Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
PDKT


__ADS_3

...Part 40...


...Selamat membaca,...


...Jangan lupa di dukung ya ☺️...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...40...


Hanya butuh menunjukkan kartu identitas diri dan mengisi buku kunjungan untuk mendapatkan akses masuk ke panti jompo ini.


Nolan nekat berkendara sendirian ke panti ini demi merealisasikan keinginannya bertemu kakek tua yang membuatnya penasaran dan diliputi banyak tanda tanya. Apalagi melihat foto pria tua itu ada dimeja papanya semalam.


Seorang suster membimbing langkah Nolan untuk bertemu dengan orang yang dia inginkan. Hingga kakinya berhenti disebuah ruang yang terlihat tertutup rapat.


“Namanya pak Yudha, beliau memang suka melukis. Awalnya memang ada seseorang yang menitipkan beliau ke sini. Tapi sudah lama tidak bisa dihubungi, kami kehilangan kontak karena walinya menghapus jejak dengan sengaja.”


“Walinya itu ... perempuan atau laki-laki, kalau boleh saya tau.” tanya Nolan mulai mengorek informasi.


“Perempuan. Dan itu putri semata wayangnya pak Yudha.”


Nolan mengangguk paham, dan suster itu pamit hendak undur diri.


“Jika membutuhkan sesuatu, silahkan panggil saja kami.”


Sekali lagi Nolan mengangguk, kali ini dibarengi sebuah senyuman ramah di bibirnya. Kemudian, dia masuk ke ruangan kakek yang baru ia ketahui namanya itu.


Pria yang masih saja sibuk melukis itu menoleh ketika mendengar suara pintu kamarnya dibuka dan suara langkah seseorang berjalan kearahnya.


“Lho, kamu datang lagi, nak?” sapanya singkat kemudian kembali fokus memperhatikan kanvas yang dua hari lalu masih belum begitu jelas gambarnya. Dan sekarang, Nolan tidak lagi harus menebak siapa yang ada dilukisan itu, dia tau wanita itu adalah putri dari kakek ini. Wanita yang sudah membuat semua berantakan.


Diam-diam Nolan mengepalkan telapak tangannya. Hatinya yang terasa panas berusaha ia redam, dan emosi yang ingin mencuat terus ia tahan.


“Iya, kek. Saya penasaran dengan hasil lukisan kakek.”


Pria itu tersenyum hingga kerutan diwajahnya terlihat semakin jelas.


“Ngomong-ngomong, siapa yang sedang kakek gambar itu?” tanya Nolan basa-basi.


“Ini, putri saya. Namanya Tiana.” jawab Yudha singkat dan jelas hingga Nolan tidak perlu mengulangi pertanyaannya. “Kalau yang saya tempel di dinding itu, cucu saya.”


Nolan menoleh ke arah Yudha menunjuk ke tempat sebuah lukisan menempel di dinding, dimana disana gambar seorang anak kecil tersenyum riang terpampang jelas.


“Namanya Leo. Tapi saya tidak tau bagaimana wajahnya sekarang. Itu wajahnya ketika terakhir kali saya melihatnya.”


Nolan membatin, jika sekarang anak kecil itu menjadi pemuda brengsek yang menghancurkan keluarga Nolan.


“Lalu, putri kakek?”


Yudha diam. Pertanyaan itu seperti pukulan yang membawa ribuan paku runcing berupa kekecewaan dalam hidup Yudha. Entah mengapa putrinya itu kini meninggalkan dirinya sendirian setelah semua keinginannya terpenuhi.


“Entahlah. Mungkin dia sudah bahagia sekarang.”


Nolan tebak, itu mungkin karena papa nya yang sudah peduli pada wanita itu dan Leo. Karena alasan itulah wanita itu tidak lagi butuh ayahnya dan mengirimnya ke panti jompo.


“Sebelum ini, kakek tinggal dimana?”


“Kami tinggal di bandung.”


Itu adalah kota kelahiran papanya. Jadi cerita yang pernah ia dengar itu, benar adanya.


