Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

...Part 47...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...47...


Caca tidak datang ke kediaman Nolan. Dia hanya membalas pesan itu satu jam setelah pesan itu dia terima.


Tidak. Paman Hendra orang baik. Dia pasti mendapat tempat terbaik disisi-Nya.


Kamu yang sabar ya, Nol.


Maaf, aku nggak bisa datang.


Caca menyembunyikan wajahnya diatas bantal, menangis terbenam disana tanpa suara. Ternyata kedatangannya dua hari lalu, adalah pertemuan terakhirnya dengan Hendra.


Dan alasan mengapa Ia tidak datang untuk berbela sungkawa di kediaman Nolan adalah, karena tidak ingin pemuda itu terganggu karena dirinya. Nolan tidak lagi menginginkan kehadirannya. Dan pesan yang dikirim Nolan melalui WhatsApp ini, hanya ia anggap sebagai sebuah berita yang ingin disampaikan Nolan karena Caca dan Hendra pernah saling mengenal. Ya, anggap saja begitu agar lebih mudah.


Dan tepat setelah itu, ponsel Caca kembali berdering. Ia cukup terkejut karena mengira itu Nolan yang menghubunginya, tapi bahunya merosot turun begitu tau siapa yang meneleponnya saat ini. No name, nomor tidak dikenal.


“Halo,” sapa Caca setelah menggeser tombol hijau yang melompat-lompat itu. Suara seorang pria menyapa kembali pada caca.


“Selamat sore, dengan saudari Clarita Winanda?” tanya pria bersuara manis seperti madu di seberang.


“Ya, saya sendiri.”


“Kami dari World Corporation, mau memberitahukan kepada saudari Clarita, untuk mengikuti interview online pada hari Selasa pukul sembilan pagi.”


Caca baru ingat, empat hari yang lalu, dia mencoba apply lamaran ke salah satu perusahaan siaran TV nasional ternama Indonesia yang tempatnya berada di sisi lain kota jakarta. Ia melamar pada bagian office girl, karena saat itu yang tersedia hanya posisi itu. Lagi pula, dengan ijazah SMA, dia bisa apa selain mencoba peruntungan dan menerima kenyataan?


“Ah, tentu saja.”


“Silahkan konfirmasi kesediaan hadir pada link yang akan kami kirim ke akun E-mail anda.”


“Ya, akan saya lakukan.”


“Kalau begitu, terima kasih atas perhatian saudari. Selamat sore.”


“Sama-sama. Selamat sore.”


Panggilan itu berakhir, dan Caca menatap nanar ke arah dinding kamar dengan gerakan tangan yang lemah. Mungkin ini saatnya dia akan meninggalkan sisi Jakarta tempatnya bertemu dengan Nolan, dan sekali lagi melarikan diri. Bukan hanya karena sang ayah, tapi karena orang yang ia cinta.


Lalu, satu terkaan lain dalam kepala Caca terbesit begitu saja.


Apa Nolan sekarang menangis? Lalu, siapa yang menjadi tempatnya bersandar? Dia keras kepala dan tidak memiliki siapa-siapa. Bagaimana kalau dia terpukul dan tertekan dalam waktu bersamaan?


Caca terus memutar semua itu di dalam kepalanya, hingga satu pemberitahuan muncul di layar ponsel Caca, mengalihkan perhatian Caca pada display yang kini sedang berpendar, menampilkan ikon sebuah E-mail di bagian atas layar.


Satu beban hatinya akan terangkat setelah mengangkat kaki dari sisi pusat ibu kota. Caca siap dengan kehidupan baru, tanpa bayang-bayang Nolan dalam ingatannya.


***


Ujian Nasional telah tiba. Nolan sudah mempersiapkan diri untuk hari itu. Setelah lulus dari SMA Kemala, dia akan melanjutkan kuliah online di salah satu universitas ternama di Indonesia setelah lulus nanti.


Selain itu, dia juga akan belajar sedikit demi sedikit untuk meneruskan perjalanan sang papa dari asisten pribadi papa nya yang sudah sangat berpengalaman di bidang ini karena selalu menemani Hendra kemanapun pergi. Dia akan melewati proses panjang untuk itu, namun Nolan berjanji pada dirinya sendiri untuk giat dan tidak akan menyerah begitu saja. Atau, orang lain akan merebut dan meminta sesuatu yang bukan menjadi hak nya jika tidak dipertahankan.


Sebenarnya, Nolan termasuk murid cerdas jika dia tidak bersikap badung dan lebih bisa menghargai orang lain. Dia menyembunyikan dirinya yang sebenarnya untuk membalas dendam pada papa nya, dulu. Tapi sekarang dia sadar jika semua itu membuatnya menyesal. Untuk itu, dia akan membalasnya dengan sebuah keberhasilan, dan ia akan memamerkan pada papa dan mamanya kelak.


