
...Slow but steady...
...Part 10 muncul...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa dukungannya agar aku semangat nulis ya teman-teman baik hati sekalian......
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...10...
Jam istirahat pertama, Caca memutuskan untuk mendatangi kantin sendirian karena jujur, tidak ada teman sekelas yang mau mendekatinya. Eh, ralat, tidak ada yang mau dekat dan menjadi temannya. Itu maksudnya.
Suasana begitu riuh oleh suara bincang-bincang para murid. Entah itu mengeluh tentang pelajaran, uang jajan, atau dari kubu murid perempuan Hedon yang sibuk memamerkan harta kekayaan orang tua mereka dengan membeli barang-barang berharga yang tidak bisa mereka miliki karena kalah cepat menekan tombol keranjang dan check out.
Masih dengan tatapan aneh yang terus menyorot dirinya, Caca berusaha terus mempertahankan rasa percaya dirinya ketika menuju bar makanan. Ia mengambil nampan, kemudian ikut berbaris untuk mengisi nasi dan lauk yang sudah disediakan.
Kamu melakukannya dengan baik hari ini, Ca.
Bisikan itu terus Caca gumamkan dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri yang sedang membutuhkan support.
Berhasil mengisi penuh nampak makannya, Caca menelisik sekitar guna mencari meja kosong yang tersisa. Dan Caca memilih duduk di salah satu kursi panjang yang hanya ada beberapa murid perempuan disana.
Caca menyapa dengan senyuman dan duduk membaur tanpa bicara. Dia mulai menyuapkan makan siangnya kedalam mulut. Lumayan, rasanya tidak buruk. Sekolah favorit memang tidak pernah mengecewakan. Setidaknya, Caca akan makan siang enak disini.
“Kamu murid baru tadi pagi kan?” tanya seseorang tiba-tiba duduk disamping Caca sambil meletakkan nampan makan dan air putih dalam botol disampingnya dan disamping Caca.
Caca seketika ilfeel. Bukankah dia yang mengatakan Caca bodoh tadi pagi? Menyebalkan.
Caca diam tidak memberikan jawaban dan melanjutkan makan siangnya. Tapi tak lama berlalu, satu orang lain yang lagi-lagi membuat Caca terkejut, oh, ternyata bukan hanya Caca yang terkejut, kali ini bahkan seluruh isi kantin menatap mereka bertiga. Caca melihat dengan matanya sendiri jika seluruh pasang mata sedang menatap kearahnya.
Mengedip mata cepat, Caca hendak berlalu dengan meninggalkan dua sosok yang sepertinya memang menjadi pusat perhatiannya SMA kemala. Dia nggak ingin jadi pusat perhatian, apalagi jika berdampak penyamarannya sampai terbongkar tanpa ada kesempatan untuknya mulai melakukan sesuatu.
“Mau kemana?” tanya Nolan sambil menyendok makanannya dan melahapnya dengan riang gembira. Eh, bisa juga ya wajahnya terlihat senang begitu?
Caca mengerutkan kening untuk pertanyaan Nolan padanya itu. Memangnya kenapa kalau dia pergi? Ada masalah sampai menggemparkan seluruh isi bumi kah?
“Aku mau mengambil lauk. Kayaknya kura—”
__ADS_1
“Alasan 'kan? Duduk deh. Lo mau pergi aja pake alasan nggak masuk akal gitu. Nampan makan Lo udah penuh tuh.” sindir Nolan sambil menunjuk makanan Caca dengan dagu, yang kemudian batal di bawa pergi oleh Caca dan kembali ia letakkan diatas meja. “Yang harusnya pergi itu, dia.” kata Nolan sambil menunjuk teman satu kelas Caca dengan sendok.
Sedangkan teman yang bahkan Caca lupa namanya itu terlihat sinis. Senyuman miring muncul di bibirnya sambil menatap Nolan penuh kebencian.
“Brengsek Lo. Perlu gue bikin muka Lo lebih parah dari muka gue?”
Eh?
