Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Extra Part (Honeymoon) Last.


__ADS_3

...Extra bab ini berisi tentang honeymoon yang mengandung unsur dewasa yang patut di sikapi dengan bijak....


...Jika dari kalian tidak suka atau belum cukup umur untuk membaca cerita bertema dewasa dan eksplisit, silahkan skip....


...Selamat membaca....


...•...



...[•]...


Paris, kota yang sering kali dijadikan tujuan wisatawan manca negara karena memiliki vibes yang begitu indah untuk menikmati kebersamaan. Apalagi untuk mereka yang memiliki pasangan.


Hari ini Nolan dan Caca tiba di bagian paling penting kota Prancis itu dengan perasaan lega setelah melakukan perjalanan yang cukup lama di udara, dengan sedikit kendala—turbulensi.


Sangri—La Paris menjadi pilihan Nolan untuknya tinggal beberapa hari bersama Caca disini. Mereka ingin menciptakan moment yang indah dan tidak akan terlupakan selama hidup mereka disini.


Suhu di ibukota Prancis ini begitu rendah mencapai 8° Celcius, membuat mereka berdua enggan melakukan perjalanan diluar ruangan. Selain itu mereka juga butuh istirahat karena lelah.


Nolan meletakkan koper mereka disebelah lemari, lantas menyusul Caca yang sudah berada di balkon dan sibuk mengagumi menara Eiffel sore menjelang malam dengan lampu yang sudah menyala. Tak ingin melewatkan momen romantis, Nolan yang masih dibalut jaket tebal itu memeluk Caca dari belakang. Meletakkan dagunya di satu bahu wanita kesayangannya itu, lalu mengecup singkat pipi yang sekarang sedikit bervolume, pipi berisi seperti bakpao milik Caca.


“Suka pemandangan nya?” tanya Nolan yang di angguki Caca tanpa berfikir lama.


“Bagus banget.” balasnya sambil menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nolan. “Tapi dingin.” lanjutnya sembari meraih kedua lengan Nolan untu melingkarkan semakin erat di pinggang nya.


Mendengar kode dari Caca, Nolan segera mengeratkan pelukan dan memberikan kecupan singkat di pipi sang istri. “Ayo masuk kalau dingin.” ajak Nolan, membalik tubuh Caca kemudian membopongnya masuk kedalam kamar hotel, lalu menurunkannya di tepian ranjang tanpa kesulitan. Mata mereka bertemu, saling tatap dalam tenggat waktu yang cukup lama. Hingga Nolan tak sanggup menahan senyuman di bibirnya.


“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Nolan memprovokasi, sembari mengecup bibir Caca.

__ADS_1


“Memangnya nggak boleh lihat suami sendiri?” ketus Caca mencoba mengimbangi Nolan yang terlihat mulai menginginkan sesuatu dari dirinya. Ia mengangkat lengan, kemudian telapak tangannya menyentuh garis rahang Nolan dan mengusapnya seduktif. “Katanya mau bayi?”


Sial.


Nolan tak mau buang-buang waktu lagi. Biar capek sekalian tuh badan. Nyari keringet bareng Caca malem-malem dengan cuaca yang sangat dingin, pasti menyenangkan.


Segera, Nolan mencium bibir Caca. Berlangsung sangat lama hingga suara decapan terdengar mengudara sebagai perpisahan sementara bibir keduanya. Nolan bergegas melepas baju hangatnya dan membantu Caca melakukan hal yang sama. Hingga kini keduanya hanya mengandalkan beberapa pakaian pelengkap penutup aset berharga keduanya.


Perlahan tapi pasti, Nolan mulai menyentuh permukaan kulit Caca yang membuatnya selalu ingin pulang cepat saat bekerja. Memang, Caca sudah seperti candu baginya.


Wajahnya mendekat ke area ceruk leher Caca dan mengecup sekaligus menyesapnya kecil-kecil. Caca yang sudah masuk dalam permainan yang ditawarkan sang suami, sudah lupa daratan. Lupa akan perjanjian mereka ketika masih berada di dalam pesawat tadi.


Jangan bikin tanda merah-merah. Malu kalau sampai dilihat orang lain.


Setidaknya itu permintaan Caca beberapa jam lalu sebelum pesawat landing di bandara Charles De Gaulle, Paris.


Desa-han lembut menyapa perungu Nolan, membuatnya kian bersemangat menyapukan bibir dan mengeratkan sesapan kecil di ceruk leher jenjang Caca yang begitu menggai-rahkan itu. Gerakan itu perlahan turun menuju tulang selangka, lalu turun ke dada, tempat favorit Nolan ketika melakukan foreplay.