“Gue mau kerja luar negeri.” kata Leo mengejutkan Nolan yang sedang menikmati paparan sinar matahari di balkon sekolah. Tatapan matanya lurus memandang dimana dulu dia dan Caca pernah berdua disana.


“Ngapain Lo keluar negeri. Sampe Lo lulus kuliah pun, uang yang diberikan bokap juga nggak bakalan habis.”


Leo menoleh ke arah Nolan. Dia menatap dan mencoba menelisik raut wajah Nolan. Dan Leo berhasil menemukan sebuah sesal disana, dari tatapan mata Nolan yang sedang mengedar ke arah taman, sebuah sorot penuh penyesalan begitu dominan di matanya yang indah itu.

__ADS_1


“Sorry, selama ini gue selalu bikin Lo kesel sama gue.”


Nolan masih diam. Inilah Nolan, dia tidak akan pernah mengumbar senyumannya. Terlalu mahal untuk dinikmati semua orang.


“Baru nyadar Lo?” tanya Nolan mencibir. Ia hanya mengatakan apa yang ia rasakan.


Leo menghela nafas besar, lalu memposisikan diri sama seperti posisi Nolan.


“Mama gue minggat nggak tau kemana. Dan kakek, ada di panti jompo. Papa Lo yang ngasih tau gue.”


Nolan sedikit tertarik dengan obrolan ini.


“Selama ini, papa Lo jamin hidup gue karena dia kasihan sama gue yang ditelantarin sama ibu gue sendiri.”


Nolan menghisap rokoknya lagi.


“Untuk tempat tinggal, papa Lo juga kasih rumah yang nyaman untuk gue tinggali sendiri, lengkap dengan sistem keamanan yang buat gue merasa aman.”


“Kalau nyokap Lo balik, apa yang bakal Lo lakuin?”


Pertanyaan inti yang dari awal Nolan tahan untuk tidak keluar dari mulutnya, akhirnya terucap begitu saja. Mungkin inilah alasan Tuhan mengirim Leo dan menciptakan mereka sebagai saudara, Tuhan membuat Leo ada untuk menemani Nolan yang sendirian disini, di dunia fana yang terasa menyesakkan dan penuh tekanan ini.


Leo diam membisu. Dia seperti tidak menduga akan mendapat pertanyaan itu dari Nolan.


“Semua aset papa, tertulis atas nama gue. Bagaimana kalau nyokap Lo denger hal itu, apa menurut Lo dia akan diam saja?”


“Enggak. Gue tau bagaimana mama. Dia nggak bakalan diem aja.”


Nolan terkikik geli mendengar seorang putra yang membenarkan pendapatnya tentang olokan kepada ibu kandungnya sendiri.


“Dan gue juga nggak bakalan diem aja, kalau misal nyokap Lo ikut campur di kehidupan gue. Gue ingetin Lo dari awal.” seru Nolan tegas dan tidak basa-basi. Dia tidak mau disalahkan atas apa yang akan dia lakukan jika sampai seseorang mengganggu kehidupannya.


“Gue tau,”


“Lo belum jawab pertanyaan gue, tadi.”


“Pertanyaan yang mana?”


Nolan menoleh kasar menatap tajam ke arah Leo. “Lo be-go ya?”


Leo menyemburkan tawa. Seperti kata murid-murid SMA Kemala, Nolan dan Leo itu seperti kutub Utara dan Selatan. Mereka seperti siang dan malam, dan seperti apapun yang bertolak belakang.


“Dia mama gue. Bagaimanapun gue anaknya. Sebagai anak yang berbakti, jelas gue tetep nerima dia kembali. Kalau bukan gue tempat dia balik, siapa lagi memangnya?”


Untung saja keputusan bodoh Nolan dulu, ditolak papanya. Ia baru tau, jika papanya adalah orang yang memiliki insting handal yang tidak main-main. Dia akan menjadi seperti itu juga, jika bisa.


“Lo nggak perlu kerja luar negeri. Kelola aja apa yang diberi papa ke elo.”


Leo kini mengangkat wajahnya dan menatap balik Nolan. Pandangan mereka bertemu, dan tanpa mereka sadari, bentuk mata indah mereka sama. Mereka mendapatkan itu dari sang ayah. Hendra Suwandi.


“Gue nggak punya pengalaman apapun soal bisnis.”


“Ya Lo kuliah bisnis lah. Gitu aja Lo bikin repot. Kalau Lo butuh uang tambahan, bilang aja ke gue. Bokap bilang, kalau Lo butuh duit buat pendidikan, gue harus kasih.” Padahal, kenyataannya Hendra tidak pernah berkata demikian. Itu hanya akal-akalan Nolan mengajak baikan.


Mulut Nolan ini memang pedas, dan tajam seperti pedang. Leo sampai gemas ingin menamparnya agar sedikit sopan saat bicara. Akan tetapi sekarang Leo sadar, Nolan bukan pemuda begundal seperti yang ia anggap selama ini. Nolan memiliki pemikiran kritis seperti Hendra, dan hatinya, tak kalah baik dari Hendra.


