
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
Mereka berhenti di dekat taman kota yang sedang diadakan penghijauan. Ada beberapa tempat duduk dan juga alat bermain untuk anak-anak, serta alat olah raga manual yang terlihat begitu memukau dengan hiasan lampu yang menarik minat untuk berhenti dan menikmati pemandangan baru ibukota ini.
Nolan menurunkan standart samping, masih membiarkan Caca memeluk erat dirinya.
“Kamu nggak mau lihat-lihat taman dulu?” tanya Nolan, menoleh ke arah dimana Caca menyandarkan dagunya cukup nyaman.
Kehadiran mereka berdua cukup mengundang perhatian publik karena terlihat sangat serasi. Nolan mengenakan koas polo hitam dan celana jeans panjang warna senada. Pergelangan tangannya dililit jam tangan hitam yang memiliki harga nggak kaleng-kaleng, lalu membiarkan necklase berbandul Saturnus nya berada diluar kaos, membuat tampilan Nolan begitu casual.
Sedangkan Caca juga sama. Dia memakai turtleneck hitam sedikit membentuk lekuk tubuh, celana panjang warna senada, dan juga menggerai rambut hitam berkilaunya dibalik helm yang ia kenakan.
“Enggak, aku pingin peluk kamu.” kata Caca menggeleng dan tetap pada posisi awalnya memeluk tubuh kekar Nolan yang hangat.
Nolan terkikik geli. Apa istrinya ini sedang manja? Apa minta dicium di depan orang-orang yang sedang memperhatikan mereka?
“Jadi pingin nempel terus nih?” goda Nolan masih dengan tawa manis di bibirnya. Caca mengangguk. “Kalau tau begini, nggak usah keluar rumah tadi. Dikamar aja peluk-peluk sampai ketiduran.”
Caca menjauhkan wajah, memperhatikan fitur samping wajah Nolan yang terlihat begitu sempurna. “Yakin hanya peluk? Aku nggak percaya.”
Mendengar jawaban Caca, Nolan semakin melebarkan tawa. Kali ini suara tawanya terdengar di telinga Caca. Rasanya seperti masih saja berbeda dari Nolan yang ia kenal.
“Ya tentu enggak lah. Mana mau cuma peluk-peluk aja, apa kata dunia tentang status just married kita?” kelakar Nolan membuat Caca melengkungkan bibir kesal. Ia melepas pelukannya di perut Nolan, disusul helm, kemudian berdiri di atas sepatu Converse hitamnya dengan bibir merajuk.
Tak sampai disitu, Caca memilih duduk di sebuah kursi taman yang tidak jauh darinya, yang kemudian disusul oleh Nolan yang juga sudah melepas atribut berkendara motor yang ia kenakan.
“Kenapa jadi manyun begitu?”
Perhatian Nolan benar-benar hanya tercurahkan kepada Caca. Dia sama sekali tidak ingin mengalihkan tatapannya dari sosok cantik yang amat sangat ia cintai itu. Lantas, satu lengannya terulur untuk menyelipkan anakan rambut Caca yang jatuh didepan wajah dan mengganggu acaranya menikmati kecantikan sang istri.
“Sayang?” panggil Nolan lembut dan mesra.
Caca yang merasa sudah berhasil menarik perhatian Nolan, menoleh pelan demi mempertemukan manik matanya dengan manik sang suami. Beberapa detik dia menikmati keindahan ciptaan Tuhan dihadapannya itu, lantas menghela nafas dan mulai angkat bicara.
“Cerita ke aku. Kamu ada masalah apa di kantor?”
Ah, jadi ini alasannya. Nolan membatin hingga tidak sadar jika ekspresi wajahnya sudah berubah datar.
“Oke, aku akan cerita nanti setelah sampai dirumah.”
Caca dapat melihat sebuah kesenduan dari tatapan mata yang semula berbinar.
”Yuk cari makan dulu, baru pulang.”
__ADS_1
Caca setuju dan mengikuti Nolan yang sudah lebih dulu berdiri dan kembali naik ke atas motor dan memakai helm. Beberapa orang yang menyadari keberadaan Nolan, tidak segan mengeluarkan ponsel mereka untuk mengabadikan moment secara diam-diam. Hal inilah yang membuat Nolan sedikit merasa tidak nyaman dan terganggu saat keluar dari rumah.
Setelah makan malam usai, Nolan juga sudah menurunkan Caca diteras rumah dan memarkir motor kesayangannya di garasi samping rumah, Nolan berlari kecil untuk segera mendatangi Caca yang sedang menunggunya. Ia merangkul sang istri dan berjalan bersama masuk kedalam rumah. Lantas tujuan mereka adalah segera masuk ke kamar untuk membasuh tangan dan kaki, juga mengganti pakaian untuk beristirahat sambil berbicara dari hati ke hati.
