Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Adorable Nolan


__ADS_3

...Part 32...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...32...


Waktu tergelincir begitu cepat. Cepat seperti Caca terpeleset di kamar mandi waktu itu.


Ajakan Nolan untuk ikut touring waktu itu membuatnya bersemangat hari ini. Ya, touring akan berlangsung besok, dan sekolah akan libur sampai tahun baru berlalu. Sudah satu hari Caca off day dan melakukan hibernasi. Sekarang waktunya beraksi.


Caca bahkan sudah mulai me-ngepack beberapa keperluan yang akan sangat ia perlukan saat touring nanti. Berbekal pengetahuan yang ia dapat dari Nanda, dia mulai membeli beberapa bahan untuk ia bawa nanti. Ya, Caca kini berteman dekat dengan Nanda, kekasih sahabat Nolan, Jonathan.


Kata Nolan, rute tour motor gede mereka akan dirubah. Karena musim liburan, mereka menambah agenda tour ke salah satu kota pariwisata yang cukup terkenal di Indonesia. Kota yang aestetic dengan pemandangan lokalnya. Kota yang terkenal dengan bakpia dan gudeg nya, Yogyakarta.


Rencananya, jika tidak ada kendala, mereka akan melakukan perjalanan sore menuju Yogyakarta setelah melakukan bakti sosial di sebuah panti jompo di sudut kota yang memang sudah menjadi list tahunan club motor BPC untuk dikunjungi di hari menjelang pergantian tahun.


Ponsel Caca bergetar, nama Nolan muncul. Sebuah video Call.


“Ngapain coba VC aku?” dumal Caca lalu menghentikan acara melipat baju, memperbaiki penampilannya yang sedikit awut-awutan karena baru bangun tidur, kemudian menggeser tombol ke atas dan planet Saturnus muncul terekam manik mata Caca.


“Cantik sekali ... ” batin Caca memuji.


Sebuah replika planet Saturnus yang dijadikan Nolan sebagai tampilan menggantikan wajahnya, membuat tawa Caca terdengar sebagai kata sambutan panggilan tersebut.


“Kenapa tertawa?” tanya Nolan diseberang telepon.


“Wah, hebat ya. Planet Saturnus bisa bicara loh sekarang.” celetuk Caca membuat Nolan menahan senyuman. “Sayangnya aku nggak punya replika Titan.”


Nolan tau, Titan itu satelit nya Saturnus. Nolan menatap lekat wajah Caca yang ada pada layar ponselnya.


“Mau gue beliin?”


“Gak. Canda. Aku masih punya muka, Nol. Ngapain VC kalau mukanya nggak kelihatan.” sewot Caca yang jelas-jelas bisa dilihat oleh Nolan. Senyuman di bibirnya mengembang sempurna.


“Lo mau liat muka gue?”


“Eumm.” sahut Caca tanpa basa-basi.


“Maaf. Anda kurang beruntung. Silahkan coba lain waktu.” kata Nolan menirukan suara mesin operator yang membuat Caca tersenyum kecil.


Hening sejenak, kemudian Nolan kembali memulai percakapan.


“Lo lagi siap-siap buat besok?”


“Eumm, tadi. Sebelum kamu telepon. Memangnya ada apa VC?”


Nggak mungkin Nolan menjawab kangen untuk pertanyaan Caca. Padahal, pada kenyataannya, dia memang ingin melihat Caca, ingin mendengar suaranya juga. Sehari tidak ada Caca, hidup Nolan seperti di hutan. Senyap.


“Cuma mau tau, Lo udah persiapan apa belom. Gue nggak mau telat gara-gara urusan ribet cewek.”


“Eh, ya sudahlah. Gini-gini, aku juga nggak suka bikin telat, lho.”


Sedangkan kenyataannya, Bu Julia selalu membuka mulut lebar-lebar untuk selalu memperingatkan Caca agar tidak membuang-buang waktu. Kenyataan is real.


“Oh ya? Syukurlah kalau gitu.”


Caca bangun dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju meja kecil yang biasa ia gunakan untuk belajar ketika malam hari.


“Kamarku jelek. Jadi kalau di ponsel kamu muncul gambar yang tidak menyenangkan, jangan protes.” cebik Caca memperingatkan. Ia tidak mau kalau sampai Nolan komplain ini dan itu tentang kondisi kamar Caca.

