
...Part 45...
...Selamat membaca...
...🪐🪐🪐...
...MGT by: VizcaVida...
...45...
Today is a beautiful day sudah tidak ada lagi dalam kamus romantisasi dalam hidup Caca. Rasanya sudah terhapus begitu saja tanpa ia sadari. Dia seperti orang tidak waras dalam dua hari ini. Malas makan, malas mandi, rambut berantakan, wajah berminyak, intinya, malas melakukan apapun dan hanya ingin berdiam diri saja. Dia juga tidak lagi nyaman dengan situasi hidupnya sendiri setelah kejadian terbongkarnya skenario oleh Nolan dia hari silam.
Caca pikir, akan mudah keluar dari alur cerita dari skenario itu, tapi nyatanya begitu sulit. Nolan yang membencinya, adalah Nolan yang begitu membuatnya patah hati.
Berangkat ke sekolah pun sudah tidak ada minat karena memang seharusnya dia tidak berada di sana. Memangnya siapa juga yang betah lama-lama ada disekitar orang baru, kaya raya, dan lagaknya minta ampun itu? Tapi Caca masih ada satu hal yang harus dilakukan sebelum benar-benar pergi dari sekolah ternama tersebut, dan juga ... hidup Nolan. Ia perlu berterima kasih dan pamit pada seluruh staff yang sudah bersedia menyembunyikan identitasnya, meskipun Caca tau, semua itu tidak gratis. Hendra sudah menggelontorkan dana dengan nominal yang tidak sedikit untuk memuluskan hal ini.
Selain itu, dia juga perlu datang ke rumah sakit untuk mengembalikan kartu debit prioritas yang diberikan Hendra padanya beberapa waktu lalu. Dia tidak membutuhkan itu. Dia akan mencari kerja demi menghidupi dirinya dan juga membantu perekonomian sang ibu, bukan dengan uang pemberian Hendra yang membuatnya menjadi merasa terbebani. Apalagi saat tiba-tiba mengingat Nolan.
Lelah berbaring, Caca membawa tubuh malasnya untuk duduk di tepian ranjang. Dan sorot matanya bisa menangkap langsung Titan Globe yang ada diatas meja belajar yang sekarang sudah beralih fungsi menjadi meja khusus untuk benda mahal itu. Ya mau bagaimana lagi, Caca tidak ingin Titan Globe itu rusak karena keteledorannya. Sebagaimana ia tau Nolan membayar mahal untuk mendapatkan benda itu.
Nolan ...
“Ah, sial! Kenapa nama itu terus yang muncul dalam kepalaku?” gerutu Caca kesal pada dirinya sendiri, lalu mengacak rambutnya yang sudah seperti benang kusut itu hingga kini terlihat bak sarang burung pipit yang sering tiba-tiba jatuh dari atas pohon mangga didepan rumahnya.
Caca melirik jam, dan sekarang sudah jam sembilan pagi. Apa dia perlu bersiap-siap datang ke SMA Kemala untuk pamit? Sepertinya itu ide yang tidak buruk.
Ia lantas mengambil handuk dan mandi. Ia juga harus memperhitungkan semua gerakannya, termasuk harus menghindari jam istirahat jika tidak ingin tatapan aneh lagi-lagi menyorot padanya.
Setelah siap dengan hati mantap, Caca menyalakan mesin motor dan mulai menggesa jalanan menuju sekolah elite yang setengah semester ini ia tempati untuk menjalankan sebuah misi.
Seperti biasa, dia menitipkan motornya di tempat parkir yang tidak jauh dari SMA Kemala, kemudian berjalan kaki untuk sampai di sekolah elite itu.
Seorang petugas kemanan menahan Caca untuk informasi tamu. Tapi mendengar nama Clarita, mereka pun langsung melepas Caca begitu saja. Sebesar itu pengaruh keluarga Suwandi di sekolah ini.
Caca melewati kantor utama pemilik yayasan, kemudian terus berjalan menuju ruang staff dan guru. Ingatannya kembali dilempar saat pertama kali memasuki ruangan ini dan untuk pertama kalinya dia melihat Nolan dengan seragam sekolahnya.
__ADS_1
Senyuman terbit begitu saja di bibir Caca, tanpa membuang waktu lebih lama dia memasuki ruangan dan di sambut beberapa staff administrasi yang mengenalnya. Hingga akhirnya, Caca pun pamit pulang. Ia membungkuk sebagai tanda hormat, kemudian meninggalkan ruangan tersebut, berjalan ke arah sama yang ia lewati sebelumnya untuk meninggalkan area sekolah.
Akan tetapi, hal yang tidak ia duga terjadi. Ia melihat Nolan berjalan dari lawan arah. Waktu seolah berhenti berputar untuk beberapa saat ketika manik mereka bertemu tanpa sengaja, kemudian Nolan mengalihkan pandangannya dengan cepat dan berjalan seolah tidak melihat apapun di sini—tidak ingin menganggap kehadiran Caca didepan matanya itu hal penting.
Hati kecil Caca merasa bahagia karena ia bisa melihat Nolan yang ternyata tanpa sadar ia rindukan. Namun dia juga kecewa, karena Nolan acuh dan tidak peduli lagi padanya.
Ketika hendak melewatinya, Caca refleks menahan pergelangan tangan Nolan dan menggenggamnya erat. Tidak ada maksud lain, selain ingin kembali meminta maaf dan pamit.
