
Halo, ini author.
Mau ngasih tau kalau cerita ini akan ada dua sesi dalam satu judul. Jadi di part pertama ini akan diisi oleh cerita masa remaja Nolan dan Caca. Jadi jangan harap ada chapter berisi adegan dua satu ples.😂
Kemudian di part dua, ceritanya akan berubah ke arah mereka yang sudah dewasa dengan karir mereka masing-masing. Adegan dua satu ples? Maybe.
Jadi terus ikuti cerita mereka berdua ya,
Terima kasih.
🌹🌹🌹
...Part 41...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...42...
Seperti yang sudah-sudah, rumah bak istana ini selalu kosong, sepi. Tidak lagi ada canda tawa seperti dulu. Nolan juga belum melihat keberadaan papanya sejak terakhir dia pergi ikut touring.
Hari hampir menginjak sore, dan ini sudah hari ke sepuluh papa nya meninggalkan rumah, seperti biasa pula, tidak memberi kabar padanya.
Nolan merasa semua bermula dari dirinya. Dulu papa nya selalu memberi kabar, dan tidak pernah lengah menanyakan kabarnya ketika pergi keluar kota. Tapi sejak tiga tahun belakangan, Nolan selalu mengabaikan apapun bentuk perhatian yang diberikan Hendra padanya. Alhasil, kini papa nya itu seolah berhenti mengharapkan dirinya. Berhenti menatap ke depan dimana dirinya berada. Papa nya seperti ... menyerah akan sikapnya.
Baru sekarang, rasa rindu itu kembali muncul dalam benaknya setelah hampir empat tahun ini menguatkan ego. Nolan duduk di ranjang tidur papanya yang kosong, namun masih terhirup aroma khas sang papa yang dulu sangat Nolan sukai. Aroma lembut yang menenangkan, juga seperti dipenuhi kasih sayang ketika Nolan meminta gendong untuk menghirupnya.
Jemarinya merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel dan menatap sendu ke arah wallpaper menampilkan fotonya yang berada dalam pelukan Marla dan juga Hendra.
Dengan gerakan canggung, Nolan menekan ikon bergambar gagang telepon dan mencari kontak papa nya. Disana, dibagian paling atas, muncul gambar Hendra yang tersenyum lebar pun tulus dalam balutan kemeja satin dan kaca mata yang membingkai di hidung bangirnya. Diam-diam Nolan turut mengembangkan senyuman.
“Maafkan Nolan, sudah egois selama ini, Pa.” katanya sendu, lalu mengalihkan pandangannya ke arah foto keluarga yang tergantung di atas kepala ranjang. “Kapan papa pulang? Nolan ingin bicara banyak dan minta maaf sama papa.”
Kini, hati kecil Nolan begitu merindukan papanya. Berharap papanya tiba-tiba muncul seperti biasanya ketika dia tidak mengharapkan pria tersebut lantaran membencinya. Ia menjatuhkan tubuhnya diatas kasur yang tertata rapi meskipun tidak dihuni, kemudian mengusap tepat di bagian yang biasa papanya tempati.
Namun, tiba-tiba saja ia terbangun karena teringat akan sesuatu. Ia baru ingat jika dia punya janji datang ke rumah Caca malam ini. Nolan pun bergegas meninggalkan kamar papanya, dan kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan bersiap menuju rumah caca.
Namun sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada papa nya:
Kapan pulang?
Ya hanya itu, dan setelah itu Nolan mendekati sebuah kardus mewah berlebel Higher Dream yang menyambut pemandangan Nolan. Kotak tersebut sudah sampai sehari yang lalu. Nolan tersenyum lantas berjalan mendekat.
Higher Dream sendiri, adalah sebuah perusahaan replika yang terkenal di beberapa belahan dunia. Mereka memproduksi replika yang di order oleh kalangan orang-orang berduit, dan hasilnya, tentu saja sesuai dengan harga yang dibayar. Sangat memukau, lebih dari memuaskan.
Sudah siap dengan setelan kemeja hitam yang ia gulung sebatas siku, berikut celana pendek selutut yang ia kenakan, ia bergegas. Nolan mengusap kardus tersebut, kemudian bersiap menuju rumah Caca karena matahari semakin tergelincir ke barat. Tak lupa, ia mengambil salah satu kunci mobil yang tergantung berjejer di dalam lemari khusus di ruang tengah. Nolan memilih Range Rover sebagai tunggangannya hari ini karena langit sedikit mendung.
Selama mengemudi, Nolan tak henti-hentinya menatap kotak kardus itu dengan jantung berdebar tidak karuan. Ia juga menyimpan sesuatu dibalik jaketnya. Sebuah kotak lain berukuran kecil berwarna biru tua berisi sebuah necklase berbandul satelit milik Saturnus, Titan.
