
...Selamat membaca...
...•...
...[•]...
Bukannya makan martabak manis, Nolan membawa Caca berhenti disebuah kedai kebab Turki didepan mini market bergaris biru yang melegendaris di hati masyarakat. Sebenarnya Caca kurang suka dengan makanan sejenis ini, tapi entah mengapa rasa kebab ini berbeda. Apalagi makannya berdua bersama Nolan didalam mobil, di suguhi musik pop dalam dan luar negeri kesukaannya, serta dua botol minuman penambah ion tubuh yang berdiri pada dashboard disamping tempat duduknya.
Mobil Nolan memang sejak dulu tidak ada yang berharga murah. Apalagi sekarang pria itu sudah bisa mencari uang sendiri, malah ngelunjak kalau mau beli sesuatu. ”Nggak ngotak” istilahnya.
“Enak kan? Makanya, kalau belum coba itu jangan ditolak. Dicicipi dulu, dirasain, baru komentar. Makanan lho ini. Harusnya kamu bersyukur bisa makan enak kayak gini.” cerocos Nolan karena sebal atas penilaian Caca kepada salah satu makanan kesukaannya itu.
“Iya, iya. Bawel amat.” ketus Caca yang berhasil membuat Nolan terkikik geli.
Ponsel Nolan tiba-tiba bergetar. Caca bisa melihat siapa yang menghubunginya. Dharma.
Nolan mengumpat. Wajah bahagia nya berubah keruh.
“Apa lagi sih, Om. Nggak bisa lihat Nolan nelen makanan apa?” sahut Nolan sengak.
“...”
“Ya kan bisa besok di kantor, Om. Udah ih, Nolan lagi sibuk.”
Nolan mengakhiri panggilan dari Dharma, kemudian melempar ponsel barunya itu kedalam dashboard yang letaknya dekat dengan tempat meletakkan minuman. Lalu tangannya kembali menyahut kebab dengan kasar hingga isiannya sedikit berhambur keluar, dan dengan rakus menggigitnya.
“Aw...” keluhnya, meringis karena lidahnya tanpa sengaja tergigit. “Sumpah. Om Dharma ini nggak bisa apa lihat aku santai gitu?!” kesalnya mendumal dengan wajah menahan sakit.
“Makanya, jangan marah-marah. Tuh, kena karma. Lidah kegigit, enak?”
Bukannya mendukung, Caca kalah mengolok Nolan karena Dharma. ingin sekali mulut Nolan mengumpat, tapi takut Caca kabur.
“Jadi, kamu kembali pulang dan berhenti kerja dari stasiun TV milik keluarga Louis.”
Caca mengangguk lemah. Ia masih belum bisa mengatakan kepada Nolan tentang alasannya mengakhiri hubungan dengan Louis.
“Ini keputusan besar lho, Ca. Kenapa kamu kok mudah banget ambil keputusan kayak gini.”
Mendengar itu, Caca sedikit kesal. Pasalnya, Nolan tidak tau apapun tentang bagaimana dia harus melihat perbuatan Louis yang tidak seharusnya ia lihat.
“Aku mengambil keputusan yang tepat, Nol. Ini adil untukku.”
Nolan menghela nafas. “Louis nggak akan ngelepas Lo gitu aja. Ini menyangkut nama baiknya. Percaya sama gue, dia bakalan nyusul lo kesini.” tebak Nolan yang di-iyakan Caca dalam hati.
Tadi, saat dirinya memberikan surat pengunduran diri, Louis memang menahannya untuk tidak memilih keputusan sepihak. Sepuluh tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk menjalani kesusahan hubungan berdua. Mereka bahkan sudah berani mengambil komitmen, dan sekarang karena masalah Louis meniduri Gita. Semuanya jadi hancur berantakan.
“Dia ... udah khianati aku, Nol. Dan sudah sepantasnya aku meminta ini dari dia.”
“Sebenarnya, apa masalah kalian? Apa gara-gara gue?” tebak Nolan sekali lagi, mencoba mencari dan menelusuri alasan mengapa sampai Caca dan Louis berpisah setelah bersama sekian lama. Nolan bahkan berfikir jika alasan keduanya berpisah adalah karena dirinya, mengingat Louis yang beberapa waktu lalu mengajaknya bertemu, juga sepertinya tidak rela jika Caca pernah memiliki hubungan dengannya.
Caca menggelengkan kepala tidak setuju. Bukan karena dia, tapi karena alasan lain yang tidak bisa ia katakan kepada Nolan. Caca tau peringai Nolan, ia tidak mau Louis menjadi samsak tinju begundal satu ini hanya karena masalah yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan dia.
“Lalu, apa? Dia selingkuh?”
Jantung Caca seperti dihantam gada mendengar itu. Perbuatan Louis tidak bisa di kategorikan selingkuh karena mereka melakukan itu karena Louis terpengaruh alkohol. Seandainya Louis sadar, Caca yakin itu semua tidak akan Louis lakukan. Ia tau dan sadar betul jika Louis sangat mencintainya.
Sekali lagi, Caca menggeleng.
“Lalu apa?” tanya Nolan, menyerah.
