Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Twenty Two


__ADS_3

...Selamat membaca...


...•...



...[•]...


Hampir setengah hari mereka menghabiskan waktu di dalam kamar. Jangan tanya mereka melakukan apa, yang jelas mereka pengantin baru. Jawabannya ada pada inti kata pengantin.


Hari sudah hampir gelap, dan mereka berdua duduk di meja makan tanpa hidangan. Ini yang membuat Caca berniat memulai langkah keduanya menjadi seorang istri. Ia sudah menanak nasi ke dalam penanak, dan berlanjut memotong beberapa sayuran hendak di jadikan kuah sup. Sedangkan Nolan, dia sangat sibuk sekarang. Sibuk memperhatikan istrinya yang cantik itu bergerak kesana-kemari membuatkan makan malam untuk mereka setelah melakukan beberapa ronde—eh, jangan dibahas. Nolan sudah janji sama Caca untuk tidak membahas kegiatan ranjang mereka. Alasannya begitu kolot, karena malu.


“Besok mau di masakin apa?” tanya Caca, mengambil kursi didepan Nolan dan duduk sambil memicing menahan sakit di pangkal pahanya.


Bukannya fokus pada pertanyaan Caca, Nolan malah sibuk memperhatikan bagaimana ekspresi Caca dengan wajah polos tanpa polesan make-up yang terlihat cantik, lalu turun ke leher dimana ada beberapa tanda merah kecil yang ia buat tanpa sadar karena terlalu larut dalam lembah keindahan surga dunia tadi, lalu kembali pada bibir Caca yang ingin sekali ia terkam karena ketagihan.


“Kamu masih sakit?”


Nah, lolos juga kan? Yakin setelah ini perdebatan akan terdengar karena kecolongan ucapan dari pihak Nolan.


Wajah Caca merona. “Udah aku bilang nggak usah di bahas kan?” ketus Caca menutupi rasa malu yang masih meliputi dirinya.


“Sorry, tapi aku nggak tega lihat kamu kayak kesakitan gitu.”


Caca berniat berdiri dan kembali mengecek masakannya.


“Besok pagi nggak usah masak. Aku pingin lembur lagi sama kamu.” celetuk Nolan didepan Caca, mana tau di kabulkan, kan?


Seketika itu juga Caca menoleh dan melotot ke arah Nolan. Apa-apaan pria itu? Apa belum cukup tiga, ah tidak, empat ronde dalam waktu setengah hari? Malamnya minta nambah? Itu tidak akan terwujud, dude.


“Nol, kamu mau bikin tulang aku remuk kayak ayam geprek nya Bensu?”


Nolan menyemburkan tawa ketika Caca menyamakan dirinya dengan produk makanan ayam geprek milik artis kenamaan itu.


“Ya nggak kayak ayam geprek juga lah, Caca sayang?”


Caca menggeleng. “Kamu suka nggak kira-kira kalau lagi On.”


“Sorry, kelepasan.”


Tak mempedulikan alasan Nolan, Caca kembali ke pantry untuk mengambil merica bubuk, kemudian menuangnya diatas sendok.


“Nanti malem janji nggak nakal deh.”


Geli sendiri, Caca tidak mau menanggapi. Bisa-bisa dia termakan rayuan suaminya yang begitu memukau di atas ranjang itu. Lho?


“Sayang ...”


Caca terkejut karena Nolan tiba-tiba ada dibelakang punggungnya dan memeluknya mesra. Nolan juga menciumi bahu dan ceruk lehernya beberapa kali.

__ADS_1


“Geli. Kamu duduk aja disana, sebentar lagi mateng makanannya.” titah Caca, tapi Nolan tidak peduli dan malah bermain nakal di leher Caca. “Awsss, Nol.” pekik Caca ketika merasakan lehernya disesap kuat oleh Nolan.


“Nggak mau, maunya sama kamu terus.”


Aduh, suaminya ini bucin atau bagaimana sih? Caca sampai kehabisan kata-kata oleh tingkah Nolan.


“Iya, makan dulu Nol. Laper.”


Nolan tersenyum penuh makna. “Jadi, nanti malem boleh?”


