
...Part 13 muncul...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...13...
Sudah hari ketiga, sengaja Caca berangkat lebih pagi dari security yang hendak bertukar shift. Dia hanya tidak ingin berpapasan atau bertemu dengan Nolan karena kejadian tiga hari yang lalu itu.
Tapi, Selama tiga hari pula dia sama sekali tidak bertemu Nolan disekolah. Entah sebuah keberuntungan karena Tuhan masih berbelas kasih padanya, atau hanya kebetulan Nolan tidak muncul saja jadi dia tidak bertemu.
Sebenarnya, bukan hanya menghindari Nolan. Caca juga menghindari tatapan aneh dari seluruh penduduk SMA Kemala sejak kejadian di kantin hari itu. Hari dimana Nolan membuat keributan dan memancing banyak perhatian, ah tidak, memancing seluruh perhatian dari penghuni kantin.
Selama berjalan di koridor sekolah pagi ini, Caca hanya bertemu dengan beberapa murid yang mungkin memang rajin dari sono nya. Karena setau Caca, para murid yang mengendarai mobil pribadi atau diantar supir, akan berangkat lebih siang bahkan mepet jam masuk.
Langkah Caca meniti anak tangga dengan mantap. Tapi anehnya, mengapa dia mendadak merinding dan ingin berputar arah saja dan tidak lewat di koridor dua ini. Kelas Caca memang berada paling ujung dan melewati beberapa kelas IPA lain yang tentu saja berbeda level dengan kelas yang ia tempati. Sebenarnya dia bisa memilih tangga diujung lain yang akan langsung membawanya ke depan pintu kelas. Hanya saja Caca sedikit melamun tadi, hingga dia nggak sadar salah pilih anak tangga.
Terhitung ada sepuluh kelas yang masih sepi jika dilihat dari sudut ini. Caca tau karena tepat diatas masing-masing pintu terdapat papan persegi panjang berukuran tidak terlalu besar yang tergantung dengan tulisan angka yang merujuk pada kelas masing-masing.
IPA 5. Caca terkejut dan menghentikan langkahnya disini, karena Nolan baru saja muncul dari dalam kelas. Matanya berkedip cepat menyadari jika dia benar-benar salah pilih jalan. Berbelokpun percuma, tidak ada gunanya. Nolan sudah mendapati dirinya disini.
Namun, apa ini juga bisa dikatakan sebuah keberuntungan? Karena Caca melihat pemandangan yang sangat...indah?
Oh no. Sadarkan Caca dari perasaan kagum berlebihan itu. Tapi... sekali lagi tapi, Nolan memang terlihat begitu fresh pagi ini. Seragam batik yang melekat di badannya begitu pas dan kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Wajahnya pun terlihat segar, dengan rambut yang di sisir rapi kebelakang hingga menampakkan jidatnya yang paripurna dan juga struktur wajah yang sempurna membuat bibir Caca menganga.
“Ngapain—”
Belum menyelesaikan ucapannya, Nolan terkejut karena Caca melewatinya begitu saja. Tanpa menyapa seperti orang yang memang tidak saling kenal. Sedangkan Caca, dia berjalan cepat menghindari Nolan yang mungkin saja akan nekat menghentikan dirinya kemudian semakin membuat dirinya menjadi pusat perhatian jika ada yang melihat.
Nolan menatap heran langkah Caca yang terbit seperti melihat hantu.
“Dia kenapa sih?!” tanyanya bermonolog. “Memangnya gue serem kayak genderuwo ya?”
__ADS_1
Pada akhirnya, Nolan hanya memperhatikan Caca hingga menghilang di pintu paling ujung.
“IPA 1?” kata Nolan sembari mengerutkan kening. Ia tak menduga jika Caca juga berada dikelas IPA. Senyuman terbit di bibir Nolan. Entah mengapa, bertemu Caca membuatnya boros senyum. Ia bahkan lupa dengan masalah bersama sang papa dirumah hanya dengan melihat Caca.
Akan tetapi selain perasaan itu, ada perasaan mengganggu lain yang ingin Nolan abaikan, namun selalu gagal. Yakni tentang hal yang berhubungan dengan kedatangan nya dirumah Caca waktu itu. Satu pertanyaan yang mengganggu Nolan selama beberapa malam. Ibu Caca, seperti sudah tidak asing ketika menyebut namanya. Ya, hal itu yang mengganggunya meskipun nyatanya sepele.
