Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Three


__ADS_3

...Jangan lupa berikan Like dan tinggalkan komentar, atau bisa juga memberi dukungan dengan gift dan vote jika berkenan, agar author semangat ☺️...


...Terima kasih...



...[•]...


“Inget nggak dulu waktu kamu numpahin kopi di celanaku.” kata Louis sambil mengusap kepala dan menatap penuh sayang pada Caca yang sedang bersandar santai di atas pahanya.


Kesal mengingat kejadian memalukan dan kenangan pertama kali mereka bertemu dulu, Caca menepuk keras paha Louis sampai pria itu terjingkat dan meringis. Tak berselang lama, pahanya itu terasa panas akibat pukulan Caca. Beginilah interaksi mereka di luar kantor, manis dan penuh perhatian serta suka saling menggoda hingga kesal dan berakhir marah.


“Nggak usah diingetin pas bagian itu. Malu-maluin tau!”


Memang. Itu merupakan kenangan paling memalukan bagi Caca ketika pertama kali kerja di stasiun TV milik keluarga Louis itu. Saat itu, Louis masih sangat muda, dan sudah dipercaya papanya untuk memegang kendali disana. Dan Caca, adalah pegawai OG yang masih dalam masa uji coba alias trainee.


Kopi hitam dan celana Cream, itu trauma untuk Caca.


Bagaimana tidak, hari itu, hari yang dimaksud Louis adalah hari dimana Caca tidak tau jika tali sepatu yang sebelumnya terikat, terlepas simpulnya begitu saja tanpa Caca ketahui. Lalu, tanpa Caca duga, dia menginjak tali itu hingga tubuhnya terjungkal kedepan. Nahasnya, dia yang membawa kopi panas atas permintaan si Presdir, malah menumpahkan cairan pekat itu tepat di area pribadi Louis hingga pria itu mengibas-ngibaskan tangan menahan panas yang merembes di aset kebanggaannya. Aset yang akan memberinya generasi penerus yang cantik dan ganteng. Aset yang akan menjadi kebanggaannya kepada sang istri.


“Untung aja nggak apa-apa.” lanjutnya masih berusaha membuat Caca kesal.


“Udah ih. Kesel tau nggak?!” protes Caca sambil bangkit dari pangkuan Louis.


“Dan untung saja sekarang kamu yang jadi calon— Awww ... ” teriak Louis saat merasakan cubitan kecil Caca mendarat mulus di pahanya yang terbalut celana bahan berwarna biru gelap.


“Stop, Lou!”


Louis tertawa menggelegar hingga rahang dan perutnya kaku. Ia suka sekali menggoda Caca sampai kesal dan marah begini, karena nanti, pasti dirinya akan berakhir meminta maaf sambil mesra-mesraan pada Caca. Louis suka sekali dengan moment seperti ini.


“Ca,” panggilnya masih sedikit dibumbui tawa dan membuat Caca semakin sebal.


“Pulang aja sana. Bikin kesel.” Rajuk Caca dengan bibir manyun kayak bebek dan alis hampir menyatu.


“Maaf deh, Maaf.” rayu Louis, mencoba meraih Caca dalam pelukan namun terus di tolak oleh si empu. Tak mau menyerah, Louis meraih paksa dan mengecup pipi Caca berkali-kali hingga membuat gadis itu tertawa kembali.


“Kamu memang sengaja bikin aku marah biar bisa cium-cium begitu kan?”


“Tuh tau.” sergah Louis tak ingin menyembunyikan maksudnya sama sekali. Dia memang sangat merindukan Caca. Hampir dua minggu lebih bekerja keras demi program acara tahunan agar tidak gagal dan sukses dengan rating bagus, Louis menghabiskan waktu didepan laptop untuk mengecek semua laporan yang masuk dari berbagai devisi. Mengecek ulang, kemudian merevisi susunan dan rangkaian acara, hingga jadwal tidurnya pun ikut berantakan.


Dan setelah semuanya berakhir dengan sempurna dan sukses seperti yang ia harapkan, Louis tidak ingin membuang lagi waktu kebersamaannya bersama Caca.


