Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Malam Tahun Baru Yang Tidak Terduga


__ADS_3

...Part 38...


...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...




...MGT by: VizcaVida...


...38...


Tahun baru,


Banyak yang menantinya cepat datang untuk membuat harapan baru di hidupnya, ada juga yang mengeluh mengapa cepat sekali tahun ini berganti karena merasa belum rela melupakan kenangan indah yang tercipta.


Sebenarnya, harapan itu bukan hanya bisa dibuat di tahun baru sih, hari apapun bisa. Tapi tahun baru selalu identik dengan hal seperti itu. Berdo'a agar kehidupan lebih baik, berdo'a agar asmara lebih langgeng, dan masih banyak do'a-do'a lainnya yang di panjatkan, pun diinginkan umat manusia diseluruh pelosok dunia di malam pergantian tahun.


Caca bukan salah satu orang yang biasa berharap apapun lancar di tahun yang berubah, karena dia selalu berdo'a setiap hari, setiap waktu bergulir. Tapi untuk tahun ini, dia memiliki pekerjaan yang cukup berat untuk dipertanggung jawabkan. Salah langkah sedikit saja, semua akan berantakan dan berakhir dirinya yang terpuruk. Jadi, ia memutuskan untuk punya harapan ditahun yang akan berubah dalam waktu beberapa jam lagi ini. Berharap semua urusannya tetap lancar, bebas tanpa hambatan.


Nolan sudah berkata jika dia akan datang kerumah di malam pergantian tahun kali ini, dan disetujui oleh Caca. Namun yang membuat Caca tidak menduga, Nolan membawa banyak sekali makanan.


Dua kotak martabak manis, dua kotak martabak telur, dan tiga cup kopi Moonbuck. Tidak lupa beberapa kembang api yang siap akan dinyalakan nanti di jam dua belas malam di halaman rumah Caca.


“Kamu mau disini sampai jam dua belas?”


Nolan mengangguk. “Memangnya kenapa?” katanya sambil meraih sepotong martabak telur dan melahapnya.


Caca menggaruk pipi dan mengalihkan pandangan matanya karena canggung.


“Ya, nggak apa-apa, sih. Cuma aku biasanya jam segitu udah ngantuk dan tidur.”


“Ya sudah. Nggak lama-lama deh. Sampai Bu Julia pulang aja.”


“Lho, malah kecepatan itu, nol.” protes caca yang membuat keduanya saling tatap. Kemudian Caca meratap dalam hati mengapa bisa keceplosan begitu didepan Nolan.


Nolan tersenyum, meraih cup minumannya kemudian meminumnya demi mengalihkan rasa gugup yang juga tiba-tiba merangkak naik menggoda nalurinya sebagai seorang pria. Berada di samping Caca, bukan hanya berhasil membuatnya nyaman sekarang. Ada perasaan lain yang Nolan sendiri tidak tau sejak kapan hadirnya. Sebuah perasaan yang membuatnya merasa gugup dengan wajah memerah tanpa diminta.


“Maksud ku, aku nunggu Bu Julia buat minta izin ngajak kamu keluar bentar ke taman.”


Taman? Bukan ide buruk. Tapi, apa tidak macet?


“Macet Nol. Males ih.”


“Ya ntar aku cariin jalan lain yang nggak lewat jalan utama, Caca.”


Disebut namanya seperti ini saja sudah membuat Caca salah tingkah. Ada gelenyar aneh yang merambat naik ke wajah hingga kedua pipinya terasa hangat. Ia harap Nolan tidak menyadari jika dia sedang ... tersipu.


“Ya udah, awas aja kalau sampe kejebak macet terus pulangnya kemaleman.” ancam Caca yang juga mengambil sepotong martabak telur dan menggigitnya separuh.


“Aku jamin itu nggak akan terjadi.” kata Nolan sambil membenarkan letak jaket jeans yang ia pakai dan menegakkan punggung penuh percaya diri.


***


Caca heran, mengapa ibunya itu seperti sedang terobsesi dengan Nolan. Atau, Nolan memiliki susuk pemikat yang bisa membuat semua wanita dari berbagai umur bisa menyukainya? Tidak tau, yang Caca tau ibunya memberi izin begitu saja kepada Nolan tanpa syarat apapun. Diwanti-wanti jam malam pun, tidak.

__ADS_1


Dan sekarang, mereka sedang perjalanan menuju taman kota yang pasti akan sangat ramai. Ini pertama kalinya Caca merasakan euforia tahun baru diluar rumah, dengan seorang laki-laki pula.


Sepanjang perjalanan, mereka tidak luput dari sorot orang-orang yang menatapnya penasaran. Motor dan gaya Borjuis Nolan terlihat begitu mencolok, mengundang setiap mata untuk memberi perhatian dan penilaian. Seluruh yang menempel pada diri Nolan, memiliki harga yang menurut Caca terlalu mubadzir, boros bukan main. Apalagi jam tangan yang melingkari pergelangan tangan pemuda itu, terlihat sangat berkelas dan pasti berharga fantastis.


