
...Selamat membaca...
...Beri cinta kalian untuk Nolan dan Caca ya...
...đź’žđź’žđź’ž...
...[•]...
Langkah kaki Nolan begitu gontai ketika melewati beberapa ruang menuju tempat dirawatnya sang istri. Dan ketika hampir sampai didepan tempat Caca dirawat, dikejauhan dia dapat melihat sosok yang duduk didepan ruangan steril yang dipesan khusus oleh Nolan untuk Caca.
Nolan mempercepat langkah. Ia pun merasa harus bertemu dengan sosok itu.
Dan sesampainya, Nolan menatap lurus pada wajah yang terlihat marah. Ia tau, ia tidak bisa menjaga Caca dengan baik seperti pria ini dulu ketika menjaga Caca. Tapi, ia tidak akan menyerah dan menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki dan suami.
“Kenapa Caca bisa sampai seperti ini, hm?” tanya Louis dengan nada rendah dan dingin. Nolan yang tau maksud Louis pun mengangguk.
“Aku tidak menjaganya dengan baik.”
Satu pukulan yang terlepas dari kendali Louis mengenai satu sisi wajah Nolan, tepat mengenai rahang pria itu. Sedangkan Nolan, dia sama sekali tidak ada niat membalas karena ia tau bagaimana perasaan Louis saat ini. Caca adalah wanita yang pernah sangat di cintai pria itu. Jadi wajar jika Louis bereaksi seperti ini ketika mendengar Caca terluka parah.
“Jika tau kamu tidak menjaganya dengan sungguh-sungguh, aku tidak akan melepaskan dia untukmu, tau?!”
Nolan lagi-lagi hanya mengangguk. “Maaf—”
“Simpan permintaan maaf bodoh mu itu untuk caca.” bentak Louis dengan nada yang sudah lebih naik beberapa oktaf dari sebelumnya. Ia benar-benar marah dan kecewa kepada Nolan karena tidak bisa menjaga wanita itu dengan baik. “Jika aku mendengar lagi Caca terluka karena keteledoran mu, aku bersumpah akan merebut lagi Caca dari tanganmu.”
Louis pergi begitu saja setelah melihat keadaan Caca dan puas meluapkan rasa kecewanya kepada Nolan.
Nolan mendorong pintu ruangan, menahan rasa ngilu yang masih terasa begitu nyata di rahangnya akibat hantaman Louis. Tapi, sesuatu yang mengejutkan membuatnya tidak percaya dan memaku di tempatnya berdiri.
Caca sudah sadar dan sekarang sedang tersenyum ke arahnya.
“Ca ... ”
Caca melambaikan tangan, namun gerakannya masih terbatas karena sekujur tubuhnya terasa begitu sakit ketika melakukan pergerakan meskipun kecil.
Nolan bergegas memangkas jarak. Ia mengusap pipi Caca dan mengecup keningnya singkat. “Terima kasih Tuhan.” bisiknya sambil menatap udara di atas pandangannya yang mulai berkabut. Ia lantas kembali menunduk dan menyarangkan satu kecupan di kening Caca.
“Terima kasih sudah menjagaku.” bisik Caca dengan suara parau, seperti orang yang baru terjaga dari tidurnya. Alat bantu pernafasan juga sudah dilepas dari hidung Caca. Kini Nolan bisa sedikit bernafas lega melihat bagaimana keadaan Caca yang sedikit membaik, meskipun belum pulih sepenuhnya.
“Terima kasih sudah bertahan untukku.” bisik Nolan merasa bersyukur. “Polisi sudah menangkap dan menghukum pelakunya.”
Caca menatap Nolan dengan raut keruh menahan nyeri. “Siapa pelakunya?” tanya Caca penasaran.
“Tiana. Mamanya Leo.”
__ADS_1
Caca tidak menduga jika pertemuannya di supermarket hari itu menjadi hari nahas baginya setelah berkata sedikit sarkas kepada wanita yang baru sekali ia lihat saat itu. Matanya memanas, tatapannya berubah nanar namun tak bisa mengelak ada satu perasaan iba untuk saudara se-ayah Nolan itu.
“Leo tau?”
Nolan mengangguk, mengiyakan pertanyaan Caca. “Aku bahkan mengajaknya ke kantor polisi, agar dia tau rasa kecewaku pada ibunya.”
Sebenarnya Nolan tau Leo tidak bersalah dalam hal ini. Tapi Nolan geram, ia ingin Tiana tau bagaimana rasa sakit dibenci putranya atas kejadian ini.
“Astaga.” keluh Caca ketika merasakan sakit luar biasa pada setiap persendian tubuhnya, terutama kakinya yang sekarang sedang di gips. Pinggang dan panggulnya pun tidak luput dari rasa sakit yang teramat sangat.
“Jangan memaksa diri bergerak dulu.” tegur Nolan sambil membantu memperbaiki posisi Caca. “Maafkan aku,”
Caca menatap lembut ke arah Nolan. “Untuk apa meminta maaf?” kata Caca, lalu mengusap lengan Nolan yang menyentuh pipinya.
“Maaf, karena aku tidak menjagamu dengan baik. Maaf.”
Caca tau peringai suaminya ini. Dia tidak akan berhenti meminta maaf sebelum dia memberikan jawaban yang bisa membuat lega hati pria tersebut. “Ya. Ini bukan salahmu, Nol. Tuhan sedang menguji kita, dan akan ada hikmah dibalik kejadian ini.”
