
...[•]...
...Ya nggak apa-apa sih jatuh cinta. Asal jangan bodoh....
^^^—Bu Julia^^^
...—————...
“Mbak, ada yang nyariin tuh.”
“Siapa?” tanya Caca sambil mengancingkan kancing kemeja nya. Ia sengaja mengganti pakaiannya karena hari ini dia ada janji dengan seseorang hendak pergi.
“Lihat aja tuh didepan.”
Setelah menyelesaikan urusan kemeja dan melepas semua ID kepegawaian, Caca berjalan keluar dari ruang khusus karyawan dan menemukan seseorang disana sedang bersandar di tembok dengan satu kaki terangkat naik di tekuk menekan tembok. Pria tinggi berwajah oriental dengan eyesmile yang sangat Caca sukai. Pria itu tersenyum lantas berjalan mendekat ke arah Caca.
“Capek?” tanya si pemilik cincin yang serupa dengan cincin yang melingkar di jari manis Caca.
“Eumm.” jawab Caca sambil tersenyum dan mendongak, menatap lekat wajah dan manik mata indah berwarna brown yang pria tersebut miliki. Lantas dengan gerakan lembut pria itu menyelipkan beberapa poni Caca yang jatuh didepan wajahnya.
“Kamu sih, suruh resign nggak mau—”
“Makan apa aku kalau resign?” sahut Caca cepat dengan binar mata menggoda.
“Aku bisa ngasih kamu makan kok.”
“Nggak mau ih, belum sah.”
Pria itu tertawa. “Kalau gitu, jadi asisten pribadi aku aja.”
“Nggak mau!” jawab Caca dengan suara manja yang dibuat-buat. Ia sudah memikirkan dampak dari menjalin hubungan ini. Jadi, sebisanya dia menolak promosi kenaikan jabatan dirinya dalam bentuk apapun.
“Katanya kamu mau jalan sama temen kamu?”
“Iya, mau beli keperluan cewek. Kamu nggak usah ikut.” kelakar Caca yang di angguki pria itu sambil terkekeh geli.
“Memangnya kenapa?”
Wajah Caca seketika memerah. Pria berpakaian formal itu lantas mengusap lengan Caca dan mengecup keningnya singkat, mumpung lobby sepi.
“Ish, gimana kalau ada yang lihat?”
“Nggak masalah dong seharusnya, kita udah terikat.”
__ADS_1
“Ya tapi nggak enak kalau tiba-tiba dilihat anak-anak.” protes Caca masih nggak terima sambil menoleh kanan dan kiri, sedangkan pria itu lagi-lagi tertawa.
“Sore pak,” sapa beberapa staff kantor pada pria itu saat melewati mereka berdua yang hendak menuju kitchen.
Pria didepan Caca mengangguk pelan dengan sebuah senyuman ramah.
“Tuh, untung aja—”
“Iya, deh. Maaf.” katanya sambil mengusap lembut pipi Caca. “Besok kamu libur kan? Aku ke tempat kamu pulang ngantor ya?”
Caca mengangguk lalu menangkup telapak besar pria itu yang ada di pipinya. “Kalau sibuk, capek, kamu istirahat aja.”
“Nggak deh. Lagi kangen banget soalnya.”
“Gimana reaksi pegawai kamu kalau tau atasannya kayak gini ya?” goda Caca pada Louis sambil menggelengkan kepala.
Bersamaan dengan tawa keduanya yang terbentang, pria itu merogoh saku celana karena ponselnya bergetar. Ia lantas menjawab panggilan tersebut didepan Caca.
“Iya, Ta.”
“Bapak dimana? Sebentar lagi giliran bapak memberi sambutan penutup acara.” Dia adalah Rita, asisten pribadi yang selalu mendampingi kemanapun pria milik Caca ini pergi. Beruntung sekali wanita itu bisa selalu berada di sisi Louis. Kadang Caca merasa iri dengan kedekatan mereka.
“Baiklah. Aku sampai disana lima menit lagi.”
Louis Furry Hutama, putra pemilik stasiun televisi swasta yang selalu menempati rating tinggi ini kini menatap sayang ke arah Caca. Dia tersenyum manis kemudian mengusap pipi Caca sekali lagi. “Aku balik kerja dulu, ya. Udah ditunggu.”
“Eumm, pulangnya nanti kabari aku kalau udah sampe rumah.”
“Pasti.” seru Louis sambil menepuk lembut puncak kepala Caca sebanyak dua kali.
Setahun kenal, dua tahun berteman, tiga tahun bersahabat, dan empat tahun bertunangan, hubungan Caca dan Louis tidak pernah bermasalah. Mereka mengerti satu sama lain. Disamping usia mereka yang sepantaran, Louis orangnya sabar dan pengertian. Itu yang berhasil membuat Caca bertahan dan berhasil lupa dengan semua masa lalunya, dimana dia pernah menaruh hati pada seseorang.