Caca terkejut dengan arah pembicaraan dua orang ini. Mereka seakan-akan sedang mengibarkan bendera perang. Ada dendam yang sepertinya tidak terpenuhi diantara mereka.
Caca buru-buru berdiri dan nggak mau terlibat apapun. Ia lebih baik memilih tempat lain dari pada dijadikan saksi jika terjadi pertempuran dua kubu yang bertentangan ini.
“Duduk gue bilang.” titah Nolan ke arah Caca, tapi mendapat respon sebaliknya, Caca nggak peduli. Dia tetap berdiri dan meninggalkan mereka. Memangnya siapa Nolan bisa melarang seenak jidat nya begitu?
Belum tiga langkah Caca meninggalkan bangku kantin, dia kembali dikejutkan oleh suara berisik nampan jatuh. Caca menolah seketika dan semua sudah berantakan diatas lantai. Nolan menjatuhkan makanannya dengan sengaja.
“Gila tuh anak!” batin Caca masih dengan wajah terkejut bukan mainnya dan mata membola sempurna. “Benar-benar gila!!”
Hening. Suasana benar-benar hening seolah terhipnotis oleh apa yang sudah dilakukan Nolan. Kemudian tanpa rasa bersalah, anak itu berdiri dan meninggalkan kerusuhan yang ia buat begitu saja. Lalu Caca bisa mendengar hembusan nafas setiap orang yang tadi sengaja mereka tahan karena perbuatan Nolan. Bisik-bisik mulai terdengar. Mulai dari yang mengatakan keburukan Nolan, sampai mengutarakan ketakutannya atas tindakan Nolan yang selalu membuat jantung ingin melompat dan terjun bebas ke lambung.
“See,” seru seseorang yang masih setia duduk ditempatnya. Caca yang hampir kembali mengambil langkah harus terhenti untuk kesekian kalinya. “Namanya Nolan.” lanjutnya tanpa menoleh ke arah Caca, tapi Caca tau betul setiap kalimat yang meluncur dari bibir pemuda itu, ditujukan kepadanya. “Dia cowok paling brengsek disekolah ini, dan dia sepertinya tertarik sama kamu.”
Jantung Caca seolah berhenti berfungsi untuk beberapa detik, kemudian darahnya berubah dingin ketika melewati nadi. Omong kosong yang nggak masuk akal pikir Caca.
Tidak mau peduli, apalagi berurusan lebih jauh dengan orang kaya menyebalkan lainnya—cukup keluarga Suwandi, Caca memilih meninggalkan kantin. Nafsu makannya sudah hilang entah kemana. Makanan yang tadinya terlihat lezat, malah membuatnya mual.
“Hati-hati sama dia.”
Caca mendengar itu dan menoleh ke arah kanan. “Makasih udah diingetin.”
***
Nolan duduk diantara tumpukan bangku rusak yang sudah tak terpakai. Dia duduk di bagian paling sudut ruangan. Gudang memang menjadi tempat paling nyaman baginya ketika hatinya sedang panas. Kali ini, Leo lagi-lagi berhasil memancing emosinya.
“SIAL!!!” umpatnya keras sambil meremas kaleng minuman berkarbonasi ketiga yang sudah ia habiskan setelah meninggalkan kantin tadi. Nolan tidak terima atas tingkah laku Caca yang berani mengabaikannya didepan Leo.
Bukan tentang dendam, tapi ini masalah harga diri. Jika tau Caca mengabaikan dirinya seperti itu, Nolan tidak akan datang dan duduk disana tadi. Ia yakin Leo akan menjadikan semua itu senjata untuk menjatuhkan mental Nolan. Ya, saat ini pun, Nolan sudah seperti sedang menerima sesuatu yang sangat tidak ia inginkan. Sebuah intimidasi.
“Ini semua gara-gara gadis tidak tau diri itu.” geramnya dengan tatapan lurus ke arah papan putih usang yang menempel terbalik di dinding. Bukan ini yang diinginkan Nolan. Dia bahkan tidak masalah jika mengulang tahun depan seperti kata Bu Nathania, asalkan tidak berada di tempat dengan udara yang sama dengan Leonard.
