, dan dengan senang hati pria muda dibalik meja itu mengambil satu botol minuman yang di inginkan Louis, membukanya, kemudian menyuguhkannya didepan Louis bersama satu gelas berleher tinggi berisi es.
Seorang wanita yang duduk tidak jauh dari Louis, memperhatikan penampilan Louis dari atas sampai bawah. Ia yakin Pernah melihat pria itu, dan berjalan mendekat.
“Louis?”
__ADS_1
Pria itu menoleh dan memperhatikan wanita yang memakai pakaian biasa—dalam artian sama sekali tidak terbuka—itu dengan seksama. Ia memicing guna mencoba mengingat-ingat.
“Aku Gita.”
Ah, Gita. Teman SMP nya dulu bukan sih?
“Gita SMP Widrata?”
Gadis itu mengangguk. Ia lantas menarik satu kursi tinggi dan duduk tidak jauh dari Louis berada.
“Kamu tambah ganteng aja sekarang.”
Louis terkekeh. Gita masih ceria seperti dulu, padahal yang ia dengar, wanita ini sempat depresi karena ulah mama tirinya. “Makasih.”. Louis memanggil bartender dan meminta gelas baru. “Chateau. Kamu wajib coba.” katanya sendu sambil menuang kedalam gelas yang baru diberikan si bartender dan mendorongnya ke depan Gita. Sedangkan wanita itu, tertawa kecil dan menerima gelas pemberian Louis.
Niat Louis hanya menghabiskan satu atau dua gelas saja, tapi karena ia bertemu dengan Gita dan merasa harus reunian, kini Louis terkapar tidak berdaya diatas meja bartender. Dan sialnya, dia tidak membawa supir.
Kepala nya terasa begitu berat, dan penglihatannya seperti terbagi dua karena terlalu pusing. Tubuhnya juga seperti di bakar dan ingin segera menyentuh air, lalu tidur.
Alih-alih pulang setelah berhasil membayar tagihan bar dengan sisa kesadarannya, berjalan saja dia kesulitan dan terpaksa menerima kebaikan Gita untuk membopong dan mengantarnya pulang.
Gita memang merasakan berat di kepalanya, namun ia belum sampai kehilangan kesadaran seperti Louis, jadi dia masih mampu memegang kemudi untuk mengantar Loius pulang dan meminta supirnya untuk mengikutinya dari belakang. Karena setelah mengantar Louis pulang nanti, dia juga harus segera bergegas pulang.
Sepanjang jalan menuju rumah, dia hanya mengikuti arah maps yang diberikan Louis padanya sebelum pria itu jatuh tidak sadarkan diri.
“Mang Adam tunggu sebentar ya. Saya mau mengantar teman saya kedalam dulu.”
“Iya, non.” kata Adam menjawab patuh. Tapi melihat tuannya kesulitan, Adam menawarkan bantuan, namun ditolak Gita karena merasa masih mampu meskipun tidak dipungkiri ia merasa kesulitan membawa bobot tubuh Louis.
Ia merogoh saku demi saku milik Louis untuk mencari kunci rumah mewah ini. Dan Gita menemukan sebuah kartu pipih kemudian menempelkan pada alat yang berkedip itu hingga berbunyi beep.
Pintu kembali mengatup dan mengunci otomatis. Dan masih dengan sedikit kesulitan, Gita pada akhirnya berhasil meletakkan Louis di sofa luas menyerupai ranjang di ruang tengah. Louis sempat membuka mata namun tidak bisa berkata apa-apa karena merasa begitu pusing dan mual.
Hingga ia kembali melihat seorang wanita berjalan ke arahnya sambil membawa segelas air putih, Louis menurunkan lengan yang ia letakkan diatas kepala, lalu melihat wajah wanita itu.
“Caca?”
Caca? Batin Gita mengerut.
“Caca siapa? Aku gita.”
“Hey, jangan bercanda. Aku ini calon suamimu, mana bisa aku tidak ingat dirimu, hm?!” kata Louis, bangkit dari berbaring nya, kemudian duduk tegap dan sesekali menggeleng, melawan rasa pusing yang terus mendera kepalanya.
__ADS_1
“SIAL!” umpatnya sambil memijat kepalanya yang begitu berat.
”Ca, antar aku ke kamar.”
Masih penasaran dengan sosok yang di panggil Louis dengan sebutan Caca, Gita menuruti laki-laki itu dan kembali membopongnya menuju kamar.
