
...Selamat membaca...
...Terima kasih untuk yang sudah menyalurkan energi positif dan semangat untuk Othor ya ☺️ kalian memang orang baik....
...Semoga hari kalian menyenangkan....
...•...
...[•]...
“Bagaimana dengan ayah, Bu? Caca butuh wali.” tanya Caca, menatap sendu dan takut kepada manik sang ibu. Memang benar apa yang dikatakannya tentang wali. Tidak bisa dielak jika Joko adalah orang yang paling dibutuhkan ketika Caca hendak membina rumah tangga begini.
Dan inilah titik puncak sebuah keteguhan untuk seorang Julia. Dia harus memilih antara tetap tidak akan menjadikan Joko sebagai wali nikah putri nya, atau dia akan memberi kesempatan untuk pria itu menjadi bagian dari hari sakral bagi Caca. Lalu, bagaimana nanti jika orang lain menilai Nolan berbeda dari sebelumnya ketika mereka tau jika Caca adalah mantan nara pidana yang terjerat kasus jual beli manusia? Sungguh pilihan sulit, dan harga diri Nolan menjadi taruhannya.
“Itu, ibu juga tidak tau harus bagaimana.” kata Julia dengan airmuka seperti ingin menangis. “Apa Nolan tau tentang bapakmu?”
Caca mengangguk, lantas menundukkan kepalanya. “Dia tau. Bahkan dia pernah bertemu langsung dengan ayah.”
“Apa?” tanya Julia kaget. Sepertinya dia melewatkan banyak hal karena terlalu sibuk bekerja untuk menyambung hidup.
“Nolan, pernah terlibat perkelahian dengan ayah, beberapa tahun yang lalu.”
“Bagaimana bisa?”
Caca mencoba mengumpulkan kembali keberaniannya untuk menatap mata sang ibu. Ia lalu menarik nafas dalam dan mulai menceritakan kronologi kejadian malam itu, di taman ketika Nolan masih berstatus murid SMA.
“Ibu ingat, sepuluh tahun lalu ketika Caca pulang bersama Nolan dengan wajah lebam?”
Julia menggeleng. Ia sama sekali tidak mengingatnya.
“Maaf Caca berbohong saat itu, karena Caca tidak ingin ibu khawatir pada Caca.” ucap Caca memberi penjelasan agar ibunya tidak semakin terkejut dan berakhir salah paham. “Waktu itu, ayah yang membuat Caca begitu. Lalu Nolan datang dan menghantam ayah hingga babak belur didepan banyak orang.”
Julia hanya diam terpaku. Matanya menatap lurus pada sosok Caca yang sekarang tersenyum ke arahnya.
“Sejak hari itu, Nolan tau bagaimana wajah dan kelakuan ayah karena Caca cerita banyak tentang kita, bu.”
Julia mendengus keras mendengar penjelasan Caca tentang bagaimana cara Nolan tau tentang Joko. Tidak bisa dipungkiri, dalam benak hatinya yang paling dalam, dia malu setengah mati. Bagaimana bisa, orang seperti mereka akan hidup dalam lingkungan Nolan yang tentu saja pasti menjadikan nama baik sebagai pondasi dasar bersosialisasi? Julia takut, jika Caca dan Nolan tidak akan bisa bersama dalam waktu lama karena perbedaan kehidupan strata sosial yang begitu mencolok.
“Kamu yakin ingin bersama Nolan, Nak?” tanya Julia lembut, memastikan sekali lagi tentang keputusan Caca yang memilih hidup berdampingan dengan Nolan. Karena sebelumnya, Julia juga tidak begitu setuju ketika Caca bersama Louis. “Ibu ... takut.”
Caca menatap sayu pada sang ibu. Kelopak matanya tiba-tiba saja dipenuhi embun yang lolos begitu saja tanpa diminta. Lantas, ia mengangguk ragu.
“Iya, Bu. Do'akan yang terbaik untuk kami berdua agar kami bisa menjalani semuanya bersama-sama.”
***
__ADS_1
Hantaran menjadi salah satu syarat utama seorang pria yang hendak menjadikan seorang perempuan menjadi pendamping hidupnya.
Dalam adat dan kepercayaan apapun, hantaran atau yang juga sering kali di sebut dengan seserahan ini wajib diberikan kepada pihak perempuan sebagai simbol dan bukti bahwa calon pengantin pria mampu memberikan nafkah kepada calon mempelai wanita sebagai nafkah lahir dan batin.
Hari ini, Caca dan Nolan di sibukkan dengan menemui salah satu jasa Wedding Organizer yang akan mereka gunakan untuk melakukan resepsi pernikahan.
Caca tak henti-hentinya meneguk saliva dan membolakan kedua matanya ketika melihat daftar harga yang ditawarkan oleh pihak WO.
Berbeda dengan Caca, Nolan terlihat santai dan tidak gugup sama sekali melihat digit angka yang tertera diatas buku menyerupai agenda namun terlihat begitu elegan dengan gambar dan foto beberapa konsep pernikahan terbaru yang mereka miliki.
Nolan membalik ke halaman terakhir. Disana terlihat gambar sebuah konsep outdoor yang sepertinya begitu menyenangkan.
“Ini, konsep dekorasi baru yang belum pernah di gunakan oleh siapapun. Ini paling fresh di tempat kami.” kata pemilik WO berapi-api, begitu bersemangat mendapatkan klien seperti Nolan.
Dekorasi pernikahan dengan konsep Secret Garden berwarna pastel itu begitu memukau untuk Nolan. Ia bahkan sudah jatuh cinta pada konsep itu pada pandangan pertama.
