Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Touring 4— Nolan Ft. Caca


__ADS_3

...Part 36...


...Selamat membaca,...


...Jangan lupa di dukung ya biar penulisnya semangat ☺️...


...Terima kasih...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...36...


Hampir satu jam dia mengutak-atik ponsel untuk mencari nomor kontak yang pernah mamanya sempat berikan ketika mamanya dulu pernah memesan replika mobil Lambo sebagai hadiah ulang tahun Nolan yang ke empat belas tahun dulu.


Ia yakin masih menyimpan nomor tersebut, tapi entah mengapa sulit sekali ia temukan. Hingga akhirnya,


“Hah, ketemu juga.”


Nolan mengecek sekali lagi nomor tersebut untuk memastikan jika nomor tersebut masih aktif dan bisa di hubungi.


Beruntungnya, hanya tiga kali nada hubung, suara seorang perempuan menyapa Nolan dari seberang.


“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”


Nolan bersyukur dalam hati.


“Ah, selamat malam. Saya ingin memesan sesuatu.”


“Bisa. Kalau boleh tau, dengan tuan siapa?”


“Nolan Aresta Suwandi.”


Untuk beberapa detik panggilan itu terjeda, seperti terkejut.


“A-ah. Silahkan tuan. Apa yang ingin anda pesan?”


“Sebuah kalung dan bandulnya.”


***


Caca merasa perutnya semakin melilit. Kemungkinan cacing didalam sana sedang berdemo karena tak kunjung di beri makan. Diluar, belum ada tanda-tanda kedatangan anggota club. Caca sangat mengharapkan kedatangan Nanda untuk menemaninya mencari makan malam di luar sambil menikmati suasana malam Yogyakarta.


Namun semuanya sepertinya tidak akan terwujud.


Caca memutuskan turun dari ranjang, menyambar jaket jeans dan dompet serta ponsel, berniat mencari makanan yang lokasinya tidak jauh dari penginapan.


Ia berdiri didepan kaca untuk memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Dia mengikatnya menjadi satu hingga memperlihatkan leher jenjangnya yang bersih, kemudian menatap penampilannya dari atas hasil ngga bawah. Normal dan tidak mengundang syahwat. Oke, dia siap mencari makan malam sekarang juga.


Ia meraih kunci dan memutar kenop bulat pintu dan menariknya terbuka. Udara malam menyapa wajah dan bagian tubuh Caca yang tidak tertutup kain. Akan tetapi, bersamaan dengan dirinya yang menutup pintu, Nolan juga keluar dari kamarnya.


“Mau kemana?” tanya Nolan singkat, lalu berjalan menuju pembatas besi balkon, bersandar santai dengan kaki menyilang didepan kaki lainnya, dan memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya. Definisi santai yang sebenarnya.


“Lapar, mau nyari makan.”


“Sip! Bareng gue aja kalau gitu.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Caca, Nolan segera masuk kembali kedalam kamarnya, tidak lama kemudian keluar dan sudah rapi dengan jaket hitam dan ponsel yang masih ia genggam.


Penampilan Nolan yang seperti inilah yang selalu mencuri perhatian Caca. Nolan begitu mempesona dengan warna hitam. Pemuda itu terlihat memancarkan ketampanannya berkali-kali lipat. Tatapan Caca berhenti pada kalung berbandul Saturnus yang menggantung didepan dadanya. Sesayang dan secinta itu dia pada ibunya hingga tidak pernah melepas kalung itu dari tubuhnya.


“Aku belum bilang mau makan sama kamu—”


“Gue yang bayar.”


Caca mengikuti Nolan yang berjalan melewatinya begitu saja bersama aroma khas dari seorang Nolan yang selalu Caca sukai.


“Beneran? Oke deh. Aku ikut kalau begitu.”


Caca mengikuti langkah Nolan dengan gerakan melompat-lompat kecil tanda bahagia. Ia juga merasa begitu senang karena akan mendapatkan makan gratis.

__ADS_1


Sesampainya di gerbang penginapan, Caca mensejajarkan langkah dan berdiri disamping Nolan.


“Mau makan apa?” tanya Caca


“Menurut Lo, makanan apa yang enak di Yogyakarta?”


“Gudeg?!”


“Boleh. Kita cari warung gudeg.”


Caca berfikir Nolan akan membawa motornya, tapi diluar dugaan pemuda itu mengajaknya berjalan kaki. Sangat pas dengan tujuan awalnya yang ingin menikmati pemandangan malam kota Yogyakarta.


