Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
Klub Baru, Black Panther Club namanya


__ADS_3

...Part 18 update...



...Selamat membaca...


...🪐🪐🪐...



...MGT by: VizcaVida...


...18...


“Anjing memang!”


“Hush! Itu bokap Lo Lan. Gila lu ya?”


“Tau. Tapi gue nggak suka cara dia dikte hidup gue, Jo. Miris nggak sih jadi gue punya bokap kayak gitu?”


“Tapi dia kaya, lan. keren ih!”


“Njing!!”


Jonathan terkikik geli melihat wajah datar Nolan berubah menjadi kesal hingga alisnya hampir menjadi satu.


“Lu punya kenalan klub motor nggak? Gue mau daftar.”


“Yah... Lu beneran bangkrut Lan?”


“An-jing!!!”


Jonathan tertawa keras sambil membungkuk memegang perutnya yang kaku. Menggoda Nolan seperti ini menjadi kesenangan tersendiri untuknya.


“Gue serius, tapi gue nggak bangkrut.”


“Oh benarkah?”


Nolan mengeluarkan dompet, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna biru.


“Seenggaknya, gue sekarang jadi nasabah prioritas.”


“Weeeh, merdeka lagi dong? Tapi tetep pakai nama papa.” cebik Jonathan sambil menepuk bahu Nolan sedikit keras hingga miring seperti menara Pisa.


Nolan menjengitkan bahu, menatap Jonathan yang masih betah memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua bagian depan menyerupai gigi kelinci. Tapi, itu yang membuat Jonathan terlihat enak dipandang.


“Iya. Dan juga, persyaratan tetap berlaku.”


Perut Jonathan semakin kaku mendengarnya. Ternyata selera humor Nolan lumayan juga untuk didengar telinga Jonathan sebagai hiburan.


“Bugatti, gimana nasibnya?”


“Ada, dirumah. Tuntut aja, ntar gue bela di pengadilan.”


“Sialan Lu. Mana berani gue lawan Suwandi?” kata Jonathan dengan wajahnya yang berubah serius.

__ADS_1


“Kan gue bantu,” celetuk Nolan nggak mau kalah.


“Lu juga Suwandi, be-go!”


Nolan tertawa terbahak mendengar jawaban sengak dari Jonathan. Percaya tidak percaya, hanya Jonathan yang bisa bikin Nolan tertawa lepas begini meskipun bagi Jonathan sendiri, Nolan itu menyebalkan minta ampun.


“Dah lah. Cepetan masukin gue ke grup motor kenalan Lo. Gue pingin punya kegiatan di akhir pekan biar nggak ketemu bokap. Pingin ke klub Bugat tapi mobil udah nggak gue sentuh. Sekarang jadiin gue member motor gede aja.”


“Lo ini bikin gue stress aja, Lan. Sumpah lama-lama kesel gue sama lo.” aku Jonathan blak-blakan tidak ingin menyembunyikan kekesalannya akan sikap bossy nya si Nolan. “Gue juga harus beli moge nih.”


“Nah, tuh baru bener.” jawab Nolan sambil menjentikkan jari didepan wajah Jonathan.


“Settan Lu.”


Meskipun menyebalkan dan Jonathan kesal dengan nolan, pada akhirnya dia menghubungi kenalannya yang menjadi salah satu member klub moge yang cukup ternama. Jonathan berniat mendaftarkan dirinya sendiri dan Nolan dalam klub tersebut, dan teman Jonathan itu, meminta mereka datang ke markas.


Black Panther Club adalah nama klub yang hendak di naungi oleh keduanya. Saat ini, Nolan dan Jonathan sudah sampai didepan sebuah bangunan menyerupai bengkel berkelas yang terlihat sibuk. Didalamnya terdapat sebuah ruangan yang di fungsikan untuk tempat berkumpul para member di akhir pekan, atau hendak melakukan Event. Fian—nama teman Jonathan—kini membawa keduanya bertemu dengan salah seorang pencetus klub tersebut, yang juga bertugas menyeleksi member yang hendak masuk ke klub.