Nolan yang sudah lebih dulu membersihkan diri, duduk menatap Caca yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan piyama satin berwarna krem. Wanitanya itu selalu terlihat cantik meskipun dengan wajah polos tanpa polesan apapun. Lalu dengan gerakan pelan, Caca naik ke atas ranjang dan duduk bersandar pada kepala ranjang, sama dengan yang dilakukan Nolan setelah mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Caca tersenyum ketika manik matanya bersinggungan dengan Nolan, ia menangkap sedikit ekspresi kalut di wajah sang suami.
“Mau cerita sekarang?” tanya Caca yang lebih menyerupai sebuah tawaran.
Nolan yang merasa diperhatikan mengulas senyum hangat. Tubuhnya beringsut mendekat untuk mengecup pipi Caca singkat, lalu menyandarkan kepala di pangkuan wanita kesayangannya itu.
“Aku nggak tau harus mulai dari mana.”
Caca mengusap kening Nolan, lalu menjumput kecil rambut Nolan untuk ia mainkan. “Aku akan mendengarkan dari mana saja kamu memulainya.”
Nolan tidak yakin jika Caca juga tidak akan khawatir akan ancaman Tiana padanya. Ia takut sekali jika Caca akan terbebani dengan masalah internal keluarganya yang sempat mereda, dan kini kembali mencuat karena tiba-tiba wanita masalalu papanya itu muncul tanpa di duga.
Nolan mengambil udara yang mulai terasa dingin setelah beberapa menit lalu Air Conditioner ia nyalakan. “Seseorang dari masalalu papa, muncul lagi.” kata Nolan memulai. Ia tidak tau harus merangkai kalimat seperti apa, yang ada dia hanya berkata apa adanya, sebisanya menyampaikan kepada Caca agar wanitanya itu tau.
“Masa lalu?” tanya Caca dengan dahi mengerut yang terlihat jelas meskipun lampu sudah diubah menjadi lampu tidur yang letaknya ada di atas nakas, di sisi kanan dan kiri ranjang. “Maksudmu ... mamanya Leo?” tebak-tebak buah manggis.
“Hmmm.” Nolan berdehem pelan sebagai jawaban. Ia bahkan tidak ingin menyebut dan mengingat nama wanita yang sudah menjadi petaka bagi keutuhan keluarganya itu.
“Apa yang dia lakukan?”
“Dia datang ke kantor, tadi siang.”
“Dia meminta ku untuk menyerahkan beberapa aset perusahaan peninggalan papa padanya.”
Bola mata Caca hampir keluar mendengar apa yang disampaikan Nolan. Ia tidak menyangka jika ibu Leo seperti itu, sejahat itu.
“Dia menjadikan pernikahan kita sebagai ancaman untukku agar aku mau menuruti keinginannya.”
Nolan bisa merasakan jemari Caca yang meremat kain sprei yang menjadi alasnya tidur saat ini. Ia juga dapat melihat bagaimana ekspresi terkejut Caca akan ucapannya yang tidak ia tutupi sedikitpun dari kenyataan. Dengan berat, bibir Caca terbuka untuk berkata. “Jangan pernah mengorbankan apapun,” bisiknya lirih, dengan raut wajah yang datar tak berekspresi.
Nolan tersenyum. Ia sudah memperhitungkan ini. Ia tau apa yang akan Caca lakukan kedepannya jika sampai wanita itu terus berusaha dan memaksa Nolan memenuhi keinginannya.
Perlahan, Nolan meraih telapak tangan Caca dan meletakkannya diatas dada bidang yang terbalut kaos tanpa lengan berwarna hitamnya yang pres badan. Ia menggenggam telapak tangan Caca bersama telapaknya pada bandul Saturnus yang masih setia berada pada dirinya, menemaninya.
“Tentu. Aku tidak akan melepas apapun.” jawab Nolan tegas namun masih terdengar lembut menyapa pendengaran Caca. “Aku tidak akan melepas apapun yang kita miliki. Entah itu benda berharga, atau apapun. Aku tidak akan pernah melepasnya. Apalagi sampai orang lain berniat buruk menghancurkan pernikahan kita. Aku tidak akan tinggal diam.” lanjut Nolan dengan wajah yang berubah ekspresi dengan sangat cepat.
Caca membungkuk untuk mengecup kening Nolan, menciumnya lama merasai betapa tulus cinta pria itu padanya. “Terima kasih.”
Nolan tersenyum hangat. Ia kembali membuka mata setelah bibir dan wajah Caca menjauh dari wajahnya.
“Jika wanita itu datang padamu, jangan pernah gentar.” pinta Nolan pada Caca sebagai peringatan jika sewaktu dia tidak bisa menemani Caca ketika tiba-tiba Tiana mendatangi dan mengecoh perasaan Caca. “Jangan pernah takut dia berhasil memisahkan kita. Dan jika dia mengancammu, jangan pernah mundur untuk mempertahankan apa yang menjadi tujuan awal kita hidup bersama.”