“Maaf,” lirih Nolan sekali lagi dengan binar mata yang sudah redup. Pupus sudah ketegarannya, dia meneteskan airmata.
“Ya. Aku memaafkanmu. Tapi sebagai gantinya—” Caca menjeda, dia menatap dengan sorot mata sedikit usil ke arah Nolan. “—ajak aku naik mobil sport mahal mu di sirkuit.”
“Apa? Kamu ingin balapan?”
Caca mengangguk antusias. Matanya berbinar. Setidaknya, sekali seumur hidup tau bagaimana rasanya menjadi Nolan ketika memacu mobil mewah itu. Dia tau, Nolan juga pasti ingin dan rindu dengan hobby lamanya.
“Jangan ngaco—”
Oke, baiklah. Nolan tidak bisa menolak keinginan Caca yang satu ini, karena dia juga rindu memacu adrenalin nya lagi.
“Baiklah, ayo kita lakukan. Tapi berjanjilah untuk sembuh dengan cepat.”
***
Setahun kemudian,
Kondisi Caca sudah pulih. Cidera kakinya yang sempat retak pun sudah sembuh total dan dinyatakan bisa kembali beraktifitas dengan baik.
Dan inilah saatnya,
Suara deru mesin mobil sport milik Nolan memecah keheningan udara salah satu sirkuit internasional yang berada di Bogor, Jawa barat. Sirkuit Sentul.
Ia sengaja membooking sehari penuh dan mengundang teman lamanya dulu untuk ikut berpartisipasi dan bermain disana bersamanya, termasuk Jonathan. Jika dulu dia hanya bisa ikut balapan liar dan menghabiskan uang papanya, sekarang Nolan tidak melakukannya lagi. Dia ada sebagai penyelenggara, bahkan sebuah Ferrari f8 Spider Nolan persembahkan sebagai hadiah untuk mereka yang nanti menang setelah mengikuti rules tanpa kecurangan.
Nolan ingin menebus janji, dan menyenangkan hati Caca.
Ditatapnya wanita cantik yang sudah mengenakan baju keselamatan yang pas di tubuhnya. Nolan berjalan memutari Bugatti nya yang baru ia beli beberapa bulan lalu. Ia tersenyum hangat kepada wanita yang sangat ia sayangi itu, lantas satu kecupan singkat ia sarangkan di pipi sang istri.
__ADS_1
“Bagaimana perasaan mu sekarang, sayang?” tanya Nolan dengan intonasi rendah penuh kasih sayang yang tak menyurutkan senyuman di bibirnya. Ia juga mengusap pipi Caca yang bersemu merah karena ulahnya.
“Senang.”
Satu ide jail muncul di kepala Nolan. “Jadi, nanti malam—”
“Ish!!!” kesal Caca melayangkan pukulan di lengan Nolan. Bisa-bisanya dia meminta hal itu ditengah keramaian seperti saat ini? Caca tidak habis pikir.
“Sorry.” kata Nolan kemudian merasa ide jailnya berhasil membuat Caca semakin merona. Ia suka semu merah di kedua pipi istrinya. “Sebentar lagi dimulai,” Nolan meraih helm dari umbrella girl yang berdiri didekat Caca, lalu memakaikan di kepala Caca sebagai bentuk antisipasi. Dia tidak ingin terjadi apapun kepada wanita yang sangat dicintainya itu. “Percaya sama aku, Okey?!”
Caca mengangguk mantap. Tidak pernah sedikitpun ia tidak mempercayai pujaan hatinya itu. Nolanpun memutari mobil sportnya yang sudah siap, kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi, disusul Caca dan anggota lainnya yang ikut kompetisi buatan Nolan hari ini. Semua tim sudah siap, termasuk tim keselamatan yang di persiapkan dengan siaga oleh Nolan.
Nolan menginjak pedal gas mobil hingga suara mesinnya menderu. Diikuti yang lain hingga suara deru mesin semua mobil mahal itu memenuhi angkasa Sirkuit Sentul.
Caca bicara sedikit berteriak sebelum balapan itu di mulai.
“Setelah dari sini, aku ingin menengok keadaan mamanya leo.”
Nolan tersenyum. Caca memang selalu seperti ini. Dia baik meskipun orang lain sudah membuatnya terluka. Inilah yang membuat Nolan jatuh cinta setengah mati dengan wanita di sampingnya ini, dan juga rela melakukan apapun demi dia.
“Baiklah. Seperti yang kamu inginkan. Sayang.” kata Nolan tulus dari hati. Karena jujur dan tidak dapat di pungkiri, dia juga memiliki hati yang sama dengan Caca. []
...—END—...
###
Ada satu bab Epilog ya, jangan ketinggalan...🥰
Mau promosi juga untuk cerita baru Author Vi's.
My Angel Baby,
menceritakan kisah Louis dan Angel, relasi kerja beda jabatan yang memiliki cinta bertepuk sebelah tangan, akan tetapi terus berusaha mempertahankan profesionalisme pekerjaan.
Atau,
JyRu
Genrenya romance fantasi. Pemeran utama laki-laki yang bernama Arthur ini harus memperjuangkan Sang pemeran utama wanita yang memilih menghilan setelah dikhianati.
Silahkan mampir jika berkenan. Beri dukungan kalian juga agar Vi's betah berkarya disini.
Terima kasih. 🥰
__ADS_1
Salam kompak selalu,
Vi's