Satu hembusan nafas kelewat besar kembali Nolan loloskan dari bibirnya. Ini adalah pertama kalinya dia memberi hadiah kepada seorang perempuan. Dan nahasnya, dia tidak ada hubungan apapun dengan perempuan itu. Mereka hanya sebatas teman.
Sesampainya didepan halaman rumah Caca, Nolan menggendong kardus yang cukup berat itu dengan sangat hati-hati. Ia melepas sandal rumahan—yang harganya bisa dibuat beli beras dengan kualitas terbaik sebanyak sepuluh karung—saat lantai keramik berwarna putih menyambutnya.
Sepi, seperti tak berpenghuni. Begitulah kondisi rumah Caca sekarang. Nolan bahkan menyempatkan diri mengintip dari jendela rumah dan didalam juga sama sepinya. Tapi apa salahnya mencoba mengetuk, mungkin saja Caca sedang dibelakang atau di kamar mandi.
Nolan ketuk pintu itu sebanyak tiga kali dan mengucap salam disusul memanggil nama Caca, tapi tidak ada jawaban. Usaha kedua pun ia lakukan dengan urutan yang sama, dan berhasil. Daun pintu itu mengayun terbuka. Sosok Caca dengan rambut basah, kaos merah maroon kebesaran ditubuhnya, dan celana santai diatas lutut, membuat Nolan menganga.
“Sorry, baru selesai mandi, Nol. Masuk gih, aku mau ganti baju dulu.”
__ADS_1
Ngapain ganti sih?
“A-ah. Oke.” nyatanya, bibir tidak sejalan dengan hati.
Sepuluh menit berlalu, Caca kembali dengan pakaian yang lebih pas dan cocok hingga membuatnya terlihat sangat cantik.
“Kamu bawa apa?” tanya Caca kepo melihat kardus yang berada di samping Nolan, lalu duduk di kursi yang berjarak tidak jauh dari Nolan.
“Ah, ini. Buat kamu.” kata Nolan santai. Ia meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengangkat kardus kokoh itu dan menyerahkannya kepada Caca. Udah macam ngasih seserahan lamaran anak orang saja.
“Buat aku?” tanya Caca menunjuk dirinya sendiri, dan diangguki oleh Nolan.
Caca menerima kardus misterius itu dari tangan Nolan. Matanya membulat seketika ketika merasai isinya yang begitu berat, seberat beban hidupnya. Elah, lebay Ca.
“Buka sekarang, boleh?”
Nolan yang irit bicara itu hanya mengangguk dengan wajah dan telinga memerah. Antusias Caca mungkin penyebabnya. Ia hanya fokus melihat bagaimana Caca menggores isolasi bertulis Fragile dengan cutter yang diambilnya dari laci nakas yang ada disisi kursi. Ia lantas mengerutkan kening ketika bubble wrap terlihat membungkus sebuah benda.
“Apa sih?” tanya Caca mulai curiga.
“Ngapain tanya, kan bisa dilihat sendiri.” kata Nolan dengan dengusan nafas kesal.
Caca menatap lagi ke arah bubble wrap, kemudian menarik keluar benda tersebut. Penasaran, Caca pun segera memotong plastik yang dipenuhi bintik-bintik udara itu dengan cutter, dan sebuah benda bundar seperti globe berwarna jingga terlihat begitu mengagumkan tertangkap Indra penglihatan Caca. Ia menebak, ini bukan barang murah dan bisa didapatkan di sembarang tempat karena Caca bisa melihat dari design dan bahan yang dipergunakan sangat berkelas.
“Wah...” kagumnya dengan mata berbinar dan mulut menganga.
“Kamu bisa nyalain lampunya kalau kamu pingin.” terang Nolan yang jelas lebih tau karena dia yang meminta bentuk dan fungsi benda itu pada owner dan tim design Higher dream.
“Beneran?” tanya Caca karena masih belum percaya dengan benda cantik didepan nya ini.
Lagi-lagi Nolan hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Ini namanya apa?”
Nolan membelalakkan mata seolah tidak percaya dengan pertanyaan Caca. Seriusan dia nggak tau itu apa?
Seketika tawa Caca luntur. ini bukan bahan bercandaan. Jika sampai Nolan memberikan ini, bukankah dia—
“Ada satu lagi.” Nolan memanjangkan kakinya lurus dengan posisi masih duduk diatas kursi ruang tamu Caca yang sudah hampir amblas karena karet didalamnya nyaris putus.
Mata Caca semakin terbuka lebar ketika ia melihat sebuah kotak berwarna biru gelap diatas meja. Ia menatap kotak itu dan Nolan secara bergantian, kemudian Nolan memberi isyarat padanya agar membuka juga kotak tersebut.
Lalu, dengan gerakan ragu Caca meraih kotak itu dan membukanya. Caca refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan serta menatap Nolan tidak percaya saat melihat sebuah kalung emas berbandul bulat berwarna jingga yang indah di sodorkan didepan nya.
