Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Touring 2—Perjalanan Menuju Yogyakarta


__ADS_3

...Jelong-jelong doeloe sebeloem konflique 😂...


...Part 34...


...Selamat membaca,...


...Jangan lupa di dukung ya teman-teman baik hati semuanya ☺️...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...34...


Nolan berjalan melewati ruangan luas yang terdapat meja administrasi dan meja-meja lain yang tertata rapi di dekat tembok. Setelah bertemu kakek tadi, Nolan jadi kepikiran tentang perilakunya kepada sang ayah selama ini. Terlalu berlebihan kah? atau memang pantas seperti itu saja? Papanya sudah berkhianat, dan pantas menebus nya dengan sebuah kebencian.


Ditengah pikiran yang terus merongrong batin, Nolan kembali mengedarkan pandangan, dan disitulah dia kembali mendapati sosok Caca. Dia menghampirinya setengah berlari.


“Kamu darimana?” tanya caca ketika Nolan sudah tiba didepannya.


“Ada kakek yang suka melukis. Aku tertarik ingin melihatnya karena penasaran.”


“Oh ya? Dimana?” tanya Caca antusias sambil melongok kearah belakang punggung Nolan.


Nolan tidak menjawab, dia memilih mengalihkan topik dan mengambil langkah menjauh dari sana.


“Dimana Jonathan dan yang lain?”


“Ada disana.” jawab Caca sambil menunjuk ke arah halaman belakang yang sekarang sedang direnovasi.


Nolan berjalan mendahului, disusul Caca dan akhirnya mereka bergabung bersama beberapa orang lainnya, termasuk Laksa yang juga sedang ada disana masih berbicara dengan pak Wiyono.


Setelah selesai melihat-lihat panti dan ngobrol bersama orang-orang baik yang ada disana, serta dipersilahkan untuk membersihkan diri sebelum meninggalkan panti, member pada akhirnya kembali berkumpul di titik yang ditentukan Laksa, yakni di parkiran panti karena hari sudah hampir malam dan mereka harus melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Jarak tempuhnya cukup jauh dan Laksa sudah menentukan kriteria tempat yang akan dijadikan lokasi beristirahat atau ada hal darurat. Tidak mungkin mereka berkendara tanpa melakukan istirahat. Ada banyak wanita yang pasti membutuhkan kamar mandi atau sekedar berhenti untuk meluruskan punggung dan kaki.


Laksa juga berpesan agar semua anggota BPC selalu hati-hati dan waspada. Setelah itu, Laksa memberitahukan jika dia dan tim sudah memesan sebuah penginapan berukuran besar yang akan mereka jadikan tempat tinggal selama sehari dua malam di Yogyakarta. Rencananya, setelah sampai dan beristirahat, hari berikutnya mereka akan melanjutkan perjalanan untuk menikmati destinasi wisata yang ada disana. Opsi ini tergantung siapa yang ingin pergi, atau siapa yang ingin menetap di penginapan. Bebas.


Dan untuk sekarang, mereka akan menuju ke sebuah rumah makan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


Rencananya, mereka akan ada di Yogyakarta sampai tanggal dua puluh sembilan pagi, kemudian kembali ke Jakarta.


Caca naik ke atas motor Nolan yang sudah menyala. Dia juga sudah mengenakan kembali semua perlengkapan berkendara. Sejenak dia melihat punggung Nolan, membayangkan akan memeluknya lagi.


Oh No...


Wajah Caca memerah seketika.


***


Perut sudah terisi, tangki pun sudah dipenuhi. Para member kembali melajukan motornya ke arah penunjuk jalan yang akan membawa mereka ke tempat tujuan. Yogyakarta.


Sepanjang melewati jalanan malam yang ternyata cukup dingin, Caca merasakan matanya memanas karena kantuk. Beberapa kali kepalanya terantuk kedepan membentur kepala Nolan. Dan Nolan sadar dengan cepat jika Caca sedang di rundung kantuk.

__ADS_1


Ah, merepotkan.


Nolan menekan klakson sebanyak dua kali, kemudian mengangkat satu lengannya ke udara dengan telapak terbuka sesuai instruksi Laksa jika salah satu berencana meminta untuk beristirahat sejenak.


