
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
“Ca, apapun yang kamu dengar, apapun yang kamu ketahui tanpa aku tau apa itu, percayalah kalau aku masih Louis yang sangat mencintaimu.”
Louis tidak berbohong akan hal itu, dan ia mengungkapkan perasaannya secara tulus. Akan tetapi, ia tidak bisa mengatakan apapun tentang Gita pada Caca.
“Lalu, siapa Gita?”
Jantung Louis seakan berhenti berdetak ketika pertanyaan itu meluncur dari bibir wanita yang ia sayangi. Matanya terbelalak di balik punggung Caca.
“Apa dia pemilik jepit rambut yang aku temukan dirumah kamu?”
“Itu ... ”
“Sekarang, jawab aku dengan jujur sekali lagi. Apa kamu masih mencintaiku?”
Louis menegang. Ia menjauhkan diri dan menatap lurus kepada Caca.
Sehari yang lalu, mungkin dihari yang sama dengan Caca mencari informasi tentang dirinya, Louis juga mengadakan pertemuan face to face dengan seseorang.
Ya, dia adalah pria yang membuat Louis selalu di rundung rasa curiga dan cemburu. Pria itu adalah Nolan.
“Maaf terlambat.” kata Nolan menginterupsi. Ia duduk didepan Louis yang terlihat sudah jenuh menunggu. “Banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum datang kesini.”
Louis tersenyum jumawa. “Ya, aku tau kamu orang yang sangat sibuk. Mau pesan apa?”
Nolan dan Louis yang masih mengenakan setelan mahal sesuai kelas dan selera mereka masing-masing itu terlihat sama-sama membuka buku menu, kemudian memesan minuman dan beberapa makanan manis simple yang bisa dijadikan peneman ngobrol.
“Ada hal apa yang ingin kamu bicarakan denganku, sampai ngajak ketemuan begini? Bukannya kamu juga sibuk?” cerocos Nolan sok akrab. Ia memang menggugurkan image dinginnya didepan para orang-orang besar yang bisa ia jadikan teman atau apapun itu yang akan menguntungkan baginya. Maklumlah, jiwa bisnis juga harus tetap berjalan.
“Ada sesuatu yang ingin aku ketahui tentang hubungan kamu dan caca.”
Senyuman Nolan yang sebelumnya terlihat lebar, perlahan menyusut dan sirna. Namun ia kembali memaksa dirinya untuk tersenyum ditengah kelakar basi yang ia katakan didepan Louis.
“Ah, jadi itu tujuanmu mengajakku bertemu?”
“Ya. Caca tunanganku, dan kami akan menikah. Jadi tidak ada salahnya jika aku bertanya sesuatu yang aku anggap penting—”
__ADS_1
“Bukankah seharusnya kamu datang bersama Caca jika ingin membicarakan hal ini?” ketus Nolan membuat Louis tetohok. Ya, seharusnya memang begitu agar semuanya clear dan tidak terkesan ada yang ditutupi. Nolan tidak ingin berbasa-basi apalagi menghianati Caca dengan merusak sumber kebahagiaan wanita itu. Nolan sadar, Louis adalah sumber kebahagiaan Caca saat ini. Jadi, dia tidak ingin merusak itu.
“Aku, hanya ingin tau dari sisimu.” sahut Louis dingin mencoba mengelak. Dia tidak lagi terlihat ramah seperti sebelumnya. “Aku percaya penuh kepada Caca, dan ingin tau sisi dirimu yang terlihat ... menginginkan dia.”
Apa terlalu kejam jika Nolan berterus terang saat ini juga? Oh rasanya ia ingin sekali membeberkan masa lalu menyenangkan yang pernah ia lalui bersama Caca waktu silam, meskipun pada akhirnya tidak ada yang menyenangkan untuk mereka ingat sebagai kenangan indah.
“Jadi, kamu sekarang sedang cemburu padaku?” kelakar Nolan disemati nada canda dan juga tawa palsu.
Louis mengangguk jujur. “Ya. Dan kamu perlu menjelaskan padaku agar aku tidak lagi menaruh rasa curiga diantara rasa cemburuku terhadap Caca.”
Nolan tertawa lucu. “Seharusnya, kamu percaya saja sama dia. Caca tidak mungkin menghianati dirimu. Aku mengenal siapa Caca meskipun—”
“Ceritakan padaku apa hubungan kalian di masa lalu.” tegas Louis untuk Nolan.
Nolan yang berusaha slengean kembali memasang wajah serius. Haruskah dia jujur dan benar-benar mengatakan ini pada Louis? Apa ini akan baik-baik saja dan tidak merusak kebahagiaan Caca?
Muak rasanya harus memakai topeng menjadi orang terlalu baik didepan orang lain.
Nolan meraih gelas minuman yang baru saja di hidangkan pramusaji. Meneguknya tanpa memutus pandangan dari sosok Louis yang terlihat sangat intens memperhatikan dirinya.
“Kamu ingin tau hal ini, untuk menyerang kelemahan Caca jika dia melakukan kesalahan atau memojokkan dirimu?” tanya Nolan setelah meletakkan kembali gelas berisi mocktail itu diatas meja. Nolan selalu memilih minuman yang jauh dari alkohol, karena ia masih ingat betul jika Caca juga tidak menyukai cairan memabukkan yang bisa merusak kesehatan tubuh itu.
