Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Percobaan Pertama Caca


__ADS_3

...Part 20 ada disini...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...20...


Jonathan: Nolan ikut Club motor bareng gue. Baru daftar tiga hari lalu.


Gita meletakkan ponsel nya kembali diatas meja belajar. Sudah sebulan ini, dia memantau kegiatan diluar sekolah Nolan secara diam-diam dengan cara bertanya pada Jonathan.


Sedangkan Jonathan sendiri yang nggak tau tujuan Gita, hanya memberitahu dan menjawab setiap pertanyaan Gita yang memang tidak pernah membuatnya curiga.


Gita baru ingat, dia masih memiliki satu pertanyaan penting yang harus ia ketahui jawabannya.


BTW, Jo. Nolan pernah ngajak cewek pas ketemu Elu nggak?


Gita meletakkan kembali ponselnya. Lalu menunggu dengan harap-harap cemas balasan dari Jonathan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar, dan pesan balasan dari Jonathan terlihat pada display persegi pintarnya.


Jonathan: Engga tuh. Kenapa? Dia punya cewek baru setelah kalian putus? Kok gue ngga tau ya?


Gita buru-buru membalas.


Engga kok. Gue cuma nanya aja. Thanks ya. Sorry ganggu waktu istirahat Lo.


Setelah itu, Gita memegang kepalanya ketika memikirkan sesuatu.


“Jadi, kenapa Om Hendra memilih Caca?”


Kehadiran Nolan di UKS saat itu cukup menyita perhatian Gita untuk Caca. Yang ia tau, Nolan tidak akan peduli pada siapapun kecuali dia memang tertarik dengan orang itu. Dan Caca? Apa Nolan tertarik dengan gadis seperti Caca?


Gita menggeleng tak habis pikir. Apalagi ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana paniknya Nolan ketika menangkap Caca yang tiba-tiba lemas karena pingsan didepannya.


Gita menghela nafas, lalu mendorong dadanya maju hingga menekan tepian meja. Menyadari kenyataan itu membuatnya sakit hati dan ingin menyakiti Caca karena sudah berani merebut perhatian Nolan darinya.


Tapi, dia bisa apa?


Rencananya masih berjalan di awal. Ia sudah berhasil mendekati Caca dan hanya perlu bersabar sambil berjalan menyusun rencana lain kedepannya jika sampai hal yang tidak dia ingin kan terjadi.

__ADS_1


Pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dan dia bergerak santai agar tidak membuat orang yang kini hadir disana menaruh curiga.


“Papi?”


Bimo berjalan mendekati putri semata wayangnya, kemudian mengusap puncak kepala Gita dan mengecupnya singkat. “Belajar apa, sayang?”


Gita bergerak nggak nyaman karena papi nya yang mencoba menelisik. “Ada ulangan besok. Gita nggak mau nilai Gita jelek dan mempermalukan papi.”


Pria itu tersenyum. “Bagus. Kamu memang anak papi.” katanya, lalu beranjak menegakkan punggung hendak meninggalkan Gita lagi. “Cepetan turun, mami sudah nunggu untuk makan malam.”


Gita mengangguk paham, lantas ia menyusul berdiri. Dia tidak ingin membuat papi dan mami barunya itu menunggu lama, kemudian berakhir ia mendapat perlakuan buruk lagi dari wanita yang dinikahi papinya enam bulan lalu itu.


Sama seperti Nolan, Gita merasa rumah seperti neraka. Mereka berdua terlihat sama jika di nilai dari satu sisi, itulah alasan Gita tidak rela melepas Nolan.


***


“Gita kirim WhatsApp ke gue.”


Nolan terkejut. Jonathan bertukar pesan dengan Gita tanpa sepengetahuannya?


“Gue juga nggak tau kenapa dia tiba-tiba hubungi gue sekitar sebulan yang lalu.”


Nolan masih memperhatikan Jonathan bicara. Dia tidak ingin melewatkan satu informasi pun dari Jonathan, karena selama ini dia mengabaikan pesan Gita di WhatsApp nya. Nolan malas menanggapi Gita yang terus dan selalu menerornya dengan pesan yang sama, yakni meminta Nolan kembali padanya.


Telapak tangan Nolan terulur menerima ponsel milik Jonathan lalu membaca pesan itu secara urut. Belum ada yang dihapus Jonathan sejak tanggal pertama Gita mengirim pesan. Dan benar kata Jonathan, Gita mulai mengirim pesan sejak sebulan lalu. Bertanya kabar sebagai pembuka, dan pesan terakhir pukul tujuh malam hari ini, yang bertanya tentang status hubungannya dengan Caca.


Pertanyaan nya, untuk apa Gita mencari tau sampai sejauh ini?


Nolan mengembalikan ponsel Jonathan tanpa bicara apapun. Wajahnya masih terlihat biasa dan tenang. Memangnya apa yang harus ia khawatirkan? Dia dan Caca memang tidak ada hubungan spesial apapun kok?


“Siapa cewek yang lagi Lo deketin sampai bikin Gita kebakaran jenggot kayak gitu sih, Lan?”


Nolan mengedikkan bahu. “Gue juga nggak tau. Gue nggak lagi deket sama siapapun kok. Gita paranoid tuh.”


Paranoid?


“Sebenernya, kalian kenapa sih? Lan, kalau Lo masih sayang ke dia, nggak usah jaim deh. Kayaknya Gita beneran cinta sama lo, dan dia kayak nggak pengen putus dari elo.”


