Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Hujan


__ADS_3

...Akhirnya bisa fokus disini sekarang....


...Hai, part 28 hadir...


...Jangan lupa di dukung ya☺️...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...27...


“Dah lah. Ajak Gita aja.” seloroh Jonathan tanpa berfikir panjang.


“Gue masih waras Jo. Nggak bakal gue jilat ludah sendiri. Sorry.”


Jonathan menepuk punggung Nolan hingga berbunyi cukup keras, dan si empu mengumpat dengan menyebut nama salah satu penghuni kebun binatang. Hewan yang biasa bergelantungan di pohon itu jadi korban kekasaran mulut Nolan.


“Gue manusia, bukan monyet.” protes Jonathan nggak terima. Masa' wajah setampan Sandy William di samain sama monyet? Nggak etis dong?!


“Ya udah. Nggak usah bawa-bawa Gita, males gue.” sahut Nolan sambil mengulurkan tangan meraih kaleng Green Sand non alkohol didepannya yang sudah hampir tandas.


“Terus, siapa yang mau Lo gandeng?”


Nolan memutar wajah, mempertemukan manik matanya dengan Jonathan.


“Sebenernya, gue masih bingung. Apa motifasi komandan nyuruh kita bawa pasangan, sedangkan tanpa pasangan kita juga fine-fine aja. Malah lebih bebas.”


“Biar lebih semangat mungkin?” jawab Jonathan dengan bahu mengedik, takut salah tebak. “Atau, biar ada yang ngajak kita ngobrol aja mungkin. Biar nggak ngantuk waktu motoran, secara perjalanan luar kota yang bakal kita tempuh itu lebih dari tiga jam lho, Lan.”


Nolan pun tak bisa mengelak jika alasan tersebut menjadi faktor utama si pemilik club motor menyerukan ajakan membawa pasangan. Nolan menenggak minumannya lagi hingga kaleng minuman di genggamannya itu kosong.


“Lo sama Nanda?”


“Ya lah. Siapa lagi memangnya?!” jawab Jonathan sewot. Nolan juga sih tanya nya aneh-aneh. Kalau bukan Nanda—kekasihnya—lantas siapa?


Tiba-tiba terbesit satu ide di kepala Nolan.


“Ajak temen nggak apa-apa kan?”


“Memangnya, Lo punya temen?”


Nolan tidak yakin, tapi Caca pernah bilang jika mereka berteman. Lalu, tanpa basa-basi dan penuh percaya diri, Nolan menjawab pertanyaan Jonathan.


“Punya.”


***


Caca berlari sebisa mungkin mencari tempat teduh agar seragamnya tidak basah, setelah memposisikan motornya pada standart samping didepan sebuah halte yang ada di sisi tidak terlalu jauh dari pintu gerbang kawasan hunian elite kaum berduit, dan tentu jaraknya masih dalam radius beberapa kilometer dari sekolah. Caca melepas helm dan menepuk-nepuk rok seragamnya yang sedikit basah pada bagian depan.


Musim hujan begini memang kadang meresahkan bagi Caca. Bagaimana tidak? Dia itu bukan orang kaya yang bisa pergi keluar rumah dengan kendaraan super mahal yang bisa melindunginya dari panas teriknya matahari dan juga hujan. Nahasnya, dia juga pelupa, dan penyakit lamanya ini sedang kambuh hari ini. Dia lupa tidak membawa mantel di jok motor nya, padahal ibunya tadi sudah mengingatkan sambil berteriak super kencang sampai kucing tetangga yang berkunjung kerumahnya putar balik karena kaget dengan suara Bu Julia yang menggelegar.


Sepatunya sudah sedikit terkena air hujan, dan sweater nya juga sudah basah di bagian depan. Hujan memang turun secara tiba-tiba tanpa Caca sempat bisa menepi dadakan karena terlalu berbahaya.