Caca melepas kepergian pria tersebut dengan tatapan lembut yang terus menyorot hingga punggung pria itu hilang di belokan ujung yang akan menghubungkan ke lobby utama studio satu, tempat dimana acara tahunan itu dilakukan.
Diam-diam, Caca kembali mengingat satu malam tahun baru yang dulu begitu berkesan baginya. Tadi, saat dia turun ke lapangan untuk melakukan pekerjaan, telinganya tak putus mendengar para wanita menyebut nama Nolan, hingga hatinya berdenyut nyeri. Nyatanya nama itu masih mampu membuatnya merasakan sakit di ulu hatinya.
Namun, sekarang dia sadar diri. Louis adalah miliknya, dan dia adalah milik Louis. Pria itu juga selalu memperlakukannya dengan baik dan manis, jadi untuk alasan apalagi Caca harus kembali memikirkan Nolan?
Kepala Caca menggeleng cepat untuk menampik semua masa lalu yang mencoba menguasai dirinya lagi. Ia bergerak memutar tubuh bersiap untuk kembali masuk mengambil tas selempang dan menghubungi temannya yang berada di devisi periklanan. Akan tetapi, langkahnya terhenti ketika melihat sosok yang baru saja sempat muncul kembali di ingatan nya. Nolan, dia berdiri di tempat yang tidak di sangka oleh Caca.
Kedua kaki Caca memaku di tempat, ia menatap lekat pada sosok Nolan dalam balutan jas abu-abu dan style rambut yang sesuai dengan wajah rupawan nya. Tatapan mereka bertemu, dan Caca hendak berpaling melanjutkan niatnya tanpa menggubris kehadiran Nolan disini.
“Ca,”
Suara ini, terdengar lebih dewasa dari terakhir kali dia mendengarnya. Caca menoleh, tanpa berusaha menunjukkan ekspresi apapun di wajahnya. Dia hanya menatap lurus, dan mematik sorotnya di mata Nolan.
__ADS_1
“Bagaimana kabarmu? Lama tidak berjumpa.”
***
Sepanjang perjalanan pulang, bayangan wajah Caca masih melekat di ingatan Nolan. Ia bahkan tidak bermaksud sedikitpun untuk menghapusnya.
Caca yang dewasa begitu cantik dan mempesona dimatanya. Dan apa yang ia lihat sekilas tadi, sebuah cincin melingkar di jari manisnya? Apa benar dugaannya jika Caca sudah memiliki tambatan hati? Atau bahkan teman hidup?
Lagi-lagi wajah datar Caca merusak konsentrasi Nolan hingga membuatnya pening. Pekerjaan yang menumpuk seolah tidak ada apa-apanya dibandingkan memikirkan Caca. Nolan ingin segera sampai dirumah dan istirahat.
“Om, bisa di gas lagi nggak mobil mahal ini? Rugi beli mahal-mahal kalau nggak bisa cepet.”
Dharma menggelengkan kepala, kelakuan majikannya ini masih saja sama. Kadang menyebalkan, kadang bikin geleng-geleng kepala, kadang bikin tertawa.
“Tolong jangan panggil saya O—”
“Kita nggak sedang di kantor kok, jadi saya lebih nyaman panggil om aja dari pada pak, pak, pak. Huft ... ”
Baiklah, Dharma lebih memilih menyerah dari pada berdebat lebih jauh dengan Nolan.
“Baiklah, terserah anda saja. Tapi jika di lingkungan kerja, tolong jangan panggil saya dengan sebutan itu.”
“Iya, om bawel kayak customer kosmetik aja.”
Dharma menghela nafas besar untuk sebutan baru yang dia terima itu. Nahas sekali boss ciliknya ini.
“Baiklah, anda ingin langsung pulang?”
“Ya. Tambah kecepatannya, kepalaku sudah pusing.”
Dharma melirik Nolan dari spion di atas dashboard, boss ciliknya itu terlihat lelah dan lesu. Dan wajahnya, terlihat sumpek seperti mendapat penolakan cinta.
“Macet, tuan.”
Ia bisa mendengar Nolan mendecak dan menyandarkan punggungnya kasar.
“Lain kali, beli mobil yang ada sayapnya. Biar bisa terbang kalau urgent.”
Astaga, ingin sekali Dharma pensiun dari pekerjaannya ini. Boss nya yang sekarang terasa sangat naif dan tidak sejalan dengan pikiran kolotnya seperti bersama Hendra dulu.
“Ya, saya nanti akan memesan mobil terbang pada Elon Musk.” sahut Dharma yang mendapat pelototan dari Nolan. Memang tidak masuk akal, tapi Dharma tidak akan tinggal diam untuk membuat tuannya ini berhenti protes dan mengeluh kalau kota sedang macet.
“Ya, pesan juga mesin pemutar waktu. Agar aku bisa kembali ke masa lalu.”[]
...—Bersambung—...
__ADS_1