
...Part 15 hadir...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...15...
Caca punya alasan sekarang. Dia tidak akan lagi berusaha menjauhi Nolan, melainkan melakukan pekerjaannya dengan baik yakni mendekati Nolan dan membuat pemuda begundal itu kembali ke tangan sang ayah. Ia sudah mengantongi beberapa informasi diantaranya dari bapak dan ibu penjual martabak langganan Nolan kemarin malam. Mereka bilang Nolan itu baik, dan ramah. Tapi, dia juga harus tetap waspada dan tidak boleh lengah. Atau, dia yang akan jatuh.
Sore ini ada kelas tambahan di lab kimia. Caca yang basicnya anak IPS, terkejut bukan main ketika melihat bagian dalam laboratorium sekolah ini. Dia memang belum pernah masuk ke tempat seperti ini, tapi Caca bisa menebak, alat praktikum di SMA nya dulu tidak selengkap di SMA Kemala. Secara, ini adalah sekolah orang berduit, bukan mengandalkan bantuan dari pemerintah seperti sekolahnya dahulu.
Caca sudah memakai seragam praktik lengkap dengan kaca mata putih yang bertengger manis di tulang hidungnya yang tinggi dan sempurna. Tapi dibalik semua itu, Caca berdo'a agar tidak membuat kesalahan dengan mencampurkan bahan-bahan aneh yang bisa menyebabkan ledakan dan menghancurkan ruang laboratorium praktik ini.
Jantung Caca berdebar kencang. Disini, ia merasa takut penyamarannya terbongkar oleh teman sekelasnya. Ia tidak tau sama sekali tentang nama dan fungsi cairan-cairan berwarna-warni yang kini ada didepan matanya.
Ada juga berbagai macam simbol yang tertempel di beberapa tabung kaca itu. Diantaranya yang ia ketahui adalah simbol tengkorak silang yang legendaris. Caca langsung tau apa artinya simbol tersebut, yang tidak lain artinya adalah bahaya. Ada pula beberapa istilah yang sama sekali tidak ada di dalam otak Caca. Antara lain HCI, KOH, HNO³, H²SO⁴, Na²CO³, dan masih banyak lagi yang mungkin akan membuat kepala Caca semakin puyeng.
“Kita tunggu kelas IPA-5 datang. Baru bapak mulai ya.” kata pak guru mengejutkan Caca hingga pundaknya berjengit kaget.
“Ya, pak.” jawab para siswa-siswi serempak. Namun tidak dengan Caca. Ia tau, satu penghuni kelas tersebut. Nolan, IPA-5. Mata Caca membeliak penuh kejut, lantas memperhatikan pintu kaca ruangan yang masih terkatup Belum ada satu murid dari kelas itu yang datang ke laboratorium.
Tapi, tak lama kemudian, pintu kaca itu berderit disertai langkah-langkah mengetuk lantai yang mulai memenuhi kesunyian. Penduduk IPA-5 sudah datang, dan Caca, segera menunduk dalam sembari membenarkan letak kaca mata yang tidak bermasalah di hidungnya setelah menangkap presensi Nolan juga hadir disini.
Perlahan-lahan ruangan terisi penuh, dan guru kimia itu segera memulai praktikum kali ini. Praktikum perdana yang diikuti Caca, si anak IPS—dua tahun lalu—yang tersesat di laboratorium praktik kimia SMA bergengsi ini.
Leher Caca mendadak kaku seperti di patri menggunakan besi, lantas lupa diberi pelumas dan berkarat. Sulit sekali ia ajak kompromi atau kasarannya, Caca memang nggak ingin mengangkat wajah kemudian bertemu dengan manik mata Nolan.
Selama pelajaran berlangsung, tidak ada hal yang membuat Caca gemetaran sampai melakukan hal konyol yang menarik perhatian dan membuat panik para siswa-siswi karena membuat kesalahan. Ya, semua itu tidak berlangsung lama, sampai dia sendiri yang membuat keributan karena kecerobohannya. Caca penasaran dimana Nolan berada dan bagaimana jika ia sedang mengikuti pelajaran sejuta umat ini. Caca nekat mengangkat pandangan, yang kemudian dengan mudah menemukan keberadaan Nolan yang sedang berdiri dengan seragam sama seperti dirinya.
__ADS_1
Oh God. Kenapa dia sangat tampan dengan seragam yang sekarang dipakainya?
Mata mereka bertemu yang sontak membuat Caca gelagapan dan terkejut bukan main. Nahas, tangan Caca tanpa sengaja membuat gerakan refleks hingga menendang sebuah cairan berbahaya berlebel HCI pada tabung hingga tumpah dan memercik mengenai sebagian baju praktek dan juga sepatunya.
Pak guru segera berlari mendekat untuk mengetahui keadaan Caca. Karena ini memang sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang guru.
Ceroboh. Dan Caca merutuki dirinya sendiri karena kecerobohannya tersebut.
“Lepas sepatunya.” titah guru bernama Gerald itu kepada Caca, ia takut cairan itu meresap kedalam dan membakar kulit Caca. Tapi, karena masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, Caca membatu ditempatnya. Namun semua lagi-lagi tidak berlangsung lama, karena Leonard meraih sepatunya dengan cepat, kemudian melepaskan benda yang setengah basah karena cairan berbahaya itu dari telapak kaki Caca. “Cairannya masuk apa tidak, Leo?” lanjut pak Guru memastikan.