Laksa sebagai VJ yang mendengar bunyi klakson dari belakang, mengangkat tangannya ke udara dengan mengacungkan jempol, kemudian dia membuka telapak tangan kiri dan ia ayunkan perlahan. Laju semua motor menjadi perlahan. Mata Laksa mulai mencari tempat untuk berhenti. Dia memang leader yang bisa diandalkan oleh semua member. Dan setelah melihat sebuah pom bensin, Laksa mengisyaratkan untuk belok kiri dengan menurunkan tangan ke samping bawah, kemudian meluruskan tangan dengan kemiringan 45 derajat. Semua mengikuti dan pom bensin itu mendadak seperti pasar kaget karena kedatangan club motor kece ini.


Caca membuka matanya yang terasa berat karena merasa motor Nolan berhenti.


“Ada yang meminta istirahat?” tanyanya tanpa rasa bersalah dan berhasil membuat Nolan menatap datar padanya.


“Pergunakan waktu sebaik mungkin. Titik berhenti untuk istirahat berubah disini—gara-gara kamu.” Nolan menambahkan kalimat menyalahkan Caca itu dalam hati. Dia tidak mau mengatakan secara gamblang dan membuat Caca merasa bersalah.


“Ah, baik. Dimana Nanda? Aku mau mengajaknya ke toilet sebentar.”


“Tuh.” kata Nolan menunjuk Nanda yang berdiri disamping motor gede Jonathan. Dan dengan gerakan ringan Caca berlari mendekat, kemudian mereka pergi berdua ke kamar mandi. Member lain pun menggunakan waktu istirahat dengan baik. Ada yang memilih tidur, ada yang memilih mengecek motor, dan yang perempuan kebanyakan menggunakan waktu untuk ke toilet.


“Lo yang minta berhenti ya?” tanya Jonathan sambil melepas sarung tangan dan maskernya.


“Kepala gue jadi sasaran kepala banteng Caca.”


Jonathan menyemburkan tawa. Mengapa Nolan malah menyebut Caca dengan kepala banteng?


“Ya mungkin anaknya gak biasa melek malem kali, Lan. Wajar cewek. Nanda juga tadi sempet ngantuk, tapi gue ajak ngobrol dan dia bangun lagi. Nggak jadi ngantuknya.” kata Jonathan sembari duduk di jok motor Nolan. “Lo pasti diem aja nggak ngajak dia ngobrol.”


“Gue males. Lagian ngomong apa coba?!” celetuk Nolan kesal dengan tuduhan masuk akal dan benar yang dikatakan Jonathan padanya. “Nanda pacar Lo. Lo berdua ngobrol juga pasti ada aja yang kalian bahas. Lha gue?”


“Ya pasti ada lah meskipun bukan pacar. Kan Lo sama dia temen? Lo aja yang kaku kayak kanebo kering.”


Keduanya berhenti bercanda ketika melihat Laksa berjalan ke arah mereka.


“Nggak istirahat? Tidur bentar kek? Makan atau apa gitu? Tau ke toilet mungkin?” tanya Laksa mengulurkan tangan melakukan toss ke Nolan dan Jonathan.


“Nggak ngantuk ndan. Kalau ke toilet, nanti aja kalau udah sepi.” jawab Jonathan disemati tawa kecil di bibirnya.


“Tadi, yang minta istirahat siapa?”


Jonathan menunjuk Nolan tanpa suara.


“Nolan ya? Pacar kamu—”


“Temen Ndan. Dia cuma temenan sama saya.”


“Oh, kirain pacar.”


Njing.


***


Sekitar pukul dua dini hari, mereka sudah dekat dengan lokasi penginapan yang sudah di booking oleh Laksa.


Udara semakin dingin, sedingin Nolan yang sama sekali tidak mengajak Caca ngobrol selama perjalanan. Ya, mau bagaimana lagi, Nolan memang bukan orang yang aktif bicara jika tidak di ajak bicara terlebih dahulu. Dia juga orangnya nggak suka ribet-ribet ngobrol kalau ujungnya memang seharusnya obrolan itu nggak perlu dilakukan.


“Kok dingin ya?” gumam Caca, kedua lengannya menjauhi lingkar pinggang Nolan untuk ia kumpulkan menjadi satu, kemudian digosok biar hangat.

__ADS_1


Merasa Caca melepas pelukan yang melingkari pinggang dan perutnya, Nolan melirik dari kaca spion dan mendapati Caca menatap ke arah kiri jalanan.


“Pegangan. Lo ngantuk, jatuh, gue yang di penggal bu julia.”


