
...Part 30 datang...👏...
...Selamat membaca...
...Jangan lupa dukungannya ya☺️...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...30...
Leonard?
Leonard teman sekelas?
Caca menebak, tapi semua tebakannya itu benar jika Leonard yang dimaksud Nolan adalah Leonard yang sama yang ada dikelasnya, itu berarti alasan Nolan terlihat begitu membenci sekolah tidak jauh-jauh dari keberadaan Leo di sekolah yang sama. Tapi, apa masalah mereka? mengapa Leonard penyebab dari kebencian seorang putra terhadap ayahnya sendiri? Apa karena papanya seorang player?
Ah, tidak-tidak!
Tapi, dari terkaan tidak berdasar itu, Caca juga tidak melihat sedikitpun sisi seorang player dari sosok Hendra. Pria itu lebih terlihat memiliki wibawa yang besar dari pada seseorang yang suka bermain wanita.
“Sudah lama nunggunya, Ca?”
Suara yang baru saja menyapanya itu begitu mengejutkan Caca hingga bahunya terjingkat, lalu membawa Caca kembali pada kenyataan jika dia hari ini meminta bertemu dengan Hendra. Dia ingin mempertanyakan semua hal yang masih disembunyikan pria itu darinya, khususnya tentang hubungan antara Nolan dan Leonard.
“Ah, baru saja sampai kok, paman.” kata Caca bergegas berdiri dan menyalami tangan Hendra.
“Sudah pesen makanan? Maaf saya agak telat karena masih harus memeriksa pekerjaan di lapangan.”
Sekilas, Hendra terlihat seperti orang baik-baik dan tidak mungkin Caca menuduh pria ini seorang player di belakang keluarganya, yang berakhir dengan hadirnya Leonard diantara mereka. Begitu seharusnya bukan?
“Belum,”
“Pesen aja. Sama minumannya sekalian.” kata Hendra sambil mengangkat lengannya tinggi untuk memanggil salah satu pramusaji di restoran mahal yang biasa mereka jadikan tempat bertemu akhir-akhir ini.
Pembicaraan mereka terjeda karena sang pramusaji datang begitu cepat untuk memberikan layanan, kemudian menyodorkan buku menu di atas meja, tepat didepan Hendra dan caca. Hendra memberi isyarat agar Caca memilih makanan yang dia inginkan, sehingga membuat Caca mau tidak mau memesan beberapa menu makanan karena Hendra terkesan memaksa. Yang menjadi alasan lain Caca tidak bisa menolak permintaan Hendra agar dia memesan adalah, menu makanan yang disediakan disini berupa makanan bergaya lokal juga Eropa yang sesuai dan cocok dengan lidah Caca.
Setelah memilih beberapa makanan dan juga menentukan pilihan minuman, Caca dan Hendra berusaha kembali ke topik pembicaraan mereka.
“Jadi, ada hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan saya?” tanya Hendra kepada Caca dengan intonasi lembut, menyatukan telapak tangan untuk dijadikan tumpuan dagu.
__ADS_1
Caca kembali mengingat rangkaian kata-kata yang sudah ia susun beberapa saat lalu sebelum memutuskan meminta bertemu dengan Hendra. Ia juga tidak ingin berkata lancang atau ikut urusan keluarga Nolan dan Hendra terlalu jauh, karena tugasnya disini hanyalah membuat Nolan kembali ke tangan sang papa.
“Ah, saya juga ingin menyampaikan sesuatu padamu, Ca.” tukas Hendra menghentikan kalimat Caca yang hendak terlontar, terpaksa tertahan di kerongkongan.
Caca terpatik untuk mematri pandangan netranya pada sosok Hendra yang berwibawa. Ia lantas tersenyum kepada pria tersebut dengan senyuman lembut dan ramah. “Apa itu, paman.”
“Nolan sedikit mau berbicara dengan saya sekarang. Ya meskipun dia masih kentara sekali membenci saya, tapi saya mau berterima kasih ke kamu karena sudah membuat Nolan sedikit banyak mau berbicara lagi dengan saya.”