“Ini mereka, Ndan.” kata Fian setelah berhasil mendorong pintu kaca gelap yang menjadi ruang kerja si pimpinan klub.


Komandan, begitulah panggilan si pria berusia tiga puluh lima tahunan yang terlihat masih tampak muda diusianya yang sekarang itu.


“Oh, duduk dulu.” katanya, mempersilahkan Nolan dan Jonathan untuk duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya. “Sorry nggak nyaman buat kalian. Tapi lagi sibuk soalnya mau ada event dua bulan lagi.”


Nolan melompat girang dalam hati. Ini yang ia harapkan. Jauh dari rumah dan papanya.


“Kalian, masih sekolah?”


“Saya kuliah, dia yang masih sekolah, Ndan.” kata Jonathan menunjuk Nolan sambil ikut-ikutan memanggil pria didepannya itu dengan sebutan ‘Ndan’.


“Izin orang tua?”


“Syukur kalau dikasih izin. Jadi kalau ada apa-apa kan, kita gampang minta izinnya juga.”


Nolan menggaruk pelipisnya. Menyesal karena berbohong sudah terlambat, dia hanya bisa lanjut menjalankan peran.


Dua lembar kertas yang wajib diisi oleh Nolan dan Jonathan di sodorkan diatas meja. Tangan keduanya terulur serempak, lalu membaca isi tulisan di atas kertas itu bersama-sama.


“Kalian wajib isi biodata diri kalian jika mau jadi member disini. Nanti aku jelasin lagi apa tujuan dan kenapa klub ini di bentuk.”


Nolan dan Jonathan mengangguk paham, lalu bergegas mengisi lembaran itu dengan tulisan tangan mereka, kemudian ditutup dengan membubuhkan tanda tangan di atas materai sebagai bentuk persetujuan atas syarat yang harus mereka patuhi.


“Okey, eum....Nolan atau siapa nih panggilannya?” Tanya pria itu sambil membaca data pribadi Nolan ditangannya. “Astaga, ternyata kamu anaknya pak Suwandi?” tanya Si komandan sedikit tercenung karena member barunya ini.


“I-iya bang.”


“Waduh, apa papa kamu nggak keberatan kamu ikut klub beginian?”


“Bang komandan tenang saja.”


Lalu pria itu mengangguk. “Panggil Nolan kah?”


“Iya.”


“Namaku Laksa, tapi anak-anak panggilnya Ndan-Ndan, kalian tadi dengar sendiri kan? Okey, aku ucapin selamat bergabung di klub BPC ya Nolan, Jo.” kata Laksa sambil mengulurkan tangan yang kemudian dijabat oleh telapak Nolan dan juga Jonathan.

__ADS_1


“Dua bulan lagi, ada event luar kota bertema peduli lansia di sebuah panti jompo yang sudah menjadi tempat kami berdonasi sejak lama.” lanjutnya mulai membicarakan tentang event dan akan melanjutkan dengan visi dan misi klub.


“BPC bukan klub liar dan tidak memiliki izin. Kami memiliki izin tertulis dan kami terjun di dunia kemanusiaan.”


Nolan sedikit kecewa karena tidak ada daftar balapan di club ini, tapi semua kegiatan yang dilakukan klub motor ini adalah hal mulia, jadi ada sedikit rasa bangga juga yang menyentuh hatinya. Dia akan mulai berbuat baik kepada orang lain dan menata pribadinya di klub ’baik-baik’ ini.


“Kamu tidak sekedar berkendara pamer harta, memenuhi jalan raya, dan mengganggu pengendara lain di jalanan. Tapi kami memiliki visi dan misi kemanusiaan. Dan itu tujuan utama kami membuat BPC.”


Jonathan mengangguk paham, sedangkan Nolan hanya diam dengan wajah lempeng seperti kerupuk yang sudah lama diterpa angin. Melempem.


