Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Martabak, Manis?


__ADS_3

...Nggak kerasa udah Part 26...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...26...


“*Para ... ” kata Nolan ketika ingin menghentikan semua bayangan Caca yang terus menghantui ingatannya—cerita masa lalu kelam Caca begitu mempengaruhinya hingga dia merasa nggak tenang. Nolan sering mendengar kata itu ketika bermain game Online. *Para sendiri berasal dari bahasa spanyol yang memiliki arti berhenti.


Nolan menumpu kepalanya dengan lengan, menatap jarum yang terus berputar di langit-langit kamar. Nolan sadar jika tembok pembatas yang selama ini ia bangun sudah oayah, perlahan runtuh bersamaan suara detak jarum jam yang terus memenuhi seisi ruangan. Dan semua itu karena seorang Caca.


“Kenapa sih?” celetuk Nolan kesal pada isi otaknya sendiri. Ini sama sekali tidak ia harapkan. Dia sama sekali tidak ingin kembali larut dalam sebuah kubangan bernama cinta. Ia pernah mempercayai itu, tapi berakhir disakiti. Dan itu cukup terjadi sekali saja seumur hidup. Nolan tidak ingin berharap lebih jika rasa itu kembali muncul pada dirinya. Tapi kali ini? Kenapa debarannya begitu berbeda? Debaran yang terasa begitu lembut dan menyenangkan.


Kesal dan tidak ingin larut dengan isi kepala yang menurutnya sudah mulai kacau itu, Nolan bangkit dengan gerakan kasar hingga ranjangnya turut memantul. Ia meraih Hoodie hitam dan memakai sepatu berlogo centang kesayangannya. Kemudian meraih kunci motor diatas nakas, dan berjalan keluar untuk menuju sebuah tempat. Dimana lagi kalau bukan penjual martabak manis langganannya. Ia bersumpah akan memakan dua kardus sekaligus jika sampai disana, otaknya masih memikirkan ... Caca.


“SHIIIIIT!!”


Nama itu lagi, tambah Nolan dalam hatinya yang kini berdenyut tidak nyaman. Mengapa nama Caca lagi-lagi dan terus menerus terbesit, juga tertulis jelas di memori otaknya? Nolan kesal sendiri jadinya.


Sesampainya di ruang tengah, Nolan melihat papanya sedang menemui seseorang. Rekan bisnis papanya mungkin? Pikir Nolan.


Nolan acuh, tak mau ambil pusing dan terus memacu langkah. Meraih helm yang ada di atas meja panjang yang diatasnya terdapat pajangan-pajangan mahal peninggalan sang mama. Juga beberapa foto keluarga yang terlihat bahagia, dulu. Ya, itu hanya dulu. Bukan sekarang.


“Nolan,” panggil Hendra menghentikan langkah lebar Nolan yang hampir lolos meninggalkan ruang tamu. “Kemarilah, papa mau memberitahu sesuatu padamu.”


Nolan mengerutkan kening, lalu menjatuhkan bahunya malas. “Nolan sedang ada urusan, pa.”


“Kemari!” titah Hendra tak ingin dibantah. Namun bukan Nolan namanya jika hanya menurut dan mengikuti apa yang di perintahkan papanya. Bukannya mendekat, Nolan memilih melangkah pergi meninggalkan papanya yang sedang bersama seseorang berpakaian rapi di ruang tamu ini. Kemudian ia bergegas menstarter motor dan pergi begitu saja.


Pria berjas yang membawa berkas-berkas penting itu tertawa tanpa suara, ketika mendengar dengusan nafas Hendra yang begitu berat saat melihat kepergian Nolan dan tidak mempedulikan ucapannya sama sekali. “Dia masih Nolan yang sama seperti yang saya lihat tiga tahun lalu.”


***


Tidak ada cahaya bulan, malam ini sepertinya akan turun hujan. Terlihat cukup jelas jika sang angkasa sedang bermuram hati, berwarna abu-abu tebal dan menggantung di udara. Angin juga berembus cukup kuat dan dingin, membuat pori-pori di wajah Nolan seperti mengatup.


