
...Part 21 terbit...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa dukungan kalian agar othornya semangat ya......
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...21...
“Ikut gue!”
Caca mengikuti kemana langkah Nolan menyeretnya. Oh ya astaga, menyeret ... Caca sudah seperti tas troli yang diambil dari bagasi dan diseret paksa mengikuti langkah si pemilik. Sial sekali.
“Sebenarnya kamu itu mau ngajak aku kemana? Jangan macem-macem deh, Nol!” tegur Caca sedikit memberontak, menarik tangannya dari cengkeraman tangan Nolan.
“Diem.”
Dan Caca kembali menurut mengikuti langkah Nolan.
Setelah keluar kantin tadi, Nolan menyeretnya melewati kelas IPS yang ada dilantai bawah, kemudian menyeretnya lagi melewati ruang UKS, kemudian masih menyeretnya melewati laboratorium komputer yang ada diujung gedung lantai dasar ini. Lalu, Nolan membawanya berbelok ke bagian samping bangunan yang ada taman dan juga menjadi tempat melukis untuk anak yang mengambil ekstra seni melukis. Hingga ada belokan lagi yang membawa mereka ke sebuah taman belakang yang terlihat tidak begitu diminati siswa-siswi disini. Terbukti dengan taman itu yang sepi, hanya ada suara pohon tinggi diterpa angin yang tidak terlalu kencang, juga pemandangan indah dari pepohonan yang berbunga, atau ada juga pohon yang daunnya beberapa sudah mulai menguning dan jatuh berserakan. Lalu beberapa bangku besi yang terlihat usang, membuat pemandangan yang terlihat itu sedikit mistis dalam benak Caca.
“Nol, ini nggak angker kan?”
“Masih siang, hantu lagi pada tidur selonjoran dirumah masing-masing. Jadi kamu lebih takut hantu dari pada aku?”
Caca mencebik, bibirnya mengerucut seperti bebek. “Ngapain takut sama kamu? Kita sama-sama makan nasi, sama-sama manusia juga.”
“Justru manusia itu, bisa jauh lebih menakutkan dan mengerikan dari seekor hantu.”
“Se ... ekor?”
Caca menyemburkan tawa keras-keras mendengar kalimat Nolan dengan wajah lempeng dan datar tanpa ekspresi ketika mengatakan se-ekor untuk sesosok hantu. Semoga hantunya tidak keberatan ya?
“Kamu serius menyebut hantu dengan kata se-ekor?” tanya Caca masih dengan sisa tawa di bibirnya. Bahkan airmata Caca juga ikut-ikutan meramaikan kegembiraan di wajah Caca. Nolan hari ini benar-benar lucu dan menghibur sekali.
“Suka-suka gue.” kata Nolan ketus, lalu duduk di salah satu bangku yang berada tepat dibawah pohon Angsana yang bunganya sudah memenuhi seluruh bagian dahan pohon.
Caca mendongak, mengagumi warna bunga kuning cerah dari pohon tersebut dengan suara ‘wah’ kecil dan bibir sedikit terbuka yang membuat Nolan terpanggil untuk menoleh ke arah Caca.
Tapi momen mengangumi itu tidak berlangsung lama karena Nolan mendorong kepala Caca dengan telunjuknya kebelakang hingga kepala Caca hampir menyatu dengan punggung. “Apa sih?!” kesal Caca tak terima.
“Sekarang, Lo mau ngejelasin kenapa tiba-tiba aja baik ke gue?”
Caca menatap sekilas wajah Nolan yang masih begitu-begitu saja. Ia menghela nafas lalu menepuk bahu Nolan tak kenal takut.
__ADS_1
“Karena kamu udah baik mau bantu aku di UKS waktu pingsan. Tapi nggak hanya itu sih, ada sesuatu yang bikin aku kasihan sama kamu.”
Nolan mengerutkan kening. Alisnya yang tebal itu bahkan hampir menyatu. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud ucapan Caca tentang mengasihaninya. Tidak ada yang perlu dikasihani dari dirinya. Ya, orang lain tidak perlu mengasihinya, selain dirinya sendiri.
