
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
“Sialan!!” dengus Tiana karena gagal menjalankan misinya meminta harta pada dua anak Hendra. Dia sama sekali tidak peduli meskipun Leo adalah darah dagingnya, yang ia inginkan hanya tujuannya memiliki Wirawan terwujud.
Wirawan adalah pria berusia tiga puluh dua tahun yang sekarang sedang ia dekati. Ia tidak peduli usia yang terpaut jauh, yang terpenting dia menginginkan pria muda itu. Dan syarat yang diberikan si pria, adalah bisa membantunya menambah modal usaha yang sedang ia jalankan.
Satu ide terbesit di kepala Tiana yakni memintanya pada Nolan dan Leo. Mereka berdua adalah harta karun yang selama ini tidak pernah ia gubris. Masa bodo dengan malu, dia akan tetap berjuang untuk cinta Wirawan.
Tapi apa, dua anak Hendra itu tidak mau membantunya, dan alhasil rasa kesalnya membuncah memenuhi raga.
Jemari tangannya meremat stir mobil jazz berwarna merah yang sedang ia kemudikan. Emosinya sudah membeludak, ditambah lagi dia juga tidak berhasil mempengaruhi Caca yang setaunya adalah istri Nolan yang baru dinikahi sekitar sebulan lewat.
Matanya menangkap sosok Caca yang baru keluar dari supermarket besar ibu kota itu sambil menenteng barang belanjaan dalam kantong yang berukuran cukup besar. Tiba-tiba ide jahat muncul dalam kepalanya. Ia akan benar-benar menghancurkan pernikahan Nolan, atau ... membuat Nolan menyesal karena sudah menolak dirinya dengan cara memalukan. Dia akan menghapus nama Caca dari dunia.
Telapak tangan Tiana menarik rem tangan setelah mesin mobil menyala. Ia melepas pedal rem dan menginjak pedal persneling kemudian menginjak dalam pedal gas hingga mobil meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi.
Didepan sana, terlihat seorang wanita tua dengan jarak tidak terlalu jauh terlihat panik dan berteriak melambai kepada Caca. Namun terlambat. Mobil jazz merah yang dikemudikan Tiana itu menghantam kuat tubuh Caca hingga terpental naik dan jatuh di belakang mobil. Semuanya terjadi begitu saja, dan Tiana berniat melarikan diri setelah melakukan aksi keji tak berperikemanusiaan nya itu.
Namun nahas, ide jahatnya untuk kabur itu terpergok oleh banyak orang sehingga beberapa dari mereka berteriak dan memancing pengunjung lain untuk menghentikan mobil itu dengan beberapa hantaman telak dengan balok kayu hingga beberapa bagian mobil penyok dan kaca pecah.
Selain kejaran orang-orang yang ada disana, portal pada pintu keluar yang menjadi penghalang itu juga berhasil menghentikan laju kendaraan mobil Tiana, kaca depan pecah dan menyerbu satu sisi wajahnya karena dia sempat menoleh ke samping untuk melindungi dirinya sendiri.
Lalu, ia terpaksa keluar dari dalam mobil saat beberapa orang menariknya paksa dan menyeretnya ke pos satpam untuk menunggu kedatangan polisi yang akan mengusut kasusnya ini. Dan pada akhirnya, dia harus naik ke mobil polisi dan rela menjadi tersangka, karena korban yang ia tabrak itu mengalami luka serius dan harus mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit.
***
Nolan menggenggam erat telapak tangan Caca yang tidak bergerak. Telapak lainnya di semati jarum infus sebagai penunjang berlangsungnya kehidupan. Ia memejam melihat sebuah alat penyalur oksigen yang juga terpasang di hidung sang istri.
Menurut dokter yang menangani Caca, wanita itu mengalami patah tulang cukup serius di bagian kaki kirinya karena benturan keras yang dialami Caca. Selain itu, ada sedikit luka di bagian tempurung kepala Caca yang mengakibatkan wanita itu tidak sadarkan diri.
