
...Part 25 ada...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa dukungan kalian ya😉...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...25...
Rolls-Royce. Papanya bilang Nolan boleh memakai Rolls-Royce milik papanya tapi pria itu melarang Nolan menyentuh Bugatti.
Tidak salah lagi, Hendra memang tidak ingin putranya memakai mobil mahal itu sebagai kendaraan meliar di jalanan dan dijadikan taruhan. Tapi, Nolan menolak. Ia lebih memilih Harley miliknya untuk ia tunggangi sebagai alat transportasi.
“Papa dengar kamu ikut komunitas motor, benar?”
Nolan berusaha acuh dan hanya fokus pada game online di ponselnya.
“Nolan. Papa bicara sama kamu.”
Kesal, Nolan menghela nafas cukup kasar dan menatap tajam pada sosok ayah yang baru saja pulang sehari yang lalu itu. Kadang Nolan berfikir, apa yang dilakukan papanya diluar kota sampai betah dan sama sekali tidak ingin tau keadaannya dirumah. Apa papanya itu pulang pada wanitanya dulu tanpa sepengetahuan Nolan?
Pikiran itu tiba-tiba terbesit dan membuat Nolan tersulut emosi.
“Iya. Memangnya ada masalah kalau Nolan ikut Club motor?” tanya Nolan tak mau ambil pusing memikirkan perasaan papa nya. Toh, papanya juga nggak mungkin peduli, seperti biasanya.
“Kamu anak papa, jadi papa berhak tau apa saja yang kamu lakukan. Termasuk kegiatan kamu—”
“Sejak kapan papa peduli sama Nolan, hm?”
Berbicara dengan papanya, memang selalu berakhir seperti ini. Berdebat tanpa henti dan berakhir saling serang karena berbeda pendapat.
“Sebaiknya papa urusi saja pekerjaan atau apapun yang bisa membuat papa senang dan betah diluar sana tanpa peduli rumah.” jawab Nolan santai seolah sedang berbicara dengan temannya sendiri. Namun disisi lain, Hendra sudah mencoba menahan semua emosi yang mulai terbentuk di dadanya. Ia hanya tidak ingin Nolan semakin menjauh darinya. Dia hanya butuh bersabar sampai Caca berhasil mengubah perilaku Nolan.
Bicara tentang usaha Caca, ada sedikit kemajuan yang diperlihatkan oleh Nolan. Dia jadi lebih mau mengungkapkan ketidaksukaan pada dirinya dibandingkan diam. Nolan jadi lebih ekspresif dibanding sebelumnya.
Hendra sekarang sedikit paham dan tau mengapa Nolan sangat membencinya. Putranya itu terlihat seperti merindukan sebuah kasih sayang yang dulu pernah ia curahkan tanpa henti sebelum masalah itu datang.
“Nak,”
“Sudahlah pa. Kalau papa pulang cuma mau berdebat sama Nolan, mending papa nggak usah pulang sekalian.” sahut Nolan tak kenal hormat. “Atau Nolan saja yang pergi daripada papa bingung harus mikirin Nolan yang nggak pernah sejalan sama papa.”
Kalimat Nolan membuat jantung Hendra sempat berdentum cukup kuat dan menyakitkan. Seburuk itukah dia sampai Nolan tidak menginginkannya ada dirumah?
“Kalau kamu pergi, kamu mau makan apa diluar sana? Minta siapa?” tanya Hendra sesuai kenyataan. Dia hanya berniat bercanda dengan tawa kecil saat mengatakan kalimat itu, agar suasana tidak semakin tegang.
“Gem-bel juga punya cara sendiri untuk bertahan hidup.” Nolan menjawab dingin, lantas berdiri. Berada diudara yang sama dengan papanya itu terasa begitu menyiksa.
Tak mau membiarkan Nolan lolos begitu saja, Hendra mencengkeram pergelangan tangan sang putra, lalu berkata. “Papa memang tidak sebaik yang kamu inginkan. Tapi papa ingin kamu hidup dengan baik tanpa harus mengemis pada orang lain agar kamu tetap bisa hidup.”
__ADS_1
Tak ingin memberontak, Nolan hanya menoleh ke arah sang papa. Menatap fitur yang dulu menjadi figur mengagumkan baginya.
“Jadi, sekarang mau papa apa?”
Nolan berbalik, menyentak lengannya dari cengkraman sang papa, kemudian berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya disana. “Papa nggak mau Nolan pergi, tapi papa selalu ikut campur urusan nolan. Sebaiknya papa saja yang pergi, bagaimana?” tantang Nolan, karena keduanya masih dengan topik yang begitu menyebalkan baginya.
