Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Keputusan Akhir Yang Menjadi Awal


__ADS_3

...Part 08 Hadir...


...Jangan lupa untuk terus dukung MGT ya, agar aku semangat nulis...


...Selamat membaca......


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...08...


Nolan akan peduli padamu. Pegang ucapan saya.


Berbekal kata-kata itu, Caca kini datang ke meja SPV bernama Arkan sambil membawa sebuah amplop coklat berisi tulisan tangan pengunduran dirinya. Ya, Caca memutuskan untuk menerima pekerjaan dari Hendra dan rela melepas pekerjaan yang sudah ia tekuni selama dua tahun itu.


Caca pikir, dia bisa mencari pekerjaan lain jika misinya membawa Nolan kembali kepada sang ayah sudah berhasil. Setelah itu terwujud, Caca akan mencari pekerjaan yang lebih layak dan sesuai dengan kemampuannya.


Jam kerja sudah usai setengah jam yang lalu. Sekarang Caca hanya perlu menguatkan hati untuk meninggalkan tempat penuh kenangan dan tempat yang membuatnya merasakan menyukai seseorang meskipun orang tersebut tidak menau tentang perasaannya.


Pintu ia ketuk tiga kali, kemudian ia dorong setelah mendapatkan jawaban dari dalam.


Udara beraroma lavender bercampur coklat musk yang Caca tau aroma siapa itu, Caca tersenyum ketika menangkap sosok Arkan yang sedang sibuk mencari sesuatu di lemari kabinet sambil berjongkok membelakangi pintu. Ah, Caca diam-diam menyukai posisi Arkan yang seperti itu. Punggungnya yang lebar dan kekar, Arkan Terlihat...


Ca! Stop mikir yang macem-macem deh!! Stop!!


Caca segera mengalihkan otaknya yang mulai berpikir aneh-aneh tentang posisi Arkan itu.


“Ada apa, Ca?” tanyanya dengan suara khas yang dalam dan, aduh bagaimana ya Caca mendeskripsikan kesempurnaan seorang Arkan dimatanya? Intinya, Arkan itu tipikal Caca sekali.


Arkan bangun dari posisinya tadi, kemudian memutar posisi menjadi berhadapan dengan Caca. Dan tanpa banyak bicara, Caca meletakkan amplop coklat yang ia bawa di atas meja kerja Arkan yang seketika membuat kening Arkan yang sempurna itu berkerut.


“Apa ini?” tanyanya sembari meraih amplop tersebut kemudian memutar benang, dan mengeluarkan isinya, kemudian membuka kertas berisi tulisan tangan Caca. Wajahnya berubah datar tanpa ekspresi. “Resign? Kenapa tiba-tiba?”


Sebenarnya Caca tidak menyiapkan jawaban yang spesifik yang tentu saja akan mempermalukan dirinya sendiri.


“Itu, ada sesuatu yang harus saya lakukan dalam waktu yang cukup lama dan tidak bisa saya perkirakan akan selesai kapan. Jadi saya mohon pak Arkan menandatangani surat pengunduran diri saya.”


Arkan menatap lurus ke arah Caca, yang membuat Caca menunduk saat itu juga.


“Coba katakan, hal penting apa yang sampai membuat kamu mengundurkan diri. Apa ada masalah di sini?” tanya Arkan mencoba cari tau apa memang Caca sedang ada masalah dengan pekerjaan atau dengan pegawai lain hingga memutuskan untuk mengundurkan diri tiba-tiba seperti ini.


“Tidak. Saya tidak ada masalah apapun, dan siapapun disini. Saya hanya tidak bisa menjelaskan tentang alasan mengapa saya mendadak seperti ini.” kata Caca penuh penyesalan. Ingin sekali dia meminta kembali surat resign itu, membatalkan semuanya dan hidup tenang seperti sebelumnya.


“Lalu, apa alasan saya harus sampai melepas pegawai seperti kamu?”

__ADS_1


Caca mengangkat wajahnya memandang Arkan.