__ADS_1


Tidak ada jawaban.


“Kamu nggak tidur kan?” tanya Caca, mendekatkan wajahnya pada layar ponsel yang membuat Nolan bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas. Jantungnya berdebar. “Nol,”


“Gue masih hidup.” sahut Nolan karena terkejut sekaligus gugup.


Geram, Caca akhirnya berteriak. “Makanya, ganti gambarnya sama muka kamu biar aku tau kamu masih disitu apa enggak. Heran deh, ngapain juga VC kalau mukanya nggak kelihat—”


Kata-kata dumalan Caca terhenti seketika ketika layar ponselnya berubah memperlihatkan wajah Nolan.


“Udah, kan? Nggak usah ngomel lagi.”


Nafas Caca seperti terhenti untuk sesaat melihat wajah Nolan di layar ponselnya. wajahnya yang putih bersih tanpa jerawat satupun, alisnya yang tebal, matanya bulat dan sangat indah, hidungnya mancung dan bibirnya yang berwarna merah muda, membuat Caca terkesima.


“Nah, gini kan enak. Aku bisa lihat kamu, kamu bisa lihat aku. Kita bisa ngobrol dengan nyaman.”


Nolan merebahkan dirinya diatas tempat tidur, kemudian menggunakan lengannya sebagai sandaran kepala.


“Besok, aku jemput jam sembilan pagi. Setelah itu kita ngumpul di base camp, dan berangkat jam sebelas.”


Caca mengangguk mengerti. Lalu dia menoleh untuk melihat baju yang dibelikan Nolan beberapa hari lalu untuknya.


“Aku, harus banget pake baju kayak gitu ya?” tanya Caca, menunjuk satu setel pakaian yang merupakan syarat yang harus diikuti oleh seluruh anggota demi berkendara aman.


“Eumm. Kenapa memangnya? Itu untuk keselamatan.” jawab Nolan tegas. Caca saja yang belum sadar, berapa harga baju itu. Jika tau, dia pasti akan menyimpannya di museum agar tidak rusak atau kotor karena debu.


“Nanda juga pake yang begitu?”


“Semuanya. Semua yang ikut touring, make' baju kayak gitu. Udah lah, jangan banyak tanya Ca.”


Caca mengatupkan bibirnya, kemudian menumpu dagu dengan tangannya.


“Ya udah.”


Wajah Nolan kembali datar.


“Ya terus mau ngapain? Kan udah tau aku lagi packing.”


Nolan masih diam mematung, dan sialnya, Caca malah menganggap jaringan sedang down.


“Ini kenapa putus-putus begini sih? Apa jaringannya yang lagi—”


“Jaringannya nggak apa-apa.”


“Lha terus kenapa diem aja, Nolan.”


Ada sengatan yang begitu mematik sebuah rasa ketika Caca memanggilnya dengan nama Nolan. Debaran di dada Nolan semakin menjadi, dan dia tidak bisa ia kendalikan.


“Astaga,” de-sahnya frustasi lalu bangkit kasar dari tidurnya. Bayangan mengandai-andai jika Caca kekasihnya, tiba-tiba saja menyerang sistem kerja otak Nolan. “Gue mau mandi. Bye.”


Caca terkejut saat panggilan Nolan tiba-tiba berakhir sepihak. Bibirnya maju kedepan karena kesal dengan cara Nolan mengakhiri panggilan tersebut. Lagi-lagi Caca mendumal.


“Dua kenapa sih? Dia sendiri yang telepon kok malah sewot. Awas aja kalau kayak gini lagi.”


***


26 Desember 8.30 pagi.


Caca sudah siap dengan perlengkapan yang wajib ia gunakan untuk touring. Helm, satu set pakaian khusus yang berlogo club motor BPC, sepatu, sarung tangan, tas berisi kebutuhan pribadi juga obat-obatan, dan perlengkapan riding lainnya yang diberikan Nolan sekitar satu minggu yang lalu.


Tak lama kemudian, deru suara mesin motor Nolan menyapa perunggu Caca. Ia melompat turun dari kursi dan membuka pintu rumah. Dan sekejap itu juga, manik mata Caca membola. Ia melihat bagaimana keren nya seorang Nolan. Apalagi ketika Nolan melakukan gerakan melepas helm dan turun dari motor,


WOW! KEREN!!!