“Tidak, pak.”
“Syukurlah.” kata pak Gerald sambil mengusa dadanya lega. “Lain kali, hati-hati ya.”
Caca menganggukmerasa malu sekali sudah ceroboh dan membuat kegaduhan.
“Kalian semua, hati-hati. Bapak tidak mau lagi terjadi hal seperti barusan. Bapak juga nggak mau ambil risiko karena keteledoran kalian yang tidak memperhatikan kata-kata bapak. Utamakan keselamatan kalian. Jangan melamun karena kalian sedang berhadapan dengan bahan kimia yang bisa mengancam diri kalian sendiri”
“Ya, pak.” jawab mereka serempak, termasuk Caca didalamnya.
“Terima kasih.” bisiknya pada Leo yang di angguki pemuda tersebut diselingi sebuah senyuman manis.
Seperti tidak kapok, Caca kembali menoleh ke arah Nolan dan mendapati pemuda itu masih dengan wajah lempengnya yang tidak berekspresi. Caca hanya bisa membawa tatapan matanya kembali turun dalam tundukan kepala, kemudian mengikuti instruksi demi instruksi yang diberikan oleh guru kimia itu, tanpa ada lagi sebuah kesalahan.
***
Seperti hari-hari biasanya, Caca selalu berjalan ke seberang untuk mengambil motor bututnya di penitipan. Ia hanya tidak ingin semakin menjadi pusat perhatian karena motornya itu. Pasalnya, diparkiran dalam sekolah hanya ada motor-motor berkelas dengan merek mendunia, juga mobil keluaran terbaru yang harganya bisa dibuat membeli tiga unit rumah tipe menengah untuk warga selevel Caca.
Berada disekitar orang berada dengan harta tumpah ruah, membuat Caca mau tidak mau membandingkan kehidupannya sendiri dengan mereka. Perbedaan yang muncul dan timbul kepermukaan tidak dapat ia hindari begitu saja. Mereka memiliki aura yang jelas sangat berbeda dengan dirinya.
Caca bersiap menyeberang setelah memastikan tidak ada kendaraan dari dua arah berlawanan. Seorang murid perempuan dari kelas IPA-5 tadi sempat meminjaminya sandal yang sekarang bisa ia pergunakan karena sepatunya masih perlu ia keringkan agar cairan itu tidak benar-benar membakar dan meninggalkan bekas luka di telapak kakinya.
Baru saja langkah ia ayunkan untuk turun dari area pejalan kaki, Caca begitu dikejutkan oleh suara deru mesin motor yang membuat jantungnya seolah terjun ke dasar lambung. Ia pikir ada pengendara yang tiba-tiba muncul dengan kecepatan tinggi menerjangnya dari arah kanan, namun tidak begitu, yang berada di depan nya sekarang adalah Nolan. Teman satu jurusan dan juga targetnya itu kini menurunkan kedua boots kulitnya menapak aspal. Kaca helm yang dibiarkan terbuka dan menampakkan wajah datar sedatar white board di kelas itu kini menatap lurus kearah Caca.
__ADS_1
“Astaga, mengejutkan saja!” keluh Caca kesal sambil mengelus dada. “Kamu sadar tidak sih udah bikin orang lain hampir mati berdiri?” cerocos Caca pada si muka tanpa ekspresi itu. Sumpah, wajah Nolan yang seperti itu sangat menyebalkan di mata Caca.
“Lain kali, jangan bikin lab kimia gaduh gara-gara keteledoran Lo.”
“Jadi kamu hanya ingin bilang begitu padaku?”
“Makanya, jangan suka nyolong muka gue.”
WHAT THE F***CK!!
“Eh, apa maksud kamu ya?” tanya Caca semakin kesal, wajahnya sudah berubah seperti gunung berapi yang hendak meledak, dan itu berhasil membuat Nolan menahan tawa dalam hati. “Nyolong muka? Yang ada aku sebel sama muka kamu itu.”
Nolan menghela nafas, kemudian membiarkan mesin motor tetap hidup dan menyimpan kedua telapak tangannya ke adalah saku jaket kulit hitam yang ia pakai.
“Intinya, gue nggak suka Lo diam-diam ngelihat gue kayak tadi. Kena karma kan tuh jadinya. Untung tuh HCI nggak kena betis lo.”
Caca bingung. Nolan ini sebenarnya sedang memperingatkan dia, atau mengkhawatirkan dia ya?
“Makasih deh udah khawatir ke aku.” jawab Caca tebal muka sembari mengalihkan arah pandang pupil coklatnya ke arah seberang jalan. “Minggir deh. Aku mau pulang.”
Nolan hanya diam memperhatikan wajah Caca yang menurutnya semakin menyebalkan saja. Entah mengapa, wajah Caca itu sangat menyebalkan bagi Nolan.
“Inget. Jangan suka nyolong muka gue buat Lo simpen di kepala Lo.” kata molan cuek, menarik telapak tangannya kemudian kembali menempatkannya pada gas motor.
Setelah mengatakan itu, Nolan menarik gas tangan motornya dan pergi meninggalkan Caca begitu saja dengan perasaan kesal dan hati dongkol.
“Sialan.” gerutunya mengumpat, namun wajahnya tiba-tiba berubah merah seperti kepiting rebus. “Laboratorium kimia pembawa bencana.” []
...°°°°Bersambung°°°°...
###
Jangan lupa mampir di karya Othor yang lain ya...
__ADS_1
See you 😊