Deru mesin motor kece Nolan terhenti ketika dia sampai didepan kedai martabak langganannya. Ia sama sekali tidak memperhatikan sekitar karena masih kesal akan beberapa hal yang ia temui hari ini. Diantaranya adalah tentang isi otaknya yang tidak jauh-jauh dari Caca, dan juga papanya. Hingga suara tawa seseorang yang begitu familiar dan sangat ia kenali, menyapa perunggu.


Ini hanya halusinasi kan? Mengapa efek memikirkan Caca sampai se-menyeramkan ini? Dia sampai seperti dihantui. Dia bisa merasakan kehadiran Caca dimanapun ia berada. Oh shiiit, ini nggak baik buat Nolan.

__ADS_1


Tapi, apa yang ditangkap pupil matanya, kini lebih mengejutkan dan menakutkan dari apa yang baru saja ia bayangkan. Caca memang berada disini, di kedai yang sama dengannya.


Manik mata mereka bersirobok beberapa saat, kemudian Nolan mengalihkannya dengan melihat keluar kedai untuk melihat sesuatu.


Sial. Mengapa dia tidak sadar jika memarkir motor disamping motor rongsok Caca?


“Nolan?” panggil Caca penuh semangat.


“Lho, kalian saling kenal?” tanya si ibu, kepo.


“Ternyata dia teman satu sekolah saya. Cuma kami beda kelas, iya kan Nol?”


“Nol Sialan! Kenapa dia tidak berhenti memanggilku dengan nama itu?” Umpat Nolan dalam hati.


Nolan mengambil duduk di jarak tidak terlalu jauh dari Caca. Itu ia lakukan karena terpaksa. Seriusan terpaksa, karena kursi nya ada di situ, di deketnya Caca.


“Hah,” dengus Nolan terang-terangan. “Ngapain Lo disini?” tanya Nolan ketus setelah nafasnya berembus cukup besar.


“Lho, memangnya kenapa? Nggak boleh aku beli disini?” jawab Caca nggak kalah ketus dari kalimat yang di lontarkan Nolan. Dia ogah mengalah meskipun Nolan adalah putra dari orang yang sudah membayarnya.


“Nggak gitu. Lo biasanya suka beli di noh,” kata Nolan menunjuk tempat favorit Caca membeli martabak manis dengan dagu, lantas kembali melanjutkan. “Kenapa sekarang jadi di mari?”


“Suka-suka aku dong. Belinya juga pake uang aku sendiri, bukan uang kamu.” sahut Caca sewot. Ia memang tidak suka cara Nolan mengintimidasi, tapi tidak dengan cara Nolan menunjukkan sebuah rasa ingin tau nya. Nolan sedikit menggemaskan jika sedang kepo, hanya menurut Caca. Catat, hanya menurut Caca, Okey. “Ya, kan Bu?!”


Caca berdiri cukup kasar hingga Nolan terkejut dan mematung dengan wajah mendongak.


“Aku nggak aneh, Nol. Kamu aja yang berlebihan.” kata Caca yang juga terkejut karena tiba-tiba ada hewan yang hinggap di lengan sweater nya. Lalu, ia kembali duduk setelah berhasil membuat hewan tersebut kabur.


Si ibu penjual martabak tersenyum melihat interaksi keduanya.


“Mbak nya ini nggak aneh loh nak Nolan, dia cantik banget malahan.”


“Tuh, dengerin kata ibunya. Kayaknya mata kamu perlu di periksain tuh. Rabun kali!”


Nolan menghela nafas, memilih diam dan mengeluarkan ponsel dari saku celana boogie nya, kemudian mengirim pesan balasan untuk Jonathan.


Belum. Gua lagi nyari.


Jonathan: Kenapa nggak ajak Gita aja? Itung-itung reuni. Wkwkwk


Sialan!


Nolan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku setelah memastikan pesan balasannya berhasil membungkam Jonathan. Ia melihat si ibu sudah mengangkat martabak manis milik Caca dan mengoleskan mentega serta menabur kacang sangrai dan juga coklat di atas adonan yang matang dan masih mengepulkan asap.

__ADS_1


“Nak Nolan seperti biasanya?” tanya si ibu menarik atensi Nolan.