“Jangan macem-macem ya, Lou.”

__ADS_1


Tak menggubris ocehan Caca, Louis membawa dirinya mendekat memangkas jarak dengan Caca. Mereka saling tatap, kemudian lengan kekar Louis terulur mengusap satu sisi wajah Caca.


“Miss you so bad, Honey.”


Dan bibir mereka pun bertemu. Caca tidak mau membohongi dirinya sendiri dengan bersikap munafik. Dia juga merindukan Louis, dan berakhir membalas ciuman pria itu. Suara decapan bibir mereka yang beradu, memecah hening ruang tengah yang ukurannya cukup luas untuk ditinggali seorang diri itu.


Sekarang, Caca tinggal di sebuah apartemen yang sengaja di beli Louis untuknya setelah mereka resmi bertunangan.


Decapan lembut menjadi tanda bibir mereka sudah membuat jarak kembali setelah ciuman rindu yang terjadi beberapa saat itu. Baik Caca ataupun Louis saling memandang dengan nafas memburu. Lalu pada detik yang tidak terlalu lama setelah ciuman mereka berakhir, Louis tersenyum dan mengusap bibir bawah Caca yang memerah.


“Laper nggak?”


Caca hanya mengangguk dengan bibir dan wajah yang masih memerah karena malu. Ini adalah pemandangan yang sangat disukai Louis. Caca terlihat begitu seksih dengan ekspresi setengah sayu dan bibir merah begini.


“Keluar yuk, cari makan.” kata Louis mencari pengalihan agar dirinya tidak meminta lebih dari sekedar ciuman kepada Caca. Alurnya akan tetap seperti itu, Louis selalu menawarkan makan setelah mereka berciuman. Hal itu ia lakukan untuk membatasi dirinya sendiri yang selalu menginginkan Caca segera menjadi miliknya.


Empat tahun bertunangan mungkin terlalu lama bagi orang yang sudah memiliki usia seperti mereka. Dipandang orang lain pun mungkin terlalu aneh. Tapi Louis selalu mengalah dan menuruti permintaan Caca yang selalu bilang jika dia masih belum siap untuk menikah dalam waktu dekat. Entah apa alasannya, tapi Louis yang sudah terlanjur jatuh hati, tidak bisa menolak sama sekali keinginan Caca.


“Kamu mau makan apa?” tanya Louis berdiri, membenarkan posisi celana dan juga kemejanya yang tadi sempat menjadi sasaran rematan jari Caca ketika dia terlalu kasar.


“Apa aja, yang penting—”


“Halal. Aku tau itu, Ca.”


Louis tersenyum, mengulurkan tangan menunggu Caca menyambutnya. Dan tak butuh lama, telapak tangan mereka bertemu. Telapak tangan Caca yang ramping dan kecil yang berada dalam genggaman telapaknya yang besar selalu menjadi sesuatu yang membuatnya bangga kepada dirinya sendiri. Caca seperti sebuah benda rapuh yang perlu ia lindungi.


Lagi-lagi Louis tersenyum karena sadar akan perasaannya yang terlalu dalam kepada gadis dihadapannya ini. Louis begitu mencintai Caca dan tidak pernah ingin berpisah atau berpaling sedikitpun dari dia.


“Aku ambil jaket di kamar sebentar,”


“Eumm. Aku tunggu di mobil.”


***


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih tiga jam, Nolan memilih mengajak Dharma untuk makan malam di sebuah restoran yang cukup memiliki nama di kalangan masyarakat kota Jakarta.


Beberapa menu bahkan sudah terhidang di meja, dan siap disantap. Akan tetapi, entah mengapa Dharma tak kunjung melihat kehadiran Nolan yang tadi berpamitan ke toilet, setelah hampir lima belas menit berlalu.


Dharma merogoh saku jas nya dan bersiap mencari keberadaan Nolan dengan cara menelepon pemuda itu. Namun belum sempat menghidupkan ponselnya, Dharma melihat Nolan berjalan di kejauhan bersama dua orang yang tidak asing di mata Dharma.