“Sekarang masih tinggal di sana?”


Yudha menggeleng. “Kata Tiana, dia mendapat pekerjaan di kota. Mungkin sekarang dia dan cucu saya tinggal di sana. Di kota.”

__ADS_1


Nolan semakin mengeratkan kepalan tangannya. Leo ada di kota dan sekolah yang sama dengannya sejak empat tahun lalu. Apa itu artinya kakek ini juga di tinggalkan disini selama itu?


“Lalu,” dengan sedikit ragu, Nolan memberanikan diri bertanya sekali lagi tentang kehidupan kakek Yudha dan wanita bernama Tiana itu. “—apa putri kakek itu tidak ikut bersama suaminya?”


Gerakan mengoles kuas diatas kanvas yang dilakukan Yudha terhenti saat itu juga. Ia menatap nyalang pada lukisan dihadapannya, namun berubah dalam sekejap dengan sebuah kesenduan yang teramat kentara.


“Dia, tidak memiliki suami.”


Jadi benar, Leo hanya anak papa nya yang hadir tanpa ikatan pernikahan.


Nolan diam, tidak berani bertanya lebih jauh karena kakek Yudha terlihat kecewa. Namun sepasang netra Nolan kembali memperhatikan laki-laki itu ketika suara tuanya kembali terdengar mengudara memenuhi ruangan.


“Dia wanita keras kepala dan selalu ingin mendapatkan apa yang dia inginkan.”


Nolan diam membatu. Ia berharap Yudha melanjutkan cerita itu hingga semua kekecewaan Nolan pada papanya memiliki alasan yang cukup jelas. Atau, semua akan menjadi luluh karena alasan lainnya.


“Leo, adalah satu dari sekian banyak hal yang dia inginkan bersama egonya yang sangat tinggi.”


“Apa maksud kakek?”


“Putriku, menjebak mantan kekasihnya untuk tidur bersamanya hingga Leo hadir tanpa diinginkan pria yang dijebaknya.”


Jantung Nolan seolah berhenti sesaat setelah mendengar apa yang dikatakan kakek tua ini. Jadi selama ini, dia terlalu egois karena tidak mau mendengarkan papa nya? Jadi, selama ini dia hanya salah faham karena ucapan wanita yang mendatangi rumahnya hampir empat tahun lalu itu?


“Pria itu sudah berkeluarga. Memiliki istri dan seorang anak.” lanjut Yudha masih tidak tau menahu, jika yang diajaknya bicara, adalah objek yang sedang ia bicarakan. “Aku tidak bisa berbuat apapun saat itu karena terlalu menyayangi putriku dan tidak ingin dia kecewa padaku.”


Nolan menahan nafas. Tubuhnya seperti tidak memiliki tulang. Ada segudang penyesalan setelah mendengar kenyataan yang baru saja ia tau dari kakek tua ini.


“Aku pergi meninggalkan rumah karena dia memintaku pergi, dan keesokan harinya, saat aku kembali ke rumah, aku melihat pria tampan yang pernah aku kenal sebagai kekasih putriku dulu, terburu-buru pergi tanpa berpamitan padaku.”


Sial!!


Nolan mengumpat dalam hati mengetahui kelicikan Tiana menjebak papanya.


“Aku tidak tau apa yang sudah terjadi, Sampai beberapa bulan kemudian, Tiana mengatakan padaku jika dia tengah hamil. Dan ayah dari anak dalam kandungannya itu, adalah pria beristri yang berpapasan denganku pagi itu.”


Nolan menunduk menyesal. Jadi selama ini kebencian nya kepada sang papa, hanya karena ke-egoisan seseorang yang ingin mendapatkan apa yang seharusnya bukan miliknya.


Nolan menggeleng tidak mau mendengar nama ayahnya yang akan menjadi sasaran.


“Dia pria baik yang masih mau peduli pada kami. Dia sering datang mengunjungi ku setelah kembali dari pekerjaan luar kota, dan aku juga mendengar kabar darinya bahwa cucuku sekarang tumbuh besar dan menjadi pemuda tampan, seperti dirimu.”