“Iya.” jawab Nolan singkat, tapi sedetik kemudian dia mengingat sumpahnya sebelum berangkat ke tempat ini tadi. Dua kardus martabak manis. Sepertinya itu terlalu sedikit karena bukan hanya isi otaknya yang memikirkan hal-hal aneh berwujud seorang Caca. Dia butuh lebih karena dia malah bertemu langsung dengan orangnya disini. “Nambah dua kardus deh, Bu. Yang super spesial ya.”


Si ibu mengangguk senang, sedangkan Caca menoleh begitu saja tanpa ragu. Sebanyak itu? Untuk siapa? Caca malah kepo sekarang.


“Kamu makan semua itu sendirian?”


Nolan yang sudah disibukkan lagi dengan pesan Jonathan, harus menghentikan jarinya dari atas papan keyboard demi mendongak melihat Caca.


“Kenapa memangnya? Mulut-mulut gue sendiri kok!” balas Nolan tak kalah sarkas sembari menahan tawa dalam hati ketika berhasil membalas kalimat Caca di awal mereka bertemu tadi. Kemudian Nolan kembali fokus pada ponsel untuk berbalas pesan dengan Jonathan. Mereka masih membahas seputar Touring keluar kota yang sebulan lagi hendak mereka ikuti.


Caca menerima kardus dan membayar martabak manisnya. Setelah itu, bukannya pergi, dia malah mengarahkan kursi plastik itu mendekat pada Nolan, lalu mendekatkan wajah ke telinga Nolan, yang membuat pemuda itu seketika merinding disko karena sapuan nafas hangat Caca yang mengenai permukaan perpotongan kulit antara telinga dan lehernya.


“Udah malem, Nol. Jangan makan manis berlebihan. Nanti kamu kena—” bisik Caca terputus.


Belum selesai dengan kalimatnya, Caca menatap datar pada fitur wajah Nolan yang sudah menjauh darinya. Ia sedikit jengkel karena Nolan tidak mau mendengarkan sarannya.


“Ya sudah. Aku duluan.”


Dan setiap langkah yang diambil Caca, masih menjadi pusat perhatian Nolan saat ini. Kemudian lamunan Nolan akan apa yang baru saja dilakukan Caca padanya, buyar seketika, ketika Caca berbicara cukup keras dengan si ibu penjual martabak itu.


“Gulanya jangan terlalu banyak, Bu. Nanti gigi Nolan ompong.” celetuknya berhasil membuat si ibu tertawa, sambil melirik Nolan dan menyematkan sebuah senyuman lembut yang terlihat tulus.


Tatapan mata Nolan masih belum mau lepas hingga Caca kini sudah duduk diatas jok motornya dan memakai helm yang membuat Caca terlihat semakin ... cantik?


Mengetahui masa lalu kelam Caca bukanlah hal yang ia duga sebelumnya. Bahkan Nolan juga sangat terkejut ketika Caca menawarkan sebuah pertemanan padanya. Jika kebanyakan murid perempuan meminta Nolan untuk menjadi kekasih, Caca hanya meminta menjadi seorang teman. Dan itu berhasil membuat Nolan merasa terpacu untuk mengenal pribadi Caca dengan kesederhanaan yang gadis itu miliki.


Dan satu hal yang kini ia sadari, bertemu dengan Caca menjadi salah satu hal yang membuatnya terjebak dalam sebuah masalah, terlebih membuatnya sampai kebingungan saat ini. Bingung membedakan antara martabak manis, dan manisnya senyuman Caca.


Nolan menggeleng pelan ketika motor Caca sudah menyala dan bersiap pergi meninggalkan kedai martabak langganannya ini. Nolan semakin tidak menduga ketika Caca melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan ke arahnya disertai senyuman terlampau manis yang tak kunjung lenyap dari bibir berwarna peach itu. Ya, dia semakin bingung saja sekarang.


Martabaknya dimana?


Manisnya dimana? []


...—Bersambung—...


###


Mampir juga di karya Vi's lainnya yang tentu saja tak kalah seru😊


Terima kasih

__ADS_1


See you


__ADS_2