“Sial!!” umpatnya sekali lagi sambil melempar kaleng yang sudah penyok itu tepat mengenai papan yang menjadi sasaran sorot matanya.
Nolan merasa raga dan jiwanya lelah. Mengapa dia jadi semenyedihkan ini? Mengapa dia jadi—
__ADS_1
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Jonathan menghubunginya.
“Eumm.” jawab Nolan ketika sambungan itu sudah terhubung.
“Bokap Lo datang ke rumah gue. Mobil Lo diambil bokap Lo dari gue. Lan, Lo ngadu ke bokap Lo soal taruhan kita?”
Nolan tidak menjawab. Memang dia mengatakan jika mobil itu menjadi taruhan. Tapi dia tidak mengadu, papanya tau itu dengan sendirinya.
“Gue nggak ngadu Jo. Papa denger sendiri, dan gue nggak tau siapa yang ngasih tau bokap soal taruhan itu.”
“Alasan Lo aja kan?”
“No—”
“Lo itu pecundang, Lan. Lo tau itu kan—”
Nolan mengakhiri panggilan sepihak. Dia mengumpat keras dalam hati. Pecundang? Ah. Sialan, kenapa juga papanya harus ikut campur masalahnya?
Seharusnya Nolan juga berfikir realitanya saja. Seharusnya dia sadar jika dia memang seorang pecundang. Siapa coba yang rela uang 41 M tiba-tiba melayang jadi milik orang lain hanya karena kalah taruhan. Itu hak papanya, Nolan hanya seorang peminjam saja. Dia tidak punya hak sama sekali.
Nolan membanting punggungnya ke dinding. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat, lalu memejam mata dan meremas surainya frustasi. Ia benar-benar lelah, lelah sekali.
Telapaknya turun menyentuh dan menggenggam bandul Saturnus yang ada didepan dadanya. Ia membayangkan wajah ibunya sedang berada dihadapannya, mengusap wajahnya, dan mengatakan ‘Kamu akan baik-baik saja, sayang.’ padanya. Karena hanya dengan cara itulah dia bisa bertahan hingga sekarang. Membayangkan kata-kata menenangkan dari mamanya, meskipun hanya sebuah imajinasi belaka.
“Iya, mam. Tapi,” Nolan menjeda, menelan saliva nya susah payah, menahan sesuatu yang menyakitkan di dadanya agar tidak berubah menjadi kabut mendung di mata. Nolan berusaha kuat. “Tapi papa selalu ikut campur semua urusanku. Aku nggak suka.”
Nolan menghela nafas dan membayangkan lagi wajah ibunya yang berkata ‘Itu karena papa menyayangi kamu’.
“Nggak. Papa nggak pernah sayang sama Nolan. Cuma mama yang sayang sama Nolan, Ma.”
Nolan menjatuhkan lengannya ke lantai. Ia perlahan membuka mata dan masih mendapati ruangan kosong itu tanpa orang lain disini. Lalu, dia menarik nafas dalam dan besar. Berdiri perlahan dan mengibaskan debu yang menempel di celananya. Kelas pasti sudah selesai. Dia mau pulang sekarang. Sekolah memang tidak bisa membuat Nolan merasa tenang karena ada berbagai alasan yang menekan jiwa dan raganya secara bersamaan.
Ia memutar kenop pintu dan keluar dari gudang penyimpanan dan berjalan menuju kelasnya untuk mengambil tas nya disana. Kunci motornya ada disana. Jika tidak diambil, dia tidak bisa pulang.
Namun apa yang ia lihat disana membuat Nolan semakin muak. Nolan menatap nyalang dengan wajah datar dan dinginnya, kemudian berkata,
“Kenapa kamu ada disini?” []
...—Bersambung—...
Boleh minta komennya?
Dan jangan lupa mampir ke cerita Othor yang lainnya ya...
__ADS_1
See you.