
...Part 5 hadir...
...Mohon dukungannya ya......
...•...
...•...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...05...
Saturnus, adalah salah satu planet yang indah bagi Nolan. Ibunya pernah memberitahu Nolan, jika Saturnus adalah planet paling indah di antariksa karena memiliki cincin. Ya, cincin yang akan terus mengitarinya sampai jagad raya ini sirna. Meskipun partikel-partikel nya terdiri dari es yang berpadu dengan puing-puing batu dan debu. Tapisetidaknya, Tuhan menciptakan Saturnus berbeda dari yang lain. Sama seperti Saturnus, mama Marla pernah bilang kepada Nolan, jika Nolan itu istimewa meskipun berbeda dengan yang lain. Seperti cincin Saturnus yang indah.
Sejak hari itu ia menyukai Saturnus. Dia menyukai Saturnus dan sangat mencintai ibunya.
Lalu, pada ulang tahunnya yang ke empat belas, tepat sebelum pengumuman kelulusan, Nolan menerima hadiah sebuah kalung putih berbandul Saturnus yang indah. Dia ingat dengan jelas, setelah menerima hadiah itu, ibunya tidak lagi bergerak, tidak lagi memberikan senyuman untuknya, dan tidak lagi ada disisinya.
Nolan yang sadar akan kepergian sang ibu untuk selamanya, sama sekali tidak bisa menangis. Airmata nya tidak mau keluar meski dia menginginkannya. Sampai saat ini, airmata itu tidak pernah meleleh dari matanya. Yang ada, airmata itu berubah wujud menjadi sebuah rasa benci yang teramat sangat. Airmata beku itu yang mengubah Nolan yang hangat, menjadi Nolan yang keras seperti batu karang, dan dingin seperti bongkahan es di kutub bumi. Dia benar-benar merubah dirinya sendiri setelah kepergian ibunya, malam itu.
Kepergian sang mama juga sempat membuat Nolan down. Dia terpuruk dan tidak ingin bertemu siapapun. Dia merasa tidak lagi berguna karena papa nya bilang seperti itu padanya. Nolan sempat berhenti sekolah selama satu tahun, meskipun pada akhirnya ditahun berikutnya dia memutuskan untuk kembali menjejak dunia pendidikan berkat bi Ane yang terus meyakinkan jika dia adalah anak yang pintar dan amat sangat berguna. Ya, Hendra pernah memaki Nolan dengan kata-kata yang begitu menyakitkan, bahwa dia tidak berguna dan hanya menyusahkan saja.
Semua kenangan yang muncul tiba-tiba dalam ingatan itu membuat Nolan harus menahan nyeri di ulu hati, membuat Nolan memejam untuk mencoba mengalihkan dengan meremat bandul Saturnus yang tiga tahun ini selalu menggantung di lehernya.
Dia tidak akan melupakan malam itu.
Lelah memejam, Nolan kembali membuka matanya dan menunduk guna menatap Saturnusnya. Ia mende-sah dan menghembuskan nafas secara bersamaan. Dan ya, dia hanya berharap kenangan bersama ibunya yang indah itu selalu menjadi tameng kewarasannya.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya berderit halus. Seseorang membuka pintu tersebut, dan betapa terkejutnya Nolan ketika yang muncul dari balik pintu tersebut adalah ayahnya. Ia sama sekali tidak menduga sang ayah akan kembali malam ini.
Buru-buru dia menyembunyikan surat panggilan untuk orang tua dari sekolah ke dalam saku celana yang ia pakai. Kemudian memperbaiki posisi duduknya di kursi yang biasa ia gunakan untuk bermain game online di kamar.
“Kenapa dengan wajah kamu? Buat keributan lagi disekolah?” tanya Hendra kepada sang putra yang terlihat mengkerut. Hendra sudah tau semuanya, tapi dia berusaha untuk mendengarkan sendiri dari Nolan, putra yang sangat ia sayangi.
Nolan hanya diam membisu. Dia seperti tidak memiliki jawaban, dan apesnya besok dia harus mencari alasan agar kartu kesejahteraan berwarna hitam itu tetap berada padanya. Nolan yakin papa nya akan meminta itu darinya setelah tau semua yang ia sudah lakukan.
