
...Part 11 Hadir...
...Luangkan waktu untuk memberi Like, komen, dan list favorit ya...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...11...
Nolan memutuskan untuk menghubungi Jonathan dari pada pulang dan bertemu papanya. Ada beberapa hal yang ingin dia luruskan kepada Jonathan mengenai papanya yang tiba-tiba datang kerumah rival balapnya itu dan mengambil kembali mobil Bugatti yang seharusnya sudah jadi milik Jonathan sepenuhnya, sesuai kesepakatan yang mereka buat sebelum melakukan balapan.
Masih dengan seragam sekolahnya, Nolan datang ke sebuah cafe yang ditunjuk Jonathan.
Sempat ada perundingan alot ketika Jonathan yang sudah kepalang kesal menolak ajakan Nolan untuk bertemu. Wajar, tapi Nolan nggak mau nyerah begitu saja hingga akhirnya Jonathan setuju untuk bertemu dengannya sebentar.
Kedatangan Nolan ke cafe ini cukup menarik perhatian pengunjung lain yang juga sedang menikmati sore mereka dengan secangkir kopi hitam. Pasalnya dengan wajah dan penampilan Borjuis yang luar biasa memukau melekat pada diri Nolan, semua mata tertuju padanya. Dia seolah menjadi titik pusat dunia yang sedang berputar.
“Sorry telat.” sapa Nolan ketika berhasil menemukan Jonathan dan duduk di bangku dihadapan pemuda yang usianya setahun lebih muda darinya itu. “Lo udah persen kopi?” tanya Nolan mencoba memecah kecanggungan dan keheningan yang tercipta antara mereka berdua.
“Langsung aja Lo mau ngomong apa. Nggak usah basa-basi.” celetuk Jonathan kesal sekali karena Nolan terlihat biasa saja.
“Gue cuma mau ngasih tau, kalau gue sama sekali nggak ngadu ke bokap masalah balapan.”
Tidak ada jawaban dari Jonathan. Dan Nolan kembali bicara. “Gue juga nggak tau siapa yang bilang. Itu udah gue bilang ke elu di telepon tadi.”
“Tapi bokap Lo dateng-dateng marahin dan ngancem gue.”
“Ngancem?” tanya Nolan bingung karena selama ini, papanya itu pasti hanya diam setelah mendengar penjelasan Nolan. Tapi kali ini seperti ia salah perhitungan.
“Bokap Lo mau menjarain gue kalau gue nolak balikin Bugatti sialan Lo itu.”
Nolan menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal. Tentu saja papanya marah. Harga mobil yang ia jadikan taruhan kali ini, cukup fantastis.
__ADS_1
“Sorry.”
“Lain kali, nggak usah nyanggupi ajakan balapan kalau masih ada bayangan bokap Lo yang ikut campur.”
“Gue tau gue salah. Tapi bokap baru kali ini kayak gini ke gue. Biasanya nggak pernah peduli.”
Jonathan menatap dengan dahi berkerut. “Lo lagi ada masalah sama bokap Lo?”
Nolan mengangguk ragu. “Sebenarnya, masalah itu udah lama banget. Tapi masih gue bangun tinggi sampai sekarang. Gue belum siap damai sama bokap.”
Jonathan mulai menangkap sesuatu dari gelagat Nolan. Alih-alih ingin melayangkan bogem, Jonathan malah menatap iba pada wajah Nolan yang terlihat sendu dan putus asa.
“Gue sama bokap nggak sejalan. Dan semua fasilitas yang dia berikan ke gue, juga udah ditarik sama dia.”
Jonathan membolakan mata penuh kejut. Ia tidak menyangka jika sekarang Nolan jatuh bangkrut. “Jadi Lo sekarang udah bangkrut?”
Nolan ingin tertawa dengan istilah itu. Tapi ia hanya menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Jonathan, lalu menunjuk motor yang tadi ia gunakan untuk datang ketempat ini. “Tuh, harta terakhir gue. Harta yang terakhir gue ambil dari kartu hitam papa yang sekarang udah nggak ada di dompet gue.”
“Serius??” tanya Jonathan masih tidak percaya.
“Hey. Lo ngejek gue dengan wajah co-ngo Lo itu ya?” cetus Nolan sedikit tak terima dengan tanggapan yang diberikan Jonathan untuknya.
Meskipun hidup bergelimang harta, nyatanya Nolan tak sebahagia yang di pandang orang. Mungkin kalimat itu yang kini terbesit dalam otak Jonathan.
“Jadi, Lo bakal keluar dari club?” tanya Jonathan memastikan.