“Gimana dong? Apa nanti aku masih boleh masuk dengan alasan berteduh karena hujan?” dumalnya sedikit kesal dan khawatir, karena hari ini dia ada ulangan matematika. Tapi langit tidak mau berkompromi dengannya, air turun semakin beruntun dan semakin lebat. “Hah, dah lah. Pulang aja kalau nggak boleh masuk.” gumam Caca sambil melihat ke arah jam tangan yang menunjukkan pukul 06.15 menit.


Sedangkan di tempat lain, Nolan masih malas keluar rumah padahal papanya sudah menyuruh Nolan untuk membawa mobil saja dari pada bolos.


Nolan itu keras kepalanya minta ampun, sampai-sampai papanya kesal dan meminta sopirnya untuk membujuk Nolan agar mau berangkat sekolah.


“Biar nanti pulangnya saya jemput, den.”


“Males sekolah, mang. Ada ulangan soalnya.”

__ADS_1


Si amang sopir menggeleng tak habis pikir. Dulu, dia ingin sekali menuntut ilmu setinggi langit agar bisa menempatkan diri di tempat yang baik karena memiliki pendidikan meskipun harus kandas karena masalah ekonomi. Sedangkan anak majikannya ini, tinggal berangkat saja sulit sekali sampai harus di bujuk kayak anak bayi.


“Saya dulu malah pingin banget sekolah tinggi. Biar bapak saya bangga, biar ibu saya bahagia, biar tetangga mandang saya juga nggak sebelah mata.”


Nolan menghentikan jarinya yang sedari tadi bermain game online kesukaannya. Ia menatap lurus pada tim bermain yang terpaksa harus ia tinggalkan karena mendengar cerita pak Maman—supir pribadi papanya yang sudah bekerja lebih dari usia Nolan.


“Tapi ya mau bagaimana lagi, den. Jaman dulu itu, yang miskin ya miskin saja, nggak ada bantuan atau tunjangan kayak sekarang. Jadi mang Maman bisa sekolah sampai SMP saja, terus ikut tetangga kerja di kota jadi kuli bangunan. Belajar nyetir mobil buat ngangkut material proyek, dan berakhir kenal pak Hendra, papa aden.”


Nolan terpekur mendengarnya. Entah mengapa akhir-akhir ini Nolan sering sekali mendengar cerita-cerita masa lalu orang-orang. Caca, mang Maman. Terus siapa lagi nanti?


“Jadi, den bagus ini beruntung banget hidup seperti ini. Nggak kayak amang dulu den, sulit.”


Saat itu juga Nolan berdiri, meraih tas punggungnya, kemudian berjalan melewati mang Maman begitu saja.


“Jemputnya nanti tunggu aku telepon saja.” katanya, agak ketus. Tapi Maman tau peringai sang tuan muda ini, hatinya mudah luluh. “Mobil papa?”


Maman tersenyum. “Iya, den. Mobil biasanya.”


Nolan berjalan keluar rumah dan menuju mobil papanya yang sudah terparkir di depan teras rumah. Hujan sangat deras, sesekali petir menyambar dan guntur bergemuruh.


Setelah duduk di kursi penumpang dan mengecek ponsel, Nolan mendengar Maman menutup pintu depan mobil dan suara hujan diluar sana teredam.


“Mang Maman nanti nganter papa Aden ngecek di kantor pusat sekitar jam sebelas sampai jam dua. Kalau Aden pulang sekitaran jam segitu, Aden tunggu mang maman sebentar ya?” tegur Maman seperti memberitahu Nolan kecil yang masih berusia lima tahun agar tidak meninggalkan sekolah kanak-kanak sebelum dijemput.


“Aku bukan murid TK yang bakalan di culik kalau pulang sendiri mang. Ya sudah, nanti pulangnya bareng temen aja kalau emang nggak bisa jemput.”


“Kalau begitu nanti saya bilang ke bapak saja kalau—”


“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”


Maman mengangguki keras kepala Nolan dengan menyalakan mesin mobil dan membawa pemuda itu menuju sekolahnya.