Aneh bukan jika di pertemuan pertama, wanita paruh baya itu menyebut namanya seperti sudah mengenalnya? Okey, katakan saja wanita itu melihat nametag di seragamnya sebelum menyebut nama Nolan. Tapi bukan itu yang dimaksud Nolan.
Pernah nggak sih kalian merasakan hal seperti, Dejavu? Nah, hal seperti itu yang sedang dirasakan Nolan. Dia merasa seperti ibu Caca pernah mengenalnya, hingga menyebut namanya saja, Nolan merasa tidak begitu asing. Atau... bagaimana sih mengatakannya? Nolan juga bingung sampai tangannya tiba-tiba menggaruk pelipisnya yang terangkat karena kebingungan.
Benar-benar aneh.
***
Setau Caca, di sekolah ini hanya Nolan yang berani membantah guru. Tadi saat dilapangan, lagi-lagi Caca melihat Nolan yang dengan santai nya menjawab kalimat guru olahraga yang sedang menegurnya.
Hari ini, jadwal olah raga dua kelas dijadikan satu karena si bapak guru hendak ada tugas diluar sekolah. Alhasil, kelas IPA-1 dan IPA-5 yang memiliki jadwal beriringan, digabung pada jam pertama dan kedua.
Seluruh siswi sibuk memperhatikan Nolan dengan pakaian olahraganya yang memang semakin membuat pribadi itu terlihat mencolok. Nolan itu, sudah tampan, kaya pula. Jadi, image Borjuis itu seakan tak pernah lepas dari dirinya, meskipun tanpa mereka semua tau, Nolan sudah bangkrut. Uang sakunya hanya sebatas bisa ia pergunakan untuk ngopi dan nyemil di Moonbuck. Ah, bahkan moonbuck saja uangnya tidak cukup. Memalukan jika sampai informasi ini bocor ke telinga penduduk Kemala.
“Nolan,”
Bisa-bisanya Nolan berkata begitu dengan wajah datar tak kenal takut. Caca terus membatin, bahkan sampai meremas tepian kaos olahraga berbahan katun itu sampai lusuh. Ia hanya takut jika tanpa disangka-sangka Nolan akan menerima pukulan atau sejenisnya. Bisa saja kan? Kesabaran manusia ada batasnya, apalagi Nolan sangat sulit di atur. Dia adalah definisi pembangkang yang sesungguhnya, menurut Caca.
“Kalau bapak masih ngotot, saya nggak ikut olahraga. Males saya pak.”
Caca dan yang lain tentu saja mendengar jelas semua yang dikatakan Nolan, karena mereka semua memilih diam ketika Nolan berbicara. Tatapan semuanya terarah pada dua orang yang sedang beradu argumen karena Nolan menolak satu tim dengan Leonard.
Siapa yang tidak tau kucing dan anjingnya SMA Kemala ini. Yang satu terkenal baik hati dan ramah tamah, sedangkan satunya lagi...nggak perlu disebutkan lah. Seluruh siswa-siswi Kemala tau, mereka berdua memang memiliki hubungan yang tidak baik sejak pertama kali masuk disini. Bahkan guru-guru juga tau, dua anak ini tidak akan pernah damai dan cocok bila di satukan.
Leo, si terkenal santai dan peduli dengan orang lain—kecuali Nolan tentu saja—ini selalu berakhir menjadi samsak tinju Nolan. Meskipun Leo juga melakukan perlawanan, Leo selaku kalah di tangan Nolan karena perbedaan fisik keduanya.
Tapi, meskipun Leo terlihat baik Dimata semua orang disini, tidak begitu dimata Nolan. Bagi Nolan, Leo adalah orang yang paling pantas di benci dan paling pantas lenyap dari muka bumi. Semua masa lalu yang menyakitkan bagi Nolan, disebabkan oleh Leo dan ibunya. Rasa benci muncul dan menyakitkan ketika melihat Leo berada didepan matanya.
Ketika hendak beranjak pergi, suara guru olahraga bernama Setyo itu kembali menggema dan menghentikan langkah Nolan seketika itu juga.