Setelah mengurus pendaftaran menjadi member, Nolan dan Jonathan kembali berkendara untuk pulang. Mereka menggunakan motor Nolan yang begitu memikat setiap mata yang melihat kearah mereka karena selain mahal, bentukan motor itu klasik dan keren secara bersamaan.


“Jo, gue mau tanya. Tapi Lu jangan ketawain gue.”


“Tanya apa?”


Nolan menginjak pedal rem karena lampu lalu lintas berubah merah.


Butuh keberanian super untuk menjadi lelaki sejati didepan Jonathan. Pemuda ini pandai menertawai dan mengintimidasi. Tapi hanya dengan Jonathan Nolan bisa mengungkapkan semua isi kepala dan unek-unek yang ia simpan sendiri. Sebenarnya, Nolan rindu momen dimana Gita menjadi pendengar keluh kesahnya. Bukan Jonathan yang membuat citranya turun dan jatuh memalukan.


Pergi. Nggak seharusnya gue mikirin Gita disaat seperti ini. Dia udah gue anggap masa lalu meskipun kadang gue masih merindukan dia ketika ada masalah. Gue ingin berkeluh kesa—


Sial! Diam otak!


“Lo nyaman sekolah kedokteran?”


“Kenapa? Lo mau jadi junior gue di kampus setelah lulus?”


“Kampret!! Jawab aja pertanyaan gue, nggak perlu ngomong yang lain.”


Jonathan tertawa kecil hingga menarik dua pengendara perempuan disampingnya.


“Nyaman aja sih, Gue. Selama uang terus ngalir ke rekening, gue mah fine-fine aja.”


Nolan tidak menyahut ucapan Jonathan. Dia memikirkan bagaimana ucapan papanya yang menuntut masa depan. Nolan tidak ingin menjadi seperti papanya yang tidak pernah punya waktu untuknya. Nolan pikir, dia tidak ingin mengecewakan anak-anaknya kelak seperti papanya mengecewakan dia selama ini.


“Lu mau jadi dokter? Terus gimana bisnis batu bara bokap Lo yang omsetnya milyaran perbulan itu?”


Inilah yang menjadi pertimbangan Nolan jika memikirkan masa depan. Dia sama sekali tidak ingin bergelut di dunia yang sama dengan papa nya. Dia ingin bebas melakukan apa yang ingin dia lakukan, termasuk menentukan pilihan untuk masa depannya nanti.


“Kagak. Gue mau jadi tukang sapu taman kota aja.” kelakar Nolan yang seraya mendapatkan tonjokan di punggungnya dari Jonathan.


“Njing. Sakit be-go!”


“Ya udah, jadi pak bon aja sana. Toh pekerjaan itu juga mulia. Yang penting nggak nyuri uang rakyat aja.”


Benar. Dunia memang tipu-tipu.


Nolan tersenyum, lalu memasukkan gigi persneling dan menarik pelan gas tangan karena lampu sudah berubah hijau. Jonathan sibuk berpamitan pada dua cewek yang dari tadi tampak memperhatikan mereka.


Sedangkan Nolan, melirik perbuatan memalukan Jonathan itu dari kaca spion motor yang saat itu nggak sengaja mengarah ke Jonathan. “Lo tebar jala di luar begini tanpa do'i tau. Kalau gitu, Nanda buat gue aja.” goda Nolan yang kini mendapat toyoran di kepala dari Jonathan yang kesal karena Nolan ingin mengambil kekasihnya hanya karena dia dadah pada dua cewek tadi. “Lo demen banget nganiaya gue deh. Sumpah, gue bales jangan ngadu sama bokap Lo, ya?”


Beginilah Nolan, jika dia sudah nyaman dengan seseorang, dia akan banyak bicara dan terbuka. Tidak lupa juga dengan sikap loyal mengagumkan dia miliki, karena pada dasarnya Nolan memang anak yang baik.


“Lo tuh cepet cari pasangan. Komandan bilang, kita butuh partner di touring kali ini.”

__ADS_1


“Anjing!” []


...—Bersambung—...


__ADS_2