__ADS_1
Caca menoleh sejenak kepada Nolan yang sedang ingin tau tentang dirinya.
“Aku tidak bisa mengatakannya padamu.”
“Kalau begitu, Gue sendiri yang akan tanya ke Louis.”
Caca mendelik lebar. Ia melayangkan pukulan di lengan Nolan beserta cubitan kecil yang membuat ngilu.
“Aduh, aduduh. Sakit Ca!”
“Jangan macem-macem ya.”
“Lo nggak mau cerita, ya udah gue cari tau aja sama yang bersangkutan.”
Caca membayangkan seandainya dia bercerita tentang masalahnya ini, apa Nolan akan menerimanya?
“Aku, sudah menganggap semua ini clear, Nol. Nggak udah di bahas lagi.”
Nolan tertawa sinis. “Louis sayang sama elo, Ca. Dia nggak akan ngelepas elo semudah itu. Nggak seperti pecundang kayak gue.”
“Dia sama pecundangnya kayak kamu, Nol.”
“Ya udah. Kalau gitu nikah sama gue aja.”
***
Setelah hari dimana Caca memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka, Louis melacak dan mencari keberadaan Gita. Hal ini bukan masalah sepele yang bisa dibiarkan begitu saja tanpa menemukan jalan keluar dan solusi.
Apalagi dua orang wanita itu memiliki latar belakang berbeda di hati Louis. Caca, adalah wanita yang sangat ia sayangi dan cintai. Dia tidak ingin kehilangan wanita itu dan ingin memperjuangkannya kembali.
Sedangkan Gita, bagaimana nasib wanita itu setelah ia tiduri? Masa depan wanita itu ada ditangannya. Dia yang sudah menghancurkan dan merenggut apa yang seharusnya bukan menjadi haknya. Lalu, bagaimana kalau sampai Gita mengandung anaknya?
Louis terus memacu kendaraan yang ia tumpangi menuju sebuah kompleks pemukiman menengah atas sesuai informasi yang ia terima dari seseorang.
Seorang satpam menyambutnya. “Ada yang bisa saya bantu, mas?” tanya satpam berpawakan tinggi dan berwajah khas orang Jawa itu pada Louis.
“Apa Gita ada dirumah?”
Satpam itu menggelengkan kepala. “Non Gita belum pulang mas. Biasanya non Gita sampai rumah kisaran jam tujuh malam.”
“Lalu, Gita dimana?”
“Di butik.”
“Bisa minta tolong beri saya alamat butiknya?”
Satpam itu berlari menuju pos, dan kembali membawa kertas kartu nama milik Gita.
“Ini, mas.”
Louis membaca alamat tersebut dan berpamitan pada satpam setelah mengucapkan terima kasih.
Butuh sekitar tiga puluh menit untuk sampai di butik milik wanita itu. Louis bahkan rela berkendara seorang diri demi bertemu dan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Gita malam itu karena Louis benar-benar tidak bisa mengingat apapun. Ia dikuasai oleh alkohol sepenuhnya.
Kini, mobil mewahnya berhenti didepan sebuah butik yang bangunannya terkesan begitu modern. Di bagian depan, terpampang beberapa manequin mengenakan gaun dan pakaian formal dengan design menawan. Namun bukan mengagumi tujuan Louis datang kemari, melainkan bicara dengan si pemilik.
Dengan langkah mantap, kaki jenjang berbalut celana bahan dan sepatu pantofel itu memasuki ruangan. Didalam terlihat sibuk oleh pelanggan yang sedang memilih baju-baju design buatan Gita yang memang terlihat berkelas. Dan disana, Louis melihatnya. Dia melihat Gita yang sedang bicara dengan dia orang pelanggan yang sepertinya hendak memesan gaun pernikahan.
Louis berjalan mendekat dan menunggu mereka selesai bicara.
Hingga ...
__ADS_1
“Git, aku pingin bicara.” kata Louis menarik perhatian Gita dan menghentikan langkah. Wajah wanita itu berubah datar dan terlihat sedikit tegang mengetahui keberadaan Louis disini. Pasalnya, dia sama sekali tidak pernah memberi alamat atau sengaja mengirim pesan agar pria ini datang untuk menemuinya.
“Bicara apa?!” tanya Gita ketus. Ia takut jika rencananya membalas dendam kepada Caca, terbongkar.
“Aku ingin bicara berdua sama kamu, tentang malam itu.”
Dugaan Gita benar. Cepat atau lambat, Louis pasti akan datang dan memintanya untuk memberi penjelasan panjang lebar tentang malam itu.
Gita menghela nafas kasar, kemudian membelakangi Louis. “Ikut aku!” ajak Gita menggiring langkah Louis menuju ruangannya. Tapi, sebelum ia sampai di ruangan itu, Gita sempat berhenti dan berpesan pada salah satu pegawainya untuk tidak masuk ke ruangannya sebelum ia sendiri yang mengizinkan mereka masuk.
