Me Gustas Tu

Me Gustas Tu
S2. Four


__ADS_3

...Jangan lupa didukung biar authornya semangat ☺️...



...[•]...


Kadang Caca itu berfikir, dia pernah melakukan kebaikan apa sampai hidupnya terlalu mujur sampai disukai pria tampan dan berduit seperti Louis. Tapi, dia juga kadang lelah dengan ke-over protektifan pria itu saat mengawasinya. Contohnya sekarang, gara-gara makan malam bersama Nolan dan pengakuan pertemanannya yang tiba-tiba, membuat Louis memburu penjelasan konkrit darinya.


Sudah bisa di tebak oleh caca, sesampainya di depan pintu apartemen, Louis seperti meminta penjelasannya tentang Nolan. Lebih tepatnya, tentang kedekatan mereka dulu. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat bagi Caca mengenal seorang Louis. Ia tau semua gelagat Louis mulai dari senang, sedih, lelah, dan tentu saja sedang curiga seperti saat ini.


“Jadi kamu kenal dekat sama Nolan? Ibu kamu juga?”


Caca menghela nafas. Rupanya Louis benar-benar belum mau menyudahi itu.


“Iya. Seperti ceritaku tadi.” tukas Caca singkat, dan berharap Louis mau mengerti sekarang, meskipun mustahil karena Louis tipikal orang yang belum mau berhenti jika semua terkaan dalam kepalanya terpenuhi.


Caca mengulurkan tangannya hendak menekan passcode di intercom, namun terhenti karena interupsi Louis kembali meluncur.


“Tapi, cara dia ngelihat ke kamu, sangat beda dari tatapan seorang teman.”


Caca tertawa disudut bibir. Dia merasa mulai tidak nyaman dengan pembicaraannya bersama Louis.


“Ch,” Caca berdecih. “Ngomong apa sih kamu.” katanya tak suka. Jika Louis hanya ingin memojokkannya sekarang, Caca bersumpah akan mengusir laki-laki itu setelah ini.


“Nolan seperti—”


“Lou, please jangan mikir macem-macem. Aku sama Nolan cuma teman. Murni teman. Kami nggak pernah ada hubungan apapun selain hanya teman.”


Benar, Caca tidak berbohong, tapi dari nada bicara dan intonasi suara Caca, Louis dapat menebak ada sesuatu yang disembunyikan Caca darinya.


“Kalau kamu nuntut aku buat percaya gitu aja, maaf kali ini aku nggak akan melakukannya, Ca. Kamu milikku.”


Caca menghela nafas, bahunya sudah jatuh layu dengan tatapan lelah.


“Lalu, kamu mau aku gimana? Mau aku jawab apa?” tanya Caca menyerah. Kalau masalah begini, Louis memang selalu pandai mendebat. Tidak salah om Hutama menjadikan putranya ini seorang Presdir.


“Jujur sama aku!” tekan Louis tak ingin di bantah dengan wajah yang berubah dingin. Tatapan matanya menyorot tajam ke arah Caca.

__ADS_1


Bukannya marah, Caca memilih tersenyum disudut bibir dan membalas Louis dengan sebuah kalimat sarkas yang pasti akan berhasil mengintimidasi Louis dan membuat pria itu kembali melunak. Ya, Caca selalu menggunakan cara ini jika Louis sudah dalam mode cemburu buta seperti ini.


“Jadi, kamu nggak percaya sama aku?” kata Caca tak kalah dingin. Ia mendongak demi mensejajarkan manik mata mereka, kemudian menyorotnya penuh penekanan.


“Makanya cerita ke aku.” kata Louis sedikit meninggikan intonasi suaranya.


Rupanya trik Caca tidak berhasil kali ini. Louis masih alot dan tidak mau menyerah untuk menuntut penjelasan dari Caca.


“Okey. Aku bakalan cerita. Tapi enggak dengan kamu yang lagi uring-uringan begini. Aku yakin kita nggak bakalan sejalan buat nemuin titik terang masalah, kalau bicara sekarang.”


Louis memaku di tempatnya. Ia hanya menatap lurus kearah Caca. Dan sekali lagi Caca meluruhkan bahu, menjatuhkan kedua lengannya disisi tubuh, lantas balas menatap Louis.


“Aku yakin, kita bakalan berantem kalau bahas sekarang, Lou. Please, kamu ngertiin maksud aku.” mohon Caca tulus dari dalam hati, berharap Louis kali ini masih mau mengerti dirinya.


Tapi tetap tidak seperti yang Caca harapkan. Tanpa bicara sepatah katapun, Louis berbalik dan meninggalkan Caca. Kencan yang ingin dia akhiri dengan perpisahan manis dan mendengar suara manja Caca, tidak terwujud.


Caca sadar jika dirinya terlalu egois. Dia bahkan tidak mau mencegah kepergian Louis yang pergi tanpa pamit padanya. Seperti bayangannya, mereka akan berdebat sengit dan berakhir tidak baik jika membicarakan masa lalu itu sekarang. Mereka hanya butuh waktu yang tepat, dan hati yang tenang untuk berbicara serta membuka semua kenyataan yang ada antara Caca dan Nolan.


Setelah Louis menghilang dari pandangan, Caca menekan passcode pada intercom yang tertanam di pintu baja apartemennya, kemudian masuk kedalam rumah. Dia tidak ingin melakukan drama mengejar dan memohon kepada Louis sekali lagi untuk mengerti dirinya. Mereka sudah sama-sama dewasa, dan mereka harus bisa bersikap sebagaimana mestinya. Dan tentu saja, Caca tidak akan mengusik Louis jika sudah marah seperti ini. Dia hanya perlu menunggu pria itu melunak dan menghubungi dirinya terlebih dahulu.