Nolan begitu sakit mendengar apa yang sedang dialami oleh wanita yang sangat ia cintai itu. Apalagi saat mendengar dokter berkata ‘Semoga tidak terjadi sesuatu pada ingatannya’ yang didengar Nolan beberapa saat lalu, membuat Nolan begitu hancur.
Dia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk. Mengabaikan semua demi menjaga dan menunggu Caca sadar dari tidur sementaranya, hingga pintu ruangan tiba-tiba diketuk dan dua orang berseragam polisi memasuki ruangan.
Bi Ane yang juga berada disana terkesiap dan segera berdiri untuk memperingatkan kepada Nolan jika ada dua polisi di ruangan mereka.
Nolan pun memutar tubuh menghadap belakang, lantas bangkit berdiri dan menyambut salam hormat dari kedua polisi itu dengan sebuah anggukan kepala.
“Lapor, kasus tentang nyonya Clarita sudah kami usut. Saudari Tiana mengaku melakukan tabrakan itu atas motif sakit hati dan balas dendam kepada anda, saudara Nolan.”
__ADS_1
Nolan yang mendengar laporan dari salah satu polisi itu membolakan mata. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan mengepal kuat ketika bibirnya menggeram.
“Keterlaluan.” kata Nolan dengan sorot yang begitu menghujam. Ia tidak menyangka jika kasus penolakan pemberian aset kepada Tiana, berujung petaka untuk wanita tercintanya. Caca.
“Kami sudah menyiapkan beberapa pasal untuk menjerat tersangka. Diantaranya adalah pasal untuk kasus tindak kejahatan yang dilakukan dengan sengaja oleh pelaku kepada korban.” masih dikatakan oleh polisi yang mengemban tanggung jawab tugas mengusut kasus kriminal di kedua pundaknya.
“Apa saya diizinkan datang ke kantor untuk melihat pelaku?”
“Tentu. Kami mempersilahkan anda datang ke kantor kami.”
“Terima kasih.” tutur Nolan dengan suara parau. Ia lantas kembali memutar badan dan berpesan kepada bi Ane untuk menjaga Caca saat dirinya pergi ke kantor polisi.
Saat berjalan menyusuri lobby rumah sakit, Nolan merogoh ponsel dari saku jaket yang ia kenakan, kemudian menghubungi seseorang yang menurutnya harus ikut bersamanya.
“Leo, datang ke kantor polisi sekarang. Aku menunggumu.”
***
Dengan perasaan kacau, Leo mengikuti langkah Nolan melewati lobby kantor kepolisian yang sedang menangani kasus tabrakan sengaja yang menimpa istri saudaranya itu.
Ia berlari dengan pikiran kalut dan rasa takut yang membuncah. Ia takut jika Nolan akan bertindak dan mengajukan hukuman yang lebih berat untuk mamanya. Namun Leo tidak bisa berbuat apapun karena mamanya memang bersalah.
Motif dan alasannya, Leo tau tanpa harus diberitahu oleh pihak berwajib ataupun Nolan terlebih dahulu. Pasti ibunya melakukan itu semua karena dirinya dan Nolan yang sama-sama menolak memberikan apa yang diinginkan wanita berusia lima puluh delapan tahun itu.
Langkah cepat Leo semakin melambat ketika ia melihat sebuah ruangan yang bisa ia tebak adalah ruang interogasi. Memang, setelah mendengar penjelasan kronologi dari asisten rumah tangga Nolan beberapa waktu lalu, dia langsung saja bergegas menuju kantor kepolisian tanpa menunggu lama. Ia ingin memastikan dugaannya, dan berharap semaunya salah agar dia tidak sangsi untuk meminta polisi menghukum wanita itu seberat-beratnya.
Tiga orang polisi dan mamanya menoleh ketika pintu ruangan yang terbuat dari kaca tidak terlalu tebal yang tepiannya diberi aluminium dan berwarna coklat tua itu berderit.