Selama perjalanan keluar kompleks, Nolan hanya diam dan sibuk dengan ponsel tanpa terlibat pembicaraan apapun dengan Maman. Sampai tak jauh dari gerbang keluar kompleks, tanpa sengaja manik mata Maman menangkap sosok berseragam sama dengan tuan mudanya, lalu berceletuk. “Bukannya itu anak SMA Kemala ya?”


Sebenarnya kalimat itu Maman gumamkan untuk dirinya sendiri, tapi Nolan malah ikut melihat keluar dan mendapati siluet Caca duduk di kursi tunggu halte. Nolan juga sudah memastikan jika itu memang Caca dari motor yang terparkir di sana.


“Bisa putar balik sebentar mang?”


“Lho, kenapa den?”


“Putar balik saja.” titah Nolan tak bisa dibantah yang akhirnya di amini Maman.


Jalur yang bisa digunakan untuk memutar jaraknya cukup jauh, jadi mereka harus membuang sekitar delapan menit untuk sampai kembali didepan halte tempat Caca berteduh.


Setelah berhenti disana, Nolan membuka pintu dan berlari keluar. Maman sampai terkejut dan hampir berteriak saat Nolan sudah kembali membanting pintu mobil dan menyapa Caca diluar sana.


“Nolan?” pekik Caca terkejut dengan kehadiran Nolan tiba-tiba dihadapannya.


“Lo mau bolos?”


“Enak aja. Aku lagi berteduh, nggak bawa mantel. Nggak lihat kamu, tuh lagi hujan!” seru Caca sampai berteriak-teriak karena suaranya kalah keras dengan suara rintik hujan yang turun diatas atap halte.


“Ya udah. Bareng gue aja.”


“Eh?!” pekik Caca karena sekali lagi terkejut ketika Nolan menarik tangannya begitu saja. “Motor ku—”


“Nanti jadi urusan gue.”


Nolan mengajak Caca menuju mobil mahal papanya, membuka pintu dan mendorong gadis yang sudah sedikit kuyup itu masuk kedalam. Tak berbeda jauh dengan Caca, seragam Nolan pun terlihat basah karena hujan.


Nolan menutup pintu mobil dan mengibaskan telapaknya sebelum mengacak surainya yang basah akibat guyuran hujan. Sedangkan Maman, masih terpaku pada posisinya menatap dua orang didalam mobil yang sedang ia kemudikan.


“Mang, bisa minta tolong?”


Maman terkejut dan segera mengendalikan dirinya kembali.


“E-eh. Iya den?”

__ADS_1


“Mana kunci motor Lo?” kali ini Nolan bicara pada Caca.


“Buat apa?”


“Mau motor butut Lo itu diambil tukang rongsok?”


“Eh, nggak lah!”


“Ya udah sini. Ribet bener.” dumal Nolan sebal bukan main karena Caca terlalu banyak membuang waktu. Tinggal kasih kunci saja ngajak debat. Padahal tinggal ‘nih’ dan Nolan nerima, udah beres.


Caca mengulurkan dengan gerakan ragu, kunci berbandul kaca berbentuk hati bening dan berkilau itu diatas telapak besar Nolan yang terbuka menadah.


“Mang, tolong bawa motor itu pulang kerumah. Bilang juga ke papa, mobilnya Nolan pinjem.” kata Nolan setelah menerima kunci motor dari Caca, dan mengulurkan kepada Maman.


Caca terbelalak. Enak bener merintah gitu aja? Kayak nggak ngehargai banget sama orang tua.


Caca mencoba merebut kembali kunci itu dari tangan Nolan. Sedangkan Maman, hanya bisa melihat keduanya dengan bibir menganga tidak percaya.


“Nggak deh. Aku turun aja. Nanti kalau reda baru berangkat—”


“Lo bisa telat. Kita ada ulangan hari ini.”