“Kamu kayak kesepian nggak punya temen gitu deh.”
“Emang gue nggak mau temenan sama mereka. Bukan mereka yang nggak mau temenan sama gue.” sahut Nolan sedikit kesal dengan kalimat Caca yang mengatakan dirinya nggak punya temen.
“Orang sombong giginya ompong.” kata Caca dengan muka datar sambil menepuk lagi bahu Nolan hingga pemuda itu sedikit terjingkat kaget.
“Gue nggak suka, ya nggak suka. Bukan karena gue sombong. Tapi gue emang nggak suka aja temenan sama mereka.”
“Apa alasannya?”
“Lo tau sendiri jawabannya.”
Caca tidak tau alasan Nolan seperti itu, tapi kalau boleh Caca menebak, alasan Nolan bersikap dingin pada orang lain adalah karena muak.
“Kalau aku tau, aku nggak bakalan tanya sama kamu.” bohongnya licik seperti kancil yang meminta para buaya untuk menyelamatkan diri dari kejaran pak tani.
Nolan mengalihkan pandangannya ke arah gumpalan awan yang membentuk wajah seseorang di langit. Lalu, dia tersenyum kecil sembari berkata. “Mereka memuakkan. Mereka sama aja kayak gue yang suka habisin uang bokap.”
Caca tak melepas manik matanya sedikitpun dari fitur wajah Nolan yang memang sedap dipandang dari sudut manapun itu. Ternyata ia salah jika ia menyangka Nolan tidak memiliki stok ekspresi di wajahnya. Pemuda itu hanya berusaha menyembunyikan semuanya dan tidak ingin seseorang melihat sisi lain yang ia punya.
“Apa Lo lihat-lihat?!” ketus Nolan singkat saat mendapati Caca menatapnya, sebelum kembali melihat langit.
“Semua? Termasuk aku?” kata Caca protes dengan mata bergetar indah bak rusa. “Ya se-enggaknya, sekarang kamu punya satu teman lah.” celetuk Caca mencoba mengalihkan topik agar suasana percobaan pertama melancarkan misi nya tidak gagal begitu saja oleh serangan musuh. Aih, terlalu lebay kan?
Nolan menjatuhkan dagu, menatap Caca dengan ekspresi lurus. “Terus, siapa bilang gue mau temenan sama Lo?”
Senyuman di wajah Caca langsung sirna. Hatinya sakit seperti dicabik oleh paruh ayam, tapi matanya ia buat se-melas mungkin agar Nolan luluh. “Jadi beneran kamu nggak mau temenan sama aku, Nol?”
“Ya. Nggak ada alasan yang jelas untuk gue harus berteman sama Lo.”
Caca menghentakkan kaki dengan bibir yang lebih panjang dari sebelumnya. Ekspektasi tidak sesuai dengan kenyataan yang Caca bayangkan. “Jahat kamu. Padahal aku sudah nahan malu mati-matian didepan anak-anak, tapi malah ujung-ujungnya kamu nggak mau temenan sama aku.” rajuk Caca yang membuat Nolan semakin bingung.
“Nih cewek atau sowang sih? Kok nyebelin gini?” gerutu Nolan dalam hati melihat Caca sok tersakiti.
Caca berbalik dengan bahunya yang sudah layu. Nolan membolakan mata—tiba-tiba panik.
“Bu-bukan begitu.” kata Nolan pelan, nyaris menyerupai sebuah bisikan yang pastinya nggak terdengar oleh Caca yang terus berjalan menjauh.
“Okey. Kita temenan!” seru Nolan yang seketika membuat sepasang sepatu milik Caca berhenti. Nolan mengusap tengkuk lehernya bingung. Nggak tau kenapa, membuat Caca pergi dengan rasa kecewa, sedikit membuatnya menyesal.
“Beneran?” tanya Caca masih dengan suara parau yang dibuat-buat.
“I-iya.”
Caca berbalik dengan gerakan yang menurut Nolan sangat aneh. Gadis itu melompat tidak terlalu tinggi seperti sedang berbalik ketika bermain engklek, lalu berlari mendekat ke arah Nolan.