“Gue bakal porotin harta Lo sampai habis.”


Mengatakan itu, Leo mendapat pukulan di kepalanya hingga membuatnya meringis. Dia jadi kesal karena Nolan menyakiti aset paling ia banggakan itu, tentu saja selain aset-aset lain yang ada pada dirinya.


“Sialan Lo!” ketus Nolan, lantas tertawa. “Gue bantai Lo kalau ngelakuin itu.”


“Canda, Lan. Gitu aja Lo bikin serius.”


Hening sejenak. Suara gemerisik angin menemani kebersamaan mereka.


“Sekali lagi, gue minta maaf atas sikap gue selama ini sama lo.”


Nolan mengangguk, dia mengulurkan tangan ingin bersalaman.

__ADS_1


“Lo adik gue kan?” tanya Nolan membuat Leonard terkikik geli.


“Iya, Abang Nolan.”


“Diem Lo. Gue toyor baru tau rasa.”


Leo mende-sah dengan embusan nafas lega.


“Dateng ke gue kalau ada masalah. Gue saudara Lo.” kata Leo mendapat anggukan Nolan.


“Tapi gue males berhubungan sama cowok macem elo, Le.”


“Terserah.” kesal Leo karena Nolan masih saja menyebalkan.


“Gue cabut duluan.”


Leo tersenyum dan mengangguk. “Oke.”


“Ingat, jangan pergi kerja luar negeri. Dan bilang ke nyokap Lo untuk nggak ikut campur kehidupan gue kalau nggak mau kena masalah.”


Leo menegakkan badan, kemudian bersiap hormat seperti hormat kepada sang saka merah putih.


“Siap, kapten.”


Mereka berdamai setelah beberapa tahun tak kunjung menurunkan bendera perang yang mereka kibarkan. Mereka pada akhirnya memilih menjadi saudara meskipun tidak sering bertegur sapa.


***


“Kamu hati-hati disana, Ca.”


“Iya, bu.”


Caca menaikkan tas punggung berisi pakaian ke pundaknya. Ia diterima kerja di stasiun televisi itu setelah lolos interview sebagai office girl.


“Jaga diri baik-baik. Jangan ikut pergaulan yang aneh-aneh” kata sang ibu mengingatkan karena khawatir putri semata wayangnya yang cantik itu salah memilih teman, dan berimbas pada kehidupannya.


Caca bergerak melewati pintu utama dan turun dari lantai teras rumah.


“Ibu juga baik-baik dirumah. Jangan makan sembarangan, nanti perutnya sakit. Caca nggak bisa pulang tiap hari, dan Caca nggak bisa lari cepat buat nyamperin ibu seperti biasanya.”


Jarak yang cukup jauh membuat Julia harus rela Caca meninggalkan rumah dan tinggal di sebuah rumah kost yang tidak jauh dari tempat kerjanya.


Rasa sedih tiba-tiba muncul dalam hati Julia. Putrinya, gadis yang pernah diperlakukan oleh ayahnya sendiri dengan tidak layak, kini sudah besar dan sedang mencari jati diri untuk menjadi wanita dewasa dan bijaksana. Setidaknya, Julia sudah membekali putrinya itu ilmu bela diri yang bisa digunakan jika ada orang yang hendak berbuat jahat padanya.


“Telpon ibu kalau kamu sudah sampai disana.”


Caca mengangguk, memakai masker, kemudian helm di kepalanya.


“Caca berangkat Bu. Do'akan Caca betah dan dikelilingi orang-orang baik disana.”


Julia mengangguk. Ia bahkan mengusap pipinya yang basah akibat lelehan airmata yang sudah tidak bisa ia bendung, namun tetap ia sembunyikan dari Caca.


“Dadah, Bu Julia...” kata Caca sambil melambaikan tangan diantara desing suara mesin matic yang ia nyalakan.


“Dadah, pokoknya kamu harus pulang kalau ibu kangen ya.”


Caca mengangguk, dan setelah itu dia kembali melambaikan tangan dengan ceria, meskipun dalam hatinya terasa berat berpisah dengan sang ibu. Lantas ia menarik stang gas motor dan membaur bersama pengendara ibu kota lainnya diantara jingga senja.


Caca meninggalkan rumah untuk mencari kehidupan dan penghidupan baru. Ia berharap, semua akan indah pada waktunya. []


...—Season 1 End—...


###


Disini, alurnya Othor bikin cepet biar nggak bertele-tele bahas satu persatu perjalanan mereka. Tapi, nanti mungkin ada beberapa part di season dua yang akan membahas hal yang tidak ada di season satu. Macam flash back gitu lah. Hehehe ...


Sampai jumpa season dua dengan versi mereka yang sudah dewasa dan ... 🤡🤡🤡


See you... ☺️

__ADS_1


__ADS_2