Sepanjang jalur pedestarian, Caca terus melihat-lihat sekitar dan sesekali menganga kagum pada Yogyakarta yang sekarang. Jalanan tertata rapi dan banyak hal yang menjadi ciri khas kota ini. Salah satunya adalah angkringan kopi Joss. Sejak dulu angkringan seperti ini memang ada, dan tidak akan hilang dimakan waktu.


“Mau makan yang dimana?” tanya Nolan menoleh pada Caca yang tertinggal beberapa meter dibelakangnya.


“Terserah kamu deh.”


“Lo jangan jauh-jauh dari gue. Nanti ilang.”


Caca mencebik dan menghentakkan kaki kesal. Apa Nolan pikir dia anak kecil yang akan tersesat jika dibiarkan berjalan sendirian tanpa pengawasan? Sialan jika alasannya seperti itu. Meskipun begitu, dia menuruti ucapan Nolan dan tidak lagi berada pada radius yang bisa membuat kepala Nolan berputar seperti kepala boneka chucky.


Hingga mereka berhenti disalah satu warung gudeg yang cukup ramai. Kedatangan keduanya menjadi pusat perhatian, bahkan ada yang tidak segan untuk mengagumi sosok Nolan.


“Kamu aja yang pesen. Aku yang nyari tempat”


Tau apa yang berbeda dari ucapan yang baru saja dikatakan Nolan? Yap benar. Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya tanpa sengaja dan tanpa dia sadari.


“Kamu lauknya mau ikan atau daging?”


“Daging.”


Jelas. Itu makanan orang kaya soalnya.


Dumal Caca sambil memanyun-manyunkan bibirnya kesal meniru kata-kata Nolan yang mengucapkan ‘daging’.


“Minumnya?”


“Ada whiskey tidak?”


“Ngomong apa sih?” kesal Caca karena malu menjadi pusat perhatian. “Kamu pikir ini bar?”


Sebenarnya, Nolan ingin tertawa dalam hati melihat ekspresi wajah Caca. Tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyemburkan tawa.


“Nah itu, tau.”


“Aku pesen teh panas. Kamu mau juga?”


“Ya udah. Samain aja biar nggak ribet pesennya.” ketus Nolan yang justru mengundang jerit kagum kaum hawa yang berada satu lokasi dengannya.


Kesal bukan main, Caca memutar tubuhnya dengan gerakan kasar, lantas ikut berbaris hendak memesan.


Setelah mengisi perut, mereka melanjutkan berjalan kaki di sebuah taman pinggir jalan raya yang sedikit ramai oleh pasangan kekasih dan juga anak-anak. Caca berlari ikut bergabung di keramaian. Ia duduk di sebuah ayunan yang ada didalam taman itu. Nolan menyusul dengan wajah kaku dan datar. Dia ingat betul selama berpacaran dengan Gita, dia tidak pernah melihat Gita bertingkah kekanakan seperti Caca. Tapi entah mengapa itu justru membuat Nolan seperti di butuhkan. Ia seperti harus melindungi Caca.


“Duduk disini, Nol.” kata Caca sembari menepuk ayunan lain yang belum terisi. Nolan menggeleng. Dia tidak ingin image gahar nya luntur hanya gara-gara naik ayunan.


“Ogah.”


Bukannya menyerah dan bermain ayunan sendirian, Caca menarik lengan Nolan hingga tubuh jangkung seksih itu terduduk diatas ayunan.


“Tau caranya mengayun?” cebik Caca. “Kalau nggak tau, biar aku tunjukin. Begini nih caranya.”


Caca mulai mendorong tubuhnya kebelakang, kemudian mengangkat kakinya dan ayunan itu bergerak maju dan mundur.


“Ayo, Nol. Masa kalah sama anak TK.”


Sialan! Malah di samakan sama anak TK?!


Nolan nggak ingin imagenya hancur karena ucapan Caca barusan. Ia langsung saja menggerakkan ayunan itu hingga mengayun lebih tinggi dan lebih cepat dari Caca.


“Cemen kamu, Ca.”


Mereka tertawa lepas bersama diatas ayunan yang membelah udara.

__ADS_1


***


Puas bermain di play ground, Caca duduk di kursi besi di tepi jalan yang semakin ramai oleh pasangan muda-mudi yang berjalan di area pejalan kaki. Ia menunggu Nolan yang sedang membeli ice cream putar di sana.