***


Jam menunjuk angka sepuluh malam, tapi Caca masih belum bisa memejamkan matanya, masih kepikiran Louis yang tidak biasanya se-marah ini padanya. Meminta maaf pun terlalu gengsi sebagai seorang perempuan. Apalagi membayangkan pria itu akan seratus persen jutek dan nggak peduli dengan keberadaan nya jika dalam mode cemburu begitu, membuat mata Caca semakin enggan untuk memejam. Ditambah sebuah kenyataan, masalah ini bermula dari dirinya. Dia yakin sekali kalau Louis tidak akan menegur sapa padanya sebelum keinginan pria itu ia penuhi.


“Jadi pingin telepon Ibu.” gumamnya, tapi tidak mungkin ia lakukan karena hari sudah malam, dan tentu saja ibunya itu pasti sudah terlelap.


Caca menarik selimut hingga menutupi sebatas pinggang, kemudian meraih saklar lampu utama untuk ia ganti menjadi lampu tidur. Gelap, sepi, membuatnya seperti kembali dilempar ke masa lalu.


Nafas Caca terembus besar sembari di iringi sebuah de-sahan lelah. Tangan dan kakinya memeluk rapat guling. Dia ingin menangis. Terlalu lelah memikirkan banyak sekali beban yang ia simpan sendirian.


Apa ini saatnya dia mengambil keputusan untuk hubungannya bersama Louis? Apa ini saatnya dia memutuskan untuk menikah dengan pria itu, meskipun jujur, setelah bertemu Nolan, rasa yang dulu sudah ia kubur dalam, kini kembali mencuat ke permukaan.


“Kenapa dia harus muncul lagi dalam kehidupanku?” tanya Caca lirih pada sunyi. “Aku sudah susah payah melupakannya, tapi kenapa dia tiba-tiba muncul nyata di hadapanku?”


Selama ini, saat memperhatikan Nolan muncul di layar televisi tidak berpengaruh apapun pada hatinya Caca. Dia bisa acuh, pura-pura tidak dengar atau melihat, dan juga dia bisa mengingkari hatinya sendiri dengan memikirkan Louis sebagai pengalihan, meskipun ia tau, hal itu terlalu tidak adil untuk Louis, kekasihnya yang sudah menjadi tunangannya sejak empat tahun lalu.


Tapi apa? Begitu melihat presensi Nolan yang berdiri nyata didepannya, membuat keteguhan hati Caca goyah. Perasaan yang coba dia ingkari itu, kembali berwujud dalam hatinya. Ia masih mencintai Nolan, dan ia tidak berbohong untuk hal itu.

__ADS_1


Lalu, Louis? Bagaimana dengannya? Pria itu sudah menemaninya selama bertahun-tahun, dan Louis selalu menerima dia apa adanya.


Semuanya berubah seperti boomerang yang kembali berputar melayang menyerang dirinya. Caca dalam dilema besar.


“Astaga ... ”


Atensi Caca teralihkan oleh getar ponsel diatas nakasnya. Ia pikir itu Louis yang menghubunginya, tapi ...


...No Name Calling . . ....


...0813210000XX...


Caca masih ingat nomor siapa ini. Dia tidak akan lupa. Sejenak, ia terdiam. Pandangannya terkunci pada nomor yang masih membuat ponselnya bergetar hingga pada akhirnya, semua kembali senyap. Perlahan-lahan displaynya mulai gelap, dan Caca menghela nafasnya kasar.


“Kenapa dia berani nelpon aku lagi sih?” gumam Caca nggak suka. Ia sedang dalam masalah, dan itu karena kehadiran Nolan di saat yang tidak tepat. Lalu, untuk apa dia menghubungi Caca lagi? Untuk bersorak gembira dan mengolok Caca kalau dia sudah berhasil mengacaukan semuanya? Atau lebih spesifiknya, mengacau hubungan Caca dengan Louis?


Pikiran-pikiran buruk seperti itu terus mendera otak Caca. Tidak ada yang baik dari Nolan. Caca terus mencoba menanamkan itu pada hatinya yang selama satu dasawarsa ini ia bekukan untuk pria itu.


Tak lama berselang, ponsel Caca bergetar singkat sebanyak dua kali. Dia bisa menebak siapa yang mengirim pesan tersebut. Ia melirik layar ponsel yang sudah hampir gelap, tapi gerakan Caca berubah cepat untuk menyahut dan menahan pijar cahaya ponselnya agar tidak menggelap, ketika berhasil melihat nama yang muncul disana.


LouiLv: Sorry, aku yang salah. Nggak seharusnya tadi aku pergi ninggalin kamu gitu aja.


LouiLv: Dan kamu bener, nggak seharusnya aku maksa minta penjelasan saat aku lagi kacau dan pastinya bakal berimbas sama hubungan kita.


Maaf ya, Honey. Ayo bicara kalau kamu udah siap.


Sekali lagi, maaf.


Caca membuang nafas lega. Akhirnya, malam ini dia bisa tidur nyenyak. Caca meletakkan kembali ponselnya, didalam laci nakas. Kemudian dia menarik selimut dan memejamkan matanya yang sudah terasa panas dan perih akibat lelah dan ngantuk berat, ia bersiap menuju alam mimpi.


Drrrt...


Ponsel itu bergetar singkat sekali lagi, tanpa Caca ketahui, karena ia sudah terlanjur lelap dalam ruang mimpinya.[]


...—Bersambung—...


###

__ADS_1


Louis bucinnya nggak ketulungan ke Caca 😅


Gimana pendapat kalian tentang bab ini?


__ADS_2