Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Eighteen


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


“Kiss.”


“Ya???”


Caca menoleh kasar ke arah Nolan. Ia terperanjat bukan main mendengar permintaan Nolan. Wajah kekasihnya itu terlihat begitu menawan dibawah temaram lampu jalan yang menembus masuk kedalam mobil melalui kaca jendela yang terlihat gelap.


“Cium.” kata Nolan manja. Bibir Caca menjadi hal baru yang sangat dia sukai sekarang. Tidak apa-apa jika Caca tiba-tiba memintanya untuk berhenti merokok. Tapi Nolan pasti akan mengajukan syarat yang tentu saja akan membuat mereka berdua merasa suka. Nolan akan meminta cium sebanyak dia menginginkan ketika dia ingin menghisap rokok. Tidak peduli meskipun sebanyak lima kali dalam sehari.


“Kamu jangan aneh-aneh, nanti dilihat Bu Julia. Tuh orangnya lagi di teras. Kamu nggak mau di smack-down kan?”


“Ayolah Ca, sebentar saja biar aku bisa bobo nyenyak malam ini.”


“Jijay ah. Bobo, bobo, kayak bayi aja.”


Tidak peduli Nolan yang merajuk, Caca melepas seatbelt nya dan menarik handle pintu mobil, meninggalkan Nolan yang sedang putus asa didalam sana karena ditolak.


Tidak lama kemudian, Nolan menyusul Caca yang sudah terlebih dahulu sampai di teras dan menyalami tangan sang ibu.


“Dari mana?” tanya Julia ketus, melirik Nolan sengit.


“Dari jalan keluar sebentar, bu.” jawab Caca santai dan berjalan masuk ke ruang tamu. Meletakkan beberapa paperbag, dan juga satu tas berlogo restoran makanan tempat Nolan dan Caca makan malam tadi. “Jangan lihat Nolan kayak lihat musuh gitu, Bu. Anak orang nanti nangis.” celetuk Caca yang membuat Nolan membolakan matanya. Siapa juga yang mau nangis?


“Kalian keluar nggak izin dulu. Ibu nggak suka.”


“Maaf, Bu. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” sahut Nolan sebelum Caca memberikan jawaban menyebalkan lainnya yang membuat calon mertuanya semakin murka. “Saya mengajak Caca untuk membeli sesuatu.”


Caca duduk santai sambil melipat kakinya diatas kursi sembari bermain ponsel yang sejak tadi belum ia cek sama sekali. Sangking asyiknya bersama Nolan.


“Beli apa?”


Nolan mengusap tengkuk lehernya. Ia gugup sekarang. Ingatkan dia yang hendak melamar anak gadis orang itu untuk tetap sadar untuk tetap menjaga sikap.


“Itu, sebaiknya kita bicarakan di dalam ... saja?” kata Nolan berakhir menjadi sebuah pertanyaan karena rasanya dia sudah tidak sanggup menahan degupan jantungnya sendiri yang terlalu keras berdegup.


Julia mengangguk, lalu bangkit dari lantai dan masuk kedalam rumah.


“Nah, mau bicara apa sama ibu?” kata Julia yang tentu saja menarik perhatian Caca. Ia lantas menatap Nolan dan mengerutkan kening.


“Saya,”


“Duduk dulu.”


Nolan duduk tidak jauh dari Caca. Mereka saling tatap sebentar, kemudian Nolan kembali menegakkan punggung. Ia menarik nafas dalam dan mengembuskannya kasar.


“Saya, ingin meminta Caca untuk menjadi istri saya.”


Caca hampir menyemburkan tawa. Kalimat Nolan terlalu to the point. Julia pun sampai menganga karena terkejut.

__ADS_1


“Apa? I-istri?”


Nolan mengangguk dengan wajah dan telinga memerah karena malu dan gugup.


“Kami tadi, pergi keluar untuk membeli cincin.”


Julia menatap sengit ke arah Caca.


“Kenapa kamu nggak ngomong sama ibu?” sergah Julia kepada Caca yang kini ikut panik. Ia tidak menyangka jika Nolan akan mengatakannya sekarang.


“Saya tidak memberitahu Caca perihal ini, Bu. Jadi Caca memang tidak tau kalau saya akan bicara tentang niatan saya melamar Caca hari ini.”