“Keliling lapangan sepuluh kali jika kamu tidak ingin nilai rapor kamu merah.”
__ADS_1
Mendengar ancaman tersebut, tanpa menjawab dan banyak bicara, Nolan menyeringai ke arah pak Setyo kemudian mengambil langkah lebar untuk berlari. Pilihan ini lebih baik bagi Nolan daripada harus berada didekat Loe. Sedangkan Caca, menatap bingung dengan sebuah pertanyaan yang muncul dalam benaknya.
Sebenarnya, ada masalah apa antara Nolan dan Leo?
***
Sepuluh putaran, cukup membuat nafas Nolan ngos-ngosan dan kakinya pegal. Tapi tidak apa-apa, Nolan menganggapnya seperti berlari diatas treadmill agar tubuhnya tetap bugar.
Lapangan sudah sepi karena jam olahraga sudah berakhir sekitar lima menit yang lalu ketika Nolan menginjak putaran ke sembilan, dan semua siswa-siswi diwajibkan untuk bergegas kembali ke kelas. Tapi Caca memilih beralasan ke kamar mandi demi menunggu dan melihat keadaan Nolan.
Kalau dipikir-pikir, pak Setyo ini terlalu kejam memberinya hukuman dengan berkeliling lapangan sebanyak sepuluh kali mengingat luas lapangan ini memiliki panjang kali lebar yang tidak main-main. Bayangkan saja, definisi lapangan disini adalah lapangan sepak bola, lapangan voli, dan lapangan basket yang berjejer menjadi satu, dan itu yang harus Nolan putari. Ingat! Sebanyak sepuluh kali.
Nolan yang sudah kelelahan dan hampir tumbang akibat kehabisan oksigen itu, kini duduk dengan wajah merah yang tertunduk menatap rumput lapangan. Kedua lengannya menumpu diatas rerumputan kecil nan hijau yang memperindah lapangan. Keringatnya mengucur membanjiri seluruh tubuh karena sinar matahari yang perlahan berubah panas, serta surainya pun ikut basah karena keringat, menambah daya pikat pada diri Nolan semakin tinggi.
Setelah beberapa detik menunduk, Nolan mendongakkan wajah masih dengan mata memejam untuk kembali meraup oksigen. Namun sebuah bayangan melindunginya dari sorot matahari yang menerpa wajah dan tubuhnya yang basah oleh keringat, hingga membuat Nolan terpaksa membuka satu mata untuk mengetahui siapa yang ada didepannya kali ini.
“Ngapain Lo disini?” tanya Nolan ketus.
“Nih.” kata seseorang yang masih melindunginya dari paparan sinar matahari di jam sembilan pagi ini sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin kearah Nolan. “Kamu butuh minum.”
Nolan tersenyum getir sembari menjulurkan sedikit lidahnya keluar.
“Nggak usah sok peduli ke gue.” lanjutnya masih saja berkata dengan nada meremehkan.
Karena kesal, si penyelamat melemparkan botol minuman dingin itu ke pangkuan Nolan hingga membuat Nolan refleks menegakkan punggung untuk meraih botol itu karena terkejut. Hampir saja sumber kepercayaan dirinya yang gagah berani itu menjadi korban kekerasan oleh sebuah botol air mineral.
“Nggak usah sok wow didepan ku, Nol. Aku cuma mau nolong kamu.”
Nolan mengerutkan keningnya ketika mendengar bagaimana cara Caca menyebut namanya. Tapi sejurus kemudian Nolan menahan tawanya dalam hati. Panggilan yang unik.
“Caca. Gue nggak butuh pertolongan dari elo.” katanya sedikit melunak.
Caca melihatnya lagi. Tatapan rapuh yang seolah tidak ingin dilihat oleh siapapun dan wajah sok kuat yang ingin diakui.
Nolan itu seperti ikan mas didalam akuarium yang membuat siapapun kagum ketika melihatnya karena begitu indah di pandang, menurut Caca. Namun tanpa mereka semua tau, jika didalam sana ikan mas yang indah itu, bukanlah sosok ikan yang kuat dan bisa bertahan lama. Melainkan sosok yang lemah dan rapuh. Yang bisa kapan saja hancur.
“Kamu itu bodoh dan keras kepala, tau nggak?!”[]
__ADS_1
...—Bersambung—...