
...|•|...
Ada waktu nggak? Ketemuan yuk?
Nolan menghapus isi pesan itu dengan cepat. Apa-apaan mengirimi Caca pesan seperti itu?
Gue kangen—
“Sh-it!!” Nolan mengumpat keras untuk dirinya sendiri, kemudian menghapus ketikannya yang terlalu rendahan itu. Caca memiliki kekasih, jadi bagaimana dia bisa mengirim pesan seperti itu kepada seseorang yang telah memiliki kekasih? Tidak masuk akal.
Ia memperhatikan layar handphonenya yang menyala redup, memikirkan kalimat yang cocok untuk ia kirim ke Caca. Lalu, jemarinya kembali sibuk di atas keyboard ponsel miliknya karena kembali mengetik sesuatu.
Cowok Lo nggak marah kan? Sorry udah bikin Lo nggak nyaman, tadi.
Sedikit ragu, tapi apa salahnya meminta maaf sebagai permulaan untuk kembali berteman dengan Caca?
Send.
Dan pesan itu pun mendapat dua centang abu-abu. Nolan memeriksa riwayat WhatsApp Caca, terakhir dilihat sepuluh menit yang lalu. Dan Nolan memilih tidur. Dia tidak akan mendapat balasan dari Caca malam ini, tapi dia berharap Caca akan melihat dan membalasnya kapanpun perempuan itu sempat, dan Nolan akan bersedia menunggu.
***
Tatapan mata Nolan terlihat begitu gusar. Dharma dapat menangkap gelagat yang begitu asing dari gestur tubuh Nolan. Ini baru pertama kalinya Dharma melihat Nolan yang seperti itu. Tidak fokus, dan terlihat bingung.
“Apa anda sedang ada masalah?” tanya Dharma menginterupsi Nolan yang sedang membubuhkan tanda tangan pada beberapa berkas yang sejak pagi tadi tidak berhenti muncul. Bahkan jari tengahnya seperti melepuh karena terlalu lama dan terlalu banyak memegang ballpoint untuk membuat gambar coretan seperti cacing kepanasan dibatas kertas.
“Tidak ada.” bohong Nolan yang lagi-lagi bisa tertangkap dengan mudah oleh Dharma. Pria tua itu pandai membaca raut wajah boss nya, sejak dulu.
“Fokus pada pekerjaan anda. Anda harus tetap bekerja profesional. Jangan sampai anda membuat kesalahan dan berakhir menangis menyesal karena kehilangan omset—”
“Iya,” sahut Nolan dengan suara rendah yang sama sekali tidak bertenaga. “Aku tau.” lanjut Nolan, kemudian teringat pada salah satu proyek yang sedang ia rancang untuk produk kosmetik di Earth Beauty.
“Lalu, bagaimana pengajuan proposal kepada artis itu? Apa semuanya berhasil?”
Dharma memberi laporan konkrit yang menyebalkan. “Sepertinya, tim pemasaran dalam masalah.”
Seketika Nolan menghentikan aktivitas nya, mengangkat pandangan untuk menyorot mata Dharma demi menuntut penjelasan. “Apa maksudnya?”
“Tim periklanan dan pemasaran mengajukan dua proposal pada dua artis berbeda ” jelas Dharma pada Nolan yang kini menyandarkan dirinya pada punggung kursi, menyatukan kedua telapak tangan untuk menumpu dagunya.
“Tyra, dan siapa?”
“Kyle.” sahut pria tua itu memberikan keterangan yang dibutuhkan Nolan, karena dia sama sekali tidak tau tentang ini. Dan Nolan harus mengambil sikap untuk hal ini.
__ADS_1
“Sebenarnya masalahnya bukan pada pihak kita, karena tim sudah menulis ketentuan pada surat perjanjian ketika mengirim sample pruduk pada mereka.”
Nolan masih diam memperhatikan. Namun selanjutnya rasa penasaran kembali muncul.
“Ketentuan apa?”
“Tim memberi waktu dua bulan untuk dua artis itu memberi keputusan. Dan siapa cepat dia dapat.”
“Lalu?”
“Kyle adalah artis pertama yang memberi konfirmasi setuju pada proposal yang diajukan pihak kita. Tapi, Tyra tidak terima dengan dalih sudah membuat wajah cantiknya yang notabene adalah aset berharganya sebagai bahan percobaan produk kita. Dia juga mengolok produk kita adalah produk murahan.”
Nolan mengangguk mengerti permasalahan seperti ini. Baginya, permasalahan seperti ini pasti akan berakhir di meja hijau, dan si artis yang sok merasa di permainkan itu akan menuntut pinalthy pada perusahaannya.
“Arogan sekali artis itu.” katanya jujur. Nolan memang tidak pernah mau membodohi dirinya sendiri dengan berkata lain dibibir lain di hati. Ia bukan orang munafik. “Jadi, kita akan berhadapan dengan hukum lagi?”
Dharma menggeleng. “Leader devisi pemasaran sedang mengusahakan sesuatu agar permasalahan ini tidak sampai ke rana hukum.”
