Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Touring 5— Balik Jakarta


__ADS_3

...Part 37...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...37...


Caca dan Nanda mengecek semua barang bawaan mereka. Memastikan tidak ada yang tertinggal karena dua jam lagi mereka semua harus check out dari penginapan dan kembali ke Jakarta.


Setelah insiden ketampar ranting pohon semalam, Caca sedikit kesal pada Nolan. Dia tidak berbicara sedikitpun sampai di penginapan meskipun Nolan berusaha membuat obrolan diantara mereka.


“Kening Lo baret-baret tuh, Ca. Kena tampar pohon kemarin?”


“Pengen aku bejek tuh si Nolan. Bisa-bisanya dia lepasin ranting pohon padahal dia tau aku ada dibelakang dia.” dumal caca masih menyimpan emosi. “Kayaknya dia dendam sama aku deh, Nan.”


Nanda tertawa sambil memasukkan baju kotor kedalam tas ranselnya.


“Nolan itu suka iseng kalau udah kenal dekat. Gue juga sering di isengi sama dia.” celetuk Nanda terus terang akan sikap Nolan yang tidak diketahui oleh banyak orang. “Tapi dia baik banget lho, Ca. Dia suka nggak tegaan orangnya.”


“Ya, semua orang dengan kesempurnaan dan tidak kesempurnaan nya.”


Nanda suka heran, Caca ini memang kadang suka konyol seperti yang sering diceritakan Nolan padanya dan Jonathan.


***


Setelah berdo'a menurut agama dan kepercayaan masing-masing, Laksa mulai mengangkat tangan kanannya, kemudian memutar jari telunjuk untuk instruksi Engine on.


Deru mesin motor kembali bersahutan hingga halaman penginapan itu bising bukan main. Setelah itu, mereka bergerak perlahan secara bergantian untuk keluar area dan membaur dengan pengendara lain dijalan raya. Caca sudah berada di posisi sebagaimana mestinya. Tidak lupa dia juga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nolan.


Selama perjalanan, Caca masih memendam kekesalannya akibat ulah ceroboh Nolan yang dengan kejamnya melepas ranting pohon hingga menamparnya cukup keras.


“Masih marah?” tanya Nolan serius. “Aku nggak sengaja, Ca. Serius.”


Caca diam tidak peduli. Baginya sekarang, diam lebih baik daripada bicara dan kembali memancing kemarahan.


Laksa memperkirakan mereka akan sampai di base Camp sekitar pukul tujuh malam. Dan sekarang, sudah pukul empat. Itu tandanya masih ada perjalanan tiga jam lagi untuk mereka sampai di base camp. Saat ini, mereka sedang berhenti untuk beristirahat di sebuah rumah makan.


Nolan membiarkan Caca selagi itu bersama Nanda. Ia lantas mengeluarkan ponsel dan mengecek status pesanan yang ia buat kemarin. Masih dalam tahap proses pembuatan.


“Pesen apa?” tanya Jonathan setelah melirik ponsel Nolan.


“Kepo Lo!”


“Gue lihat-lihat, Lo cocok sama gandengan Lo.”


Jari Nolan membeku diatas layar ponselnya. Tatapannya terpaku pada gambar replika Titan yang baru saja dia terima dari owner tempatnya memesan. Hatinya berdebar tiba-tiba ketika matanya menangkap kalung putih cantik berbandul Titan yang juga baru ia terima dari owner yang sama.


“Lo bercandanya nggak lucu, Jo.”


“Gue nggak bohong. Kemarin pas di pantai, ada salah satu member yang juga bilang kalau kalian cocok. Gas lah.”


Nolan menoleh dan menyorot datar mata Jonathan.


“Gas, gas. Lo pikir gue kompor?”


Jonathan terbahak sampai nyaris terjengkang ke belakang. Kalimat Nolan terdengar lucu ketika ekspresinya terlihat malu-malu dan kedua telinga serta wajahnya sedikit memerah.

__ADS_1


“Sampe Jakarta, nyatain aja Lan. Jangan Lo tunda, nanti dipatok ayam.”


“Sumpah, gue remet bibir Lo baru tau rasa ya.”


Perjalanan berlanjut hingga kini rombongan sudah masuk ibu kota. Tujuan pertama mereka adalah base camp, baru setelah berkumpul untuk meeting sebentar, mereka boleh membubarkan diri kerumah masing-masing.