Nolan menoleh kemudian membuang muka karena jujur, ucapan Jonathan tadi berhasil membuat satu sisi dirinya seperti di sadarkan kembali. Ada sedikit perasaan yang kadang muncul ketika melihat presensi Gita. Perasaan ingin kembali bersama dan berbagi suka duka, yang terus berusaha ia tepis.


***


Jam istirahat tiba. Caca sudah membulatkan tekat untuk mendatangi Nolan di kantin, memberikan sebungkus coklat sebagai ucapan terima kasih sudah menemani dan membuatkannya teh di UKS.

__ADS_1


Hanya alibi sih, tapi setidaknya itu bisa dijadikan alasan untuk mendekati Nolan pertama kalinya agar tidak terlihat aneh.


Caca menyembunyikan coklat di balik rompi seragamnya, kemudian berjalan menuju kantin yang mungkin sekarang sudah dipenuhi para murid yang mengantre makan siang mereka. Beberapa pasang mata menuju padanya ketika sepasang kaki berbalut Converse itu memasuki lantai kantin. Suara bisik-bisik tak luput dari pendengaran Caca. Tapi untuk apa didengar? Dia hanya perlu mengabaikan semua kalimat-kalimat tidak berguna itu dan fokus pada tujuan awalnya datang kesini.


Setelah hampir mencapai sepertiga luas lantai bangunan yang besarnya nggak ketulungan itu, Caca mulai mencari-cari keberadaan Nolan. Selama makan disini, Caca melihat Nolan selalu memilih tempat paling ujung dan sudut. Jadi, dia hanya perlu memindai bagian sudut ruangan, dan binggo ... Nolan ada disana, sendirian, sedang menikmati makan siangnya.


Caca tersenyum dan mencoba menenangkan dirinya yang kini berdebar. Entah mengapa jantungnya mendadak berdebar. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena takut menanggung malu jika Nolan akan meninggalkannya begitu saja didepan banyak orang.


Pergerakan Nolan terhenti ketika matanya menangkap sosok berdiri di depan meja nya. Dia mengangkat pandangan perlahan, hingga maniknya itu melihat Caca dengan gelagat aneh.


“Apa?” tanya Nolan singkat dengan nada datar hingga nyaris terdengar bukan sebuah pertanyaan.


Caca segera mengeluarkan coklat yang sudah ia siapkan, lalu mengulurkan tepat di depan Nolan. Sudut ruangan tersebut mendadak senyap, beberapa murid perempuan mulai merogoh saku seragamnya untuk mengeluarkan ponsel, mengabadikan momen lainnya dari penolakan Nolan yang akan terjadi dan akan menjadi berita panas hari ini di situs circle sekolah.


“Buat kamu, Nol. Terima kasih udah bantu aku di UKS kema—”


“Udah gue bilang, jangan panggil gue dengan nama itu.” bisik Nolan dengan rahang mengeras.


Caca tidak peduli. Dia maunya begitu, dan Nolan tidak ada hak melarangnya.


Nolan sadar mereka menjadi pusat perhatian. Mungkin mereka pikir, Caca sedang menyatakan perasaan padanya hingga mereka semua ingin tau. Lalu ia mengambil inisiatif yang membuat Caca terkejut bukan main. Caca kira Nolan akan mengacuhkannya, tapi tanpa ia duga, Nolan justru menerima coklat itu dan mengantongi disaku kemeja batik bermotif lambang SMA Kemala.


“Oke. Sekarang Lo pergi sana.” ucap nya kasar berharap Caca segera pergi agar mereka tidak semakin menjadi pusat perhatian.


Tapi bukannya pergi, Caca malah duduk rapi seperti peserta didik Taman Kanak-kanak dengan kedua lengan dilipat diatas meja. Menatap Nolan sambil tersenyum sok manis yang membuat Nolan ingin menggampar wajahnya saat itu juga. Menggemaskan soalnya.


“Berarti, kamu mau jadi temen aku kan, Nol?” tanyanya tanpa dosa. Dia bahkan mengerlingkan mata, mencoba menggoda Nolan.


Sial. Kenapa memanggilnya begitu disini sih? Kalau lagi berdua aja nggak masalah!


Nolan menjulurkan tangannya. Membekap mulut Caca dengan telapaknya yang besar hingga Caca membolakan mata dan menahan nafas. Lalu, Nolan bangkit dan menarik satu lengan Caca yang masih dilipat diatas meja.


“Ikut gue!”


Tanpa mereka berdua sadari, diantara banyaknya lensa kamera ponsel yang menyorot mereka berdua, ada sepasang mata nyalang yang sedang memperhatikan. Telapak tangannya mengepal hingga buku jarinya memutih. Wajahnya pias, dan hatinya penuh akan amarah yang ingin meledak.


Gita melihatnya lagi. Ia melihat bagaimana Caca telah berhasil mengambil Nolan nya. Ia melihat bagaimana tatapan Nolan yang biasa diberikan padanya, kini telah beralih kepada Caca.


“Sial. Aku tidak akan membiarkan kamu berpaling dariku. Aku akan membuka siapa Caca sebenarnya padamu.” gumam Gita dalam hati. Ia lantas melipat kedua tangannya didepan dada, kemudian melirik sekitar yang sedang memperhatikan dirinya. Perhatian dan tatapan itu sudah biasa bagi Gita. Dia nggak akan menggubris semuanya. “Tapi tidak sekarang. Aku tidak akan membukanya sekarang.” []


...—Bersambung—...


###

__ADS_1


See you...


__ADS_2