Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Twelve


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


Nolan pernah mendapatkan satu pertanyaan dalam sesi tanya jawab salah satu stasiun televisi yang mengundangnya dalam acara talkshow. Begini bunyi pertanyaannya.


“Apa kesalahan yang pernah kamu lakukan, dan membuatmu sangat menyesalinya?”


Dan Nolan menjawab begini.


“Aku melakukan tiga kesalahan yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.


Pertama, aku tidak bisa menjaga mamaku dengan baik hingga aku kehilangan beliau. Kedua, aku pernah membenci papaku karena suatu alasan yang tidak bisa aku katakan, dan yang ketiga, aku pernah membuat seseorang yang aku cintai tulus dari dalam hatiku, pergi meninggalkan aku.”


Tidak ada skenario tertulis apapun untuk jawaban Nolan itu. Semua ia katakan tulus dari dalam hatinya. Dan host dari acara itu kembali bertanya.


“Jadi kamu pernah memiliki kekasih?”


Suasana studio saat itu sangat senyap, menunggu jawaban dari Nolan. Dan dia menjawab,


“Ya, aku pernah memiliki kekasih. Tapi orang yang ku maksud itu bukan kekasihku. Kami hanya berteman.”


“Friend zone?”


“Oh, itu ya istilahnya jaman sekarang?” kelakar Nolan yang membuat seisi ruangan itu tertawa. Dia mendadak menjadi orang tua yang buta kata-kata gaul.


“Untuk sekarang, kamu punya dong pacar?” goda si pembawa acara. “Nggak mungkin cowok ganteng, sukses, kaya seperti kamu nggak punya cewek.”


Nolan menggeleng. “Tidak. Aku masih tidak bisa membuka hati untuk siapapun sampai saat ini.”


***


Dan untuk hari ini saja, Nolan ingin menjadi Nolan yang dulu. Ia datang ke kedai martabak manis langganannya dulu. Sudah lama dia tidak datang ke tempat ini sejak dia menggantikan posisi papanya. Waktu dan kebebasannya benar-benar musnah. Dia menjadi orang yang lupa daratan seperti papanya dulu. Dan inilah yang tidak dia sukai. Namun semua sudah tergaris menjadi takdir, mau bagaimana lagi?


Mobil mewah ia sudah parkir di sekitaran jalan yang tidak terlalu jauh dari kedai itu berada. Tunggu, seingatnya jalannya dulu tidak begini. Semuanya sudah berubah. Jalanan ini sudah tidak terasa semenarik dulu.

__ADS_1


Langkan Nolan terpaku ketika dia menyadari tidak ada lagi deretan kedai pinggir jalan disini. Tempat ini sudah menjelma menjadi sebuah gedung tinggi yang masih dalam proses pembangunan. Tempat itu sudah berubah fungsi setelah tidak ia datangi selama bertahun-tahun. Tatapannya kosong, telapak tangannya mengepal. Nolan telah kehilangan hal yang berarti lainnya dalam hidupnya, lagi. Tempat itu menjadi kenangan paling mengesankan bagi Nolan, tapi semuanya sudah menghilang sekarang.


Ingatannya seperti dilempar ke belakang, secara mengenaskan. Ia masih ingat bagaimana ia mendatangi Caca diseberang jalan sana. Ia ingat bagaimana Caca duduk di bangku kedai menunggu pesanan bersamanya disitu. Lalu, ingatan bagaimana dua orang tua yang mencari uang susah payah disana, mengapa semua berubah begitu cepat?


Lalu, ditengah kegelisahan hati yang tak rela dengan kenyataan didepan mata, Nolan mendengar sesuatu. Seperti dejavu, Nolan merasa merinding mendengar suara tangisan seseorang akan tetapi tidak melihat siapapun disekitarnya. Matanya terus berputar menelisik, hingga akhirnya dia melihatnya. Ia melihat siluet yang tidak asing dimatanya. Seorang wanita duduk berjongkok dengan kaki ditekuk dan menangis meraung-raung yang sempat ia kira kuntilanak itu ternyata ...


“Lo ngapain nangis di pojokan kayak Kunti gitu?”


Sialan! Bisa-bisanya dirinya disamakan dengan Kunti?


Caca menoleh mendengar suara yang ia kenali itu. Nolan juga ada disini? Kenapa bisa begini? Padahal dia hanya ingin sendirian melepas beban yang sedang dirasanya. Patah hati, ditambah keinginannya makan martabak manis yang tidak terpenuhi karena kedai yang menjadi langganannya dan Nolan dulu, sudah berganti menjadi bangunan lain.


“Tolong kondisikan mulut kamu saat bicara.” ketus Caca yang membuat Nolan menyemburkan tawa. Nolan lupa seketika dengan kekesalannya kehilangan kedai martabak yang penuh kenangan itu, karena sekarang dia bisa melihat kenangannya secara nyata didepan mata.


“Untung gue yang Nemu elo. Kalau orang lain, udah disiram Lo sama air seember.”


Caca tidak peduli. Dia kembali menangis seperti anak kecil.


“Ca. Berhenti nggak?! Lo bikin orang salah sangka dan bakal nuduh gue yang enggak-enggak.”


“Ya kamu pergi aja sana! Siapa juga yang butuh ditemani sama kamu?”


