
...Part 43...
...Selamat membaca,...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...43...
Suara gemerisik angin menyapu dedaunan terdengar jelas saat Caca menunggu kedatangan Nolan di tempat ini. Kali ini, Caca mengajak Nolan bertemu di taman samping sekolah yang tak pernah dikunjungi oleh murid karena mereka anggap kurang menarik. Padahal, jika dilihat dan dirasakan lebih lama, tempat ini begitu teduh, sejuk, dan menenangkan karena ditanami pepohonan tinggi dan besar yang sangat rindang juga kaya akan oksigen.
Caca berencana mengatakan yang sejujurnya kepada Nolan dan mengakhiri semua sandiwara yang ia lakoni, kemudian mengembalikan semua uang pemberian Hendra karena merasa tidak pantas menerimanya. Caca hanya harus meyakinkan dirinya sendiri jika dia melakukan semua itu tanpa pamrih.
Memang tujuan awalnya adalah demi uang, namun setelah perasaan itu hadir semua terasa berbeda. Ia hanya tidak ingin semuanya semakin larut dan hanyut semakin jauh. Dia tidak ingin Nolan kecewa padanya, dan dia ingin semuanya berakhir sebelum ujian kelulusan dilaksanakan.
Caca mendongak, mencoba menenangkan diri sebelum bertemu dan berbicara dengan Nolan. Dia tidak boleh lagi berharap apapun, termasuk tentang perasaan Nolan untuknya. Selain itu, pagi-pagi sekali dia mendapat pesan singkat dari Hendra tentang ungkapan terima kasih pria itu karena Caca sudah berhasil membuat Nolan kembali padanya. Akan tetapi, Caca meminta bertemu untuk mengatakan jika Caca harus segera mundur, berhenti dari skenario menjadi murid SMA Kemala, mengembalikan uang, lantas menghilangkan jejak dengan mencari pekerjaan lain di luar kota untuk menghindari Nolan, jika memungkinkan. Hendra setuju, tapi entahlah, itu akan berhasil atau tidak. Tapi Caca akan mencobanya terlebih dahulu.
Namun disisi lain, Nolan yang melihat Caca duduk seorang diri diantara siraman cahaya matahari yang menerobos dari sela-sela pepohonan, terlihat begitu cantik dan sangat mengagumkan dimata Nolan.
Perdamaian dengan sang papa membuat mood Nolan sangat bagus hari ini. Hubungannya dengan sang papa kembali menghangat seperti semula, dan perasaan kepada Caca yang sudah ia ungkapkan. Ditambah lagi tidak ada penolakan lebih jauh dari Caca, membuat hati Nolan semakin lega.
Tanpa suara sama sekali, Nolan mengambil duduk disamping Caca dan berhasil mengejutkan gadis itu hingga nyaris melompat turun dari kursi kayu panjang yang sekarang sedang mereka duduki.
“Astaga! Kamu mengejutkan ku, Nol. Kenapa tidak menyapa atau apa gitu kek?!” cerocos Caca tidak terima karena rasa terkejut yang hampir membuatnya copot jantung.
Nolan tertawa dengan bahu naik turun mendengar suara lantang Caca memarahinya. Ia suka Caca yang seperti ini. Tak luput dari suara cempreng si gadis, Nolan melirik ke arah leher yang semalam ia pasangkan necklase. Masih ada, benda itu masih tergantung cantik dileher Caca yang jenjang dan mulus.
“Kamu aja yang kebanyakan ngelamun.” tukas Nolan santai, namun dominasi suara tak mau kalanya, terdengar begitu jelas. Nolan tertawa, dan Caca tidak bosan memperhatikan. Dari sekian banyak pemuda, mengapa hatinya terasa begitu berat melepas pemuda ini? Bahkan melupakan Arkan saja, tidak sampai harus menangis berdarah-darah karena putus asa. “Ada apa memintaku datang kesini?”
Ah ya, Caca ingat apa tujuannya mengajak Nolan bertemu disini. Bukan malah berdebar dan mengagumi pemuda ini.
“Itu, ada satu hal yang ingin aku beritahu kepada kamu, Nol.”
__ADS_1
“Apa lagi,” jawab Nolan malas. Pasti tidak jauh-jauh dari hadiah yang dia berikan semalam kan? Begitu pikir Nolan.
“Tapi janji dulu, kalau kamu mau nerima kenyataan—”
“Mau nolak aku ya?” tebak Nolan tanpa basa-basi. Caca terlalu berputar-putar dan membuatnya pusing.
Caca menunduk. Dia mencoba sekali lagi melepas necklase pemberian Nolan itu dari lehernya. Tapi, sekali lagi Nolan menahannya.
“Nggak usah dilepas. Kalau kamu nggak mau nerima perasaan aku, kamu cukup menganggap kalung itu sebagai tanda pertemanan kita.” kata Nolan, datar namun sama sekali tidak menunjukkan adanya emosi dari sorot matanya.
