Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Terbongkar


__ADS_3

...Part 44...


...Selamat membaca...


...Semoga suka 🤭...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...44...


Dua hari seperti puluhan tahun bagi Nolan. Dua hari pula dia tidak pulang kerumah, dan hari ini dia terpaksa meninggalkan papa nya dirumah sakit karena bi Ane memaksanya untuk pulang, kemudian masuk sekolah karena ujian kelulusan sudah didepan mata.


Nolan mende-sah berat ketika menatap pantulan bayangannya pada cermin di kamarnya. Rasa bersalah kembali menyergap seluruh kewarasannya. Nolan ingin sekali menangis dalam pelukan Hendra, meminta ampun dan berharap pria tua itu tidak meninggalkannya.


Semalam, keadaan papanya tidak kunjung membaik. Beberapa tanda-tanda fi-tal semakin menurun, dan semua itu mengingatkan Nolan bagaimana dulu ia kehilangan sang mama.


“Mengapa papa menyembunyikan ini dari Nolan?” gumamnya sedih. Ia merasa menjadi anak yang sangat tidak berguna karena tidak mengetahui kondisi kesehatan Hendra yang tidak baik-baik saja. Lantas, ingatan Nolan dipaksa mengingat ketika Hendra memintanya untuk memiliki cita-cita untuk masa depan, kemudian pembicaraan mereka tentang penerus usaha milik Hendra yang terjadi dengannya malam itu.


Nolan melirik ke arah nakas dan mendapati ponselnya disana. Sudah tiga hari ini dia tidak menyentuh ponsel itu. Lalu, ia memutar tubuh dan berjalan ke sana untuk meraih ponsel dan mengecek notifikasi yang masuk ke akun miliknya.


Notifikasi ponsel biasanya hanya berasal dari enam nomor yang ia simpan di kontaknya.



Papa


Mama


Mang Maman


Home


Jo


C



Ada dua pesan dari Caca hari ini. Menanyakan kabar Hendra, dan yang kedua menanyakan kehadiran Nolan disekolah untuk hari ini.


Kemudian ada beberapa pesan gambar dan satu pesan dari nomor yang sama, yang tidak ia kenali muncul dibawah nama Caca. Nolan menekan nomor tersebut, lantas gambar itu muncul begitu saja didepan matanya dan berhasil membuat ekspresi dingin dan datar nya muncul.


Kamu harus tau siapa Caca sebenarnya.


Disana terdapat beberapa informasi tentang diri Caca yang valid.


Sebuah foto KTP milik Caca, sebuah kartu pelajar, sebuah foto ijazah, dan yang terakhir adalah beberapa foto pertemuan Caca dan Hendra.


Nolan meng-scroll layar ponselnya.


📷


📷


📷


(...)


Apa-apaan ini?


Dan tepat setelah membuka pesan tersebut, Nolan menyambar jaket dan kunci motornya. Kemudian berangkat ke sekolah dengan mood yang sudah berantakan. Ia menahan untuk tidak termakan hasutan, tapi disisi lain egonya kembali mengendalikan dirinya. Emosinya naik begitu saja, dan dia hanya ingin menuju satu orang disekolah. Clarita.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah dan memarkir motor, Nolan berjalan cepat dengan tatapannya yang begitu menakutkan. Bahkan beberapa murid yang menyadari hal itu, menyingkir dan tidak berani menjadi penghalang langkah Nolan yang berjalan menaiki anak tangga menuju kelas IPA, khususnya IPA-1.


Pintu kelas dibuka kasar hingga beberapa siswa yang sudah datang terjingkat kaget. Termasuk Caca dan Leonard yang sedang bercengkrama.


Tidak peduli sekitar, Nolan menarik paksa Caca dengan airmuka yang tidak terbaca sama sekali.


Hingga sampai di salah satu koridor yang sedikit gelap dan jauh dari jangkauan murid lainnya, Nolan menyentak lengan Caca hingga tubuhnya terpelanting dan menabrak tembok.


“Nol, kamu kenapa—”


Belum selesai bicara, Nolan sudah menunjuk wajah Caca dengan telunjuk yang mengacung tepat di netra Caca yang belum mau beranjak menatap Nolan.


“Sekarang gue pingin denger dari Lo sendiri.”


Gue? Lo?


Caca mulai tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Mengapa Nolan tiba-tiba datang dan menyeretnya paksa seperti barang yang tidak memiliki harga?


“Kamu kenapa?” tanya Caca lirih dengan wajah sendu ketika sebesit rasa khawatir muncul dikepalanya. Apa dia terlambat? Apa Nolan sudah tau semuanya?


“DIAM!! Gue belum selesai bicara!” bentak Nolan dengan suara keras tak terkira hingga Caca terkejut dan membuang wajah kesamping sambil menutup matanya erat-erat.Gadis itu benar-benar ketakutan sekarang.


“Gue tanya, ada hubungan apa Lo sama bokap gue?” tanya Nolan dengan suara penuh intimidasi dan rahang mengeras.