Berbeda dengan Nolan, caca terlihat sangat sederhana dengan pakaian santainya. Mereka berdua terlihat tidak sejajar jika dinilai dari materi. Ia terkadang minder sendiri jika berada disekitar kehidupan Nolan yang tidak sebanding dengan dirinya. Memang, seharusnya Caca sadar sejak awal jika mereka berasal dari dunia strata berbeda. Lalu mundur perlahan dan mulai membangun benteng. Tapi apa, Nolan terus memberikan padanya peluang untuk membaur bersama nya, seperti malam ini. Padahal sebelumnya Nolan adalah sosok yang sulit didekati.


“Kamu tau dari mana jalan kayak gini, Nol?”


“Masih ragu dengan kemampuan otak GPS milikku?”


Caca terkikik geli. Ia tidak menyangka jika Nolan membawanya melewati gang-gang sempit perkampungan warga, dan pada akhirnya mereka hampir sampai di jalan pertigaan yang akan tembus dan menghubungkannya ke taman.


“Oke deh. Aku ngaku kalah.”


Nolan tergelak tawa.


“Ca,”


“Eumm?”


Nolan menoleh ke samping kanan demi menangkap bayangan Caca di balik punggungnya.


“Apa aku mengganggumu?”


Caca mengerutkan kening mencari maksud ucapan Nolan yang menurutnya tidak jelas itu.


“Apa maksud kamu?” ketusnya sambil menatap bahu Nolan.


“A-aku datang semauku ke rumahmu, bicara seenak aku ke kamu, apa itu ganggu kamu?”


Caca merasa tersentuh. Ia sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran Nolan. Tapi, apa yang dilakukan oleh nya bersama Hendra di belakang laki-laki inilah yang terus mengganggu ketenangan Caca sejauh ini. Dia terus memikirkan, bagaimana kalau sampai Nolan tau tentang dirinya? Atau, bagaimana kalau Nolan mendengarnya dari orang lain? Bagaimana jika Nolan tau itu semua saat dirinya mulai berharap? Apakah masih akan tetap sama? Apakah Nolan akan masih tetap bersikap seperti ini padanya? Semakin kesini, Caca semakin takut. Ia semakin ingin berbohong lebih jauh, dan lebih jauh lagi agar Nolan tetap baik kepadanya, tetap bersikap seperti ini padanya. Dan ini semua sangat tidak masuk akal.


Nolan tersenyum dibalik helm yang menutup wajahnya. Ia merasa lega mendengar jawaban Caca.


“Terima kasih, sudah mau berteman denganku.”


Mereka sampai dan bergabung diantara kerumunan orang yang sedang bersuka cita menyambut kedatangan tahun yang akan berganti angka.


Nolan menggiring Caca ke sebuah kursi dan menyuruhnya menunggu disana saat dirinya membeli ice cream untuk mereka berdua. Di kesempatan seperti inilah Caca bisa melihat bagaimana mengagumkannya seorang Nolan. Pemuda itu begitu baik tapi tidak semua orang melihatnya demikian.


Ditengah lamunannya akan sosok Nolan, Caca dikejutkan oleh suara seorang pria yang berdiri tidak jauh darinya.


“Jadi memang kamu. Aku nggak salah.” katanya dengan suara cukup terdengar jelas di telinga Caca hingga menarik minat gadis ini untuk mendongak untuk melihat siapa sosok yang sedang bicara padanya.


Dan begitu netranya menangkap sosok itu, Caca membolakan mata. Ia tidak menyangka akan bertemu disini. Ia hanya berharap, pria ini tidak menyeretnya pergi dan kembali menyekapnya untuk dijual.


“Anak tidak tau di untung!”


Caca ingat bagaimana dulu ayahnya juga sering berkata itu didepan wajahnya tanpa mau sedikitpun melihat kepada hati kecil Caca yang terluka.


“Kamu tau apa yang terjadi setelah kamu lari hari itu?”


Caca mulai bergerak tidak nyaman. Ia mengambil ancang-ancang untuk membela diri dan mencari bantuan jika memang dibutuhkan.


“Ayah mau apa?” tanya Caca dengan suara sedikit bergetar.


“Kamu tau apa yang terjadi padaku hari itu?” kekeuh Joko masih ingin Caca mendengar kemalangan yang menimpanya hari itu, setelah Caca melarikan diri.

__ADS_1


Caca hanya diam memperhatikan wajah pria bergelar ayah baginya itu sedang mengeraskan rahang. Tatapan pria itu tajam seperti melihat musuh. Dan tubuh gempalnya seolah siap membuat Caca hancur disini saat ini juga.


“Aku harus masuk penjara dengan tubuh babak belur.” terangnya gamblang.


Caca semakin bingung. Memangnya apa yang sudah dilakukan ayahnya itu sampai tega melakukan semua ini kepadanya. Bahkan ayahnya itu harus sampai di bui dan di hajar orang lain.


“Ayah berbuat buruk? Jadi ayah yang menuai akibatnya.”