Ya, sangat tidak asing karena baru sehari yang lalu dia melihat laki-laki yang bersama Nolan itu, berdiri di panggung salah satu acara yang diadakan stasiun TV yang ia dan Nolan hadiri.


Tidak salah lagi, itu adalah Louis Furry Hutama, dan ... Clarita?

__ADS_1


Dharma tau Clarita. Hendra dulu sering bercerita dan sesekali mengajaknya bertemu dengan gadis itu. Tapi, mengapa mereka bisa datang bersamaan begitu?


“Nah, silahkan bergabung bersama kami saja.” pinta Nolan ramah penuh senyuman ketika mereka sampai di meja yang sudah di tempati olehnya bersama sang asisten.


Caca tersenyum canggung ke arah Dharma, lantas dia membungkuk kecil lima belas derajat sebagai sapaan. Ia harus bersikap anggun dan berattitide baik didepan orang lain sebagai calon pasangan Presdir salah atau stasiun TV ternama.


“Nona Clarita?”


Louis mengerutkan kening heran ketika mendengar asisten Nolan menyapa kekasihnya.


“Lho, kalian sudah saling kenal?” sergah Louis tak ingin menutupi rasa penasaran yang muncul dalam dirinya.


Caca hampir buka suara jika Nolan tidak mendahuluinya dengan sebuah tanggapan yang terdengar ringan dan mudah diterima oleh Caca dan Nolan. Tapi entah bagi Louis.


“Ya. Kami kenal. Saya pernah tinggal dan kenal dekat dengan keluarga Caca.” kata Nolan bangga sedikit membusungkan dada yang justru membuat Caca mengkerut takut.


Selama ini dia sama sekali tidak pernah menceritakan apapun pada Louis jika pernah mengenal dekat dan hubungan pertemanannya dengan Nolan Aresta Suwandi.


Sialan memang begundal satu ini! Tingkahnya masih sama menyebalkan meskipun suaranya sekarang terdengar lebih seksih.


Louis menoleh ke arah Caca meminta penjelasan. Dan Caca pada akhirnya harus buka suara dan memberikan sedikit penjelasan sebelum nanti, dirumah Louis menanyakan hal itu lebih jauh lagi.


“Ah, iya Lou. Aku dan Nolan pernah berteman karena dia langganan di kedai kopi tempatku kerja dulu.” kata Caca sedikit memberikan penekanan agar Nolan paham dengan sandiwaranya.


“Oh ya?” tanya Louis dengan senyuman yang menurut Caca terlihat aneh.


Apa pilihan penjelasan itu salah? Caca mengusap tengkuknya gusar.


“Iya. Dulu saya selalu datang ke tempat Caca bekerja. Karena sangking seringnya beli disana, saya jadi seperti kenal dekat hingga kami berteman. Lucu kan?” kata Nolan semakin membuat aneh suasana. Caca merutuki kebodohan mengapa mau-mau saja ketika Louis mengajaknya makan bersama si Nolan ini.


Sialan!


“Ahaha, begitu ya.”


“Silahkan duduk.” pinta Nolan membuat atensi Caca kini tertuju padanya. Tatapan mereka bertemu beberapa detik sebelum Caca kembali mengalihkan manik matanya ke arah hidangan yang sudah tersaji. “Kita makan dulu yuk. Mari.” kata Nolan masih sok akrab dengan orang yang baru dua kali ia lihat itu.


Sejujurnya Nolan tidak nyaman, tapi ia ingin melihat Caca lebih lama. Dan juga satu hal yang membuatnya ingin menahan dua presensi itu adalah, cincin mereka yang berbentuk dan bermotif sama. Hingga satu terkaan memenuhi isi kepala Nolan.


Apa berita pertunangan mereka yang ia baca baru-baru ini di salah satu postingan akun gosip di sosial media itu benar? []


...—Bersambung—...


###

__ADS_1


Pingin banget bikin cerita fantasi, kira-kira ada yang minat nggak ya? Dari beberapa waktu lalu kepikiran terus soalnya 😁😅


__ADS_2