Caca merasa nggak enak ketika Hendra berkata demikian. Benar jika Hendra membayarnya. Seharusnya dia puas dan bangga ketika Hendra menyampaikan itu padanya yang berarti, usaha yang ia lakukan telah membuahkan hasil sedikit demi sedikit. Tapi sisi lain sudut hatinya yang paling dalam, Caca merasa sedikit bersalah menyadari jika Hendra berterima kasih kepadanya. Seharusnya Hendra tidak perlu berterima kasih padanya sebab semuanya terasa impas. Simbiosis mutualisme mungkin istilah yang tepat disematkan untuk kerja sama yang mereka jalin, begitu pikir Caca.
“Itu, masih belum apa-apa, paman. Saya ingin Nolan benar-benar kembali membuka hatinya untuk paman.”
Hendra mengangguk mendengar hal itu.
“Tentu saja. Saya juga menginginkan itu segera terwujud. Dan saya percayakan sama kamu, Ca.” jawab Hendra sembari tersenyum jumawa.
“Tapi, sebelum itu, saya juga ingin tau. Apa hubungan Nolan dengan ... Leonard?”
Bak disambar petir di siang bolong, Hendra memaku di tempatnya duduk. Ia menatap lurus ke arah Caca. Ia yakin Nolan pasti sudah mengatakan sesuatu kepada gadis didepannya ini, sehingga Caca tanpa ragu mempertanyakan kebenaran tentang hubungan antara Nolan dan Leonard.
“Nolan berkata, jika Leonard adalah bukti kebencian nya pada paman. Tapi saya rasa, paman tidak pernah menceritakan hal itu kepada saya. Jadi,” Caca menjeda, menatap Hendra dengan raut penuh harap jika laki-laki itu mau menceritakan apa yang seharusnya ia ketahui sejak awal sebelum ia menerima semua tawaran ini. “—saya mohon kesediaan paman memberitahu saya. Siapa Leonard sebenarnya?”
Cekrek.
Ia berjanji akan membuat Nolan menjauh dan kembali padanya. Akan tetapi, ia masih harus mengumpulkan bukti lain jika Caca bukanlah gadis polos yang pantas disukai oleh Nolan. Menurutnya, Caca itu licik dan menutupi kelicikannya dengan sikap sok polos seperti gadis penurut.
“Gue bakal bongkar habis kelakuan Lo di depan Nolan.” katanya setelah mobilnya berlalu meninggalkan tempat itu.
***
“Leo itu, anak saya juga.” kata Hendra mengaku, membuat Caca hampir tersedak ludahnya sendiri. “Saya punya teman wanita di kota tempat saya dulu tinggal. Kami pernah menjalin hubungan dekat dan berakhir karena saya harus kuliah di luar kota atas kemauan ayah saya.”
Caca mendengarkan dengan seksama. Ia tidak ingin melewatkan satu pun informasi yang diberikan Hendra padanya hari ini. Karena semua akan memiliki hubungan yang saling berkesinambungan.
Setelah makan malam itu berakhir, Hendra dan Caca melanjutkan pembicaraan yang terjeda karena sesi menghabiskan hidangan. Caca juga menerima paket takeaway yang dipesan Hendra untuk dibawa Caca pulang dan diberikan kepada ibunya nanti.
Hendra mengusap mulutnya dengan lap yang disediakan, begitupun Caca. Bekerja sama dengan Hendra, membuat Caca sedikit tau tentang table manner orang-orang berduit.
“Dan setahun setelah menikah dengan mamanya Nolan, saya harus kembali ke kota lama saya untuk urusan pekerjaan karena ayah saya saat itu sedang sakit keras. Dan sama sekali tidak menduga jika saya akan bertemu lagi dengan dia.”
“Jadi,”
“Masalah asmara kami belum rampung. Saya meninggalkan dia tanpa kepastian.” kata Hendra mulai mengingat kembali bagaimana awal mula malam kelam itu terjadi. “Dia membawa saya kerumahnya yang saat itu sedang sepi sekali. Saya tidak bisa mengingat dengan pasti, dan yang saya dapati ketika membuka mata adalah, kami sudah melakukannya. Melakukan kesalahan terbesar dalam hidup saya yang sampai hari ini masih begitu saya sesali. Yakni mengkhianati mamanya Nolan, tanpa sepengetahuan siapapun.”
__ADS_1
Caca terpekur. Dia kehabisan kata-kata dan hanya bisa menatap lurus Hendra yang sedang tertunduk dengan wajah sendu.