Masalahnya lebih dari itu. Tapi Caca sulit sekali mengatakannya dan benar-benar takut Nolan kecewa padanya.
“Aku memang ingin memberikan itu padamu, terlepas dari ungkapan perasaan ku semalam.” lanjut Nolan sedikit sendu. “Maaf kalau aku buat kamu jadi nggak nyaman disekitar aku.”
Caca melepas sorot matanya dari Nolan. Ia menunduk, kemudian tersenyum miris.
“Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, dan pasti akan membuatmu berubah membenci dan kecewa padaku, Nol.”
Nolan memicing menatap Caca. Dia bahkan ingin sekali menyelami isi kepala Caca yang tidak bisa ia tebak saat ini. Lalu, dengan hembusan nafas berat dan tatapan yang kembali lunak, Nolan berkata. “Katakan saja, aku tidak akan mempermasalahkan apapun jika kamu memang hanya menganggap ku sebagai teman.”
“Aku—”
Nolan merogoh saku celana berwarna cream nya dan mengeluarkan ponsel dari sana. Caca bisa melihat nama Home muncul di layar ponsel Nolan. Lalu Nolan berdiri dan berpamitan untuk menerima telepon sebentar, kemudian menjauh dari Caca.
Namun apa yang dilihat Caca selanjutnya adalah, kepanikan luar biasa di wajah Nolan. Akan tetapi, pemuda itu masih menyempatkan diri berjalan mendekatinya, kemudian berpamitan pada Caca.
“Ada apa?”
“Papa masuk rumah sakit. Aku harus kesana sekarang.”
“Ikut!”
Suara Caca membuat Nolan terpekur, tapi setelah itu kepalanya mengangguk dan kembali mengambil langkah untuk segera meninggalkan sekolah menuju ke rumah sakit.
Roda motor Nolan menggesa jalanan ibu kota, menarik perhatian seluruh mata yang memandang. Sempat terjadi perdebatan untuk izin Caca, tapi Nolan tetap memaksa dan akhirnya pihak sekolah membiarkan Caca ikut bersama Nolan.
__ADS_1
Sesampainya, Caca mengejar langkah Nolan yang setengah berlari menuju meja informasi untuk menanyakan keberadaan sang papa. Begitu mendapat informasi jika papa nya di rawat di ruang ICU, tubuh Nolan seperti luruh. Ia kehilangan semua keras kepala dan juga ketegasan yang selama ini ada pada kepribadiannya.
Ruang tindakan darurat itu sudah sepi, namun pengunjung masih dilarang untuk melakukan kontak dengan pasien.
Nolan menatap sendu tubuh papanya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dan banyak tersemat alat-alat medis yang familiar—sama seperti yang pernah ia lihat ketika menjaga mamanya dulu—dari balik bentangan kaca yang menjadi pemisah antara ruang papanya dirawat dan ruang tunggu.
Manik Caca bisa menangkap kesedihan dan juga penyesalan yang besar dari sorot mata Nolan. Ia memberanikan diri meraih pundak Nolan dan mengusapnya lembut.
“Papa mu orang baik. Dia pasti akan baik-baik saja dan segera kembali bersamamu.”
Nolan diam tidak menanggapi Caca untuk beberapa saat. Ia kembali teringat pertengkaran-pertengkaran nya dengan sang papa.
“Aku takut, apa yang pernah dikatakan papa akan menjadi nyata.”
Caca menatap Nolan dengan tatapan dalam dan penuh telisik.
“Memangnya apa yang pernah dikatakan papamu?”
Nolan tersenyum getir, lantas menundukkan kepalanya menatap sepasang sepatu yang selalu ia kenakan, sepatu yang menjadi hadiah ulang tahunnya, dua tahun lalu.
“Papa pernah bilang, jika dia akan pergi setelah mendapatkan maaf dariku.” Nolan menjeda, ia menarik nafas yang terasa begitu berat dan menyiksa. “Seharusnya, aku tau diri. Seharusnya, bukan papa yang mengharap maaf dariku. Tapi aku yang harusnya mengemis maaf padanya.”
Caca yang mendengar itu turut merasakan hatinya berdenyut sakit. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan Nolan saat ini. Ia tidak bisa membayangkan jika Nolan sampai tau apa yang disembunyikannya bersama Hendra selama beberapa bulan terakhir.
“Papamu akan baik-baik saja.”
Nolan mengangguk. Ia juga berharap begitu, sama dengan ucapan Caca. Papa nya akan segera pulih dan memeluknya lagi.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan, Ca?”
Ting!
Ponsel Nolan berdenting sarat sebuah pesan masuk, namun ia acuhkan untuk saat ini. Dia hanya ingin melihat papa nya kembali ke rumah dengan keadaan sehat. []
...—Bersambung—...
__ADS_1