“Gue sekarang bangkrut Jo, nggak mungkin ikut club lagi. Mobil aja kagak punya.” kikik Nolan dengan wajah miris. Ia lantas melepas tautan tas punggungnya, meletakkan di kursi kosong sebelahnya, lalu menyugar rambutnya kebelakang hingga tabir keningnya terbentang nyata. “Nggak ada yang bisa gue banggain sekarang. Uang jajan gue cuma cepek ceng sehari. Motor juga lagi-lagi hasil nyuri uang bokap.”
Jonathan menggeleng. “Bugatti bakal balik ke elo. Kali ini gue rela.”
Nolan meringis miris. Balik? Yang ada papanya pasti menjualnya. “Nggak bakal gue pegang lagi, Jo. Papa kayaknya udah mentok tuh bencinya sama gue.”
Jonathan memandang kasihan sebagai teman curhat Nolan yang sudah hampir setahun ini dekat. “Pinjem punya abang gue aja kalau ada event. Pasti abang gue pinjemin.”
Nolan menggeleng. Dia terlihat semenyedihkan itukah sampai-sampai Jonathan menawarkan mobil kakak laki-lakinya?
“Nggak deh Jo. Gue bakal mengundurkan diri beneran. Gue mau ngomong sama bang Hayyat dan ngomongin ini baik-baik karena gue datangnya juga diterima baik sama dia.”
__ADS_1
Jonathan hanya mengangguk. Ia tidak punya kuasa untuk menghalangi niat Nolan. Mereka hanya teman, dan tetap berteman meskipun Nolan sudah tidak lagi berada diposisi seperti sebelumnya.
“Ya udah kalau itu keputusan elo. Kalau ada butuh, Dateng aja ke gue. Gue bakalan bantu kok.”
Senyuman tulus Nolan terbit untuk sang teman. Ia bangkit sejenak dan menepuk satu sisi lengan Jonathan yang terbungkus jaket kulit hitam.
“Thanks.”
***
Rumah, adalah definisi neraka dunia yang sebenarnya bagi Nolan. Tapi, kalau tidak pulang, dia makan apa? Siapa yang akan menampung dan memberi uang jajan padanya? Nolan menertawakan dirinya sendiri akan semua itu. Dan pada kenyataannya, dia memang masih membutuhkan Hendra, membutuhkan sosok ayah yang sangat ia benci hampir empat tahun belakangan ini.
Ia berkendara malam dengan suasana hati malas. Malas ketika mengingat dirumahnya ada hal yang pasti akan dibahas papanya. Nolan pasti akan kembali beradu argumen dan berakhir terpupuk rasa benci yang baru, yang semakin meruncing hingga Nolan muak.
Beruntung tadi Jonathan mentraktirnya makan, jadi dia tidak perlu buru-buru sampai rumah karena kelaparan. Nolan memilih menepi di sebuah trotoar jalan yang terdapat kursi panjang dan pohon rindang serta tiang lampu yang memberikan vibes kota yang indah. Ia duduk memperhatikan setiap kendaraan yang berlalu lalang. Memikirkan masalah apa yang sedang orang-orang itu hadapi. Bahagiakah? Atau, sebaliknya? Atau mereka hanya memasang tampang bahagia untuk mengelabui semua orang yang melihatnya?
Nolan menghela nafasnya cukup besar, lalu menengadah menatap langit terbuka. Bulan tertutup awan tipis, dan bintang yang menampakkan diri di sudut lain. Mungkin disana tempatnya lebih menyenangkan—pikir Nolan.
Ia meraih bandul Saturnusnya lagi, memikirkan sedang apa mamanya sekarang disana. Tiba-tiba rindu itu datang menyiksanya seharian. Nolan membutuhkan mamanya, tapi dia tidak ingin bercerita apapun padanya untuk malam ini. Nolan ingin sendiri, merasakan semuanya seorang diri.
Kenapa kamu ada disini?
Nolan ingat dengan siapa yang ada didalam kelasnya tadi sore. Kania.
Semudah itu kamu melupakan aku, Lan?
Nolan memejamkan mata. Kania pernah menjadi sesuatu yang berharga untuk Nolan. Sesuatu yang pernah ia perjuangkan meskipun pada akhirnya dia kembali merasakan sakit hati. Lebih spesifiknya, rasa sakitnya di hianati.
Aku cuma mau memastikan kalau kamu baik-baik saja.
Aku baik-baik saja.
Tidak. Nolan berbohong.
Kania adalah orang yang tau semua masalahnya dengan sang papa. Kania juga orang yang selalu memberi dukungan dan juga kenyamanan ketika dirinya merasa terpuruk. Kania adalah, orang yang paling mengenal dirinya.
Sampai dia lelah menatap langit dan lehernya terasa ngilu, dia menurunkan pandangan. Tepat saat itu, dia melihat siluet yang membuatnya kesal pagi ini.
__ADS_1
“Caca?” Nolan menajamkan pandangan. “Ngapain dia disitu?” []
...—Bersambung—...