“Kamu ngomong apa sih—”


Nolan memangkas jarak. Menangkup wajah Caca dengan ibu jari dan telunjuk dari bawah dagu hingga pipi gadis itu. Tubuh Caca bergetar ketakutan. Semenakutkan inikah Nolan saat marah?


“Jawab pertanyaan gue. Ada hubungan apa Lo sama bokap gue!” ulang Nolan dengan intonasi rendah yang menakutkan.


Caca menelan ludah susah payah. Ia terus menyorot manik mata Nolan yang indah dan menjadi pemandangan favoritnya ketika sedang memandang fitur wajah pemuda itu.


“Jadi, kamu sudah tau?”


Nolan melepas cengkeraman di wajah caca, lantas berjalan mundur beberapa langkah untuk menjauh dari sosok Caca.


“Kamu, tanya siapa aku, kan?” tantang Caca, membuat Nolan semakin mengeraskan wajah bersama gigi bergemelutuk. Telapak tangannya mengepal sempurna. “Aku, adalah orang jahat yang berusaha masuk kedalam kehidupanmu karena uang.”


Apa ini sudah menyakitkan? Apa ini sudah menyakiti hati Nolan? Caca tidak ingin rasa cintanya pada Nolan semakin jauh, tapi dia tidak bisa berhenti. Untuk itu, dia akan membuat Nolan yang membencinya agar mereka benar-benar berhenti.


Nolan menatap nanar pada sosok Caca dengan mata mengedip lambat karena tidak percaya.


“Aku tidak tau siapa yang memberitahukan semua ini padamu. Tapi, aku akan sangat berterima kasih padanya setelah ini, karena dia sudah membantuku untuk jujur padamu.”


“SIAL!!” umpatnya tak ingin menyembunyikan kekecewaan dan kebencian yang begitu mendominasi dirinya.


“Aku adalah orang yang diminta papamu untuk membuatmu sadar akan sikap egoismu, dan membuat mu kembali padanya.” Caca tertawa, entah karena apa. Kebodohannya, mungkin?


“Aku tidak menyangka, jika seseorang yang terlihat arogan seperti dirimu, nyatanya luluh hanya karena sebuah perhatian dari seorang wanita yang baru kamu kenal.” lanjut Caca dengan smirk di bibirnya


Caca menjerit dalam hati, memintanya untuk berhenti bicara dan menyakiti hati Nolan. Tapi, tidak. Dia belum selesai untuk membuat Nolan membencinya.


“Dan untuk perasaanmu padaku, terima kasih sudah mencinta—”


“Sh-it!! Diam!”


Caca menyerang harga diri Nolan tepat sasaran. Hal itu membuatnya hampir mendapatkan satu tamparan di pipi oleh pemuda dihadapannya. Tapi itu tidak ia rasakan, telapak tangan Nolan sama sekali tidak mendarat diatas permukaan kulit wajahnya, karena Nolan menghantam tembok dibalik kepalanya dengan kepalan kuat dan nafas memburu.


Manik matanya yang bergetar, kini menatap Nolan sangat dalam, memindai seberapa besar kebencian Nolan yang tumbuh padanya. Hingga tidak terasa netranya mulai berkabut. Ia akan menangis sebentar lagi.


“Aku memang sejahat itu Nolan. Aku berhasil membuatmu lengah. Dan aku, ingin meminta maaf karena—”


Nolan kembali berjalan memangkas jarak, ia mendekatkan wajahnya pada Caca hingga kepala Caca merapat di tembok karena terpojok.


“Gue nggak sudi menerima permintaan maaf lo, breng-se-k.” bisik Nolan penuh kilatan amarah dimatanya.

__ADS_1


Nolan benar-benar terluka dan terhianati. Dia sudah membuka hati untuk Caca, tapi gadis didepannya ini berani mempermainkannya.


“Ya. Aku memang be-reng-se-k.” tekan Caca dengan suara tersengal.


Nolan menatapnya tajam penuh kebencian, meraih pergelangan tangan Caca dan mencengkeramnya kuat, kemudian berkata. “Enyah dari hidupku. Jangan pernah mengusik dan muncul lagi didepanku, Bit-ch!!”


Mendengar sebutan itu, Caca meronta. Ia berusaha mendorong Nolan dari hadapannya dan menarik lepas lengannya dari genggaman kuat Nolan yang begitu menyakitkan. Caca rasa dia tidak seburuk itu hingga Nolan memanggilnya dengan sebutan rendahan seperti itu. Dia hanya membantu dan tidak melakukan hal lebih jauh, apalagi sampai menjual kehormatan. Tidak, dia tidak melakukan sejauh itu.


Melihat Caca menahan tangis, hati Nolan bergetar ikut merasakan sakit tersebut. Mau berbohong seperti apapun, Nolan tidak bisa menampik rasa cintanya yang masih terlalu dalam untuk caca.