“Papa akan pergi setelah melihat kamu ... memaafkan papa.” kata Hendra dengan intonasi yang sangat pelan, penuh kekecewaan.
***
Caca mencari keberadaan Nolan saat jam makan siang datang. Ia berlari menuju kelas IPA-5, berniat agar bisa segera menemukan Nolan dan makan siang bersama di kantin.
Entah sudah gila atau apa, Caca seperti memiliki kebiasaan baru ketika jam istirahat. Yakni mencari Nolan dan mengajaknya makan siang tanpa memperdulikan bisik-bisik mulut julid yang mencoba merobohkan rasa kepercayaan dirinya.
“Nggak ada.” katanya setelah melongok ruang IPA-5 dan tidak mendapati sosok Nolan disana. Beberapa teman sekelas Nolan mulai berbisik dibelakang punggungnya ketika Caca berbalik meninggalkan ruangan tersebut. Bisik-bisik yang bisa disebut bukan bisik-bisik, karena Caca bisa mendengarnya dengan jelas. “Apa dia sudah ke kantin lebih dulu?” katanya mencoba mengalihkan semua hal menyakitkan yang ia dengar dari suara orang yang membencinya.
Caca segera memacu langkah. Ia menuruni anak tangga dan berjalan di koridor lantai bawah, pada deretan ruang-ruang yang menjadi tempat praktek, lab komputer, dan beberapa ruangan lain yang berbeda-beda manfaat.
Kemudian Caca tanpa sengaja menangkap siluet Nolan berjalan ke arah yang sama dengan tujuannya, kantin. Tapi, sebelum sampai di tempat yang mungkin kini sedang riuh oleh penduduk SMA Kemala, Caca melihat Nolan menghilang bak ditelan bumi. Hilang begitu saja.
Caca tercengang. Karena penasaran, Caca pun berlari dengan langkah cukup cepat. Disini sepi, dan sedikit menakutkan memang. Tidak mungkin nolan diculik h**** kan?
Caca berlari hingga ke ujung, namun Nolan memang tidak terlihat. Kemudian ada beberapa murid yang lewat dan menatap aneh pada Caca, tapi ia tak pedulikan itu. Ia hanya perlu menemukan Nolan.
Langkah sedikit panik itu berjalan serampangan. Hingga tanpa sengaja matanya menangkap pintu sebuah ruangan terlihat sedikit terbuka. Caca berhenti disana dan ingin memastikan. Tangannya terulur meraih gagang pintu, lalu mendorongnya pelan dan melongokkan kepalanya masuk.
“Ini gudang ya?” katanya pelan, namun suaranya justru seperti menggaung di dalamnya. Semakin penasaran, Caca akhirnya membawa langkahnya yang ragu untuk masuk semakin jauh ke dalam ruangan yang terdapat banyak sekali meja kursi, dan juga ada beberapa white board yang tidak terpakai.
Buru-buru ia berbalik dan hendak berlari keluar, tapi sesuatu mengejutkannya. Sebuah sosok berdiri didepan pintu yang sebelumnya Caca dengar mengatup tertutup.
“Tutup pintu kalau sudah masuk kedalam.”
Oh astaga. Hampir saja jantung Caca jatuh ke dasar lambung saking terkejutnya. Ia tidak tau jika Nolan memang ada didalam ruangan ini. Lalu dengan nafas sedikit memburu, Caca mengusap dadanya.
“Kenapa nggak ngomong apa-apa sih? Bikin kaget saja. Aku kira kamu hantu tau.”
Nolan hanya diam, kemudian berjalan sambil meraih kantong keresek yang sebelumnya sudah ia letakkan disini. Ia melupakan rokoknya di tas, jadi ia kembali sebentar ke kelas dan mengambilnya tadi. Hingga ia merasa diikuti oleh seseorang yang tidak ia duga orang tersebut adalah Caca.
“Ngapain Lo ngikuti gue?” tanya Nolan pelan, kemudian duduk di sudut ruangan yang biasa ia tempati. Caca mengikutinya.
“Ayo ke kantin.” ajak Caca enteng karena memang biasanya mereka makan bersama disana.
“Lagi nggak mood. Lo makan saja sendiri sana. Tutup pintunya setelah keluar. Gue nggak pingin ada yang tau kalau tempat ini gue datangi.”
“Jadi, ini tempat rahasia?”