Tadi, Caca sempat menolak tapi Nolan tetap bersikeras pergi dan membeli ice cream yang dibuat dengan cara tradisional itu. Dari tempatnya duduk sekarang, Caca bisa melihat jika Nolan sedang menjadi pusat perhatian banyak orang. Entah mereka yang tidak pernah melihat makhluk seperti Nolan, atau Nolan memang memikat? Sepertinya dua pertanyaan itu tidak ada yang salah.


“Nih.”


Nolan memberi, Caca menerima. Setelah itu mereka sibuk sendiri-sendiri dengan es krim putar ditangan mereka.


“Rasanya aneh, tapi enak.” kata Nolan saat es krim putar di tangannya hampir habis.


Caca mengerutkan kening. “Aneh? Enak nih, Nol.”


“Kan aku tadi juga bilang kalau enak.” protes Nolan tidak terima. “Nggak selembut ice cream yang ada di supermarket. Tapi justru tekstur sedikit kasar itu yang bikin aku suka.”


“Ini tuh bikinnya dengan tenaga manusia asli. Bukan mesin.”


“Beneran?”


Caca mengangguk. “Coba tanya ke Gugel deh kalau nggak percaya. Ketik aja es puter. Muncul deh tuh tutorial buatnya.”


Karena penasaran, Nolan mengeluarkan ponselnya dan menuruti ucapan Caca. Dia mengangguk paham ketika melihat proses pembuatan es puter itu. Ia sedikit kagum dengan pengetahuan random Caca.


“Udah? Sekarang percaya?”


Nolan menoleh dan melihat es puter itu sedikit mengotori sudut bibir Caca. Lengannya terulur menunjuk tempat es krim putar itu menempel. “Pipi kamu kotor.”


“Eh, disebelah mana?”


Nolan hanya menunjuk tanpa bersuara. Sedangkan Caca terus mencari dan tidak tepat sasaran, Nolan jadi gemas sendiri dan mengulurkan tangannya. Menjentikkan jari telunjuk dan mendorong kening Caca hingga kepala Caca terantuk kecil ke arah belakang.


“Itu, di sudut bibir kamu.”


Jangan harap ada adegan romantis usap-mengusap es krim putar di sudut bibir. Yang ada Caca berubah kesal karena Nolan sudah berani mendorong kepalanya tanpa izin.


Dengan gerakan kasar Caca mengusap seluruh area bibir, kemudian menjilatinya singkat.


“Sudah?”


Nolan menelan ludah kasar, kemudian mengedip cepat. “S-sudah.”


Caca melahap habis sisa es krim putarnya, kemudian berdiri sambil menepuk jeans hitam yang ia kenakan.


“Yuk balik. Udah malem, Nanda sama Jonathan pasti udah balik.”


Nolan setuju. Ia pun berdiri dan mulai mengambil langkah, diikuti Caca yang berjalan dibalik punggungnya.


Mereka berjalan melewati arah lain mengikuti GPS. Nolan hanya ingin mengeksplor jalanan Yogyakarta sebelum kembali ke kota dengan hiruk pikuknya yang memuakkan.


Mereka sampai di sebuah gang, lalu ada pepohonan yang sedikit rendah menghalangi jembatan yang hendak mereka lewati.


“Kamu ngajak lewat jalan begini amat sih, Nol.”


“Itung-itung nyari pengalaman mistis di sini.”


Caca memanyunkan bibir karena keusilan Nolan. Lalu tanpa diduga serangan ranting pohon mengenai kening Caca.


“Yang ada digerebek warga.” dumal Caca pelan sekali tanpa bisa didengar Nolan. Hingga,


“Awws ... ” aduh Caca sambil mengusap keningnya yang baru saja tertampar ranting pohon yang cukup besar.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Nolan khawatir, karena sebenarnya, ranting itu memukul wajah Caca bukan tanpa alasan. Dan ya, Nolan adalah tersangka yang membuat ranting itu mengayun memukul wajah Caca.


“Sakit.” keluh Caca masih memegang keningnya yang terasa kebas.


“Maaf, aku nggak sengaja.” kata Nolan, meraih telapak tangan Caca dan membawanya turun, kemudian telapak tangannya menggantikan telapak tangan Caca di sana. Mengusapnya lembut penuh perhatian, dan berhasil membuat si empu berdebar hingga tulang engsel yang menyangga tubuhnya lemas, nyaris pingsan.


Perhatian Nolan membuatnya semakin jatuh hati pada pemuda yang usianya dua tahun lebih muda darinya ini. Nolan Aresta Suwandi, berhasil membuatnya jatuh cinta.[]


...—Bersambung—...


###

__ADS_1


Kamu—aku, tandanya apa hayo?


__ADS_2