Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

...Part 12 update...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...12...


Tidak ada drama sergap sasaran interogasi di tempat seperti yang kebanyakan Nolan lakukan kepada targetnya, Nolan hanya memperhatikan sampai Caca menyelesaikan urusannya disana, kemudian ikut menyalakan mesin motor ketika Caca beranjak dari tempat tersebut.


Iseng saja, Nolan membuntuti Caca pulang sampai didepan rumahnya. Rumah yang membuat Nolan mengerutkan kening dengan bibir menganga tidak percaya.


Bagaimana Caca bisa nyasar di SMA Kemala dengan keadaan perekonomian seperti itu?


Lalu, Nolan menggeleng. Itu masalah rezeki. Siapa tau Caca masuk kesana karena mendapat beasiswa dadakan karena menang lotre, atau apalah itu yang jelas Nolan tidak pernah tau dan tidak akan mau tau. Yang ia tau sekarang adalah, dia mengantongi alamat rumah Caca. Dan itu sangat menguntungkan baginya.


Dari jauh tempatnya berhenti, Nolan masih bisa melihat bagaimana Caca mengetuk pintu, kemudian mencium telapak tangan ibunya kemudian masuk dan pintu kembali tertutup. Sebuah pemandangan yang membuatnya iri. Sebuah suasana yang membuatnya semakin merindukan sosok mama yang sudah tidak lagi bisa ia jangkau keberadaannya.


Bukannya pergi, Nolan kini merogoh saku celana seragam untuk mencari keberadaan ponselnya. Tak lama kemudian dia mengetuk aplikasi WhatsApp untuk mengirim pesan singkat kepada Caca.


Entah, apa tujuan Nolan sebenarnya. Ia hanya merasa kesepian dan ingin mendapatkan teman. Tidak biasanya, tapi Nolan benar-benar butuh seorang teman.


Dengan kecepatan kilat bak kekuatan Gilthunder, Nolan mengetik pesan untuk Caca.


Keluar sekarang.


Aneh, tapi begitulah Nolan.


Namun bayangan Caca keluar rumah sambil melongok kepala kekanan dan kiri yang sempat muncul di kepala Nolan, harus pupus lantaran tidak ada balasan atau munculnya sosok Caca dari dalam rumah sederhana itu.


Nolan mendecak sambil mengubah posisi duduknya menjadi menyamping, mencoba hendak mengirimi Caca pesan sekali lagi, tapi ia urungkan dan mengubah lagi posisinya ke arah semula seperti sedang berkendara. Nolan benci diabaikan, Nolan tidak suka jika keinginannya tidak terkabul. Untuk alasan itulah Nolan nekat mendorong motornya yang sangat berat itu sampai di halaman rumah Caca.


Ditempatnya berhenti, Nolan kembali mengecek ponselnya. Dan masih tidak ada apapun disana, pesannya bahkan masih centang dua berwarna abu-abu. Caca mengabaikannya.

__ADS_1


Gila. Mungkin itulah yang kini pantas di sematkan pada diri Nolan.


Bagaimana tidak? Seorang murid berseragam lengkap, berdiri didepan pintu seorang warga di jam delapan malam hendak bertamu. Oh, bertamu kah?


Dengan gerakan kaku bak robot telapaknya mengetuk rumah Caca sebanyak dua kali. Kalau sampai ketukan itu diabaikan juga, Nolan tidak bisa menjamin jika pintu itu akan baik-baik saja setelah ini.


Namun, belum sampai telapaknya hendak kembali menyentuh bilah pintu, kayu jati tebal itu terayun membuka. Sosok Caca dengan pakaian santai khas warga biasa menyambut penglihatan Nolan, yang justru membuat Nolan tak bisa melepaskan tatapan matanya sedikitpun.


“Nolan?” pekik Caca karena kedatangan Nolan begitu mengejutkannya. “Ngapain kamu disini? Kamu nggak pulang?” tanya Caca setelah melihat penampilan Nolan yang masih sama dengan yang ia lihat ketika jam makan siang disekolah tadi. “Dari mana kamu tau alamat rumahku?” lanjut Caca masih sibuk bertanya dengan manik terbelalak penuh.


“Siapa ca?” tanya si ibu dari dalam, kemudian ikut muncul karena penasaran siapa yang datang bertamu di jam segini. Seseorang yang membawa door prize kah? Kalau iya, Julia akan mempersilahkannya masuk kerumah dengan senang hati.


Tak berbeda jauh dengan Caca, Julia tak kalah terkejut dengan sosok yang berdiri diambang pintu. Pemuda tampan rupawan berseragam lengkap SMA Kemala dengan nametag...


“Nolan?” tanya Bu Julia ketika berhasil menangkap huruf-huruf di dada pemuda gagah ban tampan ini.