Nolan menatap Caca dengan pupil coklatnya yang indah, lantas tersenyum kecil. “Bisa dibilang begitu.”
“Kamu sering datang kesini?”
“Eumm.”
Caca mendongak, menatap setiap sudut ruangan yang tidak kotor, tapi tetap saja menakutkan karena ruangan ini seperti tidak terjamah oleh nafas manusia.
__ADS_1
“Menakutkan, Nol.”
“Tapi gue tenang, disini.”
Sekarang giliran Caca menatap Nolan dengan sorot penuh tanya. Ia tidak habis pikir kenapa Nolan ini sangat berbeda sekali ketika ia semakin mengenalnya.
“Kenapa?” tanya Nolan memposisikan dirinya duduk dilantai, lalu membuka satu kaleng minuman berkarbonasi yang ia beli di koperasi sekolah tadi sebelum datang kesini, kemudian meneguknya.
“Aneh.”
“Kalau begitu, silahkan pergi. Tinggalin ruangan ini.” ketus Nolan tak terima ketika Caca menyebutkan kata aneh didepannya dengan terang-terangan.
Bukannya pergi, Caca memilih duduk tak jauh dari Nolan kemudian kembali berbicara.
“Bukan kamu, tapi aku, Nol.”
Nolan menoleh dan menatap Caca dengan dahi berkerut yang disambut sebuah senyuman hangat dari bibir Caca.
“Aku memiliki trauma dengan tempat kosong semacam ini. Tapi aneh, kenapa sekarang aku seperti tidak merasa ketakutan sedikitpun?”
“Memangnya, apa yang pernah terjadi?” tanya Nolan penasaran. Entahlah, hanya sekedar penasaran. Dulu Gita juga memiliki sebuah trauma, tapi rasa penasaran Nolan tidak seperti rasa ingin taunya seperti sekarang.
Caca menunduk mengingat hari itu.
“Aku pernah di sekap ayah di sebuah gudang yang sangat menakutkan.”
Nolan diam mendengarkan, bahkan ia sampai lupa tidak menyulut rokoknya karena penasaran akan kelanjutan cerita kehidupan Caca.
“Ayahku bukan orang baik-baik, dan kami bukan orang kaya raya.” lanjutnya sembari kembali mengangkat wajah dan menatap sekilas Nolan. “Sebelum aku kembali ke kota ini, aku pernah hendak dijual saat itu oleh ayah untuk membayar hutangnya yang cukup besar pada seseorang. Aku di sekap di sebuah gudang menunggu seseorang datang untuk menjemput ku.”
Tanpa Nolan duga, tangannya mengepal erat mendengar itu. Ia begitu terkejut ketika mendengar Caca memiliki trauma dimasa lalu yang begitu mengerikan.
“Tapi, Tuhan masih sayang padaku. Hingga aku bisa membebaskan diri setelah usaha kerasku mencari jalan keluar untuk melarikan diri.”
Nolan tak melepas sedikitpun maniknya dari sosok Clarita yang tiba-tiba hadir dan berusaha masuk kedalam kehidupannya itu.
“Sekarang dimana ayah Lo?”
Caca tertawa miris. “Entahlah. Ibu berpisah dengannya setelah tau aku mau dijual. Lalu aku dan ibu kembali ke kota ini untuk menghindari ayah.”
Nolan terenyuh. Masa lalu Caca begitu menyakitkan. Lebih miris dari hidupnya yang tak pernah sedikitpun mengalami kekurangan.
“Sejak saat itu, aku selalu merasa ketakutan dan menghindari tempat yang ... seperti ini. Tapi anehnya—” Caca menjeda dan menatap Nolan. “Aku tidak ketakutan sekarang. Apa itu karena ada kamu?”
Nolan sempat melebarkan bola matanya mendengar hal itu, wajahnya terasa panas hingga mungkin sekarang sedang memerah karena—
“Maksudku, karena aku tidak sendirian di sini. Ada kamu yang juga di ruangan ini. Jadi ini tidak menakutkan untukku.” lanjut Caca membuat Nolan seketika mengempis. Baru saja dia hampir besar kepala.
“Oh, mungkin. Bisa jadi.” sahut Nolan kaku.
Caca tersenyum sekali lagi dengan semua kelembutan di wajahnya. “Kamu sudah tau masa lalu yang selama ini aku simpan rapat-rapat dari siapapun. Jadi,” Caca lagi-lagi menjeda. Membuat atensi Nolan seketika berpusat padanya. “Maukah kamu berbagi tempat rahasia denganku?” []
...—Bersambung—...
__ADS_1