Mendengus keras hingga ingusnya nyaris ikut keluar, Caca mengangguk untuk membuat Nolan senang.


“Asyik.” kata Nolan, lalu menjauhkan diri dan kembali duduk di kursi meja makan menunggu sup buatan sang istri dihidangkan.


Entah sudah berapa kali Caca menggelengkan kepalanya hari ini. Nolan seperti, tidak terlihat seperti Nolan yang biasanya memasang image cool didepan semua orang. Caca merasa menjadi orang beruntung bisa melihat sisi Nolan yang tidak pernah diketahui orang lain ini.


Satu pikiran liar tiba-tiba menggoda Caca. Apa mereka perlu mencobanya di kantor? Agar image boss dari seorang Nolan lebih dominan? Siapa tau, Nolan akan terlihat lebih gahar jika melakukannya disana?


Gila!


Buru-buru Caca mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya. Tapi rasa ingin tau itu terus mendorong Caca untuk merealisasikan hal tersebut agar terwujud.


***


Dan hari libur yang dipenuhi dengan kemesraan pengantin baru itu pun harus berakhir. Nolan harus kembali menjadi orang yang mengemban tanggung jawabnya beberapa perusahaan selain menjadi kepala keluarga.


Pekerjaan yang ia tinggal selama satu minggu itu membuatnya tidak bisa berkutik seharian. Ponselnya dingin diatas meja, jarinya sibuk menandatangani berkas yang perlu ia bubuhi tanda tangan setelah di periksa dan sortir ulang. Dan ia juga disibukkan dengan peninjauan lapangan yang akan memakan waktu beberapa hari hingga memaksanya untuk tidak bertemu dengan istri tercintanya. Belum lagi beberapa stasiun televisi yang mengundangnya sebagai tamu VVIP di beberapa ajang penghargaan, yang sebagian besar sudah ia tolak. Dia tidak lagi memiliki minat menjadi publik figur yang di gandrungi banyak perempuan. Dia sudah menikah dan tidak sepatutnya menyakiti hati istri tercintanya ketika melihat namanya di panggil perempuan lain.


Tak lama ketika pikirannya mulai kembali dipenuhi sosok Caca, pintu ruang kerjanya diketuk sebanyak tiga kali dan sosok wanita bergincu merah menyala melongokkan kepala kemudian berjalan masuk.


“Ada apa, Ren?” tanya Nolan pada Reni tanpa mengalihkan tatapan matanya pada berkas yang sedang ia tanda tangani, wanita yang bekerja sebagai sekretaris keduanya setelah Dharma itu memangkas jarak.


“Ada yang mencari anda di luar, pak.”


Nolan menghentikan jarinya yang terlalu sibuk bekerja, menatap Reni dengan dahi berkerut penasaran. “Siapa?” tanyanya. Karena seingat Nolan, dia tidak memiliki janji bertemu dengan siapapun hari ini.


“Seorang perempuan. Dia memaksa bertemu dengan an—”


Ucapan Reni terhenti saat suara seorang wanita ikut menimpali bicara. Mata Nolan terbelalak melihat sosok itu. Jantungnya terasa nyeri sebab masalalu seolah dilempar ke depan wajahnya. Jarinya mengepal, meremat pena yang ada dalam genggaman tangannya.


Tiana, wanita itu muncul setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar seperti ditelan bumi.


Wajah sabar Nolan berubah keras. Mau bagaimanapun, ia memiliki trauma yang menyakitkan karena wanita ini. Ia masih belum bisa menerima saat mengingat mamanya meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh kehadiran wanita ini.


“Hai, nak. Lama tidak bertemu.”


Tidak ada jawaban dari Nolan. Hanya tatapan lurus yang tajam menghujam terarah pada wanita yang memiliki usia hampir sama dengan mendiang papanya itu.


“Ren, kamu boleh keluar.” titah Nolan untuk sekretaris nya agar tidak ada pembicaraan pribadi antara dirinya dengan Tiana yang terdengar oleh sang sekretaris. Reni pun menyikapinya dengan cepat dan meninggalkan ruangan Nolan setelah berpamitan dengan anggukan dan bungkukan badan sopan.