Ruangan berukuran besar ini begitu harum. Beberapa personal computer menampakkan gambar mentah rancangan pakaian belum jadi tampak menarik perhatian Louis. Gita bukan anak yang suka menggambar, dulu. Tapi mengapa dia secara mengejutkan memiliki butik yang tentu saja menggunakan rancangannya sendiri pada design-design yang begitu cantik dan menjadi ciri khas disini.
“Mau ngomong apa?” tanya Gita sembari meletakkan iPad diatas meja kerjanya. Ia duduk dan mempersilahkan Louis duduk di seberang meja di hadapannya.
“Apa yang sudah kita lakukan malam itu?” tanya Louis tanpa basa-basi.
Gita menatap lurus pada Louis. Pandangannya terkunci pada manik mata Louis yang sedang menyorotnya tajam. Dia tidak ingin menjawab, namun tatapan sendu Louis membuatnya luluh.
“One Night Stand.” jawabnya singkat dengan wajah yang sedikit berubah memerah, lantas meraih iPad yang sebelumnya ia letakkan diatas meja, lalu menekan sisi benda pipih itu dan menarik keluar sebuah pena. Ia mulai membuat beberapa goresan garis untuk memulai proyek yang baru saja ia terima. “Dan kamu nggak perlu memusingkan itu. Aku nggak apa-apa.”
“Apa? Kenapa kamu bersikap santai begitu? Apa kamu sering melakukan itu dengan pria yang memintamu mengantar pulang?”
Sialan!!
Mendengar itu, Gita memaku diatas pendaran cahaya iPad yang menyorot wajahnya. iPad yang sudah bersandar nyaman diatas dudukan khusus di meja dan menampilkan layar kosong itu menjadi tujuan manik Gita untuk menatap kosong dengan sedikit rasa sakit hati. Sering melakukan dengan pria lain katanya? Padahal kenyataannya, Gita melakukan itu pertama kali, dan itu ia relakan demi rasa sakit hatinya terbalas. Dia ingin merebut dan menghancurkan hubungan Caca dan Louis.
“Kamu pikir aku Pela-cur yang membiarkan tubuhku di jamah para pria hidung belang?”
“Lalu, apa maksudmu melakukan itu padaku?” sahut Louis tidak suka. Ini masalah yang sangat serius karena menyangkut masa depan dan hidupnya bersama wanita yang ia sayangi. “Bukankah kamu tau aku sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi akan menikah?”
Gita tersenyum sinis. “Aku memang sengaja melakukan itu.”
“Apa?” jawab Louis terkejut. Matanya hampir melompat keluar karena ucapan Gita yang tidak masuk akal itu.
“Caca, adalah orang yang sudah merebut apa yang ingin aku miliki. Jadi,” Mata Gita menatap tajam penuh intimidasi dan kebencian ke pada Louis. “—aku ingin merebut apa yang dia miliki dan membuatnya merasakan apa yang sudah aku rasakan selama ini.”
“Gila!" seru Louis dengan rahangnya yang sudah mengeras sempurna. Marahnya yang sudah menyentuh ubun-ubun membuat urat di wajah dan tangannya yang mengepal sempurna itu terlihat jelas. “Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan itu, Git?”
Gita mengangguk tidak tau diri. Dia tidak peduli se-marah apapun Louis, yang terpenting tujuannya tercapai.
“Gara-gara apa yang kamu lakukan itu, Caca dan aku—”
“Bagus dong. Aku harus berbahagia jika sekarang kalian sudah hancur berantakan.”
Rahang Louis semakin mengeras. “Jadi, kamu memang sengaja dan ingin merusak hubungan kami dan ingin membalas dendam pada Caca? Lalu berbahagia saat kami berdua hancur?”
Gita mengangguk dengan bahu naik mengedik dan bibir melengkung acuh tidak peduli. “Ya.”
Louis yang sudah kepalang emosi, berdiri kasar dan menunjuk wajah Caca penuh amarah. Ia bahkan bersumpah tidak akan membuat hidup Gita tenang. “Kamu boleh senang dengan rencana jahat mu yang sudah berhasil. Tapi ingat, kamu akan menerima balasan yang jauh lebih mengenaskan dari apa yang kamu lakukan.”
Gita tertawa disudut bibir. “Kamu sedang menyumpahi ku, Lou?” jawabnya tenang. Ia lantas berdiri dan berjalan beberapa langkah, kemudian duduk di salah satu sudut meja kerjanya dengan kedua lengan terlipat angkuh didepan dada. “Asal kamu tau, aku siap menerima apapun itu. Termasuk balasan yang lebih mengenaskan, yang kamu katakan padaku itu.” []
...—Bersambung—...
###
🤦🏻♀️
Jujur, Othor kesel sendiri bikin part ini. Gita masih angkuh dibalik wajah polosnya. Dan dia juga kekeuh membenarkan acara balas dendamnya pada caca.
Gimana? Mau dibuatkan cerita tentang Gita dan Louis? *Eh🤭
__ADS_1
Oh iya, nggak lupa ngingetin, mampir ke JYRU yuk, cerita baru Othor genrenya Romance-fantacy. Mana tau suka ya kan? 😉
Cus ke lapak JyRu, udah ada 4 bab lho...