Caca bernafas lega karena ia tidak jadi mendapat pertanyaan menyudutkan dari ibunya nanti ketika Nolan sudah pulang.


“Kamu serius sama wanita modelan dia?”


Nolan tersenyum hangat, hati Julia pun runtuh.


“Saya serius, Bu. Saya akan menjaga dia dengan jiwa dan raga saya.” kata Nolan bersungguh-sungguh. Ia memang tidak berniat sedikitpun menyakiti atau membuat Caca menangis untuk kedua kalinya. Dia akan membuat Caca bahagia, ia sudah bersumpah atas nama dirinya untuk itu.


“Dia baru saja pisah sama tunangannya. Apa kamu masih bisa menerima dia apa adanya.”


Nolan mengangguk. “Saya sudah mendengar semuanya dari Caca. Saya bisa menerima dia apa adanya.”


Dari dulu, Julia memang tidak pernah meragukan kebaikan Nolan, karena pemuda ini selalu memiliki sorot tulus ketika menatap putri semata wayangnya. Sorot cinta dari mata Nolan kepada Caca juga selalu terlihat tidak main-main.


“Jika ibu mengizinkan, biarkan saya menjadi pendamping hidup putri semata wayang ibu ini, untuk selamanya. Izinkan saya, mencintai Clarita Winanda selama hidup saya.” kata Nolan dengan suara bergetar menahan haru atas ucapannya sendiri. Ya, dia tidak menutupi jika dia ingin menangis ketika meyakinkan Bu Julia untuk mengambil sumpah setia menerima dan mencintai putrinya itu selamanya. Nolan sangat tulus mencintai Caca.


Julia mengusap air matanya yang tetiba saat itu jatuh tanpa ia minta. Ia masih tidak menyangka, jika pemuda yang sepuluh tahun lalu pernah ia kenal sebagai anak SMA ingusan, hari ini melamar putrinya.


Nolan menggeleng memastikan. “Tidak. Usia tidak akan menjadi masalah bagi saya. Saya yakin, Caca juga tidak akan mempermasalahkan itu.”


Caca menatap Nolan dengan ekspresi yang bahkan dia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Dulu, ketika Louis mengatakan niatnya untuk meminang Caca, ia tidak se-melow ini.


“Iya, bu.” kata Caca menyahuti ucapan Nolan.


“Jadi, kalian serius untuk membina rumah tangga?” tanya Julia untuk dua presensi didepannya, yang kemudian mendapat anggukan dari mereka berdua. “Ibu memberi restu untuk kalian, tapi apa kamu yakin tidak apa-apa menjadikan Caca sebagai pendamping hidup kamu? Status sosial kita berbeda jauh—”


“Saya tidak akan menjadikan strata sosial menjadi penghalang untuk niat baik saya terhadap Caca.”


Julia percaya sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk menolak Nolan menjadi pendamping hidup putrinya, Clarita Winanda.


“Baiklah. Ibu mengizinkan kalian membina rumah tangga. Tapi berjanjilah kepada ibu untuk selalu menyayangi Caca, bahagiakan dia, karena selama ini ibu tidak pernah bisa memberikan kebahagiaan kepadanya secara layak.”


Caca menitihkan air mata mendengar itu. Ia bahkan belum bisa membahagiakan ibunya.


“Saya janji, akan membuat Caca selalu bahagia bersama saya.”


Caca mengusap satu lengan Nolan. Ia menatap bangga kepada pemuda disampingnya ini.


“Saya, akan melakukan prosesi akad nikah dan resepsi dalam waktu dekat.”


Suasana haru itu berubah senyap mendengar ucapan Nolan.


“Untuk semua biayanya, biar menjadi tanggung jawab saya.”

__ADS_1


Caca dan Julia bernapas lega. Karena sejujurnya, uang adalah masalah serius untuk mereka berdua yang hidupnya pas-pasan. Apalagi menggelar resepsi dengan orang sekelas Nolan, pasti biaya tidak sedikit, atau mereka yang akan menanggung malu.


“Kita adakan resepsi satu kali saja. Nanti biar saya dan Caca berunding dan atur bagaimana enaknya.”


“Lalu, kapan rencana kamu mau menghalalkan Caca?”


Nolan menatap Caca lembut penuh perhatian.