Nolan melirik Caca yang masih enggan bicara. Tapi kali ini, perempuan dalam goncengan motornya itu diam bukan karena masih marah, dia terlihat sedang diserang kantuk. Hal itu berhasil menarik sudut bibir Nolan membentuk sebuah senyuman.


Haruskah dia menuruti mulut ngawur Jonathan?


***


“Mau langsung pulang?” tanya Caca ketika melihat Nolan hendak beranjak ketika ia baru menginjak tanah pekarangan depan rumah.


“Eumm. Bu Julia belum pulang kayaknya, nggak enak sama tetangga kamu.”


Caca mengangguk paham. Ternyata Nolan juga tau adab bertamu.


“Ya udah, hati-hati.”


Nolan hanya diam nggak menimpali perkataan Caca, lalu memutar setir dan kembali menyalakan mesin motor nya.


“Tahun baru kamu ada rencana keluar sama temen kamu apa enggak?”


Caca terlihat berfikir sebelum menjawab pertanyaan Nolan yang satu itu.


“Malem tahun baru, apa besok nya?”


“Malem tahun barunya.”


“Besok berarti. Nggak ada.”


Caca termangu menatap wajah Nolan.


“Nggak. Memangnya kamu nggak capek?”


Nolan hanya menggeleng, kemudian menaikkan satu kaki berbalut sepatu boots kulit hitam ke arah pijakan kopling.


“Aku pulang dulu kalau gitu.”


“Emm, hati-hati.”


Caca mengikuti arah Nolan meninggalkan rumahnya. Langkahnya seperti belum rela jika begundal itu meninggalkan rumah, untuk itu ia berjalan melewati jembatan cor dan melihat punggung Nolan yang sudah semakin jauh dan menghilang di belokan gang. Tak lama kemudian, dari lawan arah Bu Julia datang. Caca mengelus dada mengucap syukur karena Nolan sudah pulang. Jika tidak, ibunya pasti akan menahan Nolan agar tidak segera pulang.


“Lho baru datang? katanya sampe rumah sore?”


“Nyangkut di tempat ngumpul geng nya nolan.”


Motor butut Bu Julia melintasi jembatan cor berukuran 1,5×1 meter itu, kemudian Caca menyusul.


“Kamu udah makan? Ibu nggak masak tadi.”


“Belum.”


“Kamu beli nasi goreng di perempatan itu aja. Ibu mau mandi dulu.”


Caca mengangguk. Ia menuju kamar dan mengganti pakaiannya dengan baju santai, tanpa mandi. Katanya, kalau sudah malam itu tidak baik kalau mandi karena bisa membuat tubuh linu-linu. Tapi Bu Julia tidak pernah diam saja dengan anomali tidak berdasar yang di percaya putrinya itu.


Setelah selesai, dia menurunkan motor dan bersiap menjalankan perintah ibunya, membeli nasi goreng untuk makan malam mereka.


Sesampainya,

__ADS_1


“Mang, nasi gorengnya dua bungkus.”


“Asyiap neng cantik.”


Masih ada satu antrian yang mengharuskan Caca menunggu giliran mendapat pesanannya. Ia mengeluarkan ponsel, mengecek kotak pesan, sosial media, dan beberapa media lain yang tidak ia buka beberapa jam karena perjalanan jauh tadi.


WhatsApp beruntung ada diurutan pertama. Caca menggeser ke arah pembaruan status dari orang-orang yang ada di kontaknya. Isinya macam-macam kayak gado-gado Mpok Yuni. Ada yang curhat pacarnya selingkuh, ada yang curhat mamanya marahin dia, ada yang posting foto sama kekasihnya yang tentu saja membuat Caca sedikit iri, dan Nolan ... tumben? Status itu dibuat masih tiga menit yang lalu. Penasaran, Caca menekan bulatan itu dan isi postingan Nolan muncul disana.


Isinya berupa foto sepasang kaki yang sedang menyilang dengan caption : ‘Coba ada dia disini?’


Caca mengerutkan kening. Dia? Dia siapa? Nolan punya gebetan baru? Kalau iya, Caca merasa bagaikan bunga yang layu sebelum berkembang.


Makin kepo, Caca membiarkan gambar itu berubah dengan sendirinya menuju gambar ke dua. Isinya masih sama, sebuah foto. Gambar martabak manis diatas jok motor.


“Ini tumben banget sih?” gumam Caca pada dirinya sendiri hingga membuat wanita yang duduk disampingnya melirik. “Ini ngasih kode gebetannya kali ya?” gumamnya lagi, yang memancing wanita disampingnya ikut buka suara.