“Mengusahakan apa?” tanya Nolan penasaran sembari memiringkan kepalanya dengan alis dan dahi mengerut.
“Saya juga kurang tau. Tapi leader itu bisa di andalkan. Dia hebat dalam mengambil keputusan dan strategi.”
Nolan mengangguk paham. “Aku akan mempromosikan jabatan untuknya.”
Dan Dharma hanya mengangguk setuju dengan usulan Boss nya itu.
***
“Uang menipis cuy. Jangan terlalu boros pertengahan bulan begini.” gumamnya, menengok isi dompet yang kemarin baru saja ia isi dengan lembaran pecahan ratusan ribu sebanyak lima, yang sekarang sudah tinggal dua tanpa ia ketahui rincian penggunaannya dengan jelas. Lalu ditambah pecahan lima puluh ribuan satu, dan yang lainnya, pecahan dua ribuan dan bikin dompet terasa tebal.
Caca menghela nafas. Hidup di ibu kota memang butuh perjuangan keras.
Bus yang akan ia tumpangi sudah berhenti di halte, membuat Caca harus berlari mengejar sebelum bus itu meninggalkan dirinya.
Setelah menemukan tempat duduk dengan nafas yang masih terengah, Caca merogoh saku tas selempangnya. Berniat mengirim pesan pemberitahuan untuk Louis jika dia ingin pergi keluar sebentar untuk membeli keperluan dapur.
Sejak semalam memang dia malas sekali mengecek pesan. Hanya menerima telepon dari Louis, kemudian meletakkan nya lagi tanpa minat. Dan sekarang mungkin waktunya untuk menelisik apa saja yang ia terima di kotak masuk WhatsApp nya. Satu nomor menjadi perhatiannya saat ini.
0813210000XX: Cowok Lo nggak marah kan? Sorry udah bikin Lo nggak nyaman, tadi.
Pesan itu dikirim Nolan kemarin malam. Caca menebak, pasti dirinya tidur terlalu nyenyak semalam hingga telinganya yang sangat sensitif pada bunyi-bunyian itu tidak bisa mendengar ponsel yang terbilang cukup keras tingkat getarannya.
Telapak tangan Caca menjadi basah. Dia bergetar ketika hendak menghapus isi pesan tersebut. Namun hatinya menolak untuk menghapus dan menginginkan membalas pesan tersebut. Jantungnya berdebar seperti baru merasakan jatuh cinta. Dan, dia mutuskan dengan ragu untuk menekan papan replay.
Haruskah dia pura-pura tidak mengenalinya?
__ADS_1
Ah itu terdengar naif. Tapi jika dia menjawab begitu saja, dia yakin jika Nolan akan semakin besar kepala dan tidak tau diri.
Kamu siapa?
Caca membalas demikian. Tanpa ragu. Anggap saja dia tidak mengenal nomor baru tanpa nama itu.
Tak lama kemudian, balasan masuk ke ponselnya.
“Cepet banget responnya?” gumam Caca dalam hati.
0813210000XX: Gue Nolan, Ca.
Jemari Caca semakin bergetar. Beginilah rasanya orang-orang yang sedang berusaha berbohong? Atau hanya Caca saja yang terlalu nervous?
Oh, ternyata kamu masih menyimpan nomor ku?
Tanpa basa-basi Caca menebak. Ia malas harus membuat jari-jarinya kelelahan menulis dan membuang waktu hanya untuk sebuah kebohongan.
Gak apa-apa kok. Santai aja.
Nolan Typing ...
Caca menahan tawa. Mengapa Nolan cepat sekali membalas pesannya. Seperti memang sedang menunggu dirinya.
0812310000XX: Oke kalau nggak apa-apa.
Nolan Typing ...
0813210000XX: Kamu lagi dimana sekarang?
Caca melebarkan bola matanya. Ia tidak tau mengapa Nolan sampai ingin tau keberadaan nya saat ini.
Lagi ada perlu diluar. Beli keperluan dapur.
Nolan Typing ...
0813210000XX: Share lock
Tidak. Caca tidak ingin bermain di belakang Louis. Dia hanya perlu mengabaikan pesan Nolan, kemudian memblokir nomor ini agar tidak lagi bisa menghubunginya. Namun sebelum ia berhasil menekan kata blokir, sebuah pesan kembali ia terima.
0813210000XX: Ada sesuatu yang pingin gue omongin sama Lo.
Dan Caca tidak lagi bisa mengelak. Ia juga tidak mungkin melarikan diri lagi. Caca membagikan lokasi tujuannya, dan tanpa menuggu detik berubah Nolan sudah melihatnya.
Baiklah. Dia hanya perlu menguatkan hati dan dan perasaannya untuk Louis, kemudian menegaskan pada Nolan di pertemuannya kali ini jika dia sudah memiliki Louis dan akan segera menikah. Ya, seharusnya seperti itu sudah cukup membuat Nolan sadar untuk tidak lagi muncul dalam hidupnya kan? []
__ADS_1
...—Bersambung—...