“Woman on top? Boleh juga.”


Perkataan itu sontak dihadiahi pelototan mata dan tepukan cukup keras dari Caca. Wajah wanita itu sudah merah bak kepiting rebus karena malu di sorot lurus tatapan bak elang milik sang suami.


Caca memulainya. Ia meraih dan menenggelamkan Nolan kedalam dirinya. Setelah itu bergerak perlahan menyesuaikan diri.


Setelah merasa sudah cukup terpancing, Nolan beringas dan membalik keadaan, mengungkung Caca dan bergerak semaunya hingga membuat suasana semakin memanas diantara suhu yang begitu dingin.


Suara derit ranjang diatas lantai, suara pertemuan kulit, suara de-sahan yang melecut dari bibir keduanya, peluh yang saling membasahi, semua bersinergi memunculkan aroma percintaan yang intens. Hingga pekikan dan sentakan kuat dari Nolan di area pribadi milik Caca, menjadi penutup kegiatan panas mereka di negeri pemilik menara indah bernama Eiffel ini.


Nafas mereka memburu, namun Nolan masih ingin bermain-main dan berlanjut sesi kedua yang membuat Caca menggeleng kepala tak habis pikir. Nolan memang seperti ini jika sudah On fire. Sulit berhenti.

__ADS_1


Caca menarik selimut setelah tiga kali Nolan menjelajah surga dunia bersamanya. Tubuhnya seperti remuk tak berbentuk karena permainan Nolan yang meminta berbagai macam gaya di sesi kedua dan ketiga.


“Astaga, aku mau pingsan.” keluh Caca sambil meringkuk di balik selimut.


“Aku ambilkan minum.”


Nolan yang merasa bersalah pada akhirnya mengambil inisiatif memberikan Caca segelas air putih untuk memulihkan tenaga. Di Paris sudah jam sembilan malam, dan kemungkinan besar, tidak lama lagi Caca akan mengeluh lapar padanya. Astaga, tidak terasa hampir empat jam dia menggagahi sang istri. Nolan semakin merasa bersalah kepada Caca karena tidak bisa berhenti hanya dengan satu kali pele-pasan.


Ia menyodorkan air putih untuk Caca, kemudian duduk di samping wanita yang ia cintai itu sembari mengusap puncak kepalanya penuh cinta, dan bertanya. “Mau makan apa? Kamu pasti lapar?”


Caca yang sudah menandaskan segelas air putih dan menyerahkan gelas kosong kepada Nolan, kembali merebahkan diri menyamping. Nafsu makannya hilang karena lelah. Dia hanya ingin terlelap tanpa gangguan.


“Besok pagi aja. Aku lelah, pingin tidur.” jawabnya, beringsut masuk kedalam selimut dengan satu kaos Nolan yang terlalu besar membungkus tubuhnya, ia lalu memejamkan mata.


“Baiklah. Good night sweet heart.” kata Nolan membungkuk dan mengecup wajah Caca, lalu mengambil posisi yang sama dan memeluk Caca dari belakang.


Tiba-tiba saja ia tersenyum menatap rambut Caca yang masih basah oleh keringat. Semua kenangan bersama Caca terputar dari dalam memori menuju imajinasi nya. Mulai dari pertama kali bertemu karena insiden parit, lalu mengenal Caca di sekolah, mereka dekat dan berteman, kemudian Nolan yang menyatakan perasaan. Lalu, diselingi oleh kenangan pahit yang membuat mereka berdua berpisah selama bertahun-tahun, lantas dipertemukan lagi dan berakhir menikah dan hidup bersama.


Nolan pikir ini adalah anugrah yang paling indah yang Tuhan berikan untuknya.


Caca adalah Titan yang dikirim Tuhan untuk Saturnus-nya sebagai teman dan sumber cahaya hidupnya.


Perjuangan dan penantian mereka berujung indah. Dan sekarang, tinggal bagaimana Tuhan akan memberikan kebahagiaan lain yang lebih indah dari apapun di muka bumi. Seorang anak.


Nolan merapatkan tubuh, memeluk Caca lebih erat hingga si empu menggeliat karena sesak. Namun tidak sedikitpun Nolan ingin melepasnya. Nolan tersenyum lebih lebar.


“Me Gustas Tu, Wifey.” bisiknya ditelinga Caca.


Tanpa Nolan duga Caca berbalik, mengecup singkat sudut bibirnya dan membalas. “Yo tambien te amo, hubby.” []

__ADS_1


...—Last Ending—...


__ADS_2