“Pacarnya mbak?”


Caca menoleh kaget. Ia sedikit tidak nyaman dengan wanita ini karena tanpa izin ingin tau privasinya.


“Eh, enggak Tan. Teman. Aneh. Biasanya nggak pernah bikin status, eh ini malah bikin dua sekaligus. Kan saya jadi agak risih gitu.”


Wanita itu tertawa. Caca melihat sekitar dan tidak ada motor.


“Tante tinggal di daerah sini?”


“Em? Oh enggak. Suami Tante masih pergi sebentar, beli rokok katanya.”


Caca ber-oh ria mendengar jawaban tante-tante yang terlihat seusai ibunya ini. Dan tak lama kemudian suara motor matic terdengar berhenti didekat gerobak nasi goreng, dan suara familiar yang seperti dikenali Caca dengan baik itu, mengajak si wanita bicara.


Caca menahan mati-matian agar tidak mengangkat wajah dan melihat apa dugaannya itu benar atau salah. Ia menarik naik maskernya hingga sebatas dibawah kelopak mata. Ingatan mengerikan itu kembali mencuat di benaknya.


“Mas Joko tadi minta pedes kan?” tanya si wanita pada pria itu. Pria yang tadi ia sebut sebagai suaminya.


Tunggu! Jika itu Joko yang sama, berarti—


Caca harap, orang yang bernama Joko itu, bukan hanya nama ayahnya saja. Ia berharap orang bernama Joko yang sekarang ada di sekitarnya ini, adalah Joko yang lain. Joko yang baik hati, bukan Joko yang pernah menyakiti dan hendak menjualnya dulu.


Telapak tangan Caca tiba-tiba bergetar ketakutan. Ia ingin sepasang suami istri ini segera pergi dari sini. Ia tidak ingin jika memang pria yang bernama Joko ini adalah ayahnya, Caca ingin pria kejam itu tidak melihat dan menangkapnya. Caca sangat ketakutan.


Refleks, tangan Caca kembali melihat ponselnya. Ia mencari nama ibunya di kontak telepon dengan jemari yang sudah basah dan gemetaran. Tapi entah mengapa, ia justru berhenti dengan perasaan kalut.


Ia kebingungan. Jika dia mengetik pesan kepada ibunya, ia yakin ibunya itu akan datang terburu-buru dan itu sangat berbahaya karena selama ini mata ibunya tidak begitu awas ketika malam hari. Ia mengurungkan niat dan kembali menyimpan ponselnya di saku jaket dan menurunkan rambut yang semula diikatnya untuk menutupi sebagian wajah agar samar.


Caca menggigit bibirnya yang sekarang ikut bergetar. Ia harap, pria itu tidak menyadari keberadaannya atau, semua pengorbanan yang dilakukan ibunya selama ini, berakhir sia-sia.


Namun apa yang terjadi selanjutnya cukup membuat Caca semakin terkejut dalam takut. Jantungnya seperti meluncur ke dasar lambung saat ia mengangkat wajah dan matanya bertemu dengan pria itu sejenak ketika hendak menanggapi pamit wanita yang baru dikenalnya beberapa menit lalu itu. Nafasnya tercekat, wajahnya memucat saat mendapati wajah yang sangat ia kenali itu tertangkap pupil matanya. Dia adalah ayahnya. Joko Suseno.


Pria itu seperti menelisik, ingin bicara. Tapi buru-buru Caca kembali menunduk untuk menghindari tatapan dalam pria yang dulu dan sampai detik ini berstatus ayah baginya. Ya, ayah. Karena mau bagaimanapun darah pria itu mengalir dalam tubuhnya. Sampai kapanpun, gelar ayah tidak akan luntur dan hilang hanya karena sebuah masa lalu. Dia tetap anaknya, dan pria itu tetaplah ayahnya.


“Pedes tidak neng?” tanya kang nasi goreng mengejutkan Caca.


“Se-sedang aja mang.”


“Siap.”


Pandangan Caca tiba-tiba memburam, nafasnya memburu membuat pandangan matanya sedikit berkunang-kunang. Nyatanya masa lalu itu tetap mengerikan hingga membuatnya trauma dalam ketakutan terus menguasai, meski dia sudah bertekad memaafkan dan melupakan semua kejadian nahas hari itu.


Haruskah ibunya tau semua yang ia lihat hari ini? Atau dia harus tetap diam saja agar ibunya tidak khawatir? []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2