“Kamu mau yang seperti ini, Ca?”
Caca menatap Nolan yang masih memperhatikan gambar itu dengan seksama dengan sebuah senyuman hangat yang tercetak di bibir indahnya.
Caca mendekatkan bibirnya pada telinga nolan. “Apa nggak terlalu mahal?” bisiknya berharap si pemilik WO tidak mendengar ucapan primitifnya.
“Nggak masalah. Sekali seumur hidup.” Jawab Nolan dengan nada berbisik ke arah Caca. Entah mengapa suasana hati Nolan begitu bahagia hari ini. Dia tidak ingin hari ini cepat berlalu.
“Nanti, konsep undangannya akan saya kirimkan contohnya ke E-mail kaka Nolan. Bisa dipilih, suka yang digital, atau undangan normal seperti biasanya.”
“Kalau misalnya digital, apa keunggulannya? Bisa mengirim souvenir juga?” tanya Nolan menyergah perhatian si WO.
Nolan hanya ingin hari membahagiakan yang akan ia adakan itu, memberikan kenangan menyenangkan yang akan ia kenang sampai nanti bisa diceritakan ke anak cucu.
“Contohnya?”
Sejenak, pemilik WO itu seperti memikirkan konsep souvenir yang ditanyakan Nolan.
“Bisa dengan video perjalanan hidup kalian berdua, maybe?”
Caca terlihat tidak setuju. Perjalanan hidupnya tidak ada yang membanggakan dan perlu di kenang. Ia merapatkan pelukannya pada salah satu lengan Nolan, dan tanpa menunggu detik berubah Nolan sudah mengambil keputusan.
“Sepertinya saya lebih tertarik dengan undangan biasa. Bukan digital.”
“Ah, begitu ya? Nanti biar tim mengirim contohnya ke E-mail kaka ya,”
Nolan mengangguk. Lalu ia menoleh sekali lagi ke arah Caca, meminta wanita kesayangannya itu untuk menjatuhkan pilihan.
“Jadi, mau yang mana?”
Caca memperhatikan wajah rupawan Nolan, “Terserah kamu, saja. Semuanya cantik dan aku tidak bisa memilih.”
__ADS_1
Nolan tertawa. “Kamu ini. Biasanya cewek itu cerewet, minta ini itu. Tunjuk ini begini ini begitu, tapi kamu malah terserah aku?”
Si WO tertawa mendengar suara bercanda Nolan yang begitu dominan. “Calon istri Kaka ini cantik dan penurut ya?”
Nolan hampir menyemburkan tawa didepan wajah pria berambut ikal itu. “Tidak juga.” sahut Nolan jujur, yang membuat dirinya menerima satu cubitan kecil di lengan.
“Ya sudah. Pilih yang terakhir aja kalau kamu nggak keberatan.”
Nolan menatap penuh sayang ke arah Caca, kemudian mengusap satu sisi wajah Caca dengan usapan lembut yang membuat pipi gadis itu merona.
“Baiklah, saya ambil dekor yang terakhir. Pembayaran nya saya lakukan dengan sistem DP saja.” kata Nolan mendapatkan anggukan dari sang lawan bicara.
“Bisa.”
***
Setelah mutuskan untuk membuat salah satu dekor bertema outdoor, Nolan membawa Caca untuk makan malam. Ia masih perlu bicara banyak hal bersama Caca tentang rencana pernikahan mereka, termasuk hantaran.
“Nanti, akad nya di satu tempat aja ya, Ca?” tanya Nolan setelah meneguk hampir setengah air putih diatas meja makan restoran. “Aku nggak mau terlalu banyak pindah-pindah tempat.”
Caca setuju dengan usulan Nolan karena dia juga tidak ingin kelelahan.
“Aku—ingin bicara satu hal yang sangat penting untuk akad pernikahan kita, n
Nol.”
“Eum, katakan.”
Caca meremas gagang sendok karena sedikit takut mengatakan ini kepada Nolan. “Apa ayah perlu hadir sebagai wali untukku?”
Nolan juga baru ingat jika pernikahan ini butuh wali. Terutama Caca.
Ia mengangkat pandangan, lalu menyatukan telapak tangannya untuk dijadikan sanggahan dagunya.
“Kenapa tidak? Kamu butuh wali Ca. Dan ayahmu masih hidup, jadi tidak ada masalah jika kamu—”
“Masalahnya, ini akan berpengaruh pada reputasi dan nama baik kamu, Nolan. Dan ayah memiliki masa lalu kelam yang pastinya akan membuat nama baik kamu menjadi buruk.”
“Kata siapa?”
Bola mata Caca hampir melompat keluar mendengar sanggahan Nolan untuk pendapat pribadinya kepada sang ayah.
“Tidak akan terjadi apapun meskipun ayah kamu hadir didepan publik. Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir.”
Perasaan Caca berubah tidak karuan. Semuanya vampir aduk antara senang, tenang, dan khawatir.
“Ayah bukan orang baik, nol. Dan aku beneran takut kalau nanti berpengaruh ke karir kamu.”
__ADS_1
“Percaya sama aku, nggak akan terjadi apapun.” kata Nolan tenang, ia lantas mengulurkan tangannya dan meraih telapak tangan Caca untuk ia genggam. “Minta saja ayahmu datang sebagai wali. Kita menikah. Aku bisa memastikan jika semuanya akan baik-baik saja, dan tidak akan terjadi apapun setelahnya.” []
...—Bersambung—...