Nolan meneguk salivanya yang terasa begitu menyakitkan. Dugaannya selama ini yang mengira papanya masih bermain belakang, salah.


“Dari dia juga, aku mendengar jika putriku sekarang tidak lagi tinggal di Jakarta. Dia sibuk dengan kehidupannya sendiri dan menelantarkan leo.”


Nolan terbelalak mendengar informasi itu. Jadi, Leo hidup sebatang kara sekarang? Anak laki-laki yang sangat ia benci itu, hidup seorang diri dan papa nya peduli karena merasa iba, begitu seharusnya bukan? Jadi kedatangan wanita itu ke rumah saat empat tahun lalu, hanya memberikan Leo pada papa nya, kemudian ditinggalkan begitu saja?


“Saya harap Leo menjadi pemuda yang baik seperti dirimu, nak. Saya juga berharap bisa melihatnya, sebelum saya kembali ke pangkuan sang pencipta.”


***


Tanggal dua di tahun yang berbeda, sekolah sudah mulai aktif kembali. Kegiatan belajar mengajar sudah mulai dilakukan hari ini. Dan Nolan, tidak bisa merasa tenang karena menunggu kedatangan papanya. Ia ingin bicara banyak hal dengan pria itu. Kemudian, meminta maaf.


Saat bayangan itu menyerbu benaknya, Nolan melihat Caca di sisi pintu kantin. Senyuman Nolan mengembang sempurna melihat Caca sudah baik-baik saja pasca kejadian nahas malam tahun baru dua hari yang lalu.


Entah mengapa, Nolan merasa kehadiran Caca sangat berpengaruh untuknya. Sejak mengenal Caca, mata hatinya seolah terbuka kembali untuk sang papa. Caca bak malaikat yang hadir di saat yang tepat.


Senyuman Nolan semakin lebar ketika Caca melambaikan tangan kearahnya. Gadis itu tidak peduli meskipun menjadi pusat perhatian, dan hal itu berhasil membuat Nolan geleng-geleng kepala, terlampau kagum pada sosok tersebut.


Sesampainya di pintu masuk kantin, Caca menarik antusias pergelangan tangannya sambil bercerocos seperti biasanya. Seperti Caca yang ia kenal.


“Hari ini menunya udang asam manis, Nol. Aku udah nggak sabar makan. Kamu lama banget ih!” kesalnya menarik paksa Nolan hingga mau tak mau harus berjalan secepat langkah Caca.


“Kenapa kamu nggak makan duluan aja daripada nungguin aku?”


“Aku pinginnya makan sama kamu.”


Wajah Nolan menghangat. Caca benar-benar berhasil membuatnya merasa menjadi seorang laki-laki gentleman yang selalu di butuhkan oleh seorang wanita.

__ADS_1


“Ya udah. Cepetan, keburu masuk.”


Caca menuju tempat tray , kemudian mengambil dua, satu untuknya dan satu untuk Nolan. Lantas keduanya ikut mengantri ular menunggu giliran mengambil jatah makan siang, yang tentu saja tak luput dari sorotan mata-mata ingin tau para murid.


Setelah mengisi tray dengan menu yang disediakan, Caca dan Nolan duduk di salah satu meja membaur bersama teman lainnya yang sama sekali tidak pernah dilakukan Nolan. Beberapa murid suka melihat kedekatan Caca dengan Nolan, karena sekarang Nolan terlihat normal seperti yang lainnya. Tak lupa Caca menyapa murid yang duduk disebelah kanan dan kirinya, kemudian memulai ritual makan siang yang terlihat lezat didepan mata hingga liurnya nyaris menetes.


“Nol,”


“Hem,”


Tanpa keduanya ketahui, orang yang duduk disekitar mereka menahan tawa melihat interaksi mereka yang menggemaskan. Nol? Hem? itu saja sudah membuat mereka ingin berjingkrak memeluk Nolan yang sedang ada dalam mode menggemaskan seperti itu. Mengapa hanya Caca yang bisa membuat Nolan begitu? Pertanyaan seperti itu beredar di forum sekolah akhir-akhir ini.