__ADS_1


“Ada apa anda tiba-tiba datang kesini?” tanya Nolan, masih berusaha membawa percakapan mereka tetap pada batas normal.


“Aku? Wah, kenapa tanya begitu pada ibumu?”


“Tapi maaf, anda bukan ibu saya.” tegas Nolan dengan rahang yang sudah terlihat mengerat. Hatinya begitu sakit ketika wanita ini mengaku-ngaku dirinya sebagai sang mama. Diam-diam Nolan meraba dadanya, mengusap Saturnus-nya.


“Ah, ya. Hampir lupa. Aku bukan ibumu, tapi ayahmu—”


“Jangan basa-basi dengan saya. Saya bukan pengangguran yang bisa anda ganggu setiap saat.”


Tiana tersenyum miring. Lancang sekali pemuda ini padanya yang lebih tua. Seharusnya Nolan lebih menghargai dan menghormati dirinya.


“Ah, baiklah. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Sebagai orang yang pernah ada dalam hidup papamu.”


***


Nolan pulang dengan wajah lesu dan lelah yang belum pernah Caca lihat sebelumnya. Ia menyambut kedatangan suaminya dengan meraih tas kerja pria itu dan membawanya masuk ke kamar.


Dengan gerakan lembut, Caca meraih dasi dileher Nolan dan melepasnya dengan sabar.


“Mau aku buatkan kopi?” tanya Caca, menawarkan minuman hangat yang mungkin bisa meringankan beban dan penat sang suami.


“Nggak. Aku mau mandi dan makan malam.” kata Nolan tanpa ekspresi yang bisa dibaca dengan mudah oleh Caca.


Caca menatap lembut dan penuh perhatian, kemudian mengusap dada bidang Nolan perlahan.


“Kamu, ada masalah di kantor?”


Nolan hanya diam. Ia tidak ingin kedatangan Tiana menjadi sesuatu yang membuat Caca tidak nyaman berada disisinya. Ya, setidaknya itu yang dipikirkan Nolan saat ini.


“Eumm.” jawab Nolan sambil menganggukkan kepala. Sumpah, dia tidak ingin membuat Caca merasa terganggu dengan masalah pribadi keluarganya yang bertahun-tahun lalu ia anggap sudah rampung itu, ternyata kini kembali muncul dan mengancam rumah tangganya yang masih seumur jagung. “Makan diluar yuk. Kangen motoran sama kamu.” timpal Nolan berusaha mengalihkan topik. Dan jujur, dia ingin sekali melepas beban pikirannya itu dengan berkendara menghirup udara bebas seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya.


“Boleh. Aku juga kangen kamu bonceng.” sahut Caca menyetujui usulan Nolan yang terdengar menyenangkan.


Dan disinilah mereka berdua sekarang. Menggesa jalanan malam ibu kota dengan motor legendaris milik Nolan sepuluh tahun silam, ditemani pijar lampu jalan yang terlihat meriah di sepanjang jalan.


Tidak ada pembicaraan. Nolan hanya diam menatap kosong pada jalanan karena pikirannya terbang pada pertemuan dan pembicaraan nya bersama Tiana tadi siang. Lalu, lamunannya buyar ketika merasakan lingkaran tangan Caca diperutnya semakin mengencang.


“Kamu ada masalah apa?” tanya Caca dengan suara teredam angin.


Nolan melepas satu telapak tangannya dari stang kemudi motor, lalu menangkup telapak tangan Caca di depan perutnya. “Enggak.”


“Kamu nggak bisa bohongi aku, Nol. Kamu terlihat nggak kayak kamu biasanya sejak tadi sore pulang dari kantor.” keluh Caca yang menyadari perbedaan sikap Nolan sejak pulang dari tempat kerjanya.


Caca semakin merapatkan diri, menghirup aroma Nolan yang menjadi kesukaan nya. Sedangkan Nolan kembali mengedarkan pandangan matanya pada jalanan yang membentang didepannya. Ucapan Tiana kembali membayang dalam ingatannya.


Turuti kemauan ku, atau aku akan menghancurkan pernikahanmu. []


...—Bersambung—...

__ADS_1


###


Boleh komennya akak?


__ADS_2