Dengan gerakan kasar Joko menyambar lengan Caca. Dia menarik lengan putrinya sendiri hingga terpelanting. Namun Caca tidak tinggal diam. Ibunya pernah mengajarinya tehnik bela diri, dan mungkin inilah waktu yang tepat untuk menggunakan itu. Jika dulu dia hanya diam dan menangis, sekarang itu tidak akan terjadi. Dia akan melawan sebisa dan sekuat tenaganya. Ia hanya ingin membela diri dari ayahnya yang kejam ini.


Caca menyentak telapak tangan ayahnya. Dengan sorot sama yang tak kalah tajam, Caca menatap dingin ayahnya, menghapus sebagian rasa hormat yang selama ini sudah ia coba bangun kembali untuk sang ayah.


“Jangan ganggu hidupku, lagi.”


“Apa?!” tanya Joko dengan seringai tajam disudut bibirnya. “Setelah kamu dan ibumu membuatku sampai hampir mati, kamu ingin aku tidak mengganggumu lagi? Kamu salah jika aku akan diam saja.”


Beberapa orang mulai melihat mereka. Tak gentar dengan egonya, Joko melangkah maju mendekati Caca. Ia menampar pipi Caca hingga wajah anak itu menoleh kesamping. Seorang pria paruh baya mendekat dan mencoba untuk melerai.


“Astaga pak. Apa yang anda lakukan?!” katanya, menahan tangan Joko, namun tenaga Joko sedang tidak dalam keadaan main-main. Laki-laki itu terhuyung oleh sentakan tangan Joko hingga istrinya harus menangkap tubuh pria itu.


Joko mengeratkan rahang, menunjuk wajah pria itu dengan jari telunjuk yang ia acungkan seraya berkata. “Dia anakku. Jangan ikut campur.”


Bersamaan dengan kalimat Joko yang terhenti, sebuah tinju mendarat di wajahnya cukup keras hingga sudut bibirnya terlihat berdarah. Caca juga sedang tidak main-main dan tidak ingin di permainkan oleh ayahnya sendiri saat ini.


Semua itu berhasil menarik seluruh perhatian pengunjung. Ada yang mendekat ingin melerai tapi tidak bisa, karena Joko terus mengancam dengan menunjuk semua orang. Sedangkan Caca, dia menatap datar wajah ayahnya tanpa ekspresi sama sekali. Hanya kebencian yang mencuat kuat pada sorot matanya.


“Sudah berani kamu, Hah?!” teriak Joko tanpa rasa malu. Ia sudah kepalang emosi, dan menganggap Caca harus menerima konsekuensinya.


“Ayah seperti dirimu, tidak pantas dihormati.” tegas Caca dengan sorot tajam yang masih belum luntur. Kebencian menguasainya hingga dia tidak lagi merasakan takut.


Joko mendekat, namun Caca kembali melakukan perlawanan dengan sebuah tendangan kaki tepat di betis Joko hingga laki-laki itu membungkuk, meringis kesakitan.


“Kurang ajar!”


Dengan nafas memburu penuh dendam, Joko menangkis lengan Caca hingga putri kesayangan Julia itu jatuh tersungkur diatas tanah berubin. Lalu, dengan tanpa perasaan, Joko menarik rambut Caca dan membawanya berdiri tanpa peduli ringisan putrinya sendiri. Ia kalap. Ia dibutakan oleh dendam.


“Pak, tolong lepaskan dia. Atau saya hubungi polisi!” teriak seseorang mengancam.


“Sudah langsung saja telepon polisi.” Teriak orang lainnya yang juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi, gerakan pria yang sudah hampir mengeluarkan ponsel itu terhenti lantaran Joko kembali mengancam.


“Kalian hubungi polisi, aku akan menghabisi dia didepan mata kalian!”


Sinting. Caca membatin dan menyumpahi ayahnya sendiri agar tidak disentuh sedikitpun oleh indah dan harumnya surga. Karena dia bukan manusia.


Caca kembali mengikuti langkah Joko yang masih menarik kuat setiap helaian rambutnya, lalu tanpa Joko duga, dia malah jatuh tersungkur karena hantaman kuat di tengkuk lehernya. Caca yang masih berada dalam kuasanya ikut tersungkur kembali di tempat yang sama.


“Sial!!” umpatnya, menggosok tengkuk lehernya yang sakit dan kram.


Caca yang terlepas dari belenggu cengkeraman tangan Joko, segera berdiri. Ia lari menghambur memeluk Nolan yang sekarang berdiri dengan rahang mengerat. Berani-beraninya pria itu menyakiti Caca?


Joko berdiri sedikit terhuyung, tapi kembali tersungkur karena Nolan sudah kembali berdiri didepannya, menerjang dengan sebuah hantaman di wajahnya sekali lagi dengan kepalan dan pukulan sangat keras tak terkira hingga Joko jatuh telentang didepan para pengunjung yang tadi berusaha melerai.


Nolan kembali melangkah mendekat, menekuk kedua kaki untuk mensejajarkan diri didekat Joko. Wajahnya benar-benar datar dipenuhi emosi. Orang ini sudah berani menyakiti Titan-nya.


“Jika kamu berani sekali lagi menyentuh kulitnya, kamu akan mati ditangan ku.” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


###


Komennya boleh tak? Biar othornya se-ma-ngat ... 😁


__ADS_2