“Bulan depan, tepat saat hari ulang tahun caca.”


***


“Kamu itu perempuan, harus bisa cari uang buat balas budi sama ayah.”


Caca mengangguk pada kata-kata ayahnya. Ia tidak tau maksud ucapan ayahnya saat itu karena masih terlalu dini mendengar kata-kata penekanan seperti budak itu.


“Kamu harus jadi orang sukses biar orang-orang bangga sama ayah karena sudah lahirin kamu ke dunia. Terus kamu nikah sama orang kaya biar bisa kasih ayah uang banyak.”


Itu yang menjadi deal dalam hidup Caca dulu, sebelum dia tau kelakuan jahat ayahnya sendiri. Menjadi orang sukses, dan menikah dengan orang kaya, agar ayahnya bisa membanggakannya di depan orang lain. Itu yang ia tanamkan dalam ingatannya dulu.


Tapi itu dulu. Catat dan garis bawahi, itu dulu. Sekarang, Caca hanya ingin menjadi dirinya sendiri. Dia tidak ingin mengejar kesuksesan demi apa yang diharapkan ayahnya. Setiap dia ingin berusaha mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi dari yang dia miliki saat ini, Caca buru-buru mengalihkan semuanya dengan sebuah penolakan. Dia mau stay di tempatnya dan tidak jadi apapun, tidak bergerak kemanapun. Itu dia lakukan karena trauma yang dibuat ayahnya hari itu, masih sangat membekas di jiwa dan raganya.


Dia tidak ingin sukses dan yang di puji adalah ayahnya. Bodoh memang, anggap saja Caca bodoh karena tidak mau move on dan berusaha hidup lebih baik. Tapi rasa sakit hati memang tidak bisa hilang begitu saja meskipun sudah memaafkan. Apalagi sampai meninggalkan trauma seperti yang terjadi pada Caca.


“Kamu tau, Nolan itu berbeda dari orang seperti kita, Ca. Sejak lahir dia sudah makan dengan sendok emas yang pasti dan tentu saja, kamu harus bisa mensejajarkan diri kamu dengannya.”


Lamunan tentang perjalanan hidupnya yang menyedihkan itu buyar lantaran Julia tiba-tiba mengajaknya bicara lagi setelah beberapa menit lalu Nolan pulang.


“Iya, Bu. Caca tau. Caca bukan orang pintar yang bisa memiliki jabatan tinggi dan hidup mujur seperti gadis lainnya. Tapi Caca akan menjadikan Nolan sebagai prioritas ketika kami hidup bersama nanti.”


Julia sedikit lega mendengarnya. Setidaknya putrinya itu tau apa makna dibalik kata rumah tangga selain sebuah keseimbangan hidup yang harus disesuaikan.


“Caca akan masak, Caca akan cuci baju, Caca akan memenuhi semua kebutuhan Nolan—”


“Jangan lupa dia punya pembantu banyak dirumahnya.”


Caca lemas mendengarnya. Apa yang di katakan Julia itu benar. Selama ini Nolan di besarkan oleh tangan orang yang bekerja disana.


“Y-ya barangkali setelah nikah nanti, dia minta Caca yang merawat dan menyiapkan semua kebutuhannya.”


“Harus. Kamu melayani dia sebaik mungkin sebagai seorang istri. Kalau bisa, kamu yang urus dan pegang kendali untuk semua hal yang berhubungan dengan Nolan.”


Caca mengangguk paham. Ia tau itu, tapi dia juga tidak bisa berbuat seenaknya disana. Ada bi Ane yang lebih tau akan Nolan, dan Caca akan belajar mengurus Nolan dari beliau.


“Ya. Caca akan mengurus dan memenuhi kebutuhan Nolan dengan baik, bu. Setidaknya, Nolan akan tau, Caca adalah istri yang berguna meskipun kenyataannya kami tidak sebanding.” []


###


Kamu pasti bisa, Ca...


Komen dong Kaka ☺️


Terima kasih sudah baca Me Gustas Tu. Jangan bosan untuk tetap ada disini ya, karena dukungan dari kalianlah yang buat othornya bertahan sampai sekarang meskipun sedang down parah. 😔


Sekali lagi, terima kasih sudah menemani author sampai sejauh ini.

__ADS_1


__ADS_2