“Selama ini, saya melihat kinerja kamu, dan kamu satu-satunya pegawai paling semangat dan kompeten disini, menurut saya. Lalu, kenapa saya harus melepaskan kamu? Apa saya ahrus mempromosikan kamu agar kamu batal mengundurkan diri?”


Andai saja anda tau perasaan saya, pak...


Caca menahan sebuah rasa yang menghantam hatinya. Jadi, selama ini Arkan memperhatikannya? Ah, tidak. Maksudnya memperhatikan cara kerjanya? Caca baru tau kebenaran itu.


“Dan, kamu adalah alasan saya selalu semangat berangkat kerja.”


Oh Shi*iiit!! Dia sedang bercanda kan?


Caca membelalak melihat Arkan yang juga sedang menatap dalam pada manik matanya. Tatapan yang tidak pernah ia temukan sebelumnya, dan Caca dapat merasakan ada sesuatu dalam tatapan mata Arkan.


“Pak, saya nggak ngerti maksud pak Arkan berkata begitu.” tanya Caca sedikit tertawa karena menganggap kata-kata Arkan tersebut sebuah kelakar yang tidak harus ia tanggapi serius.


“Saya...saya...” Arkan gugup dengan wajah merah. Kemudian dia mengambil pena nya dari saku baju dan kembali mencari bagian yang memerlukan tanda tangannya. “Saya harus tanda tangan dimana? Disini kan?”


Caca yang semula seperti membeku, kini kembali dilempar pada kesadaran dan menjawab Arkan dengan suara dan gerakan gugup. Lalu dia berjalan mendekat. “I-iya. Anda tanda tangan disitu.” katanya sedikit kecewa karena sebentar lagi harus berpisah dengan atasan yang ia idolakan dan, iansukai itu.


Setelah selesai membubuhkan tanda tangan, suasana semakin canggung karena Arkan menjadi seperti orang bingung. Lalu, satu interupsi Caca menghentikan seluruh sistem kerja otaknya.


“Maaf jika saya pernah punya salah sama bapak selama saya bekerja disini.” ucap Caca sendu, namun ia sambung dengan sebuah senyuman manis yang selalu berhasil membuat Arkan merasa nyaman dan suka. “Tapi saya janji, kalau ada waktu saya akan mampir kesini. Bapak jangan pindah tugas kemana-mana, okey.” lanjut Caca dengan tawa kaku dengan mata sedikit berkaca-kaca.


“Atau, kalau pak Arkan di pindah tempat, kabari saya.” Arkan tersenyum ke arah Caca. “Saya akan datang ke tempat baru bapak.”


“Semoga semua hal yang kamu lakukan diluar sana, lancar dan nggak ada kendala ya, Ca.”


Caca menyambut telapak tangan Arkan dan menggenggamnya erat. Tangan besar yang selama ini sangat ia harapkan menggenggam tangannya, kini bisa ia sentuh. Hati Caca berdebar begitu saja tanpa diminta.


“Terima kasih, pak. Semoga karir bapak disini semakin cemerlang dan juga bersinar.”


***


Besok,


adalah hari dimana Caca akan kembali menginjak lantai Sekolah Menengah Atas. Berakting sebagai murid baru pindahan dari kota lain didepan teman-teman barunya nanti.


Memang, tidak ada yang akan ragu dengan wajah dan perawakan Caca yang masih seperti anak SMA, meskipun usianya sudah kepala dua.


Di tembok yang biasa tergantung seragam kerjanya yang sudah seminggu lalu berhenti ia pakai, kini tergantikan oleh seragam khas SMA Kemala—putih dan cream, serta dasi dan topi dengan logo khas yang memang menjadi ciri khas sekolah berstandar internasional itu terpampang nyata didepan mata.


Sumpah. Caca harus menahan malu agar aktingnya besok totalitas, perlu ditambahkan tanpa batas tidak ya? Caca ragu.


Ia bangkit dengan gerakan kasar, kemudian menatap pantulan dirinya sendiri yang langsung hadir di kaca lemari pakaian yang sudah berada disana bertahun-tahun. Caca frustasi menatap wajahnya sendiri, kemudian membanting tubuhnya lagi kebelakang hingga kepalanya membentur tembok cukup keras. Dia merintih, memeluk kepalanya sendiri dengan dua tangan, dan berharap otaknya tidak geger. Itu saja. Agar dia tidak lupa ingatan dan semakin nggak jelas.