Caca terkikik geli mendengar Nolan ikut memanggil ibunya dengan Bu Julia. Selama ini, Nolan begitu segan didepan ibunya, tapi ketika mendengar Nolan memanggilnya seperti itu, mengapa justru menggemaskan sekali bagi Caca?


“Aku nggak ngantuk, Nol.”


“Udah. Nggak usah ngeyel. Lo pegangan, cepetan.” pada akhirnya Caca hanya bisa menuruti titah Nolan, kembali merangkul dan melingkarkan kedua lengannya di perut si saturnus nya bumi ini.


“Bilang aja mau di peluk. Pake alasan jatuh segala.” dumal Caca, namun Nolan menahan senyuman dan berpura-pura tidak mendengar.


Jujur, berada dalam pelukan Caca seperti saat ini membuatnya nyaman dan ingin berada dalam rangkulan itu lagi dan lagi. Rasanya seperti ... candu.


“Ca,”


“Eum?”


Nolan menahan sejenak suaranya. Ia kembali memikirkan apa yang dikatakan oleh kakek tua di panti jompo tadi.


“Menurut Lo, gue harus buka pintu maaf buat orang yang udah nyakiti gue apa enggak?”


Topik yang dibawa Nolan begitu sensitif. Dan Caca tau betul apa yang sedang coba di katakan Nolan padanya, adalah tentang papanya. Entah mengapa, Nolan memang terlihat sedikit murung sejak meninggalkan panti jompo itu. Caca menyadari perubahan sikap yang ditunjukkan Nolan itu dengan cukup jelas.


“Tuhan aja mau memaafkan kesalahan umatnya. Kenapa umatnya malah sombong dan nggak mau memaafkan kesalahan sesama?”


Terdengar sok bijak barang kali, tapi Caca benar-benar ingin membuat Nolan membuka pintu maaf untuk Hendra.


“Kamu udah tau masa laluku, bukan?” tanya Caca, mendekatkan satu sisi wajahnya ke arah Nolan agar pembicaraan mereka tetap rahasia. “Aku sudah memaafkan ayah meskipun dulu memang rasanya berat banget buat ngasih maaf.”


Nolan diam mendengarkan.


“Kamu benar, tapi orang itu sudah membuat orang yang aku sayangi pergi dari dunia ini.”


Ini dia yang ditunggu Caca. Apa yang didengarnya dari Hendra, apa akan sama dengan yang dikatakan Nolan? Apa mereka hanya terjebak di dalam lingkaran kesalahfahaman saja? Atau memang sudah terlalu sulit untuk di maafkan karena Hendra memang sejahat itu?


“Maksud kamu?”


Member membentuk formasi dua barisan ketika Laksa memberi instruksi dengan lengan diangkat ke udara dan dua jari terbuka. Jalanan sedang sepi sekali, dan lampu merah menyala. Nolan diam tidak memberikan jawaban, ia hanya menunggu Laksa kembali memberi instruksi membentuk satu formasi barisan agar bisa bicara lagi dengan Caca. Sedangkan Caca, dia dengan sabar menunggu Nolan bicara kembali.


Setelah kembali berkendara dengan formasi satu barisan dan melewati tugu Yogyakarta yang membuat Caca seperti dilempar ke masa lalu, Nolan kembali buka suara.


“Papa. Dia yang sudah buat mama ninggalin aku.”


Caca terdiam. Dia masih menunggu Nolan bicara lagi. Akan tetapi bukan hanya itu saja, dia juga sedikit khawatir jika melihat orang itu lagi, meskipun secara tidak sengaja. Caca khawatir jika dia kembali membuat ayahnya menemukan dirinya setelah sang ibu membawanya pergi susah payah dari kota kelahiran ayah dan dirinya ini.


“Papa sudah mengkhianati kami. Dan aku,” Nolan hampir tersedak salivanya sendiri dan terpaksa menjeda ucapannya. Dipikir berapa kali pun, dia masih enggan untuk memaafkan papanya. Tapi, untuk kesekian kalinya pul apa yang dikatakan kakek tua di panti itu menghantui pikirannya.


Kamu akan menyesal sudah menyia-nyiakan keberadaannya. Karena semuanya tidak bisa diulang, nak. Kita diberi kesempatan hidup cuma satu kali, dan semua itu tergantung bagaimana kita memanfaatkannya.


Lalu, dengan suara rendah yang terdengar sendu Nolan berkata, “Haruskah aku memaafkannya?” []


...—Bersambung—...

__ADS_1


__ADS_2