“Aku ingin bicara sama kamu setelah makan siang selesai.”


“Eumm.” jawab Nolan singkat. Jika dulu dia selalu acuh akan kebisingan Caca, sekarang dia selalu menanggapi apa yang di celotehkan bibir peach gadis bernama Clarita itu.


Setelah menyelesaikan makan siang, seperti yang sudah direncanakan, Caca dan Nolan hendak bicara. Ah, Ralat. Caca yang mengajaknya bicara.


Mereka duduk di tempat rahasia Nolan yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali Caca. Mereka sudah duduk di salah satu sudut ruangan yang biasa ditempati Nolan.


“Mau ngomong apa?” tanya Nolan, mulai menyulut rokok.


“Jangan bikin seragamku bau asap rokok kamu, Nol.”


“Tiga isep.”


Caca tidak mau mendebat lagi setelah Nolan berkata demikian. Karena itu artinya, Nolan akan benar-benar mematikan rokok tersebut setelah hisapan ketiga.


“Agak nggak masuk akal, sih. Tapi aku cuma mau tau aja gimana pendapat dan jawaban kamu.”


“Ya udah. Cepetan.”


Caca menarik nafas yang sudah tercemar oleh asap rokok Nolan. Tak masalah sebenarnya karena dia sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan ayahnya dulu. Tapi ini disekolah, dan dia tidak ingin sampai terkena kasus hanya karena seragamnya beraroma rokok.


“Seandainya, orang yang kamu cintai khianati kamu. Apa yang kamu lakuin?”


Nolan mengisap kuat Putung rokoknya, kemudian mematikan bara api di lantai sebelum melemparnya ke sudut lain ruangan.


“Memangnya kenapa kamu tanya itu? Aku sedang nggak punya pacar.”


“Jawab aja.” kesal Caca menahan malu. Memang pertanyaannya ini terlalu absurd.


“Mau yang ekstrim, atau yang biasa aja?!” tanya Nolan kembali memposisikan badannya bersandar relax di tembok.


“Kalau ada dua versi, ya udah sebutin satu-satu.”


Nolan melirik Caca, kemudian tersenyum sinis.


“Kamu tanya begini, nggak sedang mancing aku buat nyatain perasaanku ke kamu, kan?”


Caca mengerjap cepat. Memangnya siapa yang mau di beri pernyataan cinta? Nolan saja yang terlalu percaya diri.


“Nggak lah. Udah deh, cepetan jawab.”


Nolan menatap langit-langit ruangan. “Terakhir, yang aku lakuin setelah putus itu, balapan.”


“Balapan? Kayak waktu itu?”


Nolan mengangguk membenarkan asumsi Caca tentang malam dimana mereka pertama kali bertemu saat itu.


“Kenapa balapan? Itu bahaya lho?!” ketus Caca nggak pingin Nolan melakukan hal ekstrim itu lagi. “Kamu bisa mencelakai diri kamu sendiri dan orang lain, Nol.”


“Karena aku suka balapan. Dengan balapan, aku bisa melupakan semua masalahku, tanpa harus mengkonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang.”


Caca tidak bisa mengelak sedikitpun. Tapi, balapan tetap saja membahayakan.


“Tapi, itu yang aku lakukan saat aku putus dari orang yang mengejar ku.” Caca menoleh kasar, menunggu kalimat selanjutnya yang hendak dikatakan Nolan, yang kini juga sedang menatap ke arahnya. “Tapi aku nggak tau lagi jika putus dari orang yang aku kejar, dan aku cintai dari dalam lubuk hatiku sendiri.”


Sekarang Caca menahan nafas. Kalimat itu begitu tulus, dan mata Nolan menatap dalam padanya. “Mungkin aku akan mengambil keputusan bodoh yang jauh lebih berbahaya dari balapan.” []

__ADS_1


...—Bersambung—...


__ADS_2