“Diluar, ada motor baru, Harley. Punya kamu?”
__ADS_1
Nolan menatap lurus sang papa dengan raut tidak terbaca. Jika sudah seperti ini, Hendra dapat menebak apa yang sudah terjadi. Terlepas dari berita yang dikirim orang suruhannya untuk mengawasi Nolan, Hendra tau peringai sang putra tanpa diberi tau.
“Kamu, balapan lagi?”
Lagi-lagi, Nolan memilih diam.
“Kamu sudah janji sama papa untuk nggak ikut balapan itu lagi, kan?”
Nolan hendak menjawab, namun papanya kembali menyambung perkataan yang sempat terjeda. “Kali ini, apa yang kamu jadikan taruhan?”
“Bugatti.” jawabnya seolah tidak akan ada perang setelah dia mengatakan itu dengan raut datarnya itu.
“Astaga Nolan.” de-sah Hendra frustasi sembari memijat pangkal hidungnya, menahan emosi agar tidak meledak dan membuat sesuatu yang berusaha ia tutupi didepan putranya itu, kambuh. “Papa nyari duit nggak semudah yang kamu pikir, nak.” katanya, benar-benar sudah pada di titik putus asa paling jauh dalam lembah kesabaran yang selalu ia coba lapangkan. “Papa harus pergi jauh ninggalin kamu sendiri dirumah, nggak perhatiin kamu, dan juga—”
“Maaf.” sahut Nolan, nggak lagi mau Hendra merasa terhianati oleh dirinya.
Hendra memaku di tempatnya berdiri. Nolan minta maaf? Apa dia sedang bermimpi?
“Kalau papa mau marahi Nolan masalah itu, Nolan nggak apa-apa, silahkan.Tapi bicaranya cepat. Nolan mau tidur.”
Hendra mendongak guna melihat jam dinding yang tidak berada ditempat yang seharusnya, lalu kembali menatap Nolan. “Ini masih jam sembilan. Papa yakin kamu nggak bakalan tidur jam segini.”
“Lalu, apa mau papa sekarang?”
“Papa nggak adil.”
“Kenapa enggak?”
Nolan menyeringai. Bagaimana tidak kesal, begitu datang, bukannya bertanya tentang keadaan Nolan, papanya itu hanya melihat kesalahan yang sudah dibuatnya seperti menguliti kepercayaan diri Nolan tanpa ampun.
“Luka ini, karena Leonard.” kata Nolan sambil menunjuk lebam membiru di garis rahangnya.
Mata Hendra membelalak. Ia bahkan mengusap dadanya yang terasa sedikit ngilu.
“Leonard yang sudah berani membuat anak kandung papa seperti ini saja, masih bebas melakukan apapun sesukanya, dan papa tidak pernah mau menarik fasilitas apapun yang ada padanya.”Cerca Nolan menjabarkan kenyataan. “Lalu, kenapa dengan aku yang membuat ingin menghibur diri sendiri saja harus—”
“Cukup!”
“Kalau begitu, papa silahkan keluar dari sini. Kartu papa akan ada dimeja papa besok pagi.” ketus Nolan membuang muka dan berdiri dari tempatnya duduk. Mungkin ini saatnya dia memberikan surat panggilan yang selama ini selalu ia sembunyikan dari sang papa.
Nolan merogoh saku celana Boogie nya, dan menyodorkan kertas itu kepada Hendra.
“Aku membalas perlakuan Leonard secara adil untuk diriku sendiri.” kata Nolan sedikit sendu. Dia teramat kecewa. “Aku sudah membuatnya babak belur. Papa harus menjenguk Leo dirumahnya. Dan aku harap papa tidak malu untuk datang ke sekolah besok.”
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Nolan melewati jalan dimana papanya berdiri terpaku masih menatap surat di tangannya. Nolan memilih keluar kamar dan berencana mencari udara segar sejenak untuk menenangkan dirinya yang semakin kacau. Dia mungkin tidak lagi bisa menahan emosi jika masih tetap berada disekitar papanya yang menyebalkan itu.
Dan setelah melepas kepergian Nolan beserta deru suara motor baru milik putranya itu, Hendra seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia limbung dan meraih tepian meja yang terdapat dua komputer menyala disana. Hendra duduk kasar diatas kursi, lantas memegang lagi dada kirinya yang terasa sedikit lebih menyakitkan.