Louis jatuh terlentang dengan kaki terbuka lebar. Ia lantas menyorot wanita yang masih berdiri tak jauh darinya itu, pantas menarik pergelangan tangannya hingga jatuh tepat diatas tubuhnya.
Gita meronta ingin bangkit ketika Louis seperti terlihat sedang bernaf-su. Ini tidak baik, dan dia harus segera pergi dari sini. Gita terus berusaha melepas pelukan erat Louis padanya dengan menekan pria itu menjauh. Tapi tenaganya tidak sebanding. Louis menekan tengkuk lehernya hingga bibir mereka bertemu. Louis mencium kasar bibirnya hingga Gita tidak bisa lagi mengelak.
Dan setelah ciuman itu terlepas, Louis kembali menatapnya. Tatapan yang penuh kasih sayang yang selalu diinginkan Gita dari seorang pria. Ia melihat jemari Louis yang kini membelai wajahnya. Ada cincin tersemat yang melingkar indah di jari pria itu, dan itu artinya Gita harus segera pergi sebelum sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi. Dia tidak ingin menghancurkan hubungan temannya sendiri dengan kekasih pria itu. Namun niatan itu menghilang begitu saja setelah mendengar nama yang diucapkan Louis tepat sebelum pria itu kembali mempertemukan bibir mereka.
“Clarita, I Love You. Jangan pernah tinggalkan aku hanya karena pria itu. Eumm?!”
Clarita? Apa nama itu adalah Clarita yang sama dengan wanita yang ia benci karena membuat Nolan berpaling darinya?
Dengan gerakan kasar Gita menyentak kekangan tangan Louis. Pria itu menggeliat mencari dekapan. Sedangkan Caca, sibuk mencari apapun yang bisa ia jadikan petunjuk akan nama Clarita yang ia dengan dari bibir Louis.
Ponsel.
Dan Gita merogoh saku celana bahan Louis yang membuat pria itu mende-sah. Buru-buru Gita mengetuk layar ponsel mahal itu, dan ... dia merasa beruntung karena ponsel Louis itu tidak diberi sandi privacy. Gita mengacak-acak isi ponsel Louis namun tidak menemukan apapun karena pada bagian foto, aplikasi itu di kunci.
Tak kenal menyerah, Gita mencari di aplikasi lain yang mungkin bisa memberinya petunjuk. Ia mengetuk-ngetuk dagunya berfikir.
Ah, WhatsApp.
Dan Gita segera membuka aplikasi tersebut, yang sekali lagi membuat Gita merasa beruntung karena tidak dimintai kata sandi. Ia segera mencari kontak yang mungkin akan menunjukkan wajah Clarita yang di maksud Louis itu. Hingga ...
Benar. Clarita yang sama dengan Clarita yang dia maksud. Gita menyorot Louis yang terlihat gusar diatas tempat tidur. Ia kemudian membawa tubuhnya kembali duduk didekat Louis dengan sebuah seringai tajam dibibir nya. Ia membayangkan bagaimana bisa Caca seberuntung itu yang selalu mendapatkan perhatian dan kasih sayang laki-laki yang pernah dia inginkan? Sedangkan dirinya?
Ya, Louis pernah Gita sukai ketika duduk di bangku SMP dulu. Dan sekarang kenyataannya pria itu adalah pria yang mendamba seorang Clarita.
Gita meremas sprei abu-abu yang menjadi alas mereka. Kebencian yang sudah lama ia kubur, muncul kembali ke permukaan setelah ia merasa kecewa bahwa tatapan sayang yang diberikan Louis padanya itu, untuk seorang Clarita. Sebuah ide balas dendam muncul di kepala Gita. Dia ingin Caca merasakan apa yang dia rasakan. Sebuah rasa yang begitu menyiksa dan membuatnya sakit hati. Gita akan membalas itu sekarang.
Perlahan, ia menarik tubuh Louis untuk kembali menghadapnya. Ia tersenyum miring ketika Louis terlihat kembali akan hilang kesadaran. Lalu, Gita membawa bobot tubuhnya mendekat ke arah Louis, dan berbisik didepan wajah pria yang sudah hampir terlelap itu.
“Kamu mencintai Caca, kan?” kata Gita, seduktif sambil menyusuri dada bidang Louis dengan jari telunjuknya . “Jadi, bantu aku dengan tubuhmu ini untuk sedikit membuat wanita itu merasakan apa yang pernah aku rasain dulu.”[]
...—Bersambung—...
###
__ADS_1
Sini-sini cerita ke Othor, sedang ada masalah apa kalian sama mereka 😁
Lanjut nggak sih? Nanggung soalnya.