Nolan melepas cengkeraman itu, dan meremas surainya frustasi sembari memutar tubuh ke arah lain membelakangi caca. Mengapa semua seolah punya hak bebas mempermainkan hidupnya? Nolan mende-sah frustasi, kemudian berbalik dan mendapati Caca menatap dirinya intens di atas lantai dingin koridor.


Ingin sekali lengannya membawa Caca mendekat, memeluknya, dan meminta maaf karena perbuatannya. Namun semua itu Nolan tampik dan kembali mengunggulkan ego dan kebencian yang ia bangun untuk Caca.


“Mengapa Lo berani sekali mempermainkan hidup gue sampai sejauh ini, Huh?!!” teriak Nolan didepan wajah Caca setelah berhasil mensejajarkan diri. “Lo tiba-tiba hadir, menarik perhatian gue hingga gue jatuh cinta sama lo.” nafas Nolan memburu. “Lalu, sekarang dengan seenaknya Lo jatuhin gue. Hancurin gue.”


Netra mereka terkunci.


“Maaf.” bisik Caca parau.


Nolan yang terlanjur di kungkung amarah, berdiri menjauh sekali lagi dan tidak ingin menatap Caca.


“Lakukan sesuka Lo. Dan enyah dari hidup gue setelah ini.”


Nolan hendak beranjak, namun suara bergetar dan parau Caca kembali menghentikannya.


Ia mendengar suara sepatu Caca yang mendekatinya. Lantas ia bisa melihat dengan jelas wajah Caca yang kini sedang berdiri di hadapannya, melepas kalung pemberiannya, dan menarik telapak tangannya untuk menerima kalung tersebut.


“Ya. Aku akan pergi dari hidupmu, dan tidak akan kembali hanya untuk menanyakan kabar.” Caca menekan kelima jari Nolan untuk menggenggam kalung yang baru saja ia letakkan disana.


“Terima kasih sudah mencintaiku. Dan juga, aku tidak pantas menerima hadiah apapun darimu atau ayahmu. Aku hanya ingin membantu seorang ayah berbaikan dengan anaknya.“ katanya membuka seluruh skenario yang ia buat bersama Hendra. Simpan itu untuk orang yang benar-benar kamu cintai.” lanjut Caca dengan derai air mata yang sudah tak bisa lagi ia bendung. Perpisahan seperti ini begitu menyakitkan. Dan dia berharap akan bisa melupakan cinta pertamanya ini dengan cepat tanpa penyesalan dan putus asa. “Maaf sudah membuatmu kecewa, dan aku juga akan mengembalikan Titan Globe itu kepadamu.”


Caca semakin merapatkan diri, memeluk Nolan, namun Nolan mendorong Caca menjauh. Dan pada khornya, ia menarik diri menjauh dari Nolan dengan sebuah senyuman tulus dan lega jika pada akhirnya semua sudah selesai.


“Sayangi papamu, karena dia sangat menyayangimu lebih dari menyayangi dirinya sendiri.” terangnya berhasil membuat nolan terpekur. “Papamu, adalah orang yang sangat baik dan aku tidak bisa menerima semua yang ia berikan padaku. Semua uangnya masih utuh, dan besok akan aku kembalikan padamu.”


“Gue nggak sudi terima uang itu dari Lo.”


Caca mengusap sisa airmata di pipinya.


“Terserah. Tapi aku akan tetap mengembalikannya.” sendu Caca membuat getaran dihari Nolan semakin kuat. “Selamat tinggal, Nolan.” kata Caca kembali berderai air mata. “Selamat tinggal, Saturnus ku yang indah. Aku harap kamu bahagia dengan masa depanmu.”


Nolan membeku ditempatnya berdiri. Dia hanya diam memperhatikan langkah Caca yang semakin menjauh darinya.


Selamat tinggal, Saturnus ku yang indah.


Sial! Nolan meneteskan airmata sekarang. Ia belum siap kehilangan Caca secepat ini.


Andai saja waktu bisa diputar kembali—


“Sekarang, kamu tau jika aku yang terbaik untukmu, kan?”


Nolan menoleh dan mendapati Jessica berdiri dengan lengan dilipat angkuh didepan dada.


“Aku sudah menyelamatkan dirimu dari pembohong seperti dia.”


“Diam. Dia bukan pembohong.” kata Nolan dingin tanpa intonasi, dan datar.


“Bukan pembohong? Lalu apa?”


Nolan membalik badan demi menatap Jessica.


“Setidaknya, dia jauh lebih baik darimu. Apa sekarang kamu senang dia sudah pergi dariku?”


Jessica menghentakkan kakinya sebal. Gita tidak berguna sama sekali hingga dia harus menampakkan diri sebagai orang yang mengirimi Nolan informasi tentang Caca dan berakhir Nolan semakin membencinya.

__ADS_1


“Jangan ganggu aku lagi, atau kamu berurusan serius denganku.”[]


...—Bersambung—...


__ADS_2