Langkah Nolan terhenti begitu tangan Caca menariknya lebih kuat. Ia menatap kesal lengannya yang berada dalam genggaman tangan Caca, kemudian menariknya dan berniat pergi. Tidak ada lagi yang perlu dikatakan.
“Aku, minta maaf karena sudah membuat mu marah.”
Nolan terdiam ditempatnya. Ia hanya ingin mendengar Caca berbicara. Ia sudah merindukan celoteh gadis ini, tentu saja tanpa sepengetahuan si empu.
“Dan, terima kasih untuk kebaikan dan kebahagiaan yang kamu berikan ke aku selama menjadi siswa disini. Terima kasih sudah mau menjadi temanku, Nolan.”
Tidak ada jawaban, namun Caca dapat mendengar decit sepatu Nolan saat berusaha menjauh darinya. Caca kembali bersuara.
“Jangan pernah melakukan hal yang bisa membahayakan keselamatanmu hanya karena kecewa padaku. Aku mohon.” tutur Caca sendu dan tulus. Meskipun sekarang dia adalah seorang pembohong di mata Nolan, ia tetap tidak ingin Nolan sampai berada dalam bahaya.
Nolan kembali menghentikan langkah kakinya, kini kepalanya menoleh ke arah samping dan mendapati punggung Caca yang sama sekali tidak melihat kearahnya.
Bullshit!!
“Titan globe yang kamu berikan padaku, akan aku—”
“Ambil saja! Jual sekalian kalau Lo butuh duit!”
Ah, kalimat yang sangat menyakitkan. Akan tetapi Caca hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah tanpa bisa membalas ucapan pedas Nolan yang ditujukan untuknya. Lantas ia kembali bicara dengan suara parau dan kepalan tangan yang sudah menyentuh dadanya menahan nyeri yang teramat sangat.
“Aku ... pamit.”
***
Namanya sudah tercantum dalam daftar tamu yang mendapat akses berkunjung ke ruangan Hendra. Caca bersyukur Nolan mencantumkan namanya saat itu, yang berhasil membuatnya bisa berkunjung lagi ke tempat Hendra.
Manik mata Caca bergetar ketika melihat Hendra yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Tubuh pria tua itu terlihat kurus, matanya bahkan belum terbuka sejak terakhir Caca melihatnya.
__ADS_1
Caca mengambil tempat duduk di samping ranjang Hendra. Mengusap permukaan kulit tangan pria itu penuh perhatian. Sedangkan bi Ane yang saat itu sedang berjaga, hanya bisa memperhatikan semua yang dilakukan dan dikatakan caca kepada Hendra.
“Hai, paman. Saya datang lagi.” bisiknya pelan bersama satu lelehan airmata yang jatuh membasahi pipinya. “Pasti paman sudah lega sekarang, karena Nolan sudah membuka hatinya untuk paman, bukan?”
Caca terus memberikan usapannya pada tangan Hendra yang sama sekali tidak meresponnya.
“Saya ingin mengucapkan selamat untuk paman. Ingin berjabat tangan juga.”
Suhu ruangan yang tidak terlalu dingin itu masih menemani kesenduan Caca. Lantas, ia merogoh saku tas selempang yang ia kenakan, mengeluarkan kartu berisi uang pemberian Hendra saat mereka membuat kesepakatan dulu, lalu dengan gerakan sangat pelan seolah tidak mau mengganggu tidur Hendra, Caca meletakkan benda tersebut di atas nakas yang berada disisi ranjang.
“Saya, tidak pantas menerimanya.” katanya lalu mengusap air mata yang kembali jatuh. “Saya, akan pergi dari kota ini, paman.” lanjut Caca sembari mengangkat wajahnya dan menatap wajah Hendra. “Nolan beruntung memiliki ayah seperti anda, paman Hendra. Anda adalah pria baik yang pernah saya kenal.”
Caca menghentikan usapan di lengan Hendra dan berdiri.
“Saya berharap paman segera sembuh agar bisa kembali menemani Nolan yang sekarang pasti sedang sedih dan kesepian.”
“Katakan juga pada dia, untuk tidak lagi menjadi pria dingin yang menyebalkan untuk wanita.”
Caca menoleh ke arah bi Ane berdiri, lantas memutar tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan wanita paruh baya yang merawat Nolan sejak kecil itu.
“Benar kan, bi?” tanya Caca dengan kelakar yang membuat wanita itu tersenyum jumawa.
Lalu, dengan gerakan pelan dan kembali menautkan maniknya pada sosok Hendra, Caca berkata, “Saya pamit, paman.”
Caca membenarkan posisi tali tasnya di bahu, lalu berjalan kecil mendekat pada bi Ane.
“Tolong sampaikan salam saya kepada Nolan, ya bi.”
Bi Ane mengangguk dan mengusap satu sisi lengan Caca.
“Katakan juga kepada Nolan, untuk menyimpan baik-baik kartu itu dan mengembalikan kepada paman Hendra jika beliau sudah siuman.”
Bi Ane mengangguk paham.
Tanpa terduga Caca memeluk Bi Ane yang berhasil membuat wanita itu berjengit kaget dengan postur yang seketika kaku.
“Sampaikan juga kepada Nolan—” Caca menjeda, melepaskan pelukan, dan membuat jarak dengan bi Ane, ia bahkan tertawa sendiri membayangkan wajah bingung bi Ane ketika menyampaikan kata yang hendak ia ucapkan ini kepada Nolan nanti. Tapi, apa salahnya mencoba. Semoga tersampaikan. “Yo tambien te amo.” []
__ADS_1
...—Bersambung—...