Semua kenangan tiga tahun lalu kembali terputar dalam ingatannya. Kenangan bagaimana pertama kali melihat sorot mata Nolan yang begitu membencinya. Hari itu, seharusnya menjadi hari bahagia bagi Nolan karena selain menunggu hasil ujian, hari itu adalah hari ulang tahunnya. Namun, justru kenangan pahit tertoreh disana.
Saat Marla meninggalkan dunia karena kesalahan yang ia sembunyikan rapat-rapat dimasa lalu. Kesalahan yang seharusnya sejak awal ia bicarakan dengan Marla justru menjadi senjata yang kini kembali menyerangnya. Marla memang tidak pernah berkata membenci dirinya, tapi Hendra tau, Marla memendam rasa sakit itu hingga dokter mengfonis wanita yang ia sayangi itu dengan—
“Haaah...” satu helaan nafas Hendra terdengar mengudara. Dia tidak sanggup menyebutnya. Lantas Hendra terduduk semakin lemah di tempatnya sekarang, berusaha mengabaikan semua agar sakit di dadanya itu reda.
Siapa yang bilang Hendra tidak kehilangan Marla saat wanita itu pergi dari dunia untuk selamanya? Jika Nolan, jangan didengarkan.
Nolan, putra yang dulu hangat dan sayang padanya, kini justru menjadi orang yang paling membencinya. Hendra tidak terima dengan takdir itu, tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah tertulis, hanya tinggal bagaimana Hendra menjalani dan berusaha membuat semuanya kembali seperti sedia kala.
Ingatan lain berkelebat dikepalanya.
Caca.
Gadis itu bersedia menolongnya. Gadis itu bersedia membantunya, meskipun dia yang memaksa agar gadis itu setuju dan menerima imbalan yang akan ia berikan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Kamu, hanya perlu membuat Nolan berubah menjadi Nolan yang dulu—katanya kepada Caca setelah menceritakan kejadian tiga tahun silam yang membuat Hendra kini harus menjadi orang asing bagi putranya sendiri.
Rahasiakan apa yang kamu tau tentang paman hari ini dari Nolan. Paman tidak ingin dia mengasihani paman. Paman hanya ingin dia tulus menyayangi paman seperti dulu. Itu saja. Lalu paman akan memberikan kamu imbalan yang setimpal.
Hendra menarik nafasnya kuat-kuat, hingga nyeri itu sedikit berkurang. Lalu dia melihat meja Nolan, Dimana diatasnya terdapat foto Marla yang tersenyum seorang diri. Nolan hanya memajang foto Marla, tidak dengan fotonya.
Perlahan, Hendra meraih bingkai foto tersebut dan mengusapnya perlahan.
“Kamu bahagiakan disana, sayang?” tanyanya berbicara didepan foto mendiang Marla. “Putra kita, sekarang membenciku.
Tapi, aku sadar. Mungkin inilah balasan yang harus aku terima sekarang. Aku kehilangan kamu, bahkan putra kesayanganku sendiri, dan aku tidak bisa menggenggamnya lagi, sayang.”
Hendra meletakkan bingkai foto tersebut ditempat semula, kemudian menatap kertas bergambar yang tergeletak diatas meja yang masih sama. Sebuah kertas bergambar planet Saturnus yang Nolan gambar dengan pensil. Gambar yang begitu sempurna dan baru Hendra ketahui jika putranya itu pandai menggambar.
“Saturnus,” gumam Hendra dengan mata kuyu hampir menitihkan air mata.
Saturnus adalah kenangan yang begitu indah bagi Hendra. Marla yang membagi itu dengannya ketika mereka masih berpacaran dulu. Wanita cantik kesayangannya itu begitu menyukai planet Saturnus karena menurutnya indah. Dan sekarang, Nolan pun menyukainya.
Lagi, Hendra menatap foto Marla. “Pasti kamu yang memberitahunya, 'kan?” Gumamnya pelan penuh kelembutan. “Saturnus itu, adalah kamu.” Diam sejenak, sampai nafas Hendra kembali terdengar berembus kuat dari hidungnya.
“Saturnus itu, Nolan ku.” []
...—Bersambung—...
__ADS_1