Caca tak melepas sedikitpun sorot matanya dari Nolan hingga pemuda itu berdiri di depannya.

__ADS_1


“Udah lama nunggu?” tanya Nolan sembari melepas sarung tangan hitamnya. Bersamaan itu, ponsel Caca bergetar didalam saku celananya.


“Eh, bentar. Aku ada telepon.”


Nolan hanya mengangguk mencebik. Ia melepas sepatu, kemudian naik ke teras rumah Caca dan duduk di tempat favoritnya, melantai di dekat jendela. Sedangkan Caca, dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu agar pembicaraan yang hendak ia lakukan, tidak terdengar oleh Nolan.


“Iya, paman.” kata Caca sedikit meredam suaranya.


“Nolan bersamamu?”


“Ya. Dia sedang bersama saya.”


Ada helaan nafas lega yang didengar Caca dari seberang telepon.


“Tolong awasi dan jaga Nolan untuk saya.”


Caca seperti diberi mandat untuk merawat seorang bayi yang makan saja masih butuh bantuan. Ia ragu, karena bayinya paman Hendra ini keras kepala dan dinginnya minta ampun.


“I-iya, paman. Akan saya usahakan.”


“Baiklah, kalau begitu. Terima kasih. Hati-hati dijalan.”


Caca keluar setelah menyelesaikan teleponnya dengan Hendra. Ia mendekati Nolan dan menatap heran ke arah pemuda itu.


“Nggak berangkat sekarang?” tanya Caca ketika melihat Nolan malah duduk santai diteras rumahnya.


“Bentar. Bentar lagi.”


Caca jadi ikut duduk.


“Jonathan dan Nanda, mereka sudah berangkat?”


Nolan hanya menjengitkan bahu, lalu menatap Caca sedikit menelisik.


“Telepon dari siapa?”


Jika tidak berbohong, semuanya akan terbongkar hari ini. Sebenarnya, Caca tidak ingin memberikan jawaban pertanyaan Nolan, tapi melihat Nolan menunggu, Caca pada akhirnya mengambil keputusan untuk menjawab sekenanya saja.


“Teman.”


“Teman. Tapi kenapa menjauh dariku?”


“Ya agar kamu nggak denger Nol.”


Tidak ada salahnya. Tapi bukan jawaban itu yang Nolan harapkan. Ia hanya ingin memastikan Caca tidak memiliki hubungan dengan seseorang, kemudian dia dicap sebagai perebut kekasih orang.


“Hah, ayo berangkat. Jonathan kayaknya juga lagi OTW." kata Nolan berdiri, kemudian berjalan menuju letak sepatunya berada. Sedangkan Caca, mengunci pintu rumah dan menyembunyikan kunci ditempat biasa dia dan ibunya ketahui.


Sekali lagi, Caca membatu ketika melihat tubuh tinggi Nolan yang begitu memukau. Ia bertanya-tanya, mengapa Nolan tidak jadi artis, atau model saja? Semesta berpihak pada fisik Nolan. Dia memiliki semua kriteria yang diidamkan wanita.


Caca berdiri di samping Nolan dan motor keren harga milyaran itu. Lantas Nolan memintanya untuk segera naik.


Sekilas, ia melihat mata tajam Nolan diantara helm yang sudah menyembunyikan fitur mengagumkan itu. Caca merutuki dirinya sendiri mengapa jadi seperti ini. Mengapa dia jadi suka sekali memperhatikan Nolan.


Udara hangat pagi ini yang mengitari dirinya saat bersama Nolan tanpa jarak sedikitpun diatas motor yang mereka tumpangi, membuat Caca sadar jika perasaannya pada Nolan, sudah kacau, sudah terlalu jauh. Nolan sudah berhasil menjeratnya begitu kuat hingga sulit sekali menghindar. Berkali-kali Caca mencoba menepis, bahkan mencari pelarian untuk kenyataan yang sudah mengungkung hatinya. Ia juga sudah berusaha menolak pesona Nolan dengan selalu melihat sisi buruk pemuda itu.


Tapi apa?


Dia jatuh semakin dalam.


Dia terperosok semakin jauh.


Dan dia ... jatuh cinta kepada Nolan. []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2