“Aduh...”

__ADS_1


Caca meringis tak tahan dengan rasa ngilunya.


“Ca. Kamu ngapain?” tanya Bu Julia setelah membuka pintu kamar putri satu-satunya itu karena mendengar bunyi benturan yang cukup keras hingga mengejutkan dirinya yang sedang mengiris wortel di ruanga tengah yang letaknya ada didepan kamar Caca.


“Pala Caca kejedot tembok, bu. Sakit.” keluhnya sambil melengkung seperti udang goreng yang biasa dimasak ibunya setiap hari selasa.


“Lagian ngapain sih?!” ketus si ibu karena nggak habis pikir dengan tingkah putrinya sendiri. “Sini ibu lihat. Kali aja bocor.”


“Bu!!” teriak Caca terkejut karena nggak nyangka ibunya akan bilang seperti itu.


Meski sempat menolak dan berontak, pada akhirnya Caca nurut dan memberikan kepalanya kepada sang ibu untuk diusap dan di periksa.


“Untung nggak bocor. Hati-hati dong. Kepala itu aset berharga Ca.”


“Iya. Lagian Caca nggak sengaja kok tadi.”


“Jangan ceroboh. Kamu udah dibayar.”


“Iya, bu. Caca tau. Nggak usah diingetin ih. Jadi bad mood deh kalau inget itu.”


***


Pagi yang menegangkan. Caca sudah berada didepan gerbang sekolah ternama, elite, dan terakreditasi A itu dengan jantung berdegup sangat sangat kencang. Perlu dicatat, ‘sangat’nya ada dua.


Dia bahkan menjadi pusat perhatian setiap murid yang datang.


Kata pak Hendra sehari yang lalu melalui telepon, semuanya sudah beres. Tidak ada yang perlu Caca khawatirkan tentang orang dalam. Rahasia akan tersimpan aman dan rapi.


Pasti uang tutup mulutnya gede banget.


Caca berfikir random seperti itu, tapi pada kenyataannya memang begitu. Hendra rela kehilangan banyak uang demi mendapatkan kembali Nolan nya, Saturnusnya.


Caca kembali mengambil langkah. Ia menggenggam erat dua tali tas punggungnya. Kulit kuning langsat nya yang terpapar sinar matahari pagi begitu terlihat kontras dengan seragam yang ia pakai. Rambut hitam sebahu yang ia ikat menjadi satu dan tidak terlalu tinggi, kaca mata bulat yang ia kenakan untuk penyamaran tipis, dan tidak lupa, parfum vanilla lembut kesukaannya yang selalu membuatnya tenang dan percaya diri. Caca siap melewati hari ini. Siap membawa Nolan kembali untuk paman Hendra yang sudah membayarnya dengan jumlah yang tidak sedikit, bahkan Caca bisa membeli rumah baru lengkap dengan mobilnya sekalian.


Caca akan berusaha sebaik mungkin untuk membawa Nolan, dengan harapan tidak ada perasaan apapun yang nanti akan tumbuh untuk si Saturnus nya paman Hendra.


Ya, tentu saja. Usia dan strata mereka berbeda. Caca tidak akan melupakan itu.


“Okey, Ca. Fokus sama tujuan kamu. Jangan dengerin apapun yang dikatakan murid-murid labil itu tentang kamu nanti.” gumamnya menyemangati dirinya sendiri sambil berjalan. Hingga dia tidak menyadari jika di belakang langkahnya yang sibuk melewati gerbang pertama itu, ada sebuah motor dengan pengendara yang memperhatikannya lamat-lamat.


Nolan.


Ya, Nolan mengenali Caca hanya dengan melihat postur dan bentuk punggungnya. Dan juga...aroma Vanilla yang menguar dari tubuh gadis itu, Nolan sangat mengingatnya.


Sebuah seringai terbit di bibirnya bersama satu ide muncul dadakan di kepalanya. “Jadi, dia murid Kemala juga?” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2