Ya. Tujuan mereka adalah hidup bersama sampai menua dan hanya ajak yang mampu memisahkan mereka. Itu sebuah komitmen dan janji yang mereka berdua buat sebelum mengikat diri dalam ikatan sakral sebuah pernikahan.
__ADS_1
Caca mengangguk. “Aku tidak akan termakan ucapannya, dan akan tetap mempertahankan tujuan kita membina rumah tangga.”
***
Dan benar saja, Caca seperti dipantau beberapa hari ini. Ada sebuah mobil tidak dikenal yang beberapa kali terlihat oleh Caca terparkir didepan rumah Nolan. Ia melihatnya lagi hari ini, namun sialnya dia harus tetap keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan untuk mengisi dapur agar bi Ane tidak kelabakan mencari bahan masakan untuk mereka berdua.
Ia terpaksa keluar rumah dan pergi menuju salah satu supermarket besar yang lengkap dan harga sedikit terjangkau jika sedang di adakan promo mingguan, yang bertepatan dengan hari Sabtu sekarang.
Caca bergegas turun dari lantai dua kamar pribadinya. Ia sudah berpamitan pada Nolan untuk pergi berbelanja ditemani bi Ane, dan mang Maman yang akan membawa mobil. Nolan memberi izin dan merekapun sekarang berada di sebuah super market besar dan ternama di Jakarta.
Ketika sibuk memilih beberapa buah seorang diri karena bi Ane menuju ke tempat sayuran berada, Caca tiba-tiba saja di dekati seorang wanita yang terlihat tak kalah tua dari ibunya, berjalan ke arahnya.
“Hai,” sapa wanita itu sok akrab. Berhasil menarik penuh atensi Caca hingga dahi itu terlihat mengerut ke arahnya.
“Kamu Clarita kan?”
Caca semakin tidak paham dengan orang yang ada disampingnya ini. Ia terpaksa bertanya untuk menutupi rasa penasarannya kepada si wanita.
“Ya. Anda siapa?” tanya Caca dingin dan datar.
Wanita itu tergelak tawa cukup keras, hingga membuat Caca tidak Sudi menangkap maksud terselubung yang kini ia bisa tangkap siapa wanita ini. Tania, Caca memalingkan muka.
Wanita itu mengulurkan tangan didepan perut Caca, namun tidak sedikitpun ada niatan dari Caca untuk membalasnya ketika ia sadar siapa wanita yang ada didepannya ini. Bukannya menyerah wanita itu justru tertawa dan menepukkan telapaknya bak bersorak riang gembira karena mendapat penolakan.
“Ternyata kamu wanita arogan ya? Kamu tidak mau menjabat tanganku, apa kamu tau siapa aku?”
Caca hanya diam, menatap lurus manik mata wanita didepannya itu dengan sorot jengah. Ia sudah menduga jika cepat atau lambat, wanita itu akan menemuinya. Persis seperti prediksi Nolan beberapa waktu lalu.
“Ah saya baru ingat. Anda pasti yang bernama Tiana kan?” kata Caca tidak ingin terlihat takut.
“Jadi, Nolan sudah memberitahu mu? Sudah bercerita banyak tentang aku?”
Caca melengos dan mengedikkan bahu. “Tentu saja. Dia suamiku, dan tidak ada hal yang kami tutup-tutupi.”
Tiana menyeringai tajam. “Jadi aku tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan padamu, bukan?” kata Tiana melanjutkan. “Aku hanya perlu mengingatkan sekali lagi, tapi kali ini untukmu, bukan Nolan.”
Caca menoleh sekali lagi kepada wanita itu. Menatap tajam tak kenal takut.
“Bilang pada suamimu untuk menuruti kemauanku jika tidak ingin pernikahan kalian hancur.”
Caca terkekeh dengan nacaman itu. Dia tidak merasa takut sedikitpun karena Nolan sudah menguatkannya. Caca melipat kedua lengannya didepan dada dan Tiana menatap sinis penuh kebencian pada istri dari putra kekasihnya dulu. Caca berjalan memangkas jarak, tak takut sedikitpun. Ucapan Nolan adalah hal yang menjadi pondasi dasar ke gigihannya menghadapi wanita didepannya.
“Tidak akan terjadi apapun pada kami. Apalagi, pernikahan kami.”
Setelah mengatakan itu, Caca meninggalkan wanita itu dengan rasa marahnya yang teramat sangat. Ia bahkan mengumpat dan bersumpah akan benar-benar menghancurkan rumah tangga yang baru saja di bangun dua orang yang kini sangat ia benci.
Namun belum terlalu jauh Caca berjalan, ia kembali berhenti dan berbalik menatap Tiana yang masih berdiri ditempatnya.
“Ah aku baru ingat. Aku hanya ingin memperingatkan kepada anda nyonya. Sebaiknya anda yang berhati-hati dengan ucapan dan ancaman anda sendiri. Karena suami saya, bukan orang lemah yang bisa anda tindas dengan ancaman mura-han seperti itu.” []
__ADS_1
...—Bersambung—...