“Saya juga tidak menyangka jika apa yang saya lakukan dengan mantan kekasih saya malam itu, membuat Leo hadir kedunia ini. Yang nahasnya, saat itu Nolan sudah lahir dan masih berusia satu bulan.”
Suasana berubah canggung ketika Hendra mengakui itu. Tapi Caca memerlukan semua informasi ini agar tidak terjadi kesalahpahaman, juga dengan alasan logis dan nyata itu pula lah, dia bisa mencari jalan keluar untuk membuat Nolan kembali membuka hati untuk Hendra.
“Saya menyimpan rapat-rapat rahasia itu dari keluarga. Terutama Marla, mamanya Nolan.” setelah mengatakan itu, Hendra menarik nafas panjang dan terlihat berat, kemudian melanjutkan. “Setiap saya pergi keluar kota, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi mereka.” lanjut Hendra sedikit parau, telapaknya merapat membuat kepalan. “Tanpa sepengetahuan siapapun.” imbuhnya penuh sesak. Hendra benar-benar menyesal karena masalah rumit itu sekarang menjadi boomerang untuknya sendiri.
“Ibunya Leo, apa dia masih hidup?”
Hendra mengangguk membenarkan. Ia rasa Caca juga perlu tau ini, karena ini adalah duduk permasalahannya dengan sang putra. Nolan tidak mau memaafkan karena dia sudah mengkhianati mereka dan menyebabkan Marla sakit hingga harus meninggal dunia. Dalam hati kecil Hendra, dia merasa sangat menyesal sudah melakukan khilaf terbesar dalam hidupnya, lantas membuat wanita yang begitu ia sayangi dan kasihi, kembali kepangkuan sang Kuasa.
Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, Hendra harus menelannya.
Papa nggak peduli ke gue. Jadi, untuk apa gue meminta izin kepada orang yang tidak peduli pada hidup gue?
Kata-kata Nolan kembali terbesit di ingatan Caca.
“Jadi, Leo itu—”
“Ya, mau tidak mau, Leo adalah saudara bagi Nolan. Dan hal itulah yang tidak bisa diterima oleh Nolan, lalu membenci saya. Dia menganggap saya adalah orang yang paling dan harus bertanggung jawab atas kepergian mamanya.”
Caca mulai menemukan alasan dibalik kebencian mendalam Nolan pada papanya.
“Lalu, apa paman bersikap adil kepada mereka?”
Hendra menjeda sedikit waktu atas pertanyaan Caca.
“Nolan mendapatkan apapun lebih dari pada yang didapatkan Leo. Saya sangat menyayangi Nolan, lebih dari siapapun. Lebih dari menyayangi diri saya sendiri. Sedangkan Leo, saya hanya menjalankan tanggung jawab saya karena sudah membuatnya hadir ke dunia.”
Dari jawaban dan cara Hendra mengatakan itu, Caca bisa merasakan betapa besar kasih sayang pria itu kepada Nolan. Tapi, rahasia yang disimpan Hendra yang berbuntut meninggalnya sang mama, membuat Nolan sangat membenci pria itu dengan alasan yang dianggapnya benar secara egois. Caca harus meluruskan ini kepada Nolan sebelum semuanya terlambat.
“Seluruh aset yang saya miliki sekarang, sudah saya tulis atas nama Nolan. Tapi tidak ada waktu untuk membicarakan itu dengan dia. Nolan selalu menghindar dan tidak mau bicara lebih lama dengan saya.” ucap Hendra masih tegar. Ia tau, mungkin Hendra hanya berusaha terlihat kuat didepan semua orang, tapi sebenarnya tanpa dia perlihatkan kepada siapapun, tubuh itu sidah sangat rapuh. “Sedangkan untuk Leo, saya hanya memberikan beberapa aset kecil sebagai bentuk pertanggungjawaban.”
Hendra mengulangi kalimat ‘Pertanggung jawaban’ sebanyak dua kali ketika membahas Leo. Dan Itu artinya, Hendra memang menyayangi Leo, akan tetapi tidak sebesar menyayangi Nolan.
“Paman tenang saja. Saya akan mencoba memberitahu Nolan.” tutur Caca, ingin sedikit menghibur Hendra yang terlihat kalut.
Hendra mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih, Ca. Tolong bantu saya sebelum semuanya terlambat. Karena saya tidak tau, kapan saya akan di panggil kembali ke pangkuan Sang Kuasa.”[]
...—Bersambung—...
__ADS_1