Nolan tersenyum, memperlihatkan lesung pipi dan gigi gingsulnya di sudut bibir sebelah kiri yang begitu manis. Bu Julia terpesona. Ini pertama kalinya dia melihat anak laki-laki setampan Nolan, dan sialnya dia berondong jika disandingkan dengan Caca. Ah, mendadak rasa bersalah karena melahirkan Caca terlalu cepat, muncul dalam benak nya.


“Selamat malam tan—”


Julia tau siapa Nolan, jadi dia tidak akan membiarkannya berdiri begitu saja disana. Perlu segelas teh panas dan cemilan untuk lumbung uangnya itu. Abaikan Caca yang masih berdiri di ambang pintu depan dengan bibir menganga seperti keledai kepanasan.


Nolan terduduk keras diatas kursi yang tidak begitu empuk karena sentakan keras tangan bu julia, sangat berbeda dengan sofa di ruang tamu rumahnya yang harganya puluhan bahkan hampir menyentuh ratusan juta itu. Tapi disini, Nolan merasa keberadaan dan kehadirannya di akui. Pada akhirnya bentangan senyum muncul di wajahnya yang biasanya kaku dan dingin seperti balok es itu.


Karena Caca juga penasaran, akhirnya Caca berjalan menghampiri Nolan dan duduk di kursi seberang.


“Sekarang kasih tau. Bagaimana bisa kamu tau rumahku?!” tanya Caca menyelidik dengan raut wajah dan tatapan tidak ramah sama sekali ketika ibunya melipir menuju dapur untuk membuatkan tamu agungnya ini minuman.


“Gue nggak sengaja lihat Lo dijalan. Ya udah gue ikuti.” sahutnya santai sekali sampai Caca harus menahan nafasnya karena tidak percaya.


“Cuma itu?”


“Eumm. Memangnya Lo pingin jawaban yang gimana?”


Pertanyaan menohok membuat wajah Caca seketika merah karena tersulut emosi.


“Lo pikir gue nyari informasi ke orang-orang demi tau rumah Lo? Ketinggian halusinasi Lo kalau Lo mikirnya kesitu.”

__ADS_1


“Sialan!” umpat Caca dalam hati lalu menatap Nolan yang masih duduk santai bak raja istana duduk dengan kaki menyilang disana dengan tatapan mengibarkan bendera perangnya. “Benar-benar begundal.”


“Kalau gitu Lo nggak usah lama-lama disini. Cepetan pulang sana. Udah malem.” kata Caca melakukan pengusiran tanpa perikemanusiaan. Tuh kan, Caca jadi kasar ngomongnya? Bahkan Nolan sampai terbelalak tak tau diri di tempatnya duduk.


“Apa?”


“Pulang Lo sekarang. Lo punya rumah kan?”


Nolan menatap lurus ke arah Caca. Bagi Nolan, Caca itu menyebalkan sekali. Tapi entah mengapa Nolan malah tidak ingin membuang gadis seperti Caca ini. Dia justru semakin penasaran.


“Iya. Habis ini gue pulang. Tunggu ibu Lo ngasih minum. Ntar dia kecewa udah bikin minuman malah ditinggal pergi.”


Caca yakin itu hanya alibi Nolan menolak perintahnya. Lelaki seperti dia sangat pandai sekali membuat alasan seperti itu.


Tak lama kemudian, bu Julia keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh panas dan satu toples rengginang yang baru digoreng tadi sore. Caca memejamkan mata sebal sambil menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tidak menduga ibunya akan bertindak sejauh ini untuk menerima Nolan sebagai tamunya.


“Nah, ini ibu cuma ada ini yang disuguhin.” kata sang ibu jumawa sambil meletakkan cangkir teh didepan Nolan. “Lain kali, kalau mau mampir kesini minimal kasih tau Caca dulu, biar ibu bisa kasih suguhan yang lebih layak.”


Oh my God. Caca ingin mengungsi ke kutub Utara dan tidak kembali saja jika ibunya bersikap seperti ini ke Nolan.


“Bu—”


“Saya sudah mengirim pesan ke Caca. Tapi tidak dibalas.” sahut Nolan cepat memutus kalimat teguran agar tidak bersikap berlebihan yang hendak Caca katakan kepada sang ibu.


Apa?


Caca mendelik mendengar itu, manik matanya bertemu dengan milik Nolan, namun dengan santainya Nolan malah mengedikkan bahu dan alisnya secara bersamaan.


“Beneran aku udah chat kamu, tapi nggak kamu bales.”


Geram, Caca beranjak dan berjalan ke kamar mengambil ponselnya. Mengecek, tapi memang ada pesan dari Nolan yang membuatnya makin kesal.


Nol: Keluar sekarang.


Sialan. Nolan memang tamu tak diundang dirumah ini. []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2