“Nol, kamu apa-apaan—”
Kata-kata Caca terhenti ketika bersamaan dengan itu Nolan berdiri, meraih kalung dari wadahnya, kemudian berjalan dan berhenti di balik punggung Caca untuk memakaikan kalung tersebut di leher Caca.
Berhasil memasangkan kalung itu tanpa hambatan di leher Caca, Nolan kembali ketempat duduknya dan tersenyum jumawa pada Clarita.
“Cantik.” katanya. “Aku nggak nyangka kalung itu pas dan terlihat sangat cantik ketika kamu pakai.”
“Nol,”
“Nggak usah protes. Cukup bilang—”
“Sumpah. Aku nggak bisa nerima ini Nol.” tolak Caca sambil mencari gagang kalung untuk ia lepas kembali. “Benda ini mahal. Aku tidak pantas menerimanya. Lagi pula, kita bukan—”
“Anggap saja seperti itu.”
Caca terbelalak. Seperti itu, yang seperti apa maksud Nolan?
“Anggap saja itu hadiah dariku sebagai seorang teman.” lanjut Nolan dengan sorot lurus sarat kecewa. “Anggap itu hadiah, dan juga kenang-kenangan dariku.”
__ADS_1
Caca ingin menangis. Apa ini ucapan perpisahan? Apa mereka akan berpisah setelah ini? Setetes air mata jatuh membasahi pipi Caca.
“Kamu nangis?” tanya Nolan panik hendak berdiri. Namun Caca mengehentikan Nolan dengan telapak tangan yang terbuka menghadap Nolan.
“Te-terima kasih sudah mau menganggap ku sebagai teman.”
Nolan tertunduk dengan sebuah senyuman samar.
“Ca, aku ingin berdamai dengan papa. Bagaimana menurutmu?”
Sebuah ungkapan yang tidak pernah Caca duga sebelumnya. Ternyata usahanya tidak berakhir sia-sia. Dia harus memberitahu Hendra tentang kabar baik ini. Caca baru ingat, pria itu sudah dua hari tidak menghubunginya.
“Ah, baguslah kalau begitu. Semoga sukses, Nol.”
“Tapi, sampai sekarang papa belum pulang. Tidak biasanya dia pergi keluar kota se-lama ini.”
Caca sedikit tercengang. “Jadi paman Hendra juga belum pulang. Atau jangan-jangan...”
Sebuah pemikiran buruk terlintas di benak Caca. Riwayat kesehatan Hendra yang diketahui Caca, cukup mengkhawatirkan. Bagaimana jika pria itu sekarang sedang sakit dan tidak pulang dalam waktu lama untuk berobat? Hendra pernah berkata pada Caca jika lelaki itu tidak ingin Nolan tau jika dia sedang sakit.
“Kenapa tidak kamu hubungi dan tanya kabarnya?”
“Sudah. Tapi nggak ada balasan.”
Caca semakin khawatir. “Kapan kamu menghubungi papa mu, Nol?”
“Tadi, sebelum datang kesini.”
Tak lama kemudian, Nolan melihat ponselnya menyala. Sebuah panggilan masuk dari ... papanya.
“Eum.”
“Papa sudah dirumah. Ada apa? Tumben kirim pesan ke papa?”
“Nggak. Nanti saja kalau Nolan udah pulang.”
“Baiklah. Papa tunggu dirumah.”
“Eumm.”
Panggilan berakhir. Nolan menghela nafas lega setelah tau papa nya sudah berada dirumah. Dia sudah membulatkan tekat untuk berbicara lama sekali dengan papanya, malam ini. Kalau perlu mereka tidak tidur dan membicarakan masalah kesalah fahaman yang terjadi bertahun-tahun itu.
“Siapa yang telepon?”
“Papa.”
Caca mengulum senyum. Ternyata Nolan terlihat malu-malu ketika menjawab pertanyaan Caca itu.
“Aku juga pingin ngomong sama kamu, Ca.”
Suasana hati Caca yang sedang bahagia membuat nada bicaranya terlampau aktif. “Ya sudah, mau ngomong apa.”
Nolan meremat ujung kemeja yang ia pakai. Ia menatap ke sepuluh jari kakinya yang bergerak tidak nyaman karena gugup.
“Aku,”
Caca masih diam memperhatikan.
“Aku,”
Caca memicing mendengar Nolan hanya bicara aku dan aku sebanyak dua kali.
“Kamu kenapa?” tanya Caca mulai tidak sabaran. Sedangkan Nolan, masih sibuk mencari kata yang nantinya tidak akan dimengerti Caca sampai dia meninggalkan rumah ini. “Nol—”
__ADS_1
“Me Gustas Tu!” []
...—Bersambung—...