Insting Nolan berkata demikian. Ia tidak akan suka jika alasan Louis ingin tau tentang masa lalu mereka itu, akan dijadikan si pria untuk menjatuhkan mental Caca ketika mereka terlibat masalah.
Nolan mengangguk. Ia paham sekarang. Louis mungkin hanya salah paham dan dia perlu meluruskan itu agar hubungan Caca dan pria ini tetap dalam tahap baik-baik saja.
“Kami hanya teman.” kata Nolan tenang. “Kami dekat, dan kami tidak memiliki hubungan khusus apapun selama kami menjalin kedekatan sebagai teman.”
Ada satu kelegaan dihari Louis ketika mendengar itu dari mulut Nolan.
“Aku yang memiliki rasa pada Caca, dan itu tidak terbalas sampai kami bertemu lagi beberapa waktu yang lalu.” aku Nolan karena dia tidak akan lari dan menjadi pecundang dengan membiarkan Caca dijadikan sasaran kecurigaan seorang diri.
“Aku memaksa bertemu beberapa waktu lalu, dan dia menolak meskipun aku tetap datang ke tempatnya berada.”
Louis memicing mencoba menebak. Apa Nolan sedang bicara alasannya berada di area parkir apartemen Caca beberapa hari yang lalu?
“Dia bahkan memintaku untuk tidak lagi menemuinya jika tanpa dirimu.”
Louis sadar ia bersalah sekarang. Ternyata Caca tidak pernah menyembunyikan apapun darinya meskipun hal kecil inilah yang mengganggu Louis akhir-akhir ini. Dia dan Nolan benar-benar hanya berteman seperti yang dikatakan wanita itu. Louis juga tidak mendapat sorot berbohong sedikitpun dari mata Nolan.
“Dia sangat mencintaimu, Lou. Jangan pernah menyia-nyiakan wanita sebaik dia.”
Hati Louis mencelos. Lalu bagaimana dengan kebohongannya pada Caca? Akankah wanita itu menerima kenyataan jika dia pulang bersama Gita?
__ADS_1
“Jawab aku, Lou?”
Dan sekarang adalah kenyataannya.
Louis kembali dari lamunan tentang pertemuan diam-diam nya bersama Nolan.
“Apa dia pemilik jepit rambut yang aku temukan di rumahmu?”
Louis menatap sendu dan mencoba meraih wajah Caca untuk ia sentuh, namun untuk pertama kalinya wanita itu menghindar dan membuat lengan Louis menggantung di udara.
“Benar?” kata Caca, masih menuntut penjelasan dari Louis diantara jarak yang sudah tercipta diantara mereka berdua.
Tidak lagi ingin berbohong semakin jauh karena Caca bahkan sudah tau nama wanita yang mengantarnya pulang, Louis mengangguk dengan binar takut luar biasa. Apalagi saat melihat mata Caca yang sedikit berkaca-kaca dan membuang tatapan darinya. Louis takut Caca meninggalkan dirinya.
“Jadi benar kamu bersama wanita malam itu.” gumaman yang Caca ucapkan begitu menyayat hati Louis. “Kenapa kamu membohongiku, Lou?” lanjut Caca tanpa sanggup menatap wajah tunangannya. “Padahal, jika kamu mau jujur padaku, aku tidak apa-apa.”
“Ca, maafkan aku.”
Caca meneguk salivanya susah payah. Tenggorokannya terasa begitu kering karena menahan tangis. Dan dia juga tidak akan terlihat lemah hanya karena cobaan yang datang pada dirinya dan Louis. Tapi masalahnya, Louis sudah berbohong padanya, dan itu sangat sulit ia maafkan. Caca tidak menyukai sebuah kebohongan. Ia takut, karena sebuah kebohongan tidak akan pernah berakhir baik.
Caca membungkuk untuk meraih ember berisi air kotor. Dia memutar badan bersiap meninggalkan Louis karena menurutnya tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.
“Ca,” panggil Louis lembut, lalu menahan Caca agar tidak pergi. “Aku bisa jelasin ini padamu.”
“Jelasin apa lagi? Kamu sudah tidak jujur padaku. Dan mungkin ketidak jujuran itu, akan bertambah dengan ketidak jujuran lainnya saat kamu bicara padaku.”
Rasa percaya Caca perlahan sirna, dan Louis menyesal sudah tidak berkata jujur.
“Oke. Dengerin aku dulu.”
Caca diam memperhatikan wajah Louis. “Kita bicara nanti. Aku akan datang ke rumahmu setelah menyelesaikan pekerjaan hari ini.”
Caca menunduk dan tersenyum masam. “Baiklah. Kita bicara.” putus Caca pada akhirnya karena ia juga tidak mau egois hanya karena membenarkan sudut pandangnya sendiri. Tapi nama Gita, membuat Caca tidak bisa berfikiran jernih. “Aku akan mendengarkan seindah apa malam itu bagimu.”[]
...—Bersambung—...
###
Boleh minta komentar tentang bab ini dong?
Menurut kalian, apakah Caca harus menerima Louis kembali setelah mendengar penjelasan yang dikatakannya nanti?
Oh ya, mampir ke JyRu yuk, udah ada dua bab lho. Cerita JyRu juga pasti nggak kalah seru jadi, yuk baca...☺️
__ADS_1