Bukannya pergi, Nolan memilih duduk disebelah Caca. Menepuk punggung wanita itu beberapa kali agar tangisnya mereda.


Sialan sekali kan? Sudah patah hati, kesal pula di ganggu Nolan. Benar-benar sial.


Tiba-tiba selera menangis Caca Hilang. Dia berubah ketus menatap Nolan. Matanya yang masih basah ia usap kasar, serta bibir dan hidungnya yang memerah tak luput dari usapan kesal yang begitu keras.


“Ngapain kami disini?”


Nolan tidak habis pikir, mengapa Caca terlihat benci sekali padanya. Apa wajahnya berubah menyebalkan dimata Caca sekarang? Ya meskipun nggak bisa dipungkiri, dulu dia sempat membuat Caca membencinya.


“Gue pingin beli martabak. Udah lama nggak kesini. Eh malah kedainya udah digusur dan gue baru tau sekarang.” kata Nolan dengan wajah sedikit menunjukkan raut kecewa. “Kalau gue tau kayak gini, gue bakal beli tanah ini duluan biar gak di bangun jadi gedung kayak gini. Terus gue kembangin deh usaha-usaha para pedagang kaki lima biar mereka bisa tetap memiliki pekerjaan. Gue baru sadar kalau gue terlalu sibuk sampai lupa tempat favorit yang dulu selalu gue datengi saat gue lagi suntuk. Dan sekarang ...”Lanjut Nolan sembari melirik ke arah gedung yang masih dibangun, lantas mengedikkan bahu.


Caca hanya memperhatikan lurus wajah Nolan yang terlihat semakin tampan di usia dewasanya sekarang. Kemudian ia tersenyum. Ternyata Nolan berubah lebih baik dari yang pernah ia kenal dulu.


“Kalau Lo ngapain disini? Mau nakutin orang sama suara tangisan Lo yang kayak Kunti it—Awwsh...” Nolan meringis menerima pukulan telak dari Caca. Ia menggosok pahanya yang terasa panas seperti terbakar. “Sakit, Ca!”


“Biar tau rasa.”

__ADS_1


Nolan tertawa dalam hati. Inilah Caca nya, Caca yang pernah ia kenal. Satu ide jail muncul. Ia mengapit Caca diarea ketiaknya hingga membuat wanita itu meronta.


Pada akhirnya, mereka bisa tertawa bersama-sama. Dan disaat seperti lah, Nolan akan mengambil celah untuk bertanya.


“Ada masalah?” tanya Nolan sambil menekuk kaki dan memeluknya.


Caca menunduk ragu. Apa boleh dia menceritakan masalahnya ini? Atau lebih baik dia simpan saja sendiri sebagai kenangan. Tapi ini hanya Nolan, pasti tidak akan masalah karena Nolan adalah orang yang pandai menyimpan rahasia, dalam keadaan tertentu.


Lantas Caca menganggukkan kepala. Ia ingin hatinya sedikit lega malam ini.


“Lo nggak sama Louis?” tanya Nolan sambil mengamati sekitar.


Mendengar nama itu, hati Caca kembali ngilu. Tapi ini bukan salah Nolan karena dia tidak tau apapun tentang masalah yang sudah terjadi antara dirinya dan Louis.


“Nggak. Aku sendirian.” jawab Caca singkat. “Kamu lagi nggak ada kerjaan.”


Nolan menganggukkan kepalanya. “Capek ca, kerja Mulu nggak ada berhentinya sama sekali. Gue manusia, bukan robot.”


“Ya yang dapet uangnya kan kamu juga, Nol.”


“Ya, Lo bener. Tapi gue jadi kayak robot.”


Mereka tertawa lagi. Berada bersama Nolan, membuat Caca sedikit merasa nyaman.


“Aku mau minta maaf soal sikapku padamu beberapa waktu lalu.”


Nolan mengerutkan keningnya bingung. Sebenarnya Caca ini kenapa? Tiba-tiba membahas hal yang sudah lewat, membuat Nolan merasa curiga. Apa ini ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Louis?


“Lo ngomong apa sih. Nggak apa-apa. Itu wajar soalnya Lo udah punya cowok. Gue yang salah ngajak ketemuannya maksa.”


“Aku, udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Louis. Kami putus.”


Mendengar berita yang baru saja dikatakan Caca, wajah Nolan berubah datar. Apa alasan Caca menangis karena hubungan wanita itu dan sang kekasih yang berakhir?


“Jadi, Lo nangis gara-gara itu?”


Caca menoleh dan menyorot tajam mata Nolan. “Nggak. Aku pingin makan martabak manis, tapi yang jualan udah nggak ada. Itu yang bikin aku nangis.”


Nolan tau Caca sedang membohongi dirinya sendiri, dan juga berbohong padanya.

__ADS_1


Caca sudah hampir menangis kembali. Bibirnya melengkung seperti anak kecil yang hendak membuat gestur tangis, dan Nolan langsung saja menyambar Caca kedalam pitingan tangannya untuk yang kedua kali. Mengusuk Surai Caca hingga berantakan. “Dasar cengeng. Ya udah, ikut gue. Ayo nyari martabak manis. Gue beliin satu gerobak biar galaunya ilang.” []


...—Bersambung—...


__ADS_2