“Le,” panggil sang ibu sendu, saat itu. Hati Leo bak diiris ketika melihat kenyataan jika dugaannya benar. Harus bicara pembelaan seperti apa dia pada polisi-polisi yang sedang berdiri mengintrogasi mamanya itu kalau jelas-jelas wanita itu bersalah. Leo memilih mundur dan menjadi pecundang hari itu.
Tapi untuk sekarang, hal itu tidak akan pernah terjadi meskipun tubuhnya terasa lemas saat melihat ibunya duduk dengan kedua tangan diborgol dan mengenakan seragam seorang tahanan.
Pintu di dorong terbuka cukup keras dan kasar oleh Nolan hingga seorang penjaga yang menemani Tiana menunggu kedatangannya, menoleh. Manik mata Nolan bertemu dengan milik Tiana. Dan hati Nolan dipenuhi dengan gemuruh kemarahan, akan tetapi ia tahan kuat-kuat.
Langkah Nolan kembali terdengar berikut Leo di balik punggung Nolan.
“Leo, nak.” panggil Tiana kepada sang putra dengan mata bergetar seperti ingin menangis. Leo tak memberikan jawaban, wajahnya datar ketika menatap sejenak wajah sang ibu.
Nolan duduk di kursi seberang yang ada dihadapan Tiana. Disusul Leo yang tertunduk dalam, tanpa berani menatap lagi wajah sang ibu. Ia tidak kuasa jika sampai melihat ibunya itu menangis.
“Aku—”
“Sudah puas kamu sekarang?” kata Nolan penuh penekanan dengan suara rendah yang terdengar mengerikan.
“Aku tidak akan membela diriku karena aku memang salah.”
__ADS_1
Nolan menarik sudut bibir membuat seringai. “Kamu pikir aku akan iba?”
Leo meremas tangannya sendiri mendengar kalimat Nolan. Ia berusaha terus menguasai dirinya agar menerima kesalahan sang ibu, meskipun terasa begitu menyakitkan.
“Aku tidak meminta belas kasihan darimu.”
Seringai Nolan lenyap, tatapan nya menajam.
“Ya, karena aku juga tidak akan melakukan apapun untuk membela atau meringankan hukuman untukmu.” Nolan menelan ludahnya susah payah. “Wanita yang kau sakiti, terbaring tidak sadarkan diatas ranjang rumah sakit hingga hari ini. Dan aku bersumpah, akan membuatmu membusuk di penjara jika sampai terjadi sesuatu padanya.”
Nolan berdiri, ia memutar tubuh dan pergi dari tempat itu tanpa sepatah kata pamit. Tinggal lah Leo yang masih duduk disana. Telapak tangannya bergetar. Ia bahkan memberanikan diri untuk menatap sang ibu sekali lagi.
“Nak,”
“Aku tidak bisa melakukan apapun, mam. Mama sudah keterlaluan karena berniat menghilangkan nyawa seseorang.”
Tiana tertunduk. Dia menyesal melakukan itu karena sekarang dia juga harus kehilangan kasih sayang dan rasa percaya putranya sendiri.
“Pikiran mama kacau saat itu, Le.”
“Tapi tidak seharusnya mama melakukan kejahatan seperti itu.” pekik Leo didepan wajah sang mama. Ia sudah lelah. “Maaf, kali ini Leo tidak bisa membantu apapun untuk mama. Leo kecewa sama mama.”
Setetes airmata Tiana jatuh membasahi pipinya. Airmata yang sedari tadi ia tahan agar tidak jatuh, akhirnya luruh juga.
Leo berdiri, dia juga berniat pergi. Namun langkahnya kembali tertahan untuk menatap kesedihan sang ibu.
“Sekali lagi, maafkan Leo.” []
...—Bersambung—...
###
Halo, Me Gustas Tu sebentar lagi mau tamat nih. Menurut kalian, apakah Tiana masih pantas menerima maaf dari Nolan atau Caca?
Tidak lupa juga, ada cerita baru dari Vi's mampir yuk 🤭
Like dan list favorit jika suka ya ...
Ini potongan isi cerita di bab 1 yang udah di upload 👇
Sampai bertemu di lapak My Angel Baby ya ☺️
__ADS_1
See you