Maman sedikit mengerti situasi. Dengan besar hati dia menerima kunci yang sebelumnya menjadi rebutan dua anak manusia itu.


“Ya, tuan.” jawabnya, legowo.


“Eh, saya nggak ada mantel lho pak?!” tutur Caca menghentikan aksi perebutan kunci motor karena sudah jatuh ke tangan Maman.


Maman tersenyum. “Nggak apa-apa, neng. Mang Maman bisa ganti baju dirumah. Neng berangkat sekolah sama den Nolan saja, nanti keburu telat. Motornya biar saya bawa ke rumah, nanti neng ambil kalau pulang sekolah.”


Tanpa membuang banyak waktu lagi, Maman keluar dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan. Dia rela masuk angin hari ini, demi tuan mudanya yang terlihat berubah hangat dan perhatian seperti yang pernah dia kenal dulu.


Suasana berubah hening ketika dua-duanya masih duduk di bangku kemudi, hanya berdua. Dan tanpa sengaja pandangan mereka bertemu tidak lebih dari satu detik, kemudian dua-duanya mengalihkannya dengan cepat ke arah lain.


“Gue pindah kemudi.” kata Nolan, bergerak melangkah dengan kaki terbuka lebar menuju kursi kemudi. Caca? Jangan di tanya, dia susah payah menahan nafas dengan perilaku Nolan yang dinilainya langkah ini. Apalagi ketika harum khas Nolan menyapa hidungnya, Caca sampai berdebar dan bertanya-tanya dalam satu waktu. Parfum apa yang di pakai Nolan? Kenapa baunya begitu lembut namun tidak meninggalkan kesan maskulin pada diri anak laki-laki itu?


Akan tetapi lamunan itu tidak berlangsung lama ketika suara baritone Nolan terdengar berseru padanya. “Pindah depan!”


Caca mengedip cepat, lalu melihat keluar dan ternyata mang Maman sudah hilang. Cepat sekali orang itu?


“Aku disini saja.”


“Gue bukan sopir Lo, dan Lo bukan majikan gue. Jadi pindah depan.”


Caca bergerak gusar. Ia membayangkan bagaimana kaki nya harus melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Nolan tadi.


Tidak. Itu bahaya. Rok nya bisa saja robek atau terbuka jika harus—


“Cepetan.”


“I-iya.”


Tanpa membuat pertimbangan lain, Caca segera melangkah kedepan melewati beberapa bagian mobil yang cukup membuatnya kesulitan. Kemudian, setelah berhasil duduk di kursi depan, dengan cekatan Nolan meraih tali sabuk pengaman dan memasangnya pada Caca.


“Jangan GR. Gue yakin Lo gak bisa pasang seatbelt.”


Wajah Caca memerah. Nafasnya kembali tertahan ketika satu sisi wajah Nolan berada tidak begitu jauh dari wajahnya. Tanpa ia duga, jantungnya berdebar melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan yang satu ini. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang tampan, serangan dobel untuk jantung Caca. Ah, aromanya—


No, no. Ini bukan serangan dobel, tapi serangan lapis tiga.


“Kapan lagi naik mobil mahal kayak gini, kan?” celetuk Nolan tanpa basa-basi.


Caca sedikit tersentil tapi yang dikatakan Nolan memang benar. Kapan lagi dia bisa merasakan naik mobil harga milyaran begini kalau bukan atas kemurahan hati si begundal Nolan?


Caca akan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah menurunkan hujan pagi ini hingga dia bisa sedekat ini dengan Nolan meskipun, ia sadar harus tetap ada tembok pembatas yang harus ia pertahankan agar tidak terlalu jauh membangun angan.


Dia juga tidak akan melupakan momen hujan yang menurutnya berkesan hari ini. Karena, mulai sekarang akan ada orang yang dia kenang ketika tangisan langit itu turun menyapa bumi. Dia adalah Saturnus nya bumi. Dia adalah Nolan. []

__ADS_1


...—Bersambung—...


__ADS_2