__ADS_1
Sial. Kenapa malah menggemaskan sih?! Fu***ck!!!
Nolan mengumpat berkali-kali dalam hatinya ketika mencoba menahan rasa gemasnya pada ekspresi senang yang sedang Caca pertontonkan padanya. Sekarang Nolan tau, jika Caca adalah cewek periang. Maybe.
“Makasih Nol.” katanya, meraup dua telapak tangan besar Nolan dan menggenggamnya dengan dua telapak mungilnya. “Aku akan jadi teman yang baik buat kamu. Kamu juga harus jadi teman yang baik buat aku ya.”
Hati Nolan menghangat, jantungnya berdebar, tangannya mendadak dingin. Ini adalah ekspresi yang ia harapkan ada di wajah seorang gadis. Tulus tanpa dibuat-buat. Bukan ekspresi jaga image yang kebanyakan di lihat Nolan di wajah para gadis yang mencoba mendekatinya, termasuk Gita.
“Sekali lagi makasih ya. Aku mohon kerja sama kamu sebagai seorang teman—untuk berhasil menjalankan misi dari papamu.” Caca menambahkan diam-diam kalimat terakhir didalam hati. Dia hanya ingin semuanya cepat berlalu. Kemudian, bagaimana pendapat kalian tentang akting Caca hari ini? Bagus sekali 'kan?
***
Caca memarkir motornya didepan rumah. Kakinya lelah dan matanya panas ingin segera tidur. Tapi bagaimana mau tidur, makan malam saja belum? Dan juga matahari masih belum turun sepenuhnya di balik senja. Caca menghela nafas, kemudian melirik jam tangannya dan kembali menghembuskan nafas lebih besar dari sebelumnya.
“Misi satu berjalan mulus.” gumamnya. Dia harus memberitahu kabar bahagia ini kepada paman Hendra.
Segera ia raih ponselnya yang tadi sempat ia lempar begitu saja diatas kasur. Lantas ia mencari kontak Hendra dan mengetik pesan.
Isi pesan pertama,
Hari ini, Nolan mau berteman denganku, paman.
Pesan kedua,
Semoga saja Nolan segera membuka hatinya lagi untuk paman.
Pesan ketiga,
Caca akan berusaha semampu Caca untuk membuat Nolan kembali pada Om.
Caca meletakkan ponselnya disamping tubuhnya yang berbaring kembali. Ia menunggu balasan apa yang akan ia terima dari pria tersebut. Dan tidak lama kemudian, ponselnya bergetar tanda pesan masuk.
Pak Hendra: Terima kasih, Caca.
Pak Hendra: Saya tunggu kabar baik lainnya dari kamu.
Ya. Berharap apalagi memangnya? Hendra membayarnya untuk itu. Harapan dihargai seperti yang dibayangkannya segera ia enyahkan. Pikiran sendu kembali mencoba menariknya pada kenangan tadi siang, dimana senyuman Nolan yang terlihat tulus baru pertama kali ia lihat itu, sangat mengagumkan.
“Kenapa Nolan menutup dirinya seperti itu? Padahal Pak Hendra cuma bilang ada satu hal yang membuat mereka salah paham yang belum menemukan titik terang dan masih terjebak di jalan buntu.” gumam Caca masih penasaran karena cerita yang dia terima dari Hendra hanya singkat. Kata Hendra, Nolan membencinya karena mamanya meninggal. Ya, hanya itu yang Hendra ceritakan pada Caca saat mereka bertemu dan berencana membuat kesepakatan, dulu.
“Seperti ada sesuatu hal menyakitkan yang disimpan Nolan dan tidak diceritakan pak Hendra padaku.” gumam Caca kembali menelaah dan mengingat-ingat informasi dari Hendra saat itu. “Aku harus cari tau masalah itu terlebih dahulu, setelah itu aku akan menjalankan misi kedua.” []
...—Bersambung—...
###
Boleh tinggalkan komen lho
Monggo...
__ADS_1